<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jalan Puisi , no. 23</title>
	<atom:link href="http://kandangpadati.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kandangpadati.wordpress.com</link>
	<description>kulihat seorang perempuan tua, mungkin itu ibu, yang mengutukmu untuk tak kembali pada jalan puisi...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jun 2009 17:39:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kandangpadati.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jalan Puisi , no. 23</title>
		<link>http://kandangpadati.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kandangpadati.wordpress.com/osd.xml" title="Jalan Puisi , no. 23" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kandangpadati.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>puisi untuk acara diskusi “Perpuisian Mutakhir Sumatra Barat&#8221; di Komunitas Seni Intro, Payakumbuh, pkl 4 sore hari Sabtu tgl 13 Juni 2009</title>
		<link>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/06/09/acara-diskusi-%e2%80%9cperpuisian-mutakhir-sumatra-barat-di-komunitas-seni-intro-payakumbuh-pkl-4-sore-hari-sabtu-tgl-13-juni-2009/</link>
		<comments>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/06/09/acara-diskusi-%e2%80%9cperpuisian-mutakhir-sumatra-barat-di-komunitas-seni-intro-payakumbuh-pkl-4-sore-hari-sabtu-tgl-13-juni-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 17:12:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Esha Tegar Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sesuatu Apa Saja]]></category>
		<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kandangpadati.wordpress.com/2009/06/09/acara-diskusi-%e2%80%9cperpuisian-mutakhir-sumatra-barat-di-komunitas-seni-intro-payakumbuh-pkl-4-sore-hari-sabtu-tgl-13-juni-2009/</guid>
		<description><![CDATA[Alizar Tanjung Surat Untuk Shita ;Shita kepergianku pada negeri orang negeri lupa ngurarai yang kubangun sejak dahulu kala shita, bukanlah candu di sana kukubur puisi untukmu sengaja kutumpangkan aku yakin Tuhan juga percaya bahwa tanah takkan berbohong ;Shita pada barisan pertama “salam Shita, semoga kau tak lupa bahwa kita bertemu sunyi pernah di perpanjangan malam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=718&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alizar Tanjung<br />
<strong>Surat Untuk Shita</strong></p>
<p>;Shita<br />
kepergianku pada negeri orang<br />
negeri lupa ngurarai yang<br />
kubangun sejak dahulu kala<br />
shita, bukanlah candu<br />
di sana kukubur puisi untukmu<br />
sengaja kutumpangkan<br />
aku yakin<br />
Tuhan juga percaya<br />
bahwa tanah takkan berbohong</p>
<p>;Shita<br />
pada barisan pertama<br />
“salam Shita, semoga kau tak lupa<br />
bahwa kita bertemu sunyi<br />
pernah di perpanjangan malam<br />
setengah guntai di sepetak mata<br />
pada retak gelap dan rembulan lenyap”<br />
;Shita<span id="more-718"></span><br />
Pada bait kedua<br />
“Shita kau tahu kan?<br />
jalan lengang tepian pulang<br />
kutumpangkan perasaan pada daun<br />
menyimpan sajak dari angin<br />
hingga suatu saat aku yakin itu daun melati”</p>
<p>;shita<br />
Bait ketiga bait perpisahan<br />
“Shita  di sana tak lagi ada melati<br />
hanya ada ilalang rontok<br />
tumbuh di kursi lapuk<br />
kota tujuan telah meneggelamkanku<br />
dengan bau anyir<br />
di resleting celana<br />
sebab di kota ini segalanya menjadi halal”</p>
<p>Padang, 2008</p>
<p>Seputar Indonesia, 4 Januari 2009</p>
<p>Alizar Tanjung<br />
<strong>Duka</strong><br />
;Aceh Menjelang DesemberUsai</p>
<p>gemericik ombak mengikis pantai<br />
sedebur gelombang menghempas batu karang<br />
menenggelamkan namanama, serangkaian<br />
bulan sabit akhir kehilangan rona pada shubuh<br />
yang tersiksa</p>
<p>bukan tak ada mata<br />
atau tepian pantai di kepala mendongak angkasa<br />
semerbak tanda menyapa pada laut, pantai, pasir<br />
dan kekeringan air mata<br />
semua bergerak pada lintasan zigzag<br />
anjing melolong perih<br />
bersahutan penghuni malam</p>
<p>kini tinggal duka serpihan lama<br />
dari sekian ribu nama<br />
tinggal menetap sebagai tamu<br />
pada Nisan masih bernafas<br />
Padang, 2 Juni 2008</p>
<p>Seputar Indonesia, 4 Januari 2009</p>
<p>Alizar Tanjung<br />
<strong>Ia Hanya Ingin Satu</strong><br />
;Kartini</p>
<p>bukan maksudku ingin menceritakan<br />
atau mendebarkan ke seluruh alam<br />
cerita gadis yang lama dimakan zaman,<br />
mungkin saja dia sekarang<br />
tulang belulang disenyap bumi<br />
dan rambutnya tergerai peras di selah tanah</p>
<p>takkan tertaril oleh goresan<br />
ke lubuk yang pasi<br />
dia lah wanita, gadisku<br />
yang berbuat dengan kehendak<br />
tak tertarik oleh rembulan<br />
di tengah ngiang awan<br />
serapah malam ketika gendrang ditabuh perang<br />
dan darahnya tumbuh subur<br />
menggebur bumi, mengaliri sungai<br />
tanpa berharap kelak kau harus mengingatku</p>
<p>gadis yang tak pernah lelah<br />
dia lah jiwa, hanya ingin satu<br />
“untuk anakku ada pusaka nusa bangsa dan cinta”<br />
Padang, 15 oktober 2008</p>
<p>Seputar Indonesia, 4 Januari 2009</p>
<p>Alizar Tanjung<br />
<strong>Nak</strong></p>
<p>Pagi cumbu<br />
menaruh cemburu<br />
pada ibu-ibu membawa mukenah<br />
di taman doa<br />
setiap langkah berbuah rimbun<br />
itulah matang rindu, Nak<br />
bukan benci<br />
di dinginnya pagi<br />
di ujung dendam, nelangsa sepi<br />
meainkan ma’rifat nak<br />
sebab pituah berjenjang<br />
di rintik embun yang jatuh<br />
di kolam rindu<br />
telaga qalbu<br />
Padang, Agustus 2008</p>
<p>Seputar Indonesia, 4 Januari 2009</p>
<p>Andha S<br />
<strong>Membenam</strong><br />
pinto a</p>
<p>sedalam-dalam engkau menyelam<br />
ke timbul juga mengadu tenggelam.<br />
puisi hanya insang<br />
yang tak mengajarkan cara berenang</p>
<p>namun kata kadang terlalu terang<br />
untuk membuatmu nyalang<br />
di dasar kolam.</p>
<p>Kapalo Koto, 2009</p>
<p>Koran Tempo, 26 April 2009</p>
<p>Andha S<br />
<strong>Hidangan Puisi</strong><br />
esha tp</p>
<p>meja hanya umpama<br />
untuk puisi yang kini terhidang di atasnya.<br />
namun mulut yang menganga<br />
terlalu bersepakat dengan dahaga</p>
<p>sehingga lapar di perut penyair yang gemetar<br />
kesulitan mencerna banyak aksara.</p>
<p>Kapalo Koto, 2009</p>
<p>Koran Tempo, 26 April 2009</p>
<p>Andha S<br />
<strong>Temu Batu</strong></p>
<p>dipilih tempat dipilih waktu<br />
buat para batu bertemu<br />
disepuh angin lima penjuru<br />
pasak muka untung beradu</p>
<p>di jejakmu yang memberat<br />
akankah bisa kutemu pahat?<br />
sedang akar-akar mencuat dari tanah<br />
dan berpilin di kakiku<br />
membuat langkah jadi penat</p>
<p>kau masih juga membuhul riwayat jadi urat<br />
menulisnya dalam lembaran yang mesti<br />
tersampaikan sebagai pesan:<br />
jika aku pemulung kata<br />
canggung diapung ombak<br />
terkilir dipanggul gunung</p>
<p>sementara kau hanya batu<br />
diam di mata pahat, mataku<br />
yang minta sekerat nasihat?</p>
<p>bumi jadi kian tinggi<br />
di lembah cadas sepi<br />
kau undang angin-angin menari<br />
kau sulap kerikil-kerikil gagu jelma<br />
patung dewa dipuja-dipuji</p>
<p>tapi kulihat sebaris igau bakal pecah<br />
di perut mimpi<br />
seperti ukiran tanah liat<br />
takut dipahat<br />
apalagi tertusuk duri</p>
<p>dipilih tempat dipilih waktu<br />
menjamu batu lima penjuru</p>
<p>Kandangpadati, 2008</p>
<p>Kompas, 1 Februari 2009</p>
<p>Andha S<br />
<strong>Lilin Dingin</strong></p>
<p>mungkin kau hanya akan menemukan<br />
seungguk kenangan buruk<br />
tentang rumah kami. di sana tak ada teman<br />
untuk bercakap-cakap. sepasang sendok<br />
dan garpu, gelas keramik putih bertangkai, juga<br />
sebuah piring yang pinggirnya sumbing tepat di tubir meja<br />
hanya berbisik-bisik sesama mereka.<br />
sementara beberapa orang penghuni rumah<br />
larut dengan diri masing-masing<br />
diam dan kaku, bersikeras ingin menjadi batu.</p>
<p>kau telah terlanjur di dalam, maka ingatlah pintu<br />
tempatmu masuk. sebab jendela-jendela<br />
kadang menyembunyikan jalan keluar. kami selalu merasa<br />
seseorang atau sesuatu, telah memasang semacam perangkap<br />
sebab kami selalu mesti kembali meski setiap hari<br />
adalah langkah yang kami niatkan untuk pergi.</p>
<p>tapi, sebuah gerhana yang tak jadi<br />
tengah melelehkan tubuh kami. dan kami pun segera<br />
tak jadi menyebutnya air mata.</p>
<p>dan dalam nikmat rintih-rintih kami berharap<br />
ibu api di kepala kami segera melahirkan anak-anaknya.<br />
kami berharap jika kelak anak-anak tersebut lahir<br />
salah satu dari mereka akan segera menghambur<br />
ke pangkal mulut perempuan itu<br />
memberi terang kepada seorang pertapa di sana.<br />
(semoga saja sang pertapa mau mengganti mantranya<br />
sebab kami pun sedang suluk:<br />
diam dan kaku, dipaksa jadi batu!).</p>
<p>sedang perempuan di sudut dipan itu masih saja meracau,<br />
laki-laki di depan kursi kayu sehabis membanting pintu<br />
segan membatu, sepasang bocah ingusan itu pun<br />
ingin menjadi gadis korek api dalam kisah lalu.</p>
<p>namun, di wajah sepasang bocah itu<br />
kami melihat jutaan kenangan berhamburan dari<br />
kepala kami. kisah-kisah yang terus terbakar<br />
seperti sayap kunang-kunang disayat jutaan bintang<br />
nun di langit yang tak lagi bisa kami cengkramai.<br />
padahal saat ini kami tak ingin membicarakannya<br />
sebagai kesedihan.</p>
<p>kami sungguh tak ingin kembali dari malam, pulang<br />
ke waktu yang tak bisa diulang. kami<br />
adalah pohon berbuah matahari.<br />
dalam rumah ini.</p>
<p>maka kami izinkan kaupungut buah-buah kami<br />
yang berserakan ke segala penjuru; ke liang jantung<br />
para penghuni rumah ini. walaupun kelak<br />
kau hanya mampu menyalakannya dalam hatimu<br />
dan membangunkan segala yang telah tertidur<br />
dalam hati mereka.</p>
<p>lalu kita akan sama-sama merasakan alpa<br />
kepada selain dari diri kita. kita akan merasakan<br />
betapa keruhnya bunyi jantung yang memperdengarkan hidup<br />
sebagai panghambaan pada diri masing-masing.<br />
kita akan tahu, kami telah pasi dan kaku,<br />
dingin seperti batu.</p>
<p>tepat pada saat itu kita telah terpisah sangat jauh.<br />
kau telah datang ke pulang yang tak bisa ditempuh.<br />
orang-orang seperti tak ada lagi. seperti gerhana<br />
yang tak jadi. namun matahari telah padam di kepala kami.<br />
barangkali ada yang berhasil mencuri korek api<br />
kemudian menghabiskannya sendiri?</p>
<p>perempuan di sudut dipan itu akhirnya pergi<br />
ke dipan orang lain. di depan pintu hanya ada kursi kayu<br />
tanpa patung lelaki batu di situ.<br />
lalu kau, barangkali akan menemukan<br />
lebih banyak ingatan buruk tentang rumah ini.<br />
semuanya telah berubah kini. dan lihatlah<br />
sepasang bocah itu hanya berhasil menjadi lilin</p>
<p>seperti gadis korek api<br />
membakar mimpi sendiri.</p>
<p>Kapalo Koto, 2008-2009</p>
<p>Lampung Post, 22 Maret 2009</p>
<p>Andika Destika Khagen<br />
<strong>Tuhan Tidak Pernah Mengajarkan</strong></p>
<p>Tuhan tidak pernah mengajarkan kebohongan<br />
Tuhan tidak pernah mengajarkan peperangan<br />
Tuhan tidak pernah mengajarkan permusuhan<br />
Tuhan tidak pernah mengajarkan kesombongan<br />
Tuhan tidak pernah mengajarkan kemunafikan<br />
Tuhan tidak pernah mengajarkan keburukan</p>
<p>Dari siapakah semua itu dipelajari?</p>
<p>2007</p>
<p>Singgalang, 30 September 2007</p>
<p>Andika Destika Khagen<br />
<strong>pelabuhan terakhir</strong></p>
<p>sungai yang tenang telah hilang, “di padepokan kuhentikan kapal berlabuh.” anak-anak berteriak tentang musim hujan, yang tiada henti. kutunggu datangnya kapal kedua yang ‘ kan mendarat. aku yakin, esok tidak ada lagi kapal yang menuju ke tenggara. “berlabuhlah segera, sebelum pelabuhan berlari mencari dirinya sendiri.” di ufuk timur matahari mulai terbenam, dan sore yang mencekam.</p>
<p>layar terkembang,<br />
jemari tua menggenggam kayu jati,<br />
detik-detik yang tak bertukar</p>
<p>kapal akan terus berlayar, epilog akan segera berakhir.</p>
<p>2007</p>
<p>Singgalang, 30 September 2007</p>
<p>Andika Destika Khagen<br />
<strong>Petani yang Ingin Mati</strong></p>
<p>Dengar do’a petani di gubuk reotnya yang mewah<br />
(dibanding saudaranya di kolong jembatan)</p>
<p>Tuhanku,<br />
62 tahun yang lalu<br />
aku bangga menjadi seorang petani<br />
dengan sombong aku berkata:<br />
“Akulah yang memberi makan seluruh negeri”</p>
<p>62 tahun kini,<br />
ketika kutu tidak mau lagi singgah di kepalaku<br />
ketika gigi sudah hilang satu per satu<br />
aku mulai lelah<br />
dan  cuma itu yang aku dapat selama 62 tahun</p>
<p>jangan tanya nasib anak-anakku<br />
