ira di bukittinggi (diambil dari blog indrian koto)

Foto: ira di bukittinggi (diambil dari blog indrian koto)

—ira komang puspita

“dan waktu padam seketika ingatanmu belum selesai

mengendapkan bunyi tetes air jatuh dari daun kemumu.”

sebagaimana datang tampak muka dan pergi tampak punggung

sebagaimana datang diketuk pintu dan pergi dihentakkan kaki.”

begitu juga dengan datang dan pergimu, angin limbubu menghela

wangi tubuhmu ke dalam peristiwa jalan yang semakin tak kau

mengerti hilirnya (jalan panjang, kelokan sintal. di tepinya

pesisir, di tepinya lembah, di tepinya sesuatu… amboi,

semakin dipukatnya kau untuk terus menapak ke tanah ini)

kubunyikan padamu, sesuara yang belum sempat dirapalkan

isyarat manapun, “kau telah dihelanya dengan gaib kalimat pantai

ingatanmu dirompak, dipisahkannya pandangan dari matamu!”

sebab di sini orang-orang selalu cemburu dengan waktu, selalu

berebut dengan waktu dan mereka belajar mengela karib dari jauh.

tapi kulihat lain di matamu, sebuah tempat yang sengaja kau asingkan

agar setiap gerakmu tak mengamsalkan kesakitan waktu, tempat

yang sengaja kau jarakkan, tempat dimana jam pasir menyimpan

basah ruang, dan jam bundar menyembunyikan patahan jarum

Lembah Harau, 2008