Cerpen Reno Wulan Sari

Namanya Harumi, Bu. Orang-orang biasa memanggilnya Mbak Rumi.
Nama itu terdengar lagi. Selalu saja. Entah pada saat makan malam, nonton televisi, atau sekedar menikmati kopi panas. Mau tidak mau, aku jadi mengenal Harumi lebih lekat, dan bagaimana cara orang-orang memanggilnya secara akrab. Harumi menjadi topik utama dalam pembicaraan keluarga sejak kedatangannya. Ada satu ruang yang tersaji untuk Harumi. Satu ruang yang sifatnya lebih istimewa untuk tetap mengingat Harumi, bahkan memujinya di setiap kesempatan. Dan saat ini ia mengisi ruang itu. Sesungguhnya aku tidak mengerti akan Harumi, sebanding dengan ketidakmengertianku akan Puput, putri kecilku yang beranjak remaja.
Puput menghela napas ketika aku mendapatinya masuk ke dalam kamar. Ia mrngambil buku dan menulis. Tugas sekolah yang selalu hadir di tiap minggu kadang kala menjadikannya jenuh. Aku merasakan kejenuhan Puput dalam mengerjakan tugas. Terkadang kusempatkan diri untuk mendampinginya, menceritakan hal yang menarik, dan Puput pun tersenyum. Ada satu kebahagiaan yang kau dapati ketika putri kecilmu tersenyum manis mendengar ceritamu yang lucu. Melihat Puput, aku teringat akan masa remajaku. Ibuku juga melakukan hal yang sama. Menjadi teman yang baik bagiku. Aku dapat merasakan kedekatan Puput padaku, seperti kedekatanku pada Ibu. Ada sikap terbuka yang diberikan Puput. Ia akan menceritakan padaku tentang teman laki-laki yang mulai berani mengiriminya surat cinta, tentang guru yang selalu tampil sok disiplin, dan juga tentang Harumi.
Namanya Harumi, Bu. Orang-orang biasa memanggilnya Mbak Rumi.
Dalam sepi pun, aku masih mendengar nama itu. Sosoknya selalu hadir di setiap kali aku merasa dekat dengan Puput. Kali ini, Puput mengambil kesempatan untuk bercerita padaku, setelah aku membuatnya tersenyum. Ia bilang bahwa Harumi telah memberinya semangat untuk mencapai nilai yang tinggi. Harumi mengajarinya mandiri. Bahwa ia bisa melakukan berbagai hal jika ia memiliki kelebihan. Guru-guru akan memandangnya jika ia bisa menyelesaikan berbagai soal pelajaran dengan baik.
“Mbak Rumi itu pintar loh, Bu. Dia bilang, dulu waktu masih sekolah, jika guru tidak mengajar, maka ia akan membantu teman-temannya untuk menyelesaikan tugas. Banyak yang ingin berteman dengannya. Dia juga aktif dalam berbagai organisasi.”
“Kau juga bisa memiliki banyak teman. Kau juga bisa aktif dalam organisasi. Jika kau mau, kau bisa melakukannya, Sayang.”
“Tapi aku tidak terlalu pintar.”
Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Puput. Setidaknya untuk saat ini, aku harus berterimakasih pada Harumi yang telah menumbuhkan semangat belajar Puput. Harumi memang perempuan yang berbeda. Aku sering melihatnya di tiap pagi ketika menunggu tukang Koran lewat. Harumi keluar rumah dengan pakaian rapi, layaknya seorang perempuan yang bekerja keras. Ia mengunci rapat pintu rumah, masuk ke dalam mobil, dan pergi. Di saat sore, ketika ia pulang bekerja, Puput akan mendatangi rumahnya dan kembali ketika Maghrib. Pertama kali aku mengetahui Puput bisa berteman dengan Harumi, aku sedikit senang. Menepis tanggapan para tetangga yang menganggap Harumi adalah perempuan mandiri yang tidak tertarik untuk berinteraksi dengan tetangga lainnya. Untuk hal ini aku tidak tahu pasti. Yang jelas Harumi menjadi teman baik bagi putriku, meskipun aku tidak pernah bicara dengannya. Harumi pernah menyapaku hanya dengan sedikit senyuman. Aku tidak tahu apakah harus setuju dengan tanggapan tetangga, atau tetap mendengar cerita putriku tentang Harumi yang pintar. Ya, begitu pintar.