sekarang mereka telah menghilang<br />
bersama bumi yang tidak punya hati</p>
<p>Tuhanku,<br />
Aku ingin mati<br />
Kalau dapat…..hari ini!!!<br />
2007</p>
<p>Singgalang, 30 September 2007</p>
<p>Andika Destika Khagen<br />
<strong>putih</strong></p>
<p>keagungan terletak pada warna putih. demikian adanya dalam takdir. suci, bersih, mungkin juga terhormat. lambang putih sudah terlanjur jadi bersih. kodrat.<br />
&#8220;bayi yang telanjang itu adalah putih.&#8221;<br />
tak nyana, putih jadi karang. sok putih, diputih-putihkan, berusaha jadi putih, benar-benar putih, sekedar putih, adalah putih.<br />
putih berjalan sendirian. dalam putihnya. bersama putihnya. putih tak punya mata. putih benar-benar jadi karang.<br />
kelinci putih dipelihara dalam rumah yang putih. ditimang-timang. digendong. dipelihara, dininabobokkan.<br />
semua ingin jadi putih. aku, kamu, ia. ada atau tiada.<br />
ah, putih terlanjur menjadi kodrat. &#8220;belikan aku sekarung beras  berwarna putih.&#8221;<br />
2007</p>
<p>Singgalang, 30 September 2007</p>
<p>Andika Destika Khagen<br />
<strong>Malam Setan</strong></p>
<p>Berpestalah Setan!!!<br />
Ini malammu<br />
Takkan ada malaikat yang menganggu<br />
Karena malam ini aku adalah pengikutmu<br />
2006</p>
<p>Singgalang, 30 September 2007</p>
<p>Andika Destika Khagen<br />
aku ingin beliung</p>
<p>bahkan, tidur pun tak mampu membuatku tenang<br />
bermimpi aku takut<br />
di manakah muara sungai disembunyikan bidadari sehabis mandi?<br />
orok bayi di depan rumah mencari puting susu ibu.<br />
aku ingin beliung!!!<br />
2007</p>
<p>Singgalang, 30 September 2007</p>
<p>Arif Rizki<br />
<strong>MANEKIN</strong></p>
<p>Manekin O Manekin<br />
aku mencintai nafas yang bukan hidungmu<br />
yang bukan jantungmu<br />
yang bukan paru-parumu<br />
Manekin O Manekin<br />
aku mencintai gerak yang bukan tanganmu<br />
yang bukan kaki-kakimu<br />
yang bukan badanmu</p>
<p>sebab kau lebih nafas<br />
lebih hidung<br />
lebih jantung<br />
lebih paru-paru<br />
dan kau sangat tangan<br />
sangat kaki<br />
sangat badan</p>
<p>hingga aku mati dalam penciptaan</p>
<p>Padang Ekspres, 1 Februari 2009</p>
<p>Arif Rizki<br />
<strong>LOGAM</strong></p>
<p>Logam di matamu itu, Binar; samakah dengan seguyur hujan di hari siang?<br />
mereka katakan di tiap belahan dan simpang,<br />
hujan telah merupa logam;<br />
kita harus segera menggenapkan kepergian. sebelum siang sebenar-benar<br />
bohlam yang membuat mata lebih pejam. lebih padam</p>
<p>tapi kepergian apa yang hendak dihikayatkan?<br />
hutan-hutan itu telah besi, lagu ladang telah derit tembaga<br />
dan tiup angin mengepung seumpama janji yang bundar<br />
di lipat almanak yang usang</p>
<p>kita tak segera dewasa dengan jam dinding yang hilir<br />
mudik itu. tapi kita akan menulis epilog sederhana;<br />
tentang hujan yang membuat luka di lidah<br />
atau pohon-pohon yang mentah<br />
dan kau, Binar. jika benar air mata<br />
telah menggenang seumpama logam yang runyam,<br />
dan kepundan dari gunung yang tumbuh dari kediam-diaman kita,<br />
siapkanlah tarian untuk hujan, angin dan hutan<br />
yang telah besi dan telah tembaga itu;</p>
<p>sekedar tanda bahwa kita gagal memanen cinta</p>
<p>Padang Ekspres, 1 Februari 2009</p>
<p>Arif Rizki<br />
<strong>GURUN</strong></p>
<p>pasir yang jatuh dari waktu. kuhirup seumpama candu<br />
lalu menjadi gurun dalam diriku<br />
sebagai cawan bagi para pejalan<br />
yang gemetar dengan kepulangan</p>
<p>ada lubuk  pula disitu, tempat kau mencuci muka,<br />
berkaca dan meminum tuba usia<br />
“ada musim yang tak singgah, mampirlah untuk berlelah”<br />
dan merendam badan ke dalam badanku:<br />
tempat kita seharusnya bertamu</p>
<p>Padang Ekspres, 1 Februari 2009</p>
<p>Arif Rizki<br />
<strong>ULAR DAN APEL</strong></p>
<p>dan kucatat segurat kalimat di belah dadamu;<br />
sesuatu telah berguncang melebihi tipuan ular dan apel<br />
yang membuat langit lebih kerap hitam dan tebal</p>
<p>pertemuan di pangkal itu menyisakan sebidang taman<br />
yang lalu kita tanami pohon yang berakar dari ciuman.<br />
hingga ketika aku menghirup waktu dari tubuhmu, ada urat<br />
yang tumbuh di badan kita. (ada ular dan apel disana)</p>
<p>kita sekiranya terlalu bertanam<br />
hingga mata kita rimbun untuk bertatapan<br />
maka barangkali kita perlu membakar ladang ini<br />
kemudian tidur tanpa gusar hujan<br />
walaupun terbangun dengan gigi<br />
yang dipenuhi ampas khuldi</p>
<p>Padang Ekspres, 1 Februari 2009</p>
<p>Arif Rizki<br />
<strong>BATU BATIKAM</strong></p>
<p>usah kau tikam batu itu sebelum kau sudahi tikai di dirimu.<br />
kita habil dan qabil malam ini. bukan lagi<br />
merupa datuk yang menyeterukan tongkat yang tanam di luhak-luhak<br />
yang menggenangi badan kita</p>
<p>hilir bermudik kita jambangi kematian-kematian kecil dalam dada<br />
dan langkahku kau genggam di hulunya.<br />
juga tak selalu bisa berdekap dalam riak yang tenang . bahkan selepas hujan,<br />
tunas pelangi tak jua mewajah di muka kita<br />
di luar, lonsong peluru berlepasan dari bedil-bedil membidiki segala rindu dendam<br />
maka mari butakan mata pedang. sebab batu itu belum waktunya kita tikam</p>
<p>Padang Ekspres, 23 Maret 2008</p>
<p>Arif Rizki<br />
<strong>PERISTIWA PULANG</strong></p>
<p>di air tawar genggammu menjadi lain. bukan angin<br />
yang sibuk atau gemuruh yang batuk. tetapi geletar yang tak terkata<br />
dan betapa rel kereta tak mengantar kita kemana-mana.</p>
<p>sepagi kopi, aku mengenangmu dengan menulis puisi tentang stasiun yang tak dikunjungi keberangkatan dan kedatangan. dimana kepulangan hanya ada dalam diri.<br />
bukan di gerbang stasiun atau rel karatan</p>
<p>kata-kata selalu merambat kedalam tubuhku yang kemudian kujelma rentetan<br />
kereta kata yang ternyata tak membawamu kemana saja<br />
matamu tetap saja air tawar. meskipun senin itu begitu asin dan waktu sepahit ampas kopi<br />
hingga di air tawar genggammu jadi lain. memugar senin yang asin dengan peristiwa pulang yang teramat sederhana. dan aku paham sungguh tentang waktu yang merupa kopi yang tinggal setenguk di jalan kita.<br />
dan matamu tetap saja air tawar</p>
<p>Padang Ekspres, 23 Maret 2008</p>
<p>Arif Rizki<br />
<strong>KERANDA HUJAN</strong></p>
<p>bulir air berjatuh dari rambutmu yang selebat hujan.<br />
menggenang di halaman catatan-catatan yang ditoreh setiap perjumpaan.<br />
ada yang berbasahan selain buku-buku yang dikemasi dalam jinjinganmu; sebuah<br />
petuah yang kau kepalakan setingginya<br />
ditanganmu poros-poros rencana berloncatan dan menjelma rumputan yang selalu<br />
kau minta aku membacanya<br />
aku juga suka suka berbasah dengan hujan. ucap yang begitu saja tak mau kau dendangkan.<br />
sebab hujan bukan saja menerpa ruangmu, namun juga lelangkahku<br />
aku juga suka mengambar keranda. menduga-duga<br />
masa yang bertumpangan di pundakku dan mendorong pintu bagai menutup waktu<br />
kau ataupun aku sekalipun tak akan berlain simpang, karena tarian kita sama betul gerik wajahnya.<br />
dan kau tak akan memugar payung bukan?<br />
diantara dendang-dendang baling di hari sore, aku mengelanakan duga-duga ke pintu ragumu.<br />
kaukah itu yang menguncinya dari dalam selalu malam?</p>
<p>Padang Ekspres, 23 Maret 2008</p>
<p>C. H. Yurma<br />
<strong>EPILOG RANAH</strong></p>
<p>bundo kanduang melipat hari<br />
sedih sendiri di sudut negri</p>
<p>2005</p>
<p>Padang Ekspres, 24 September 2006</p>
<p>C. H. Yurma<br />
HANYA UPACARA NELAYAN</p>
<p>sebentar lagi dahaga mekar<br />
di ambang pintu yang menyibak wangi garam</p>
<p>walau kenangan pelesir ke dalam uap kopi pagi<br />
dan mimpi kita tak tidur-tidur<br />
kita selalu tahu,<br />
ada yang pulang membawa gemas tingkah laut<br />
sekaligus gemulai tari gelombang<br />
buat mainan kangen anak-istri<br />
menyambut hari yang selalu sakral<br />
bersujud<br />
berjuang hidup</p>
<p>2006</p>
<p>Bali Post, 27 Januari 2008</p>
<p>C. H. Yurma<br />
<strong>SENARAI ASPARAGUS</strong></p>
<p>;lorong yang terdemam</p>
<p>seketika saja aku menjauh dari ruasmu<br />
cuma berbulan-bulan<br />
(sekali datang – lama menghilang)<br />
sebab lelah cumbu<br />
adalah khianat berulang<br />
memulangkan tubuh<br />
dalam kenang tak terbilang</p>
<p>ada peluk yang terus terhalang<br />
tapi bukan dalam doa</p>
<p>oi budak-budak&#8230;<br />
siapa yang menjemput hujan<br />
mari adu tenggak di ketiak jalan<br />
menghimpun setengah<br />
apa yang mungkin saja tak kita ingat<br />
seperti tangis kekanak bersilang ngiang<br />
menembang dolanan<br />
yang terlalu mudah untuk kita ulang</p>
<p>dari lapang tanah gersang<br />
kita kulum panas waktu<br />
sama memberangkatkan senja<br />
akhirnya setitik tuak kental<br />
menitis di celah pulai<br />
pertanda lubang adalah gerbang<br />
tempat menyimpan hantu diri</p>
<p>waktu terus saja ke kejauhan harap<br />
biar kesedihan mendulang amarah<br />
melagukan kisah laknat hingga sudah<br />
kelak persuaan sebagaimana kepastian<br />
menabuh telinga kita<br />
– memanggil pada satu arah<br />
semak ilalang yang masih saja basah</p>
<p>2008</p>
<p>Harian Andalas, 20 Juli 2008</p>
<p>C. H. Yurma<br />
<strong>KAPAL BELIA</strong><br />
(aku)</p>
<p>pernah  kutatap matamu<br />
mengikuti ke mana arah pandangnya<br />
laut menyambut dan senja begitu tenang<br />
tapi aku takut pada lupa<br />
hingga tak lagi kenal maut di pucuk karang<br />
jika tiba-tiba hendak kucoba memukat tubuhmu</p>
<p>sebab aku kapal belia<br />
kadang candu dimabuk ombak</p>
<p>maka kuputuskan sebuah cara<br />
seperti melontar doa-doa ke liang awan<br />
kelak hujan atau kemarau akan menyudahinya</p>
<p>2008</p>
<p>Lampung Post, 1 Februari 2009</p>
<p>C. H. Yurma<br />
<strong>INSOMNIA</strong></p>
<p>badan<br />
jadi bangkai apung<br />
racun kopi<br />
deras ngalir menepak darah<br />
maka jadilah ia laut<br />
tempat lelap berlayar<br />
sejauh-jauh angin<br />
tinggal aku,<br />
jalang ditikam hujan pagi<br />
2008</p>
<p>Lampung Post, 1 Februari 2009</p>
<p>C. H. Yurma<br />
<strong>DENDAM MUSIM DALAM DIRI</strong></p>
<p>kecimpung gelegar mendung<br />
menitah payung terkembang<br />
dengan tangan gemetar<br />
yang tersengat kejut jantung</p>
<p>melesatlah ke beranda rumah<br />
agar tertahan ceracau aliran darah<br />
dan maut pun tak sampai-sampai</p>
<p>2008</p>
<p>Jurnal Nasional, 11 Januari 2009</p>
<p>Deddy Arsya<br />
<strong>MATA KAIL</strong></p>
<p>&#8220;bangunkan aku sebelum jam lima pagi. aku akan ke lubuk itu menyelami mata kail yang tersangkut. mungkin sebuah batu besar di dasarnya telah membuatnya begitu. mungkin seekor ikan jantan telah melilitkan talinya pada batu itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;jam dua belas pas. aku belum ingin tidur. aku terbayang mata kailmu, menjadi besar. malam yang lentur. mata kail yang basah. dan hujan pun menggigil di dalam tubuh kita setelahnya.”</p>
<p>“terlalu cepat rasanya, besok kau bukan istriku lagi. seorang lain telah kutemukan dalam wujud ikan. di gua di lubuk itu, di dasar air itu. di sana kami akan tinggal. membuat anak, membangun masa depan dan impian.&#8221;</p>
<p>&#8220;kau pun telah menemukan seekor kura-kura berpunggung hijau. yang akan melundungimu dari tatapan mata siapa pun. di dalam akuarium itu, ia akan menyala melebihi apa saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;suatu hari nanti, kau pun akan menikah. dengan tripang, ubur-ubur, atau umang-umang.&#8221;</p>
<p>&#8220;dan aku akan menjadi sepasang matahari yang rapuh di kemudian hari. di kemudian hari yang jauh. tentu bisa saja dekat. sedekat ibu jari dan telunjuk. sejauh cakrawala tiada tertembus.&#8221;</p>
<p>&#8220;setelah jam lima pagi itu, kau kubangunkan. dengkurmu masih basah di telingaku. seperti hujan itu. tapi aku tetap bersikeras pada diriku, sudah waktunya. sudah waktunya. maka aku siapkan mantel hujanmu. menyeduh kopi dan emping tanpa gula yang kemarin juga. sudah demikian acap aku berkata tentang cita-cita padamu. tentang cinta. pindah rumah, dipan yang berderit tiap dinaiki, segelas jus pagi hari. semuanya. maka aku memilih diam. melebihi batu, yang katamu diam terpaling. tapi kataku … kita berdebat panjang. dalam erang meninggi.&#8221;</p>
<p>&#8220;sedikit terlambat. mestinya sebelum jam lima pagi, mata kail itu sudah harus ditemukan. ia buta untuk membedakan apa saja. buaya-buaya raksasa itu akan datang dari arah muara. menghampiri mulut gua. dan kita tak akan menemukan apa-apa selain sia-sia.&#8221;</p>
<p>&#8220;ikan itu akan mati di ujung tali. tinggal gelembung di permukaan. mencibir kita sekehendaknya. dan kau akan terluka oleh cintamu sendiri. oleh mata kailmu sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;antara batas insang dan kuat selammu.&#8221;</p>
