Perayaan kemerdekaan, saya teringat sebuah cerita dari Goenawan Mohamad dalam catatan pinggirnya di majalah Tempo edisi Agustus 2000. Yakni seseorang yang pada suatu hari di tahun 1949, di sebuah kampung tepi kota. Seseorang itu membuat bendera kecil-kecil dari kertas minyak, merah-putih, lalu merekatnya pada bilah-bilah bambu lalu memasangnya pada pintu-pintu rumah. Sesaat kemudian serdadu Belanda datang, memaksa orang tersebut mecopoti semua bendera yang terpasang dan menyuruhnya menelan bendera itu.

Dari hal tersebut, Goenawan Mohamad menanyakan makna dari kemerdekaan pada saat itu, juga cara orang memaknainya. Itu dulu, seketika kata “Revolusi” adalah sebuah sakti yang teramat.

Tapi bagaimana dengan sekarang, seketika kata “merdeka” tinggal sesuatu yang semu? Jika “kemerdekaan”—merdeka yang berimbuhan— tinggal tulisan di kertas proklamasi yang dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945. Jika “kemerdekaan” yang merupakan hak semua bangsa tersebut tinggal ungkapan bersejarah di buku-buku pelajaran sekolah. Jika “kemerdekaan” tersebut cuma sebuah kata pembebasan agar kita tidak dianggap sebagai bangsa terjajah.

Sekarang, dalam sebuah bangsa—dengan “B” besar—bagian dari bangsanya (warga) dimana saling merenggut “kemerdekaan”. Juga keterjajahan dari segala penjuru, yang memang tidak semuanya fisik, tapi lebih kepada jajahan moril, pengkerdilan pemikiran anak-anak bangsa dengan menjadikannya masyarakat konsumerisme tingkat tinggi, yang tak mampu memproduksi. Juga segala seuatu yang mejadikan masyarakat penyendiri, yang tak sadar bahwasanya “mereka” saling membutuhkan.

17 agustus 1945 – 17 agustus 2008, 63 tahun lho… setiap pergantian kekuasaan, dari Revolusi sampai Reformasi, dari Soekarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah “kemerdekaan” itu sudah benar-benar didapat dan sudah termaknai dengan sungguh? Setidaknya saja “kemerdekaan” yang dibacakan dalam teks proklamasi sudah bisa dinikmati, jikapun belum sampai termaknai dengan baik.

Kini, rongrongan dari bagian dalam bangsa makin merajalelala. Yang pintar ingin terus menipu, ingin terus mengguras yang kecil, ingin terus membuat sesuatu yang sakit pada si lemah.

Bagi yang diam, Sebut sajalah apa yang terjadi sekarang. Karena sekarang zaman keterbukaan bahkan banyak yang “buka-bukaan”. Sekarang tak lagi zamannya menyumpal mulut orang yang ingin berpendapat. Apalagi membuat orang diam dengan “culik malam” atau “dor.” 63 tahun lho… kita masih saja jadi bangsa yang terjajah dari “dalam”, padahal kita selalu merayakan kemerdekaan setiap tahunnya. Ada yang semakin ingin menguasai kita secara utuh tanpa kita sadari. “Mereka” ingin terus membuat kita jadi budak dalam “kemerdekaan” yang kita sebut.

Kami yang tak bisa lagi angkat senjata atau teriak merdeka, ungkap Chairil pada sebuah puisinya. Ada yang disuruh melanjutkan perjuangan Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahril: yaitu kita! Sebuah bangsa yang harus mencari dan memaknai kemerdekaan sendiri, biar ada yang merongrong segala yang kita perbuat dengan kalimat “Indonesia banget,” atau dengan menyodorkan berbagai cap dengan anggapan bahwa kita tak lagi mempunyai rasa nasionalisme (berbangsa) yang baik. Tapi di balik itu apa yang telah mereka perbuat untuk ini bangsa? Di sinilah kita berdiri, biar dengan “sruktur tubuh” cacat. Tapi makna kemerdekaan tentu berpulang pada kita. Apakah kita masih menganggap “kita” satu dalam sebuah bangsa yang bernegara, bangsa yang selalu mengidam-idamkan kata sakral, yakni: MERDEKA! (Esha Tegar Putra)