Putriku bilang, Harumi sangat memperhatikan penampilannya. Ia juga mengajari Puput bagaimana berpenampilan yang baik sebagai seorang perempuan. Kukatakan pada Puput, bahwa perempuan yang baik hendaknya berpakaian rapi dan sopan. Seperti yang diajarkan Ibu.
“Tidak hanya sopan, Bu. Mbak Rumi bilang, kalau orang akan memandang kepribadian dari penampilan kita. Itu artinya kita harus bisa tampil menawan.”
“Menawan maksudmu?”
“Ya, bagaimana kita kelihatan cantik, menarik, hingga orang menyadari bahwa kita perempuan yang cerdas.”
Aku semakin tidak mengerti dengan Puput. Aku bisa terima jika gadis sesusianya bicara tentang nilai pelajaran, tapi aku tidak setuju dengan penialainnya tentang menawan. Tahu apa Puput dengan arti menawan. Ibuku tidak pernah mengajari hal itu ketika aku beranjak dewasa. Ibu hanya mengatakan bahwa aku harus berpenampilan sopan dan bertutur bahasa yang baik, agar orang tahu bahwa kita memiliki sopan santun dan pendidikan dalam pergaulan. Ibu tidak menuntutku untuk tampil menawan.
“Ibuku juga orang yang pintar. Ia tamat perguruan tinggi. Ia juga memiliki ijazah. Apa bedanya dengan Harumi? Tapi ibuku tetap memandang hakekatnya sebagai perempuan, menikah, melahirkan, dan mendidikku dengan baik. Ibuku juga tetap bekerja dan aktif dalam kegiatan sosial. Ibu tetap mengajariku sopan santun. Aku tidak setuju Puput bergaul dengan Harumi. Lagipula umur mereka berbeda jauh.”
“Kemarin kaubilang, Harumi memberikan pengaruh yang baik pada Puput. Lalu mengapa sekarang kau tidak setuju Puput bergaul dengannya?”
“Aku tidak suka pola pikirnya. Puput itu gadis berusia empatbelas tahun.”
“Lalu apa masalahnya?”
“Puput harus memiliki batasan tentang apa yang pantas diketahui dan tentang apa yang tidak.”
“Harumi hanya berpikir lebih jauh.”
“Ibuku juga berpikir jauh.”
“Kau selalu bicara dengan membawa nama Ibu. Keadaan di saat kau remaja dulu, berbeda di saat Puput sekarang. Mengertilah.”
“Apa aku juga harus mengerti cara Puput memanggil orang yang lebih tua dari Ibunya dengan sebutan ‘mbak’?”
Kuhentikan perdebatan kecil yang terjadi di rumah. Suamiku tampak tenang dibanding emosiku yang kurang terkontrol. Hari ini, Puput kembali bermain ke rumah Harumi. Aku tidak bisa menahannya. Aku tidak ingin Puput memandangku sebagai orangtua yang terlalu mengekangnya. Ibuku juga tidak pernah melakukan hal itu.

Kutemui Puput yang sedang membaca di kamar. Ia memandangku lalu tersenyum. Kubelai rambutnya yang panjang, dan ia bangkit dari tempat tidur lalu duduk di sampingku.
“Hari ini, kau tidak makan siang, Sayang?”
“Aku sudah kenyang, Bu”
“Kaumakan di rumah tetangga baru itu?”
“Ya!”
“Dia masak untukmu?”
“Tidak, Mbak Rumi tidak bisa memasak. Dia pelanggan catering. Masakannya enak, Bu. Mbak Rumi juga tidak marah aku menghabiskan makanannya. Dia baik. Jika nanti dewasa, aku juga ingin seperti Mbak Rumi. Bekerja, beli mobil, dan berlangganan catering. Jadi aku tidak perlu susah-susah memasak.”