<p>“demikian usia kesetiaan.”</p>
<p>&#8220;dan aku menebak bau air. lalu kita tercekik mimpi masing-masing. seperti ikan di dasar itu.”</p>
<p>“mata kail itu menyilang dalam tenggorokan. mata kail itu menjadi ganas dan lapar.&#8221;</p>
<p>&#8220;kau inginkan ikan-ikan yang mengepak dalam akuarium. miniatur-miniatur pohon, rumah berpagar putih, kincir air yang bergerak lambat, sapi-sapi yang gemuk dan kurus, taman-taman berbunga lili, pohon mangga yang tinggi mencucuk, hutan-hutan berwarna asap, dipan yang lebar dan panjang, televisi 21 inc yang penuh hujan. bagaimana aku tak tahu tentang itu?”</p>
<p>“aku mendengar langkahmu di malam hari. aku mendengar air di akurium itu beriak sendiri, dan mata kail itu telah dilemparkan ke tengah-tengah yang paling jauh. ke bibir gua. ke mulut buaya-buaya raksasa.&#8221;</p>
<p>&#8220;tapi aku hanya inginkan rumah yang berderak oleh rentak anak-anak. aku hanya inginkan kau cemburu. aku inginkan &#8230;. tak lebih dari itu&#8221;</p>
<p>&#8220;mata kail itu menari-nari di dasar air.&#8221;</p>
<p>&#8220;matahari telah melepaskannya dari mulut ikan. ujung tali telah diseret arus air yang jadi deras dalam sekejap. aku masih mendengar kepaknya dalam tidurku. aku masih menghitung berapa banyak rentak yang tersisa di rumah ini. di lubuk itu, katamu. air di akuarium menjadi asin. seasin lautan.</p>
<p>“tak ada kura-kura berpunggung hijau.”</p>
<p>“tak ada ubur-ubur, tak ada tripang, tak ada umang.”</p>
<p>“kita hanya akan memelihara mabuk masing-masing”</p>
<p>Kompas, 15 Juni 2008</p>
<p>Deddy Arsya<br />
<strong>TOKO SERBA LIMA RIBU</strong></p>
<p>”aku masuki dirimu seperti memasuki toko serba lima ribu. aku satu set mainan anak-anak, tusuk gigi, dan satu pak pengorek telinga. ibuku boneka hiu gergaji, ayahku kampak bermata dua seperti dalam cerita silat di televisi. kau ingin menyebut nama-nama pemilik bibir yang pernah mengucapkan cinta dan hidup dalam kenanganmu. tapi orang-orang masuk dan keluar membawa apa saja menjauh dari pintu.”</p>
<p>”aku pendingan ruangan yang menempel di sudut toko. seseorang, mungkin pelayan yang mengerti isyarat hati, akan mengganti lagu dari tape di meja kasir dan menyembunyikan satu peristiwa bunuh diri di kantong belakang. menyalakan kipas angin di sudut lain dan menggumamkan kematian yang dingin. tidakkah pendingin ruangan, kipas angin, dan tape di meja kasir juga bagian yang akan dijual dari dirimu?”</p>
<p>”termasuk yang ingin kau lupakan: peristiwa bunuh diri itu!”</p>
<p>”aku membawa pacarku ke dalam dirimu suatu petang, berbelanja boneka anjing bermata besar dengan uang pas-pasan, dan menemukan tulang rusukku di antara gigi depannya yang runcing. aku memelihara omong kosong dengan mengingat hari ulang tahun kakek buyut kita yang menghilang dalam sebuah pertempuran saudara. pacarku akan mengulang omong kosong itu beberapa kali, dan mengutuk kesepianku. mungkin kepada lelaki lain yang dia kencani.”</p>
<p>”aku terus melubangi pohon di halamanmu dan menjulurkan sebelah tangan untuk membuka pintu. ada yang rebah tepat di pintu masuk di suatu hujan badai dan menyadari dengan terlambat: ayah kita di masa lalu pernah memangkas rambut kita sampai botak di bawah rindang pohon itu.”</p>
<p>”kita besar dan menemukan diri tak lagi sesederhana bunyi ketuk yang diwakilkan suara batuk atau desir air pembasuh kaki itu. ibu bergegas turun dan menemukanku telah telanjang dengan tubuh warna-warni.”</p>
<p>”kau seperti toko serba lima ribu!”</p>
<p>Kompas, 28 September 2008</p>
<p>Deddy Arsya<br />
<strong>TENGGELAM DIAM-DIAM</strong></p>
<p>“jika kau tenggelam dan mati dalam perjalanan nanti, apa yang akan dilakukan kekasihmu menjelang itu? aku mungkin bisa menuliskan suatu rencana yang biasa misalnya, memancing di akuarium rumah sendiri, mencuci karpet dengan sabun mandi, atau menjamur kasur di atas kompor.”</p>
<p>“kau boleh menceburkan dirimu ke danau itu. tapi aku katakan, aku tak menginginkan sesuatu pun menyumbul dari tenang air itu. itulah salahnya jika kita selalu menghindari arus deras, batu-batu di dasar yang kita pijak memantulkan ngilu ke pangkal gigi yang berlubang ini.”</p>
<p>“kapan ya kita bisa ke dokter gigi menghabiskan seluruh honor sajak ini hanya untuk sekali pemeriksaan. tidakkah lumut di batu-batu yang kita pijak itu memantulkan gamang tubuh kita seluruhnya. seperti rasa sakit di gigi.”</p>
<p>“tenggelam perlahan-lahan itu lebih bagus dari menonton televisi, atau memasukkah batu-batu kecil ke dalam saku piyama sehabis sembahyang, dan mimpikan mereka menjadi emas. meskipun sekarang bukan waktu yang tepat untuk tidur, tapi kita telah melakukan perjalanan 15 jam dengan bis ekonomi, menyaksikan hutan kiri &amp; kanan bagai selembar kain batik. aku menjadi tahu, kau tinggal di dusun yang mengajarkan anak-anak menghisap rokok yang telah diharamkan. bagaimana kalau kita mabuk ketika sedang mandi, atau tidur dengan mata terbuka, apakah itu juga diharamkan. atau: apakah maksudmu menulis sajak ini.”</p>
<p>“apakah kau pernah mengerti pertanyaan itu tidak cocok untuk cuaca seperti sekarang. kita terlibat macet hampir setengah hari. aku sedang sakit gigi. kau boleh mengerjakan sembahyang sepanjang hari untuk tahun berikutnya sekaligus. bisakah kita meminta tuhan bersabar seperti bisakah kita menimba hujan dari bak mandi untuk menjadi banjir di kota ini.”</p>
<p>“temanku menulis sajak tentang akar-akar pohon, kampung halaman penuh kenangan, dan terkadang kesunyian. aku katakan padanya, bisakah kau menulis sajak tentang cinta melebihi panjang sorban seorang padri. atau melebihi ayat-ayat yang dibaca dalam sembahyang.”</p>
<p>“aku tak pernah tidur-tidur hanya untuk mencurigaimu. kita sulit menemukan bahagia di kota ini, apa sebaiknya kita pindah saja. mengunjungi danau biru dan hijau, atau berjaga-jaga dengan membawa akuarium ini ke mana-mana sambil merasakan diri tenggelam.”</p>
<p>Kompas, 3 Mei 2009</p>
<p>Delvi Yandra<strong><br />
Suratmu Menikam Jantung</strong><br />
;Kepada sangsi</p>
<p>kubaca tulisan panjangmu yang pantai, sayang<br />
berpalung dalam kamar menikam jantung<br />
kaulah gelombang. Berhempasan tak tentu arah<br />
ke pulau. Ke penantian panjang tak berkesudahan</p>
<p>bersitubuh dalam kepalan waktu<br />
aku hilang rupa<br />
aku remuk redam<br />
apalagi untuk bersitahan<br />
mematah ranting putus di jalan</p>
<p>keridlaan jualah<br />
yang datang. Bagai angin ingin kugenggam</p>
<p>seperti halnya, debu mutiara<br />
setiap butirnya yang ikhlas<br />
yang menempel. Melekat di pelupuk mata<br />
kredo</p>
<p>Kandangpadati, September 2007</p>
<p>Singgalang, 11 Januari 2009</p>
<p>Delvi Yandra<br />
<strong>Patahan Kredo</strong></p>
<p>Patahan tulang-tulangku hanyut di sungai gangga<br />
air sucinya telah keruh oleh nyeri luka<br />
ke sungai mana lagi akan kubasuh riak-riak wajah ini?<br />
aku merasa dipenuhi dendam kesumat berjumpalitan</p>
<p>Kepercayaanku tumpah ruah berbuah sakit<br />
sehingga seluruh tangis luruh dalam pori-pori<br />
tak mampu lagi kudirikan tubuh tegap<br />
sebab segala badan rapuh dikelemasan masa</p>
<p>Kini kutuang air mata di cangkir kesayanganmu<br />
agar kau teguk makna ini sebagai buah kedekatan<br />
yang pernah kita semai di ladang tubuh kita</p>
<p>Pasar baru, Oktober 2007</p>
<p>Singgalang, 11 Januari 2009</p>
<p>Delvi Yandra<strong><br />
Di Ambang Pintu</strong></p>
<p>Pintumu bersarang tarantula tua<br />
tak bernama<br />
aku mengetuk gaung dalamnya<br />
ketukan makna kualirkan lewat ventilasi<br />
meraung bumbung di palung pintu<br />
berdesing lalu bising</p>
<p>Sekali lagi<br />
kali ini di ambang pintu<br />
dan tarantula tua membuka jalan<br />
aku mencarimu</p>
<p>Rumahteduh, September 2007</p>
<p>Singgalang, 11 Januari 2009<br />
Delvi Yandra<br />
Misalkan Seorang Kolektor<br />
Mati Muda</p>
<p>Aku adalah kalbu yang berdebu<br />
terbang sepenuh ruang<br />
menempel dan melekat di sudut waktu<br />
memberi tempat pada luang</p>
<p>Kubiarkan tanganmu menjangkauku<br />
meski sedepa tak terlampau<br />
aku belum mau mati muda<br />
dihimpit bumi dipukul penggada<br />
nyesak dalam dada</p>
<p>Kaulah mastodon atau gergasi<br />
koleksiku yang berharga<br />
kupajang dalam lemari besi</p>
<p>Dan hidup, kuhabiskan dalam etalase sejarah</p>
<p>Rumahteduh, september 2007</p>
<p>Singgalang, 11 Januari 2009</p>
<p>Delvi Yandra<br />
<strong>Berita Laut</strong></p>
<p>Aku khidmat mendengar gemuruh gelombang<br />
berhempasan di batu diam. Batu yang bersiteguh<br />
di kediamannya tanpa bergeser semeter pun</p>
<p>aku setuju menatap jauh<br />
lampu-lampu air. Seperti halnya mutiara<br />
aku ikhlas dikaitkan pada langit<br />
begitu rupa</p>
<p>ingin kusampaikan kabar padamu<br />
agar tersiar tentang laut<br />
yang begitu palung. Mencucuk-cucuk aku<br />
seharian penuh</p>
<p>Tepilaut, 26 September 2007</p>
<p>Singgalang, 11 Januari 2009</p>
<p>Delvi Yandra<br />
<strong>Rossalina</strong></p>
<p>Rossalina, dalam sakit kutuliskan sajak manis untukmu<br />
teguklah di antara jarak dan dingin hujan<br />
kelak kita akan saling mengerti<br />
bahwa malam telah didatangkan<br />
kepada kita, untuk dinikmati seharian penuh</p>
<p>bukalah jendela kamarmu<br />
bulan kaku dan pohon bisu<br />
sementara sekumpulan bintang merangsek<br />
di sela igauku, menjelma rindu</p>
<p>dan, dalam sakitku kini<br />
aku ingin mencintaimu<br />
lebih dari sekedar sajak<br />
luas tanpa batas, tanpa jarak</p>
<p>Kandangpadati, Februari 2009</p>
<p>Padang Ekspres, 1 Maret 2009</p>
<p>Delvi Yandra<br />
<strong>Sepasang Bayang<br />
Melintasi Suara Adzan</strong></p>
<p>Setelah gema kumandang adzan berkelindan<br />
dalam taman firdaus. Seperti sepasang bayang<br />
Kusaksikan kebisuan kalam dan kenistaan cahaya<br />
bersitahan mengenang patahan cinta yang agung<br />
yang penuh gairah sesayup suara anak-anak baru pulang mengaji<br />
menghitung jarak yang pedih dan perih merintih di waktu malam</p>
<p>O, bukan cinta yang kuagungkan sebagai syukur ketika sahur<br />
serupa ibu memasak sayur di dapur<br />
adalah kaji yang tak putus dalam sehari<br />
malang benar hari yang tak henti sujud dalam ribuan rakaat</p>
<p>Di depan pintu kupastikan tegak tubuhmu pulang menujuku<br />
dan selepas shalat aku telah melepas sakit yang mencucuk-cucuk<br />
dalam batinku. Lalu sepasang bayang<br />
tumbuh di tubuhku</p>
<p>Seperti muntahan hari yang kau suguhkan<br />
dan Tuhan menyaksikannya melintasi suara adzan</p>
<p>Dumai, Februari 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 1 Maret 2009</p>
<p>Delvi Yandra<br />
<strong>Pantai Tuhan</strong></p>
<p>Aku saksikan pantai panjang merantai di sepanjang tanjung<br />
ia rampungkan dalam sudut yang tak sudah<br />
lalu, sekumpulan umang-umang bergeser dihempas riak kecil<br />
dan tongkang mulai merapat menurunkan udang<br />
menurunkan sekelumit hidup yang pahit<br />
seperti enggan menemu malam</p>
<p>Ah, bukan nelayan yang tak mau melaut<br />
sebab orang-orang sibuk membuang minyak melempar tuba<br />
sesampah laut mengapung dan merapat ke pantai</p>
<p>Kelak Tuhan akan murka, seperti musa<br />
membelah laut dan hidup orang-orang yang khusyuk menemu pagi</p>
<p>kusampaikan pula pada pulau-pulau yang menyepi<br />
bahwa setelah ini keindahan akan berlipat-lipat<br />
lebih dari apa yang terbayangkan</p>
<p>Dumai, 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 1 Maret 2009</p>
<p>Delvi Yandra<br />
<strong>Ibu di Pagi Raya</strong></p>
<p>adalah rumpun bunga dalam taman ibu<br />
semekar hati raya yang wewarnanya berupa<br />
kupu kumbang berterbangan mencari sudut<br />
mata ibu yang madu, yang manis mengulit ari</p>
<p>sebagaimana matahari kuning masak di pucuk daun<br />
embun menghilang</p>
<p>sementara bersimpuh pagi<br />
anak-anak baru akan sekolah. Di tanah lapang.<br />
alam bebas selalu punya kelakar<br />
yang menarik, cerita untuk ibu</p>
<p>(kudengar petatah petitih nun jauh)<br />
muasal siang dan malam<br />
dan bunyi bansi di pematang<br />
adalah ibu di pagi raya</p>
<p>Kandangpadati, Agustus 2007</p>
<p>Padang Ekspres, 13 Januari 2008</p>
<p>Delvi Yandra<br />
<strong>Ruang Kosong</strong><br />
;Untuk Y dan S.R.</p>
<p>Hati adalah kumparan ruang kosong<br />
yang sepi. Aku khidmat mendengar gaung dalammu<br />
kadang kucemas-cemaskan sendiri<br />
sebelum kau benar-benar angin yang berjumpalitan<br />
di kedalaman khusyukku.</p>
<p>Telah kutempatkan hatiku di ronggamu<br />
yang paling sunyi. Agar dapat kau cerna muntahanku<br />
sebagai puisi.<br />
sebagai batu yang selalu diam dalam ngalir sungai<br />
