Oleh: Esha Tegar Putra*

Beberapa tahun yang lalu, masih segar di ingatan saya suasana indah tentang rumah gadang ini—terlihat di foto. Di depan rumah gadang ini—kini warung—ada sebuah pohon jambu yang buahnya manis, dan di bawah batang jambu tersebut ada sebuah lasuang tempat para perempuan menumbuk kopi, tepung, dll. Di lingkungan inilah saya bermain kelereang, gambar, batu kompar, main kaja duduk, cik ondang, dan banyak lagi permainan. Sekarang mungkin tidak ada lagi permainan kreatif tersebut. Anak-anak di kampung lebih suka bermain Play Station. Ingatan tentang rumah gadang inilah yang membuat saya ingin sekali menuliskannya, rumah gadang Baranjuang—ungkap nenek saya. Rumah gadang yang terletak di Jalan Danau Bahagia, jalan menuju pasia udang, yakni di jorong Balai Mansiang.

Beberapa keluarga dalam Suku “kami” (Balaimansiang) tinggal di rumah gadang ini dulunya. Lambat laun, musim berganti tahun, makin banyaknya keturunan yang lahir membuat bagian dari keluarga kami membangun hunian baru di sekitar jorong Balai Mansiang. Orang tua nenek saya membangun rumah di Balai Gadang yang jaraknya Cuma 100m dari rumah gadang. Begitu pun yang lainnya, ada yang membangun rumah di belakang rumah gadang, di sampingnya, dan di tanah-tanah kaum yang dekat dengan rumah gadang. Sepengetahuan saya, sewaktu kanak-kanak, cuma tinggal 2 keluarga yang menghuni rumah gadang (keluarga ama Upik Aluik dan ibu Ta) , dan pada saat itu pun kondisi rumah gadang sudah tidak layak huni lagi. Seluruh bagiannya sudah lapuk, dindingnya banyak yang copot, lantainya, ah..sangat memprihatinkan sekali kondisinya.

Selang beberapa tahun—seperti yang terlihat di foto—mungkin tidak ada rumah gadang lagi yang bias saya banggakan mengenai kekokohannya. Padahal (dulunya) saya sangat suka sekali memperhatikan ukiran yang berjejeran di tiap dindingnya, juga berbagai macam peralatan baraek dari kayu yng berdiri kaku di sudut ruangan rumah gadang. Sayangnya, saya tidak sempat tinggal di rumah ini. Keluarga kami sudah sejak tiga keturunan tidak lagi menghuni rumah gadang. Entah berapa ruangan kamar yang ada di rumah gadang ini, saya tidak ingat pasti karena sudah lama tidak masuk ke daamnya.

Dalam usianya yang mungkin sudah ratusan tahun dan berbagai peristiwa telah tersimpan dalam diamnya. Saya hanya bisa menatap sedih foto yang saya ambil bulan Mei 2008 tersebut. Seluruh ingatan saya tentang rumah gadang ini berkerumun seketika saya melihat bagian dinding depan yang sudah tanggal seluruh papannya. “Caliklah rumah gadang awak ah,alah tangga papan e sado e dek gampo.” Begitulah ungkap ama Upik Alih kepada saya.

Mungkin sebagian besar rumah gadang di kampung (Baca: Saniangbaka) begitulah adanya. Usia dan berbagai kejadian alam ataupun ketiak pedulian orang-orang terhadap rumah gadang membuat bangunan ini seakan tidak berguna. Padahal bagunan ini sangat penting sekali. Pemugaran tak kunjung dilakukan oleh berbagai pihak, ya karena dananya cukup besar untuk memugar rumah gadang. Tidak mungkin sekali orang-orang kampung yang sebagian besar sulit kehidupannya akan memugar rumah gadang.

Mungkin kita berharap ada dukungan dari pemerintah daerah untuk melakukan pemugaran rumah gadang. Sebab jika tidak dilaksanakan, akan hilang bagian besar dari sebuah peradaban Minangkabau. Rumah gadang bukan hanya semacam simbol, tapi lebih dari sekedar itu. Kesadaran inilah yang tak ada di pikiran pemerintah. Di daerah lain saja contohnya, orang berlomba-lomba untuk melakukan pemugaran rumah tradisionalnya, atau segala aset tradisi, seni dan budaya yang ada di daerahnya. Tapi bagaimana dengan rumah gadang di Saniangbaka? Bisa saja beberapa tahun lagi seluruh rumah gadang yang tidak terawat dan yang sudah tidak lagi dihuni akan roboh semuanya. Tinggal kayunya yang bagus dijadikan untuk memasak air di tungku. Atau rumah gadang tidak akan ada lagi di kampung, dan “rumah gadang” akan menjadi sebuah ingatan melankolia lama yang dinyanyikan oleh artis-artis dalam lagu Minang.

Akan sangat disayangkan sekakali generasi penerus nantinya. Mereka tidak akan tahu bahwasanya kaum (suku) mereka (dulunya) mempunyai rumah gadang yang kokoh dengan berbagai kegiatan adat yang pernah diadakan di dalanya. Sangat saya rindukan—mungkin juga pembaca—sekali suasana rumah gadang, seketika adanya sebuah perhelatan, para datuk ninik-mamak, urang sumando, kaum kerabat dan segala handai taulan berkumpul untuk makan bersama. Mungkin akan ada lagi masanya, mungkin juga tidak, setidaknya dengan tulisan ini akan timbul sebuah kesadaran dari berbagai pihak—mungkin orang nagari, instansi pemerintahan terkait–bahwasanya sebagian besar rumah gadang di kampung itu sangat butuh perawatan dan pemugaran.

Iklan