“Anak perempuan harus pandai memasak. Ibu dan Nenek sangat pandai memasak.”
“Ya. Aku tahu. Masakan Ibu enak.”
“Oya, sudah lama Ibu tidak lihat Rara dan Dian main ke sini. Mungkin kau tidak punya waktu untuk mereka. Bagaimana kalau besok, kauajak mereka ke sini, dan Ibu akan masak makanan yang enak seperti yang kaubilang tadi. Bagaimana?”
“Aku besok mau ke rumah Mbak Rumi. Dia berjanji padaku untuk memberikan buku baru.”
“Panggil dia ‘tante’, Puput. Tidak sopan kaumemanggilnya dengan sebutan ‘mbak’.”
“Apa salahnya? Dia yang memintaku seperti itu. ‘Mbak’ kan juga panggilan untuk orang yang lebih tua.”
“Bagimu, dia bukan seorang kakak. Panggil dia ‘tante’.”
Namanya Harumi, Bu. Orang-orang biasa memanggilnya Mbak Rumi.
Selalu saja. Nama itu selalu terdengar. Aku mulai khawatir pada Harumi. Puput tidak pantas memanggilnya ‘mbak’. Usianya jauh lebih tua dariku, sedang teman-teman Puput memanggilku dengan sebutan ‘tante’. Suamiku bahkan tidak bermasalah dengan cara panggil Puput terhadap Harumi. Aku tidak habis pikir. Ibu selalu mengajariku bagaimana cara memanggil orang. Dan dia selalu memintaku untuk memanggil teman-temannya dengan sebutan ‘tante’. Mungkin aku salah dalam mendidik Puput. Dan mungkin juga aku lupa untuk mengingatkannya. Tapi Puput benar, orang-orang memang memanggilnya Mbak Rumi. Aku sering mendengar itu ketika petugas keamanan menyapanya di tiap pagi.
Dan sore ini, kudengar kembali petugas keamanan menyapanya ketika pulang kerja. Kulihat Harumi turun dari mobil sambil membawa buku-buku yang ia janjikan pada Puput. Aku masuk ke dalam rumah, membersihkan kembali lantai yang mulai berdebu. Kulihat Puput duduk di ruang tamu sibuk memperhatikan foto keluarga. Di situ juga tergantung foto pernikahanku dalam pakaian adat. Aku ingat, ketika itu Ibu sibuk mengatur acara pernikahanku. Aku benar-benar bangga memiliki seorang Ibu seperti ibuku. Aku mulai mengkhayal jika kelak Puput menikah, maka aku akan mempersiapkan segalanya dengan baik.
Puput semakin mendekatkan diri pada foto-foto yang tergantung. Aku hanya tersenyum. Aku tahu Puput sering melihat foto itu, namun tidak pernah seperti ini. Mungkin ia sedang berpikir tentang bingkai foto yang sudah tampak kusam. Tapi tidak, ia mulai mengajakku bicara, “Aku tidak melihat foto seperti ini di rumah Mbak Rumi.”
Puput kemudian melangkah pergi meninggalkanku. Aku tahu bahwa saat ini ia akan mengunjungi Harumi dan membaca buku seperti yang dikataknnya padaku. Kemudian, malamnya aku akan mendengar cerita tentang Harumi dari Puput. Sedikit mengejutkan jika kali ini Puput menunjukkan padaku bahwa ia mengenal kosmetik. Ia bercerita tentang perawatan kulit, perawatan rambut, dan banyak hal. Sebagai perempuan, tidak salah jika Puput mengenal hal yang demikian.
“Harumi yang mengajarimu?”
“Tidak, aku hanya melihatnya ketika tadi sehabis mandi. Dia cantik ya, Bu. Wangi lagi.”
“Lalu?”
“Dia seperti sempurna. Cantik, pintar, dan kaya. Aku ingin seperti dia.”
“Kalau kaubelajar. Kau juga bisa pintar dan kaya. Masalah kecantikan itu masalah pribadi, Sayang.”
“Maksud Ibu?”
“Kau belum mengerti.”