yang betah menunggu dengan jutaan rakaat</p>
<p>Lalu lumut dan sesampah hulu menghampiriku<br />
pelan-pelan.</p>
<p>Kandangpadati, September 2007</p>
<p>Padang Ekspres, 13 Januari 2008</p>
<p>Delvi Yandra<br />
<strong>Misalkan Kau<br />
Sebuah Peta Buta</strong></p>
<p>Sulit bagiku membaca desir<br />
angin di bibirmu yang pasi. Kubiar rinai basah di punggungmu<br />
hingga membentuk lekuk dan belahan kata. Diam.</p>
<p>Bukitku sepi tanpa mata angin<br />
sempat kehilangan tempat tuju<br />
kecuali bila ada jejak langkahmu<br />
di sepanjang jalanku<br />
menuntunku pulang atau malah bikin aku<br />
kembali hilang arah bahkan tersesat</p>
<p>Dalam ukuran skala berapa<br />
aku dapat membaca segala apa<br />
yang tergambar di petamu</p>
<p>Kandangpadati, 21 September 2007</p>
<p>Padang Ekspres, 13 Januari 2008</p>
<p>Delvi Yandra<br />
<strong>Madah Buat Sri<br />
Di Malam Jahanam</strong></p>
<p>Kini aku menunggumu hingga palung<br />
Suatu ketika yang telah membikin jauh<br />
Lalu kubiarkan malam semakin pekat<br />
semakin pedat. Aku mengumpat sendirian<br />
di waktu yang basah genangan air mata</p>
<p>Air mata. Kering di belahan wajahku<br />
mendarah dedah dalam gigil malam<br />
kubaca makna pada pesan pendek lalu<br />
hatiku telah mencair di lembab kulit</p>
<p>Ketika kau menerima pesan pendek<br />
dari seseorang—bukan aku. Kupastikan lengkung senyummu<br />
begitu lepas. Sedangkan aku telah melepas sakit<br />
yang mencucuk-cucuk dalam batinku</p>
<p>Pasar baru, 07 Oktober 2007</p>
<p>Padang Ekspres, 13 Januari 2008</p>
<p>Delvi Yandra<br />
<strong>Sekat</strong></p>
<p>Aku sekarat disekat jaringmu<br />
tarantula tua menghampiri aku<br />
lalu kamu memahaminya sebagai cinta</p>
<p>Pasar baru, Oktober 2007</p>
<p>Padang Ekspres, 13 Januari 2008</p>
<p>Dewi Kumala Sutra<br />
MUSLIMAH CREATIVE AREA</p>
<p>Bunda, jadi muslimah itu susah<br />
Kemana-mana kutenteng ijazah<br />
Lamaran kerjaku diterima, Bunda<br />
Tapi, jilbabku harus dibuka<br />
Bunda, jadi muslimah itu mesti tegar<br />
Pakaian longgar berjilbab besar<br />
Menyapu halaman rumah berkaos kaki dibilang tetangga crazy!</p>
<p>Bunda, jadi muslimah itu harus mandiri<br />
Pintar jaga diri<br />
Pandai beladiri<br />
Ternyata bikin laki-laki gigit jari</p>
<p>Bunda, muslimah itu harus gaul<br />
Tak hirau dengan orang yang bersiul<br />
Bukan maksud mengasingkan diri<br />
Tapi gaul asalkan syar’i</p>
<p>Bunda, muslimah mestilah cerdas<br />
Menjadi khairunnas<br />
Sebagai tempat bertanya<br />
Tak ada maksud apa-apa<br />
Hanya untuk nabung pahala</p>
<p>Bunda, muslimah tak boleh malu-maluin<br />
Harus pintar main<br />
Bermain dengan kompor, bermain dengan waktu<br />
Bermain dengan kesehatan, bermain dengan keluarga<br />
Dan bermain dengan masyarakat<br />
Asalkan saja tidak main-main</p>
<p>Bunda, muslimah bukanlah sarjana roti<br />
Tapi ia orang yang berpotensi<br />
Mampu menghidupi diri sendiri<br />
Dengan mujahidun munafsihi</p>
<p>Bunda, kuhitung-hitung selama ini<br />
Untuk Islam apa yang sudah kuberi?</p>
<p>Bunda&#8230;, di sana muslimah kreatif<br />
Bunda&#8230;, di sana muslimah brilliant<br />
Bunda&#8230;, di sana muslimah militant</p>
<p>Bunda, kenapa aku tak kunjung berubah?<br />
Apa selama ini aku hanyalah kawat?<br />
Tidak Bunda, kuingin menjadi akhwat!</p>
<p>Bunda, doakan anakmu ini<br />
Terhitung dalam barisan mar’ah sholehah<br />
Kuingin sekuat Asma’<br />
Kuingin secerdas Aisyah<br />
Kuingin setegar Fatimah<br />
Kuingin sepemberani Sumayah</p>
<p>Taman Putri malu, 9 Juni 2007</p>
<p>Majalah Tasbih, Oktober 2007</p>
<p>Dewi Kumala Sutra<br />
<strong>MATIKU DAN ALAM-MU</strong></p>
<p>Kumandang Shubuh melebarkan mataku<br />
Air wudhu meresapi duka di hati<br />
Kutinggalkan tujuh pelangi obat-obatan itu<br />
Aku bosan! Siapa bilang aku sakit?</p>
<p>Beri aku kebebasan<br />
Tuk jajaki alam-Mu<br />
Biar mata ini kuning<br />
Biar dada ini sesak<br />
Biar rasa panas menyebar di tubuhku<br />
Biar percikan darah mengalir dari kaki dan tanganku</p>
<p>Izinkan aku ya Rabbi, menjajaki alam-Mu<br />
Alam-Mu, alam-Mu&#8230;, ya Alam-Mu&#8230;<br />
Sudah lama aku merindukannya<br />
Menapaki rumput yang diselimuti embun<br />
Kicauan burung  mengiringi langkahku<br />
Semut-semut genit merayap manja di bajuku<br />
Dan bunga liar menyapaku</p>
<p>Oh mentari, begitu ikhlasnya tersenyum<br />
Lambaian daun-daun di pepohonan<br />
Menyuruhku berhenti sejenak<br />
Tidak!<br />
Aku masih kuat!<br />
Aku tidak sakit!</p>
<p>Anak kodok mengajakku berlari<br />
Berlomba menuju puncak bukit-Mu<br />
Aku harus menang!</p>
<p>Kuteguk air pancuran itu<br />
Nikmat, yah amat nikmat<br />
Hey! Katanya kuat! Kenapa kau minum air itu?<br />
Batu-batu mulai meledek<br />
Langkahku gontai<br />
Pasukan nyamuk panik<br />
Hey manusia! Ingat pesan Bundamu!<br />
Tubuhku lunglai<br />
Tidak, aku tak ingin pulang!<br />
Aku muak obat-obatan itu!</p>
<p>Aku ingin mati bersama alam-Mu ya Rabbi!<br />
Alam-Mu&#8230;, alam-Mu&#8230;<br />
Ya, kuingin berpelukan mesra bersama alam-Mu<br />
Izinkan aku ya Rabbi&#8230;</p>
<p>Majalah Tasbih, Maret-April 2008</p>
<p>Dewi Kumala Sutra<br />
<strong>DI PALAK JIWA</strong></p>
<p>Dalam naungan<br />
Selalu terkenang bapak beradzan<br />
Anak-anaknya bergegas di shaf  belakang<br />
Usai sholat di panggil Indah nama yang indah<br />
Indah, dibuai rindu<br />
Pagar kayu nan kian melapuk<br />
Dibuai kenangan Indah tak mau<br />
Di Palak jiwa kuburan ayah tak bertemu</p>
<p>P’mails, 03—09 Juni 2007</p>
<p>Dewi Kumala Sutra<br />
<strong>CELANA-CELANA GANTUNG</strong></p>
<p>Tuhan memanggil<br />
Memanggil hamba-hambaNya<br />
Wajah-wajah bersih<br />
Menampung di rumah kalbu<br />
Bila mereka sudah mengemis<br />
Kembalilah ke markas itu<br />
Dibaca ayat-ayat cinta-Nya<br />
Celana-celana gantung<br />
Menimati dunia tangga hijau<br />
Mereka tersenyum<br />
Walau srigala bersiap menerkan<br />
Hidup mati di tangan Allah saja<br />
Celana-celana gantung<br />
Amatlah mencintai-Nya</p>
<p>Mesjid kampus, 14 April 2007</p>
<p>Majalah Tasbih, November-Desember 2008</p>
<p>Dewi Kumala Sutra<br />
<strong>KEMARAU HATI</strong></p>
<p>Terlalu sering hati dikotori<br />
Tak lagi putih ditutupi debu<br />
Gersang, penuh noda yang menjijikkan<br />
Akankah kembali mewangi?</p>
<p>Sedangkan ia semakin busuk, berbau amis<br />
Ketika hidayah menjarak jauh<br />
Ketika usia setengah abad<br />
Sekeping hati merangkak kembali<br />
Mencari dan memetik hidayah<br />
Namun, awan hitam bersahut gelegar petir<br />
Melempar hati ke lembah maksiat<br />
Dunia gelap menyapa lagi</p>
<p>Hati yang gersang bertambah busuk<br />
Mengalahkan nanah dan bangkai anjing<br />
Ho&#8230;akkk! Semua ingin muntah!<br />
Akankah taubat nashuha menghampiri hati?<br />
Mengikis lumuran dosa?<br />
Sedangkan hujan enggan mengguyur deras<br />
Kemarau tiada henti<br />
Dan lumpur-lumpur kian mengeras<br />
Hatinya semakin kaku, berbalut benang hitam<br />
Hidayah kian menyombongkan diri<br />
Akankah ia kembali?</p>
<p>Majalah Tasbih, 2007</p>
<p>Dewi Kumala Sutra<br />
<strong>KARENA AKU MENANTI</strong></p>
<p>Sisik-sisik langit berkeping<br />
Impianku terkatung-katung<br />
Hanya anak-anak kepiting yang mengerti<br />
Aku di sini<br />
Karena aku menanti<br />
mana jurang kuningnya?<br />
Aku di sini<br />
Karena aku menanti<br />
Kalaupun tak ada<br />
Mana jurang kelabunya?</p>
<p>P’mails, 03—09 Juni 2007</p>
<p>Edo Virama Putra<br />
<strong>BARABAH</strong></p>
<p>Sembai sayapmu mengagum  hati<br />
terjuntai dihembus angin timur<br />
dada ranting patah lembab bertahan<br />
¬adakah kau resah setiap tikungan angin?<br />
paruh tajam mematuk pisang ranum<br />
mengupas hari hari dirintik hujan<br />
bersitatap jauh kedepan menepis suara parau<br />
inikah jalan setapak tanpa simpang?<br />
subuh suaramu mendayu dayu<br />
:menyambut pagi yang masih basah<br />
mengipas sayap dikusutkan malam<br />
berapa getah kusiapkan memikatmu?<br />
oh, lelah kubersitahan memasang jerat ditepian mandi<br />
barabah lalu lalang mengibas sayap”menjauhlah”sebelum malam<br />
dimana musim kawin tiba menetas almanak tua</p>
<p>Kandang Padati,  2007</p>
<p>Media Indonesia, 26 Agustus 2007</p>
<p>Edo Virama Putra<br />
Rinai<br />
:setelah rintik membasahi keningku</p>
<p>gabak  melayang sepanjang musim<br />
menuai hari hari di dedaun sirih yang luka<br />
gagap langkahku tersendat diujung rambutmu,<br />
sebentuk rinai hujan melembab dipipi ranum<br />
kemana lentik senja kusandingkan?</p>
<p>semasa beringin berdiri kokoh,<br />
kau bersandar didahan gempal<br />
memuji reranting yang liat dihinggapi murai<br />
begitu cewang dilangit menebar cerah<br />
selingkar akar masih bergayut<br />
memutar arah langkah kiblat sajadah</p>
<p>sesungging senyum tak pernah rekah<br />
bergantung dilekuk ngarai kaupunya<br />
sedu angin di pulau perca menatap gelisahmu<br />
begitu goyang menggoncang</p>
<p>uraklah tungku sebelum kayu disilangkan<br />
dan api bersitahan gemulai panasnya</p>
<p>Agustus, 2007</p>
<p>Media Indonesia, 26 Agustus 2007</p>
<p>Edo Virama Putra<br />
<strong>Orasi Kesunyian</strong></p>
<p>Suara bansi telah menjalar keubun ubun<br />
berdengung dimatamu yang menahun resah<br />
tingkah gendang menyambut malam<br />
seperti menyambut hari hari rusuh<br />
dibawah gelak tawa bocah lugu</p>
<p>aku merindumu</p>
<p>betapa sampelong mencucuk batin<br />
merayap dibongkah mimpi<br />
tak ada suluh menerangi jalan setapak<br />
menuju tepian mandi lembab melumut<br />
dan rantau tak bertuah lagi</p>
<p>saluang menafsir orasi kesunyian<br />
yang memukau orang perenial<br />
ketika ragkiang tak berisi padi<br />
adakah kesunyian berpunya?</p>
<p>retak jua tanah ini yang pernah kau igaukan<br />
sambil menahan kata kelu dibibirmu<br />
memuncak dikibas angin pesisir</p>
<p>aku merindumu<br />
memahami luka dikesunyian</p>
<p>Agustus, 2007</p>
<p>Media Indonesia, 26 Agustus 2007</p>
<p>Edo Virama Putra<br />
<strong>Tambo</strong><br />
:wisran hadi</p>
<p>Dibalik jendela tua<br />
orang orang melihat masa lalu,<br />
membuka tambo kusam dirangkiang rubuh<br />
berkelakar mesra tentang datuk datuk<br />
tentang bundo kanduang<br />
sutan rumanduang atau puti bungsu<br />
gelisah merunut silsilah rapuh tak bernama</p>
<p>ahai, aku diam membisu<br />
mendengar celoteh mereka,<br />
merekam sejarah berupa petuah<br />
dan bermimpi membalik waktu<br />
dalam gumulan emosi</p>
<p>Agustus, 2007</p>
<p>Media Indonesia, 26 Agustus 2007</p>
<p>Edo Virama Putra<br />
<strong>Dendang</strong></p>
<p>Selangkah lagi aku hadir<br />
dihalaman puisimu yang ranum<br />
merangkai kata dalam dendang<br />
dan sarunai bersiul seriuh kicau<br />
ulurkan sehayun sapa seketika<br />
aku bersila dibawah pematang<br />
mendepa perkenalan, si buyung,<br />
kau si upik menenun dianjungan<br />
melentik jemari selentik sirih<br />
durailah tawa di rumah gadang<br />
bukan legian yang kau punya</p>
<p>O, bebisik pinang muda pulau perca<br />
aku tating carano ketengah<br />
sebagai sembah tuan dan puan<br />
begitu sirih penawar risau<br />
bertahan ditampuk basah<br />
harumlah seperti bunga kopi<br />
ditanah moyangku</p>
<p>Agustus, 2007</p>
<p>Media Indonesia, 26 Agustus 2007</p>
<p>Edo Virama Putra<br />
Luka Lama 1<br />
;majapahit</p>
<p>dua pulau berseberang arah<br />
membuka kenangan dalam kelam</p>
<p>jawi, beribu kapal mengarungi samudra<br />
membawa sastria beribu pedang<br />
membawa luka di setiap generasi</p>
<p>swarnadwipa, ladang padi berabad-abad<br />
menerima luka di padang sibusuak<br />
menerima kaba di setiap generasi</p>
<p>dan tangis selalu ada di setiap musim</p>
<p>kandangpadati, 2007<br />
Singgalang, 13 Januari 2008</p>
<p>Edo Virama Putra<br />
<strong>Luka Lama 2</strong><br />
:padri</p>
<p>sepanjang pantai barat orang orang berlabuh<br />
menunggu harum  pala dan lada<br />
datang dari penjuru dunia<br />
inikah tanah moyangku?</p>
<p>Bonjol, melingkar bukit<br />
dan tumbuhlah bambu aur berduri</p>
<p>kau begitu kokoh pada masamu<br />
melenggang di atas kuda putih<br />
dengan sorban, jubah, serta sebuah kitab<br />
menerangi hari  hari kelam sejarah</p>
<p>retak jua tanah ini, dan cinta tak bertepi</p>
<p>sebuah plakat dengan basa basi<br />
menawar persahabatan tuan atau puan<br />
ahai, gelombang darah membuncah<br />
antara saudara di padang rumput hijau<br />
adakah penyesalan?</p>
<p>rusuh hari hari dimulut meriam<br />
menjengkal kemenangan pada darah<br />
pada perjanjian dan tangis bayi<br />
pada benteng bambu berduri yang roboh</p>
<p>dalam gelisah pembuangan<br />
aku tak menemukan kebangkitan</p>
<p>kandangpadati, 2007</p>
<p>Singgalang, 13 Januari 2008</p>
<p>Edo Virama Putra<br />
<strong>Luka Lama 3</strong><br />
;prri</p>
<p>aku masih kanak,li<br />
mendengar luka dari leluhur<br />
di sebuah pagi; barangkali februari</p>
<p>ketika ia pulang dari utara membawa mahzab<br />
dan duduk di sebuah kursi goyang<br />
mendengar kicau murai seriuh angin berhembus<br />
geram berpalut emosi mendidih jantung<br />
dan cerutu di tangan kanan diremas<br />
berserak di lantai pualam,mati<br />
“kembalilah kepangkuan ibu nak”katanya<br />
dan jalan telah bersimpang dua</p>
<p>di antara dua pulau, cinta tak bersemi<br />
hanya nyanyian perang dan darah</p>
<p>jalan-jalan tebaran selonsong peluru<br />
bau mensiu mengepul di udara<br />
mayat bergelimpangan<br />
sungai dan kolam ikan memerah<br />
dan sesudah magrib suara tahlil berdengung<br />
dari perempuan yang membisu tangis</p>
<p>adakah  kerinduan dari mereka?<br />
keseimbangan dua hati satu tujuan</p>
<p>kandangpadati, 2007</p>
<p>Singgalang, 13 Januari 2008</p>
<p>Edo Virama Putra<br />
Melepas Ayah</p>
<p>di laman itu kita menatap, membuka gerbang<br />
memulai pagi menjelang petang<br />
mendepa kepergian dengan ransel hijau di pundakmu</p>
<p>dan aku melihatmu di balik jendela<br />
melukis perjalanansebelum sorga itu datang<br />
kita lelaki, ayah, cerita luka kau dendangkan<br />
dikanakku hingga mengenal cinta</p>
<p>di laman itu kita menatap, membuka gerbang<br />
menilik sejarah kebelakang rumah<br />
dan langkahmu secerah syawal ketika hujan reda</p>
<p>melepasmu serasa ladang kopi kita membunga, ayah<br />
di cabangnya buah begitu merah ranum<br />
tak ada semut atau musang menjamah<br />
dewasaku hingga mengenal maut</p>
<p>kandangpadati, 2007</p>
<p>Singgalang, 13 Januari 2008</p>
<p>Edo Virama Putra<br />
<strong>Memilih Jalan</strong></p>
<p>tetua telah meneruka semua rimba<br />
mengolah sekedar perlu<br />
menanam padi hingga bernas menguning</p>
<p>setapak jalan yang kupilih dari leluhur<br />
dari musim gelisah hampa sepanjang tahun<br />
melukis takdir dalam almanak kusam<br />
demi penyumbat tangis perempuan tua<br />
perempuan sepanjang zaman di negeri berkabut</p>
<p>kelok jalan yang berliku kutempuh dalam bisu<br />
pahit, manis, atau asam adalah rempah kehidupan<br />
memilih jalan diantara dua simpang; jalan puisi<br />
menyejuk di halaman penyair itu</p>
<p>kandangpadati, 2007</p>
<p>Singgalang, 13 Januari 2008</p>
<p>Eka Satiawan<br />
Kado kelahiran<br />
: win</p>
<p>“aku tak bisa menggambar apa-apa pada usiamu”</p>
<p>di balik pagar<br />
yang kelak kau pancang satu sudut dengan namamu<br />
aku pernah dipulun badai<br />
dikecup kering panjang usia terpepat tak bisa apa-apa</p>
<p>dik, angin masih muda kau panggul<br />
jangan sampai jadi puyu, jadi taufan, jadi bencana<br />
menyampul langkahmu<br />
hingga patah- terseok tak bisa pulang<br />
berpeluk gurau bersama</p>
<p>sesekali pada laut yang kau tempuh<br />
ombak pernah juga tak menghempas<br />
maka singgahilah sebuah pulau<br />
menjahit layar yang koyak dipisau angin<br />
bungkuslah beberapa biji palawija<br />
buat lepas rindu pada bilik rumah ibu</p>
<p>“aku tak bisa menggambar apa-apa<br />
pada usia yang pernah kulalui”</p>
<p>tak salah siapa, win<br />
hanya mata tak mau terbuka</p>
<p>berkali-kali ibu terisak di lengan sendiri<br />
mati kecemasan<br />
beberapa carut kusuntingkan pada malam</p>
<p>ada juga tawa</p>
<p>Rumah Teduh 2007</p>
<p>Padang ekspres, 29 Juli 2007</p>
<p>Eka Satiawan<br />
<strong>Yang Mendiamku Sedalam Ini</strong></p>
<p>aku mengenakan kemeja kotak-kotak<br />
siang itu di depan rumahmu. membacakan beberapa bait<br />
cinta sederhana Sarpadi. dalam hati. hanya dalam hati.<br />
berdiri.</p>
<p>matahari menggigil di rambutku,<br />
lalu cepat-cepat sembunyi membentuk awan dan hujan.<br />
sepertinya hanya basa-basi,<br />
sebab kita takkan pernah dirindukan<br />
kecuali kau dan aku.</p>
<p>daun-daun berguguran. selembar, kuning, tepat di ujung<br />
sepatu hitamku yang kau belikan. maaf, tapi aku hanya<br />
sesekali menangis. jangan hiraukan</p>
<p>daun itu terbang lagi. aku pulang,<br />
dan ketika menoleh ke belakang,<br />
daun itu sudah menutup satu huruf di namamu,<br />
satu angka di tanggal lahirmu.</p>
<p>Kandang Padati 2007</p>
<p>Padang Ekspres, 7 September 2008</p>
<p>Eka Satiawan<br />
<strong>Singgahlah Kata Sehari Di Bilikku</strong></p>
<p>sehari saja kata singgahlah di bilikku. Singgahlah<br />
kupilin serupa tembakau, bakar jadi puisi, sebab kau<br />
takkan pernah jadi kenangan. Sehari saja singgahlah<br />
melilit rangka bikin liang di uratku berdiam di sana</p>
<p>pintu-pintu sudah kepecah sudah tak ada halang rintang<br />
singgahlah kata. mewujud apa saja tak apa sebab kau ada<br />
singgahlah. jendela juga sudah kulepas</p>
<p>menjadilah dalam jaga dalam igau tak berbeda. Singgahlah!<br />
mari bermain. kau jadi aku boleh juga jadi belam api atau puisi<br />
sama saja sebab diam membakar. sehari saja singgahlah kata<br />
kita sudahi rima-rima patah tak tentu ini.dinding-dinding<br />
kuruntuh sudah sejak lama ditumbuh lumut, jamur,<br />
juga tempat berteduh si kaki seribu dan laba-laba.<br />
atap pun tak ada</p>
<p>kita berteduh dalam puisi itu kelak. menari, menangis<br />
sesuka hati. tak ada lelucon lagi.<br />
singgahlah kata sehari saja<br />
bilik terhampar sepanjang jarak kau dan aku!</p>
<p>rumahteduh ,2007</p>
<p>Padang Ekspres, 7 September 2008</p>
<p>Esha Tegar Putra<br />
<strong>Sepinggan Sajak Sepi</strong><br />
tentunya kita tak bakal saling melupa, sekarang aku sepinggan<br />
sajak sepi, sedangkan kau sebentuk kata hati<br />
tentunya kau tak akan pernah mengira bahwasanya aku akan<br />
mempunyai sepasang mata berbahaya, mata yang bisa memandang<br />
tembus lewat sesela angin (maka dari jauh, dari jarak yang tak bisa<br />
kau tebak, pastinya aku akan menatapmu dengan penuh malu)<br />
aku juga seorang penujum yang tahu di tempat mana kau<br />
sembunyikan rasa sakit, ke sudut mana kau benamkan kenangan geli<br />
yang selalu ingin kau nikmati sendiri<br />
pastinya aku tak akan banyak berucap dan bergumam lagi<br />
tapi piuhan mantra dan jimat penghela akan kudedahkan<br />
(bagi siapa saja yang menyembunyikan kenangan<br />
ke pucuk paling rahasia)<br />
aku juga akan mengobati kau, jika dalam sakit<br />
aku akan menyajikan sepunggung tulang<br />
agar kau kuat dalam mengingat dan sigap berucap<br />
tetap saja aku akan kau maknai sepinggan sajak sepi<br />
sebab kau sebentuk kata hati<br />
dan kita pastinya akan cepat bertemu jika sakit melibatkan diri<br />
Jalantunggang, 2008/09<br />
Koran Tempo, 15 Maret 2009</p>
<p>Esha Tegar Putra<br />
<strong>Mengukur Jarak</strong><br />
akhirnya aku tahu, antara singgalang dan buahbatu<br />
ada yang terentang serupa benang, yakni matamu; mata perdu<br />
meski sesekali aku tersesat di jalan panjang dan tubuh jalang<br />
bayangmu tumbang di antara serak bunyi puput batang padi<br />
kiranya siapa yang lebih mengerti selain sunyi yang kian mati<br />
matamu menyiratkan lubuk dalam, bayangan di dasarnya terkurung<br />
terbenam juga angan, pantai panjang dikulum pasir bergaram<br />
matamu menyiratkan sesuatu yang padam, sesuatu yang geram<br />
antara singgalang dan buahbatu adalah rindu, begitulah seruku<br />
teramat lapang ini langit, teramat sulit buat digigit<br />
aku kian bergairah; di sini lembu, kuda, tempua, kecebong<br />
segala binatang ikut berseru dari hunianku, ikut berseru sepi<br />
jarak tak merupa benang pintalan biasa (bukan pintalan si tua yang<br />
dengan gemetar menenun kenangan lama di helaian kain satin)<br />
bilamana rindu ini padu menjadi bau gaharu, siapa yang bakal<br />
sanggup menenun makna cinta yang berubah jadi perca?<br />
isyarat mata perdumu, sekumparan kabut lembut penggenap kalut<br />
tapi siapa yang sanggup menelungkupkan tanjungku ke arah lautmu?<br />
kali saja pasir susut, singgalang merupa gundukan tanah biasa<br />
tak bersuara tak berseru, dan buahbatu menghela itu rindu<br />
di ini tahun pucuk cinta menumbuh baru, sesuatu yang padu<br />
digenapkan tubuhmu, dengan bau lokan rebus dan amis susu lembu<br />
akhirnya sajak jadi himpunan bahasa yang tak perlu diberi tahu<br />
dan aku akan berucap mengenai jalang malam menjelma tubuhmu<br />
kiranya kau tak mengerti, sajak tumbuh di dagumu, punggungmu<br />
dadamu, di segala yang ada padamu menumbuhkan gairah sajak<br />
Kandangpadati, 2008</p>
<p>Koran Tempo, 15 Maret 2009</p>
<p>Esha Tegar Putra<br />
<strong>Pohon Agung</strong></p>
<p>1<br />
kuamati sebatang tubuhmu<br />
seperti mengamati sebatang pohon agung<br />
di hari yang mendung</p>
<p>bola matamu kelihatan cekung<br />
seakan menenung dan menghisapku<br />
ke dalam tempurung yang mengapung</p>
<p>rambut yang terjalin dan berpilin<br />
membayangkanku akan sumbulan akar<br />
sehabis menusuk bebatuan lapuk dengan garangnya</p>
<p>dan di rengkah bibirmu itu<br />
kayu-kayu belah di kemarau yang tak sudah<br />
kemarau yang tak memberi pertukaran pada warna sungai</p>
<p>punggungmu entah berwarna apa<br />
terlihat belang-belang dengan serat menebal<br />
seperti bekas batang terpanggang</p>
<p>2<br />
tubuhmu yang sebatang pohon agung<br />
dengan buah lebat yang begitu nikmat dulunya<br />
seringkali aku salah duga memaknai itu. ingatanku tak cukup kuat<br />
menerjemahkan isyarat yang kau buat di kali kesekian hujan merambat</p>
<p>di suatu ketika aku hanya bisa berharap<br />
tubuhmu yang sebatang pohon agung<br />
dijadikan tembat bergelantung. dan akan melambungkan<br />
keinginan beburung; mengarung langit lapang yang kini murung</p>
<p>cuma di kerisik daun jatuh<br />
(barangkali itu tangismu turun) dapat kusaksikan<br />
persetubuhan nikmatmu dengan badan angin. semacam<br />
permainan, dan hanya lenguh burukmu yang bisa kutangkap</p>
<p>3<br />
aku ingin medekat dengan penuh harap<br />
lalu mendekap tubuhmu yang sebatang pohon agung<br />
sembari merapal doa-doa lama yang temurun diajarkan para tetua<br />
agar senantiasa kau bisa memahami kesakitanku, kesakitan penebang<br />
pohon rimba—sesekali aku merupa penggetah burung</p>
<p>siasat apakah yang bisa merubuhkanmu<br />
sebatang pohon agung dalam mendung<br />
aku begitu takjub pada tangkai dan surai lebatmu<br />
yang mengucurkan getah mentah. harapku berjaga di antara patahan<br />
ranting, di antara runtuhan lapuk dan terbangan gabukmu</p>
<p>4<br />
agar di hari yang mendung<br />
ketuban awan segera pecah dan tempias air dapat<br />
berburu di kedudukan tanah<br />
hingga tubuhmu, oh, yang sebatang pohon agung<br />
menjadi pertanda dimulainya musim berpinak<br />
bagi sepasukan semak</p>
<p>Kandangpadati, 2009</p>
<p>Kompas, 12 April 2009</p>
<p>Esha Tegar Putra<br />
<strong>Seretan Suara</strong></p>
<p>suara siapakah yang menyeretmu hingga tergelepar di tepian pesisir<br />
dengungnya tak seperti bunyi lebah, gaungnya tak seperti desiran angin<br />
yang beradu kian-kemari di punggung lembah. suara siapakah<br />
yang telah menelantarkan tubuhmu hingga tak sanggup lagi merapal<br />
isyarat kerang pecah, tak sanggup membau amisnya lendir ikan</p>
<p>dan seperti menemu lubang dalam, kau tak sanggup menyuarakan<br />
sakit pada badan yang diregang oleh jarak. di tepian pesisir tanganmu<br />
digelipatkan, dan di lain jarak (mungkin di tengah laut) kakimu<br />
diapungkan. seakan dijadikan umpan bagi ikan-ikan bergigi tajam</p>
<p>suara siapakah itu, yang menghelamu jadi makhluk pendiam yang<br />
tak sanggup mengusap jejak pasir yang melekat di kening beningmu</p>
<p>Kandangpadati, 2009</p>
<p>Kompas, 12 April 2009</p>
<p>Fadhila Ramadhona<br />
malam pembukaan</p>
<p>adalah perumpamaan airmata;<br />
ada yang sungguh memanggil di balik gerimis<br />
tanpa sempat mengantar kembang pada awan<br />
yang mengirim nama angin<br />
hingga penjurunya tumpah  dari dasar langit</p>
<p>“bukankah kesedihan mengubah kita dengan cara yang berbeda?”</p>
<p>desember, 2007</p>
<p>Pikiran Rakyat, 12 Januari 2008</p>
<p>Fadhila Ramadhona<br />
perkawinan bulan</p>
<p>pada pertemuan ingatan di mana suara lepas mencari jiwa yang sama<br />
sampai langit tak berbahasa.<br />
maka untuk sekian usia, kau pun menari seperti musim hujan, memanggil,<br />
lalu masuki kedalaman waktu yang ganjil.</p>
<p>pada percakapan daun-daun di mana rindu menikam pucuk jantung.<br />
menjemput tujuh kedukaan dengan mantra qabul. bait gelisah menderas<br />
nuju rupa pengantin.</p>
<p>pada percintaan kata di mana takdir tak punya sepakat. malam runtuh<br />
di kota merah. menerka warna yang bertamasya jauh ke negeri angin.</p>