Ya. Puput memang belum mengerti tentang dunia yang akan dilewatinya sebagai seorang perempuan. Aku akan mendidik Puput secara perlahan. Namun, rasa keingintahuan Puput lebih besar dari apa pun. Ia akan bertanya segala hal, tidak hanya padaku. Seperti ia bertanya pada Harumi tentang kewanitaan. Dan Puput seolah menegaskan padaku, bahwa Harumi selalu memberikan jawaban seperti apa yang diinginkannya. Puput begitu menganggumi Harumi. Sangat.
***
Malam datang menyapa. Juga hujan yang ikut menyapa kota. Kusajikan secangkir kopi panas sebagai teman pelengkap. Aku sangat menyukai suasana seperti ini. Hujan memiliki cerita yang lain. Ada semacam keakraban yang kurasa ketika menyaksikan keluarga berkumpul, menonton acara televisi, sambil meneguk kopi panas. Puput mulai bersikap manja dengan meletakkan kepalanya ke bahuku. Kubelai rambutnya yang panjang. Pakaian tidur yang membalut kulitnya semakin melengkapi suasana dingin yang disajikan hujan. Sesekali terasa ramai dengan tawa yang pecah. Tawa yang lahir dari komedi televisi. Hujan membuat ruangan terasa sempit hingga kami harus duduk berdekatan. Puput melipat kedua kakinya yang menjulur. Badannya semakin tampak kecil, kemudian tenggelam dalam pelukanku. Aku melupakan segala hal. Aku tak lagi memilikirkan menu masakan apa yang akan kusajikan besok, seprai mana yang harus diganti, dan berapa banyak baju yang harus dilipat. Aku lupa akan semuanya. Juga sama halnya dengan Puput. Ia tidak lagi pusing memikirkan tugas sekolah, teman laki-laki yang kecewa karena tidak mendapatkan surat balasan darinya, atau guru yang semakin sok disiplin, tapi tidak bagi Harumi.
Puput bangkit dari tempat duduknya. Ia menuju jendela, menyibak tirai dan memandang jauh ke luar. Ia harus mencuri pandangan dari lebatnya hujan. Lama Puput terpaku. Kubiarkan dia seorang diri. Aku kembali fokus pada tontonan televisi. Suamiku tertawa begitu keras. Aku pun mengiringi tawanya yang semakin meramaikan rumah.
Kopi panas masih mengeluarkan uap. Kuteguk sedikit, seraya Puput beralih ke arahku. Ia kembali duduk seperti semula. Namun, kali ini raut wajahnya berbeda. Ada semacam kegelisahan yang menyelimuti pikirannya. Aku tidak menyangka, dalam tenangnya malam, ia masih merasa gusar. Kembali kubelai rambutnya, lalu ia berkata, “Apa yang Ibu lakukan jika berada seorang diri di rumah, sementara malam semakin larut, dan hujan semakin deras?”
“Mungkin Ibu akan lebih memilih tidur.”
Lama Puput tertegun. Ia menatapku lekat-lekat, kemudian menguk kopi panas yang belum disentuhnya. Tayangan televisi yang semkin lucu, tidak melahirkan tawa darinya. Puput seolah tidak lagi berada di rumah. Ia terus menatap ke jendela, menatap rumah Harumi yang tertutup rapat. Puput tahu betul bahwa Harumi ada di dalamnya. Namun lampu padam, tidak terlihat kesibukan yang terpancar dari dalam rumah. Puput terus mengarahkan wajah ke jendela, lalu menatapku, menonton televisi. Berulang kali Puput melakukan hal itu. Hingga akhirnya ia berkata,
“Apa yang dilakukan Mbak Rumi saat ini ya, Bu? Apa Mbak Rumi juga menonton televisi seperti kita?”
“Entahlah, Sayang.”
“Aku ingin tahu kabar Mbak Rumi malam ini.”
“Sayang, berapa kali Ibu harus bilang, panggil dia ‘tante’. Tidak sopan kaumemanggilnya dengan sebutan ‘mbak’.”
“Namanya Harumi, Bu. Orang-orang biasa memanggilnya Mbak Rumi.”

Kayutanam, 28 Desember 2006