<p>setelahnya, hanya pernikahan di sebidang bulan yang membayang</p>
<p>desember, 2007</p>
<p>Pikiran Rakyat, 12 Januari 2008</p>
<p>Fadhila Ramadhona<br />
pesan</p>
<p>“dan kujatuhkan air mata pada hulu, yang menjadikannya<br />
pesan kepada muara”</p>
<p>aku rindu pantai dengan lengking angin yang memburu<br />
barak hingga medan-medan perang<br />
pada enam langkah pengembaraan sampai</p>
<p>aku rindu pantaimu yang datang mengetuk pintu<br />
meski gigil membuat kita tak punya kata<br />
tapi tubuh ini mengisyaratkan sepi<br />
maka masuklah!<br />
masuk ke mimpi paling sempurna</p>
<p>aku rindu pantai yang menghangatkan kenangan<br />
serupa kerinduan kekanak pada dongeng si pak tua</p>
<p>Pikiran Rakyat, 27 Desember 2008</p>
<p>Fadhila Ramadhona<br />
<strong>kematian cuaca</strong></p>
<p>ada cemas yang tak mampu dinamai kala hujan tinggal sekerat.<br />
wajah dini hari menjadi bayang. demikian waktu hanya ruang kosong<br />
yang menuntun jiwa-jiwa dari bilik perempuan ke warna petang.</p>
<p>sesekali seseorang mempersembahkan rerama yang dipermainkan<br />
angin ke langit sunyi. hingga tiga ratus tahun setelahnya adalah selengkung<br />
lengang pecah menyetubuhi tanah merah. menggetarkan hari jadi<br />
gelap yang ragu. dan bulan-bulan pada keasingan ciuman telah jadi duka.<br />
petanda empat penjuru mulai hilang arah barangkali<br />
juga perayaan kematian  musim</p>
<p>ada cemas yang tak mampu dinamai kala hujan tinggal sekerat.<br />
sungai-sungai tengadah ke utara dalam  mantra purba.<br />
usia cuaca makin tak berdetak. tubuh serupa singgah yang entah.</p>
<p>maret, 2008</p>
<p>Pikiran Rakyat, 27 Desember 2008</p>
<p>Fadhila Ramadhona<br />
<strong>ranjang</strong><br />
: AR. Kusuma</p>
<p>untuk sekian subuh: yang memenggal balik kenangan,<br />
jejak itu tak mau pergi dari ranjang. mungkin telah membenam<br />
bersama kota juga cemas berulang di dada mereka.<br />
“tapi selalu orang-orang membangun dalam diri yang lain!”</p>
<p>untuk sekian subuh: yang mengubur perjumpaan<br />
alangkah sepi wangi rambut berbekas. segenap nyala dari tidurku<br />
semalam. betapa tetamu datang hanya membunyikan lambai, sungguh</p>
<p>kau pun</p>
<p>desember, 2008</p>
<p>Pikiran Rakyat, 27 Desember 2008</p>
<p>Fatris Mohammad Faiz<br />
<strong>KOTAMU 1</strong></p>
<p>kotamu begitu dingin,<br />
aku kenang sebagai gelisah matahari<br />
orang-orang berjalan lamban seperti menjajakan kerinduan<br />
akan perang, letusan yang ngiang<br />
—setengah abad yang hilang</p>
<p>pada bangku-bangku taman<br />
tak lagi kutemukan sisa hujan semalam<br />
barangkali seorang yang tak pernah percaya pada cuaca<br />
telah menghapusnya</p>
<p>tapi aku merasa ada yang tak bisa dihapus<br />
sebijak kita menyembunyikan dosa<br />
ke ceruk di mana<br />
tuhan tak masuk dalam halaman pertama sebuah cerita</p>
<p>Bukittinggi, 2006</p>
<p>Padang Ekspres, 27 Mei 2007</p>
<p>Fatris Mohammad Faiz<br />
<strong>ALAMAT</strong></p>
<p>aku menunggumu, entah menunda setiap keberangkatan<br />
dengan tujuan selalu berubah<br />
halte-halte dan terminal tak lain hanya sebuah persinggahan<br />
yang memajang slogan-slogan perih<br />
seolah kita telah ragu pada posisi bayang-bayang</p>
<p>aku menunggumu, ataukah mencarimu<br />
dengan alamat yang salah di kota yang tak tentu<br />
sebab gedung-gedung tumbuh melahirkan gergasi<br />
“aku selalu takut membayangkan anak-anak<br />
menikmati hujan dari dalam ponsel,” katamu</p>
<p>aku menunggumu, entah mencari bayang yang hilang<br />
ditelan gedung-gedung gemuk menjulang</p>
<p>Bukittinggi, Januari 2007</p>
<p>Padang Ekspres, 27 Mei 2007</p>
<p>Fatris Mohammad Faiz<br />
<strong>Sonet Laut</strong><br />
i<br />
kita tak pernah benar serupa laut<br />
:tahu kapan mesti surut</p>
<p>tapi senja begitu asing<br />
membuatmu selalu ingin membayangkan kepergiannya</p>
<p>siapa yang lupa arah?</p>
<p>ii<br />
lupakan tanggal dan kalender yang sibuk mengurus<br />
tiap keberangkatan</p>
<p>iii<br />
lalu kit abaca tipa gerak<br />
atau derak ditinggal ombak tiap kau mencoba mengabadikan<br />
jejak<br />
orang-orang telah berangkat<br />
melambai di pelabuhan lain</p>
<p>2005-2006</p>
<p>Padang Ekspres, 2 Juli 2006</p>
<p>Fatris Mohammad Faiz<br />
<strong>BALADA NEGERI TERCINTA</strong><br />
:Anna Akhmatova</p>
<p>Air matamu yang hangat melubangi<br />
Lantai gigil es tahun baru<br />
Pohon poplar penjara itu terus saja  membungkuk<br />
Tak terdengar sesuara—namun betapa banyak nyawa<br />
Tak berdosa tengah menghampiri mautnya sendiri.</p>
<p>Di Odesso, suatu saat tak ada lagi arak,<br />
pun arah kehilangan dari pendar dan matahari lewat. Ukraina meresap<br />
negeriku perlahan akan lesap dalam sorak-sorai</p>
<p>hinggap dalam cermin dan pantulan nama-nama<br />
dan kota, kelak akan meninggalkan bentuknya di wajah<br />
Senapan tua atau warna warni<br />
Kembang yang menempel di tubuh remaja, tubuhku.</p>
<p>Seseorang telah berangkat, menyeberangi senja berpuluh tahun<br />
Memanggul senapang tua dan tak pernah kembali</p>
<p>Padang Ekspres, 20 April 2008</p>
<p>Fatris Mohammad Faiz<br />
<strong>CERMIN</strong><br />
:Hafidz Mamuk</p>
<p>Di kamar aku berkaca pada ejaan lama<br />
semua membuangku<br />
ke jalan-jalan, ke sesak<br />
ke boutique.<br />
Semua serba tak berwarna.<br />
Serba tak teraba.</p>
<p>Aku bercermin pada retak cuaca<br />
banyak garis di muka<br />
tak terbaca.</p>
<p>Aku keluar<br />
Jalanan sepi<br />
Malam-malam tak peduli</p>
<p>Seperti masa silam</p>
<p>Padang Ekspres, 20 April 2008</p>
<p>Fernando<br />
<strong>Untitled</strong></p>
<p>Aku membencimu<br />
karena kamu<br />
pengobat rindu,<br />
pencerah imajinasi.</p>
<p>Aku membencimu<br />
karena kamu<br />
penyegar dahaga,<br />
penyejuk jiwa.</p>
<p>Aku membencimu<br />
karena kamu<br />
inspirasiku.</p>
<p>INS, 2006</p>
<p>Singgalang, 3 Agustus 2008</p>
<p>Fernando<br />
<strong>Sajak Mati</strong></p>
<p>Aku masih berkerudung resah<br />
Patah, menyiksa jejak waktu di dada<br />
Aku tidak tahu dimana kau berada<br />
Kau mengapa<br />
masih mau kau mengatakannya</p>
<p>Jika kau gerai langkahmu di mataku<br />
Mungkin hujan ini kering sudah di baju<br />
Masih ada berita kau serta<br />
Dalam belanga,<br />
Kau tidak di sana</p>
<p>Padang, Juli 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 07 Desember 2008</p>
<p>Fernando<br />
Kopi</p>
<p>Kami sudah duduk di atas matahari<br />
menelan ludah menunggu<br />
tenggelamnya kelam<br />
tetap bersabar<br />
karena sebentar lagi kami hilang<br />
namun jangan cemas<br />
besok kita jumpa lagi</p>
<p>Padang, 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 07 Desember 2008</p>
<p>Fernando<br />
<strong>Sajak Tidur</strong></p>
<p>Dia itu diam terbaring<br />
tidak sunyi membaca kata kata<br />
walau seolah gemetar menarik narik nyawa<br />
dengan seru di atas dipan jingga<br />
apa tak ingat, apa akan remuk dalam perang</p>
<p>katamu dulu dia itu penuh kutuk<br />
mengepul, mengumpul benci dan sesal<br />
sesal bukan dalam ucap<br />
ucap pun bukan dalam tarikan garis vertikal<br />
meniti hitam di atas teka teki yang mengajak aku<br />
mengiris mata bisu menutup ragu</p>
<p>kamu memang lupa akan birahi<br />
dalam rintik rindu masih pada jejak<br />
menikam nikam sedih tentang pesan<br />
pesan pada dia itu  berhimpitan<br />
dalam pagi</p>
<p>Padang, Januari &#8211; April  2009</p>
<p>Padang Ekspres, 19 April 2009</p>
<p>Fernando<br />
<strong>Tembakau</strong></p>
<p>gerak tanganmu tiada kaku<br />
ketika asyik meracik candu<br />
bersama seorang penangkap waktu<br />
kau menggulung tembakau dulu<br />
saat ingin mengantar aku<br />
lewat asap tanda<br />
usai melepas rindu<br />
purna jua menjadi abu</p>
<p>malam juga mengutusmu<br />
kala aku tiada selalu<br />
mengikatmu dalam saku<br />
dengan semerbak aroma itu<br />
jasadmu tetap menebar rindu<br />
walau tiada kata yang harus kupaku</p>
<p>terus menguap bara dalam genggam<br />
menerobos kenang tentang kampung<br />
tempat kau dan aku<br />
memulai semua rindu</p>
<p>Padang, Februari 2009</p>
<p>Suara Karya,14 Maret 2009</p>
<p>Fernando<br />
<strong>Lilin Hijau</strong></p>
<p>dari kemarin ibu mencari bentuk ciptaan baru<br />
rencananya akan dibentuk seperti apa ada padamu<br />
dari lempung itu, ia mulai menakar yang mana<br />
akan mengisi buku jari dan mana yang hilang<br />
dalam jurang garis umur yang selalu pergi</p>
<p>gundukan lempung itu ia sulap layak dedaun<br />
teringat pada mereka yang selalu remaja dalam mata<br />
meski satu kali pernah musim membawanya<br />
merasakan tua sebelum lahir kembali<br />
melewati pusaran waktu di bulan ketiga</p>
<p>usai insyaf dalam jenuh ibu meminang hijau<br />
sehingga ia makin larut dalam bentuk<br />
seolah tahu lempung hendak jadi patung<br />
semakin kusadar ibu seorang kudus<br />
yang gemar beternak batu<br />
mengundang nyawa &#8211; nyawa sepi<br />
singgah dalam ciptaan sendiri</p>
<p>Padang, April 2009</p>
<p>Padang Ekspres, 19 April 2009</p>
<p>Fitra Yanti<br />
<strong>perhelatan kabut</strong></p>
<p>datanglah<br />
aku menjamumu<br />
dalam sebuah perhelatan<br />
kabut sesak nafas<br />
kehabisan cium</p>
<p>datanglah, meski<br />
hanya sekedar bertanya<br />
kabar hujan desember<br />
di tanah ini</p>
<p>masih<br />
menyugu<br />
berjuta gegar gigil</p>
<p>lalu tinggalkan saja aku<br />
di tengah hujan gamang<br />
memagut bibir basah<br />
di deras yang tercurah</p>
<p>“ia selalu menjelaskan surat-surat<br />
yang kau kirimkan<br />
lewat renyai hujan<br />
berdenyar<br />
pada pesta kabut kali ini,”</p>
<p>kampung gigil, desember 2007</p>
<p>Padang Ekspres, 06 Januari 2008</p>
<p>Fitra Yanti<br />
<strong>pelampung keramba</strong></p>
<p>kukira, angin hanya kabar biasa<br />
menemani angguk cemara<br />
ragu<br />
kala pagi jatuh di laman gigil<br />
penuh lunau</p>
<p>“bangun, kau mesti meraih subuh di mata pukat, sayang”</p>
<p>lantunan ungu serupa cambuk<br />
tiap sebentar berkesiur<br />
menggoyang pelampung keramba<br />
sesekali mengkuncindani mata pancing<br />
orang-orang berbaju dingin<br />
dengan lesung pipi merona apel<br />
riang menghadang rindu<br />
pada sekawanan kulari<br />
dibawa bergelut ke bibir<br />
bila ia kesepian amis</p>
<p>begitulah aku,<br />
melewati langit<br />
tiap pintu waktu berderit</p>
<p>namun, senja selalu patah<br />
di ujung dayung<br />
terus menepi<br />
ke sebuah dermaga latah<br />
dan, aku<br />
terus di belah risau<br />
tentang esok yang tak terjual</p>
<p>“biarlah, sayang meski sisik-sisik<br />
bertumbuhan di sebatang badanmu<br />
besok tetaplah kayuh sang subuh dengan semangat fajar”</p>
<p>kampung gigil, desember 2007</p>
<p>Pikiran Rakyat, 19 Januari 2008</p>
<p>Fitra Yanti<br />
<strong>sepi itu, belum juga padam</strong></p>
<p>semua sepi padam sendiri*<br />
tapi tidak padaku<br />
aku mengeja ngilu<br />
sajak-sajak<br />
terlulur<br />
di gurik waktu<br />
selalu saja tega<br />
melubangi aku</p>
<p>bayangan kabut terus memisau<br />
di ujung mata<br />
dan tarian angin bersijingkat<br />
memarkan, leburkan aku lumat-lumat<br />
mendemamkan sekujur</p>
<p>lagi, ingin kusampaikan:<br />
“ia tak pernah habis”</p>
<p>*meminjam sebaris sajak marhalim zaini</p>
<p>Pikiran Rakyat, 19 Januari 2008</p>
<p>Fitra Yanti<br />
desember; daun-daun basah</p>
<p>padamu pernah kukatakan hidup<br />
saat bertandang ke daun-daun basah<br />
sehabis hujan menyalak<br />
sudut-sudut negeri<br />
minggu pagi ketika itu.</p>
<p>kita dihuncang kisau<br />
di penghujung siang<br />
kata-kata  tak jadi puisi<br />
dan mulai berkisah<br />
desember kali ini benar-benar basah<br />
mata digenangi banjir<br />
seketika<br />
dipinang hujan<br />
duduk di pekarangan  daun muda</p>
<p>cerita tentang rumah daun<br />
yang kita cipta<br />
di masa kekanak<br />
di belakang rumah</p>
<p>kini sehabis waktu,<br />
kita diamkan rindu menyigi<br />
belukar bisu<br />
gambut nan gembur</p>
<p>desember, 2007</p>
<p>Padang Ekspres, 06 Januari 2008</p>
<p>Fitra Yanti<br />
<strong>igau perempuan siak</strong></p>
<p>selamanyakah aku di balik kaca<br />
perempuan payau membaca kepulangan<br />
di tikungan penat<br />
di gerigi jembatan<br />
berpendar mengejar bayangan sajak<br />
anak-anak</p>
<p>selamanyakah aku mendandani sunyi<br />
serupa pengasingan ibu-ibu muda<br />
di lapak-lapak sore<br />
sayup angin berdesir pada dada lapuk<br />
kisahkan senyum yang pernah berniat jadi hujan</p>
<p>“lakimu baru saja pulang berkuli<br />
dari seberang malaka !”</p>
<p>berkemaslah aku dengan sejumput setia<br />
menghisap aroma daun pandan<br />
dari tubuh terpiuh peluh<br />
isi rahim dengan janin lugu<br />
sebentar lagi orang-orang melihatnya berkecimpung<br />
ke badan siak<br />
ke buih yang telah lama mengalirkan bangkai</p>
<p>seperti kapal-kapal bubar<br />
ketika kaca retak<br />
tak ada siapa-siapa di sana</p>
<p>september, 2007</p>
<p>Pikiran Rakyat, 19 Januari 2008</p>
<p>Fitra Yanti<br />
karam di tepi</p>
<p>aku bukan pelaut<br />
yang seketika terkesiap<br />
melihat ciri badai<br />
namun kugasak juga perahu ini<br />
ke laut yang setiap hari kau suguhkan</p>
<p>“melayari matamu<br />
gelombangnya mengajakku karam<br />
padahal masih di tepi,”</p>
<p>2007</p>
<p>Pikiran Rakyat, 19 Januari 2008</p>
<p>Fitra Yanti<br />
<strong>aku di laut lain</strong></p>
<p>aku hanya riak dari laut yang lain<br />
sesekali meramaikan ombak<br />
lalu<br />
susup</p>
<p>agustus 2007</p>
<p>Pikiran Rakyat, 19 Januari 2008</p>
<p>Fitra Yanti<br />
berbagi ladang</p>
<p>bisakah kita resapi luka waktu<br />
bisu<br />
ngilu</p>
<p>masuklah ke balik wajah samar<br />
mengintip di jendela pondok<br />
kebunnya ditindih kaki kota<br />
sembunyi perih diam-diam<br />
beku<br />
sepi</p>
<p>benih kita<br />
tak mungkin tumbuh<br />
di sepetak tanah<br />
miliknya</p>
<p>desember, 2006</p>
<p>Pikiran Rakyat, 19 Januari 2008</p>
<p>Fitra Yanti<br />
<strong>gigil bibir dan secangkir kopi</strong></p>
<p>tampunglah rentak hujan dari mataku<br />
pagi ini lagi tumpah ke dalam secangkir kopi<br />
minumlah,<br />
barangkali bisa mendiamkan gigil bibirmu<br />
bukan merapal yasin atau ayat-ayat sore<br />
sebab aku ditakuti-takuti malam<br />
teringat kedua tanganku tak lagi perawan<br />
kala kau gasak jemarimu ke relungnya</p>
<p>kehilangan ini ngilu, tuan</p>
<p>desember, 2007</p>
<p>Padang Ekspres, 06 Januari 2008</p>
<p>Fitra Yanti<br />
bulan demam dengan selimutnya</p>
<p>kehilangan ini ngilu<br />
barangkali rela<br />
tapi bila sebagai selimut dingin</p>
<p>di luar bulan mabuk mengintip<br />
sebagai aku<br />
tersudut<br />
mengintip keriangan<br />
dalam petikan gitar</p>
<p>demam panjang agustus kemarin<br />
meninggalkan cibir</p>
<p>2007</p>
<p>Padang Ekspres, 06 Januari 2008</p>
<p>Ganda Cipta<br />
<strong>Renung</strong></p>
<p>Putih abu abu<br />
Entah putih atau kelabu<br />
Dari-Mu<br />
Karena aku<br />
Pada-Mu</p>
<p>Padang, Oktober 04</p>
<p>Singgalang, 21 November 2004</p>
<p>Ganda Cipta<br />
<strong>AKU TAWARKAN DUNIA PADAMU</strong></p>
<p>Dari rak rak yang memajang dunia kecil<br />
Pada satu sisi ruang di depan jendela<br />
Kulihat bulan merenungi nasib di tengah malam<br />
Bayang wajahnya berduka dilindas roda roda<br />
kendaraan yang mengejar cita cita manusia</p>
<p>Pada dunia kecil ini penuh dengan belantara kata kata<br />
dari berbagai bahasa yang tak seluruhnya aku mengerti<br />
Kadang begitu buas mengaum menjagakan malam<br />
dan kadang dengan lembut bernyanyi menidurkan siang</p>
<p>Kemarin lusa kita bersua tiada senyum dan air muka<br />
hanya bunyi tapak tapak kaki yang saling bersautan<br />
dan banyak kata ingin ku bisikkan dari jendela yang selalu terbuka<br />
“ini dunia, bukan sekedar lembaran lembaran dengan bermacam aroma tinta”</p>
<p>Ku sangsikan ketulianmu hingga diam saja<br />
Ku awas pada buta matamu ketika meraba senja<br />
dan malampun telah merestui kita bercinta<br />
di antara rak rak dan jendela yang terbuka</p>
<p>Padang, 20 Januari 05</p>
<p>Dua Episode Pacar Merah, DKSB dan Yayasan CBI Padang, 2005</p>
<p>Ganda Cipta<br />
<strong>Siti Nurabaya di Pagi yang Renyah</strong></p>
<p>ada senyum yang tertanam di seonggok bukit berbuah mitos<br />
serupa kanvas bersetubuh dengan warna yang melahirkan rupa<br />
bagi laut dan langit, ia bukan sekedar kesetian</p>
<p>tak kusangka, riak batang arau memecah dalam perut kegelisahan<br />
adalah benci yang melesat dari patahan-patahan angin<br />
sementara di rahim seorang ibu, siti nurbaya mengibarkan bendera<br />
tapi jalan penuh darah, silau oleh tulang-belulang yang menancapkan diri<br />
pada etalase-etalase sunyi yang menyimpan lanskap sebuah kota</p>
<p>kini mimpiku bagai api dalam sekam, memeluk hangat kerinduan<br />
dari sebentuk perjalanan asap yang mengapai-gapai langit<br />
jika untung malang datang bersama hujan, barangkali liptan-lipatan waktu<br />
telah mengusir senja pada pembaringan malam, hingga bermil-mil pantai hilang ombak<br />
tapi rindu itu terbakar seperti berhektar-hektar hutan</p>
<p>lalu, siti nurbaya mampir dalam pagiku yang renyah<br />
melembai-lambaikan sehelai selendang kusam berwarna putih<br />
dari kejauhan ia berbisik ingin pamit dan tak akan balik<br />
kali ini kesedihan dimataku benar-benar kering<br />
sekering padang pasir yang membentangkan siti nurbaya lain<br />
pada tidur-tidurku yang lain</p>
<p>begitulah, seorang perempuan datang dan pergi pada satu kesempatan<br />
tak membiarkan kengan jatuh pada gulungan zaman<br />
kemudian berbait-bait sajak mencari jejak pada sebuah bukit<br />
di antara laut dan langit sepenggal nisan mengirim derita<br />
penantian itu tak pernah mempunyai nama</p>
<p>Padang, 04 Agustus 2007</p>
<p>Padang Ekspres, 11 Mei 2008</p>
<p>Ganda Cipta<br />
<strong>Figura Padang Karbala</strong></p>
<p>dingin yang menyiksa sepi meluruhkan cahaya malam<br />
kabut-kabut merayap di dinding-dinding nyiur<br />
menjelma sebagai air mata, mencari sebentuk lubuk<br />
yang dulu menjejakan sejarah dalam figura berwarna merah</p>
<p>dari gurun pasir berabad-abad lalu<br />
parade duka menghoyak replika dendam<br />
tumpah dalam biru laut yang bergemuruh<br />
menatap langit jauh padang karbala</p>
<p>berduyun-duyun kepala meratapi bulan di awal tahun<br />
lesap bersama nyanyian-nyanyian merdu perempuan muda<br />
dari hikayat syair tua bagindo malin</p>
<p>seratus dua puluh luka menantang kematian<br />
dalam ringkik dan derap telapak kuda</p>
<p>seratus dua puluh luka terbingkai di padang karbala<br />
berkecamuk dendam dalam riak berketurunan</p>
<p>Padang, 11 Januari 08</p>
<p>Padang Ekspres, 9 November 2008</p>
<p>Ganda Cipta<br />
<strong>Mulaqat</strong><br />
:jejak dari reruntuhan kota lama</p>
<p>kota itu seperti tenggelam dalam sepi<br />
setia menanti zaman yang telah hilang<br />
hingga gemuruh laut jadi sia-sia menghempas pantai<br />
memunggah kenangan di selat yang menghalang</p>
<p>perigi bukit cina teronggok di dataran malaka<br />
tempat hang lipu bersemayam dondang sayang<br />
dari sana aku lihat kapal-kapal bersilang siur<br />
melayari sejarah yang pecah dan terpisah<br />
seperti januari yang selalu kembali<br />
dalam lekuk musim yang bertikai pada asal</p>
<p>kota itu seperti menyusup dalam barisan kata<br />
menderapkan langkah pada bibir pantun orang melayu<br />
sesejuk air perigi, semanis pisang jarum, sebesar bendahara<br />
di tanah yang menemukan anak segala bangsa</p>
<p>beginilah aku menziarahimu dalam sua yang bersauh darah<br />
menikam puing-puing kota yang berserakan dalam pengkhianatan<br />
dan jejak kita tak akan tersapu gelombang laut yang makin dangkal<br />
selama desember setia di akhir tikungan mencatat kenangan</p>
<p>Padang, 15 Januari 08</p>
<p>Padang Ekspres, 9 November 2008</p>
<p>Heru JP<br />
<strong>Semenjak Lumpuh</strong></p>
<p>Semenjak lumpuh, ia pindahkan laut<br />
ke kursi roda. Burung, pohon kelapa,<br />
dan angin, ia titipkan di kolam renang<br />
pada sebuah denah dalam dirimu.</p>
<p>Semenjak lumpuh, ia pindahkan langit<br />
ke kursi roda. Segala cuaca, ia sisipkan<br />
di setiap pohon dalam dirimu.</p>
<p>Semenjak lumpuh, ia pindahkan dirimu<br />
ke diriku. Rasa ingin mencair, melebur<br />
dan meleleh, ia simpan dalam dirinya.</p>
<p>2007</p>
<p>Padang Ekspres, 23 Desember 2007</p>
<p>Heru JP<br />
<strong>Semak Belukar</strong></p>
<p>Seperti akar beringin melilit patung di tubuhmu: urat-urat di tubuhnya<br />
menggeliat, menyembul di balik kulit. Kadang mengayam, membelit<br />
seperti ular di batang hati, menggelepar seperti cacing di dasar diri.</p>
<p>Seperti pangkal beringin yang dipahat jadi patung di tubuhmu: bagian<br />
tubuhnya dipahat jadi dirimu, lalu mengelupas di kulit jiwa, membenam<br />
dalam semak belukar pada perasaanku. Dalam perasaan semak belukarku.</p>
<p>2007</p>
<p>Padang Ekspres, 23 Desember 2007</p>
<p>Heru JP<br />
<strong>Tambang</strong></p>
<p>Rohmu seperti membesar: tubuh ini begitu sempit,<br />
Adakah tubuh lainmu untuknya?<br />
Ia tampak memanjang, memahat lebar, dan menjadi<br />
ruang kosong dalam dirimu.</p>
<p>Rohmu seperti mengeras: tubuh ini begitu rapuh,<br />
Adakah tubuh lainmu untuknya?<br />
Ia tampak menyebar, menggilas bekas, dan menjadi<br />
tambang dalam tubuhmu.</p>
<p>Menambang ruang kosong sampai ke dasarmu.</p>
<p>2007</p>
<p>Padang Ekspres, 23 Desember 2007</p>
<p>Heru JP<br />
<strong>Sebelum Lahir</strong></p>
<p>Kucintai malaikat maut<br />
karena di bibirnya senyummu terpaut<br />
Kusampaikan bisuku dengan seluruh bahasa<br />
tapi mulutnya masih menganga</p>
<p>Kucintai malaikat maut<br />
karena di lidahnya jasadku tersangkut<br />
Kusampaikan butaku dengan segala raba<br />
agar ia rela membuka segala doa</p>
<p>2008</p>
<p>Padang Ekspres, 1 Februari 2009</p>
<p>Heru JP<br />
<strong>Kepompong</strong></p>
<p>Maukah kau membentangkan hamparan di tubuhku?<br />
Hamparan yang melantaikan badanku. Aku ingin<br />
melepas selaput di kulit diriku.<br />
Selaput apa yang kaubentangkan di tubuhku?<br />
Tampak seperti keriput; bagai kepompong<br />
membalut kusut.<br />
Kepompong yang entah kapan berhenti merajut tubuhku.</p>
<p>2007</p>
<p>Padang Ekspres, 1 Februari 2009</p>
<p>Heru JP<br />
Kepada Penyair Padang</p>
<p>Pelabuhan telah mengirim badai:<br />
memastikan kapan tibanya kapal yang kita tunggu.<br />
Tapi kita tak tahu badai apa yang sanggup<br />
membawa pulang kapal itu. Kita selalu berharap<br />
kapal segera datang dan kita pun bisa benar-benar berangkat<br />
ke tempat di mana Malin Kundang<br />
pelabuhan terakhir bagi ombak dan batu karang</p>
<p>2008</p>
<p>Padang Ekspres, 1 Februari 2009</p>
<p>Heru JP<br />
<strong>Puisi untuk Kekasih</strong></p>
<p>Boleh kausebut bukan puisi<br />
sebab kata-katanya tak berjanji<br />
menyepakati kalimat yang dicari</p>
<p>Boleh kausebut bukan puisi<br />
sebab kata-katanya belum kaumiliki<br />
Tapi dalam diriku ada yang menanti<br />
dirimu menjadi kalimat-kalimat sendiri</p>
<p>2008</p>
<p>Koran Tempo, 8 Februari 2009</p>
<p>Heru JP<br />
<strong>Sarapan</strong></p>
<p>Begitulah aku sarapan. Menerima masakan<br />
dari pedalaman cintamu. Kuhembuskan decas<br />
dalam pedasnya. Kau tak tahu<br />
sampai kapan akan kukenyangkan puisi-puisiku<br />
Mungkin sampai kumuntahkan sendatan<br />
bahasa yang belum terucap lancar kepadamu</p>
<p>2008</p>
<p>Koran Tempo, 8 Februari 2009</p>
<p>Heru JP<br />
<strong>Terbangun Tengah Malam Setelah Bermimpi Menjadi Kedua Matamu</strong></p>
<p>Apa yang paling dalam di bumi ini, katamu. Sungguh<br />
aku tak tahu. Bagiku sejauh apa mata memandang itulah<br />
yang paling dalam dan barangkali itu pula yang paling dangkal.<br />
Adakah yang lebih dalam dari jurang, katamu. Sungguh bukan begitu.<br />
Bumi ini begitu dalam, takkan pernah kaulihat dasarnya.<br />
Mataku atau matamu hanya sanggup melihat sebatas jurang.<br />
Jauh setelah jurang entah apa namanya, entah dengan apa melihatnya,<br />
entah dengan apa ke sana: aku teringat air terjun yang hendak<br />
membawa jurang ke dasar bumi dan mereka tak kunjung kembali,<br />
meski entah berapa sungai mencoba mengikuti.</p>
<p>2008</p>
<p>Koran Tempo, 8 Februari 2009</p>
<p>Iggoy el Fitra<br />
<strong>Soneta Venezia</strong></p>
<p>Aku menyusuri sungai yang keloknya kusut berlatar kabut<br />
menjagai warnamu yang lembut<br />
Dengan gondola, kukayuh dayung tunggal<br />
seberat dosa dan gelombang tubuhmu<br />
dari pelabuhan duka, menyapa setiap kanal beraroma luka<br />
“Hoaiaaaaaaaaaoiiiii” pekikku pada dinding-dinding balkon masa lalu<br />
Siluet riak memantulkan suaraku berkali-berkali, bertubi-tubi<br />
Terhunus hingga ke bibirmu yang mengertap tertusuk duri</p>
<p>Ah, ini adalah perjalanan</p>
<p>Di atas air, darahku mengalir dan kau tak bercermin kepadanya<br />
seolah hanya membaui anyir<br />
Di dahimu telah kugoreskan cinta dengan belati<br />
Tak ada perih, tak ada pedih, tak ada lirih,<br />
sebab yang kusayat serupa hati sendiri</p>
<p>Bukankah perjalanan juga kenangan?</p>
<p>Perjalanan kau jadikan daun kering<br />
yang kaupijak menjelang lelahku ke dermaga<br />
Kau takkan mengingat bahkan mengenang bunyi remuk ruas-ruasnya<br />
Lalu kita tahu siapa yang begitu dungu<br />
“Antarkan aku ke masjid usang di depan katedral,” pintamu<br />
Barangkali nanti di sana kita menjelma satu manusia penuh rahasia<br />
Kelak akan melahirkan rahasia lagi untuk sebuah rahasia</p>
<p>Ada dendang pilu di dadamu pada akhir perjalanan</p>
<p>Hanya berdua mengapung menanti mautku di sebuah ujung<br />
“Hah, mari kita tuntaskan perjalanan ini!”<br />
Aku menceburkan tubuh ke dalam pekatnya kenangan<br />
berenang mencari gelombang tubuh yang lebih tenang<br />
Membawa lebam di kepala dan seribu jahitan di jiwa<br />
Kau lantas mengayuh dayungku, menemui khafilah tua yang bisa kauajak berpesiar dengan kapal keliling dunia yang lebar<br />
Kau berkelakar:<br />
“Kenangan adalah sampah yang harus dibakar”</p>
<p>Ilalangsenja Padang, 21 Mei 2006</p>
<p>Catatan:  &#8211; Venezia, kota di Italia yang terkenal dengan gondolanya –perahu berdayung tunggal.</p>
<p>Herbarium, antologi puisi 4 kota, Pustaka Pujangga, 2007</p>
<p>Iggoy el Fitra<br />
<strong>Kepada Puisi</strong></p>
<p>Kepadamu, puisi, kuserahkan gemericik sungai<br />
batang-batang tebu yang menjulai<br />
di tepiannya, pematang mengalirkan air pemandian sawah<br />
Ambillah, puisi, ambillah lanskap itu<br />
bersama rintih ruak-ruak, menyisa riak-riak<br />
di atas genangan buntu bandar</p>
<p>Kepadamu, puisi, kuberikan kepak kupu-kupu<br />
menelikungi asap pembakaran kayu<br />
di kaki batang pinang. Lelalat buah bertebaran<br />
menjelang senja, berteduh di bawah rerimbun cempedak<br />
Dekaplah, puisi, dekaplah segala yang bergerak<br />
bersama lantun ngaji dalam siluet pohon kelapa</p>
<p>Kepadamu, puisi, kuperdengarkan ciap-ciap pipit<br />
terbang membawa helai-helai daun panjang,<br />
di pohon ambacang mereka mencipta sarang<br />
Dengarlah, puisi, dengarlah mereka beradu tembang<br />
Bernyanyi serta keluarga katak dan cipak ikan nila</p>
<p>Tapi sediakah kau, puisi, kubiarkan langau-langau<br />
mengerubungi bangkai<br />
di patahan sungai?</p>
<p>Ilalangsenja|Padang 25 November 2007</p>
<p>Kampung dalam Diri, antologi puisi 5 kota, PPLK, 2008</p>
<p>Iggoy el Fitra<br />
<strong>&#8216;Hestychane, Oyasuminasai&#8217;</strong></p>
<p>Bunga yang tidak pernah lelah<br />
Aku akan membiarkanmu terbang demi pergantian musim<br />
Ikut berenang bersama koinobori ke hulu sungai yang bening airnya<br />
Tak ada kodomo no hi atau bahkan aki matsuri<br />
Kau hanya terus berjingkatan dan menyetel turbo level lima<br />
Melesat, melintasi Teluk Enoshima seperti shinkansen Gunung Fuji</p>
<p>Menerobos badai dan menumbangkan pohon-pohon jyooryokujyu yang pernah menghangatkan kita kala dingin salju bertahta<br />
Onegaishimasu&#8230;<br />
Aku hanya masih ingin melihat guratan tawamu esok pagi</p>
<p>Ilalangsenja Padang, 10 Maret 2006</p>
<p>Catatan:<br />
<em>Koinobori: Bendera berbentuk ikan; dipasang pada hari anak di Jepang<br />
Kodomo no hi: Hari anak<br />
Aki matsuri: Perayaan musim gugur<br />
Shinkansen: Kereta cepat<br />
Jyooryokujyu: Pohon segala musim<br />
Onegaishimasu: Tolonglah<br />
Oyasuminasai: Selamat tidur</em></p>
<p>Lampung Pos, 14 Januari 2007</p>
<p>Iggoy el Fitra<br />
<strong>Hikayat Pinang Masak</strong></p>
<p>Bunga pisang jantung hatimu, ya Patik<br />
Siapa tak sayang elok parasmu yang cantik</p>
<p>Syahdan, aku mengingatmu sepanjang hulu<br />
Di Ulu Lautmu, pinang yang dicari-cari orang<br />
sampai ujung rambutmu<br />
bidadara-bidadara Palembang menyerang</p>
<p>Tiada yang dihendaki Sunan, ya sayang<br />
selain hadirmu, selain legitmu<br />
terbang-layang di lingkarnya sebagai<br />
dayang-dayang<br />
Kelak disuruhnya kau<br />
memelintir sungut dan birahinya yang berkicau</p>
<p>Kau tahu hulubalang hendak datang<br />
menjemput dan menjadikanmu perempuan istana keseribu<br />
Di sana, kau cemas, nantinya seperti boneka<br />
berhidup hampa dengan melas di dada</p>
<p>Rebuslah-rebus jantung pisang itu, kata ayahanda<br />
dan mandilah kau bersamanya<br />
setelah airnya tak lagi bergelora</p>
<p>Ketika mereka datang, hatimu riang<br />
tubuhmu menjelma hitam-legam<br />
seperti manusia yang seram<br />
Kau beri senyuman kecut<br />
kepada para penjemput<br />
“Aku Patik, Paduka, si Putri Pinang Masak,” bisikmu<br />
Hulubalang yang malang, hatinya bingung bukan kepalang<br />
lalu hendak bilang,<br />
“Putri Pinang Masak namamu,<br />
Sunan akan sesak melihatmu.”</p>
<p>Dibawanya juga kau ke istana<br />
Maka Sunan pun bergidiklah<br />
Kau pun bergiranglah</p>
<p>Enyah dari hadapnya</p>
<p>Kau pulang<br />
rayuan lama datang<br />
Pemuda mabuk, mereka terpuruk pada syair-syair kepayang</p>
<p>tiada beban dicari beban<br />
batu digalas pergi meretas<br />
bukan buatan hatiku rawan<br />
lirik dilepas dapati balas</p>
<p>baru ditanak si nasi pulut<br />
temannya nasi sambal mersik<br />
si pinang masak hatiku hanyut<br />
budi terpuji putri nan cantik</p>
<p>Tak ingatkah kau, Putri<br />
di seberang sana ada bahaya<br />
tengah mengintai dan mengejar-ngejar</p>
<p>Kaukira mereka – manusia seberang–<br />
percaya begitu saja?<br />
Tidakkah kau tahu,<br />
Hulubalang itu kembali dengan perahu<br />
untuk langsung menyeretmu</p>
<p>Sunan telah murka<br />
Dan kau masih dicintai petaka</p>
<p>“Pergilah pergi anakku sayang…”<br />
Bundamu berujar seolah kau adalah fajar<br />
yang patut dicarikan pagi tempatmu memekar</p>
<p>Sisirlah laut itu sekarang<br />
dari sungai Ogan ke teluk Lancang</p>
<p>Tangisi saja, Putri<br />
biar air mata yang mengantarmu<br />
lewat bahtera, menyisir rawa<br />
dan paya-paya<br />
pergi dari kampung tercinta</p>
<p>“Oi, Empat Ulu Laut, hatiku surut,<br />
biarlah aku hanyut<br />
dalam sedih yang membalut.”</p>
<p>Kautangisi saja, Putri, tangisi tangis<br />
hingga air matamu habis<br />
dan sedihmu tertinggal di sana<br />
berkeping-keping beriris-iris</p>
<p>Di Lembah itu, kau datang padaku<br />
dan kepada mereka –orang-orang dusun–<br />
kauajarkan santun<br />
kauperlihatkan bagaimana<br />
menjadikan hidup begitu anggun</p>
<p>Orang-orang itu berteladan kepadamu<br />
Bergelantungan di cerlang auramu</p>
<p>Lantas kepadakulah, kausuguhi gulai<br />
yang tumpahnya tak bisa usai<br />
di atas anyamanmu<br />
Kau tahu, aku hanyalah pandai kayu<br />
yang tak pintar merayu, apalagi<br />
membalas senyummu nan ayu</p>
<p>“Hanya umbang sagu, ya Putri.”<br />
Umbang sagu berdepa-depa di hadapmu</p>
<p>Suatu hari kelak, kauanyam<br />
emas-emasku, dan aku<br />
mencarikan picis-picis kayu<br />
untukmu, agar air mata<br />
tak lagi bisa menembusnya</p>
<p>Demikianlah, sebuah kisah<br />
menyamarkan kita yang berserah</p>
<p>Ini kali, aku si Sungging<br />
membuahi mimpiku sendiri<br />
mimpi-mimpi yang pernah diimpikan orang</p>
<p>Aku memuji, kau memuja<br />
teruntuk sekerjap cahaya<br />
nantinya</p>
<p>Ilalangsenja|Padang 25 Maret 2007</p>
<p>Ibumi: Kisah-kisah dari Tanah di Bawah Pelangi, I:Boekoe, 2008.</p>
<p>Kurnia Hadinata<br />
<strong>Lagu kota kenangan </strong></p>
<p>Kukira beginilah jadinya, kurajut sendiri warna hidupku, aku kemas kesedihan dan kesepian, aku tinggalkan senja di kota ini dalam gigil selepas gerimis menyapa.<br />
Di perjalanan kubayangkan jalan kenangan dan barisan pohon tropika yang beku terseduh angin seperti sungai dan laut berkabung merayu mendung mengucurkan hujan dan secuil tangismu di ambang perpisahan itu.</p>
<p>Langit stasiun dan wajah orang-orang senja, juga wajahmu adinda seperti mengisyaratkan sesuatu, mengajakku ke perjamuan pesta pora, namun tanah menawarkan aroma kesedihan yang berapi, sebuah keberangkatan tetapi seluruhnya seperti mengisyaratkan kedatangan.</p>
<p>Ingatlah setangkai mawar yang kuberikan padamu di awal April yang sembab, selepas kupu-kupu meniupkan roh menuju musim purba, kita menjadi sepasang pengantin primata, berbicara dari hati ke hati dan kulihat matamu menangis, hujan membawa mimpi dan angan kencan pertama ke hari nan mengelupas gaib.</p>
<p>Kekasih hujan kusebut namamu, selalu aku selipkan setangai mawar di pintu rumahmu di setiap penghujung minggu, ketika kota kita larut dalam weekend yang sibuk.  Kita berjanji bersama mengusir aroma kematian dan kesepian, lalu pergi membawa duka gulana, merendanya menjadi taman firdaus dengan gemintang yang indah tempat tumpuan harapan kelak.</p>
<p>Kini semuanya menjelma menjadi mimpi, dan ketika terjaga kita pun saling berkemas menunaikan langkah masing-masing menaburkan jejak di kota ini, gerimis dan setangkai mawar telah hanyut menjadi karang keabadian<br />
.<br />
Bandung, 24 April 2006</p>
<p>Majalah Horison, Februari 2007</p>
<p>Kurnia Hadinata<br />
<strong>Tangis Berenang Dalam Mata Kita</strong></p>
<p>Tangis itu dinda, angin dan lagu yang mendiami palung-palung<br />
Adakah nanti kita di persimpangan itu menempuh musim hujan<br />
Dari kepungan gerimis, hari-hari yang teramat lusuh<br />
Dan waktu yang kurus terbenam pada jejak pagi.</p>
<p>Kedukaan, selama kornea mata kita tidak hilang<br />
Bergulung dalam diam, lagu sendu dan tangis terakhir<br />
Tubuh yang kita rapuhkan dari kedukaan muda-muda<br />
Mungkin dari alur  silsilah yang sudah kita tulis<br />
Mendiami kebahagian dan secuil aubade dari air mata<br />
Lebih luas dari tangis di hadapan kita</p>
<p>Dan kita tumbuh dari perut alam, seperti sajak-sajak kering<br />
Menjaring pekat karang dan kabut-kabut yang tercekik<br />
Tangis itu dinda, ia berenang dalam mata kita</p>
<p>Panti Pasaman (Rumah Teduh) Agustus 2007</p>
<p>Majalah Horison, Agustus 2008</p>
<p>Kurnia Hadinata<br />
<strong>Bukittinggi</strong></p>
<p>Kotamu begitu gigil<br />
Aku katup dalam mantel dan sehelai syal hangat<br />
Seteguk kapucino mungkin juga kegelisahan hari<br />
Dan kitapun larut dalam percakapan<br />
Membuat negeri di dada sendiri</p>
<p>Orang-orang seperti menjaja matahari<br />
Dari dentang jam gadang yang semakin merisaukan<br />
Dari abad dan kaba-kaba yang malas bertutur</p>
<p>Padamu di bangku-bangku bulevar<br />
Derap langkah di seribu jenjangmu<br />
Tak kutemukan lagi sebingkai kemarau<br />
Juga lepak-lepak dan payung<br />
Warna-warni di pasar bawah</p>
<p>Oh, kota kenangan<br />
Kota amai- amai<br />
Kota sejuta historis<br />
Dimana seribu ceruk ceritamu mendiami<br />
Dekap lagu lama dan halaman terakhir<br />
Sebuah perjanjian mengais<br />
Dalam- dalam rupa kita.<br />
Bukittinggi 23 Juni 2007</p>
<p>Majalah Horison, Agustus 2008</p>
<p>Kurnia Hadinata<br />
<strong>Sebuah Sajak Tak Romantis</strong><br />
Setengah Bercerita<br />
Buat Abna Hidayati<br />
Aku merasa tergadai melihatnya<br />
di dalam redup lampu jalan dan kegaduhan<br />
Di apartemen kecil di dekat Harvard Square,<br />
jantung kota Cambridge, berdenyut<br />
dan itu cukup bagi kami untuk memulai<br />
setelah pernikahan itu tergelincir<br />
mungkin terseok lalu berjalan entah kemana</p>
<p>Aku merusaha merapat, “Bagaimana perjalanan ini?”<br />
tetapi dia sudah tidak lagi berminat dalam keraguan<br />
menulis, dan entah jengah menghabiskan kapucino<br />
pada teguk terakhir yang terlalu malas</p>
<p>Di wajahnya, burung-burung berkeliaran<br />
lagi, kami bahas tentang libur musim panas lalu<br />
menyusun sepotong demi sepotong mozaik itu<br />
mungkin saja, tetapi matamu menawarkan api<br />
kami membuka jalan sendiri-sendiri, tetapi terlalu kabur<br />
pada masa yang berhaluan menuju rumah itu<br />
mereguk silsilah masing-masing</p>
<p>Pertemuan ini terasa menyiksa, ‘Bagusnya kita akhiri saja!<br />
hujan menggelepar, wajah Cambridge semakin cemas<br />
seperti dara yang ragu akan kekasihnya<br />
kami lekas menutup isi kepala, mengemasnya sebagai bekal</p>
<p>Kita lupakan saja<br />
anggap tak saling kenal<br />
buat apa diingat, diingat pertemuan sentimentil ini</p>
<p>Aku kembali merasa tergadai melihatnya<br />
di dalam seringai hujan dan kesepian<br />
Di apartemen kecil di dekat Harvard Square,<br />
jantung kota Cambridge, tak kunjung padam<br />
mengelupas seperti ribuan sirip yang berderai<br />
melupakan semuanya, kami berpisah lamat-lamat<br />
dan lelap yang ganjil ini</p>
<p>Rumah Teduh April 2008</p>
<p>Majalah Horison, Agustus 2008</p>
<p>Kurnia Hadinata<br />
<strong>Malam Pernikahan</strong></p>
<p>Malam pernikahan<br />
aku menanggalkan jubah ini, setelah penat penjadi ratu<br />
Setelah semua orang-orang melepaskan tawa canda<br />
Dan piring-piring kotor, kata selamatan, sampah dan kepenatan<br />
dan barangkali kau jengah dengan seremonial semacam ini</p>
<p>Kita tak lagi terbuai dengan dendang dangdutan kampung itu<br />
suara serak dan goyang binalnya seperti mencibir dan memaki<br />
; tetapi semua undangan terhibur dibuatnya, persetan peduliku</p>
<p>Mungkin, larut malam tak meninggalkan jejak<br />
dan kau tak jua kunjung menjejaki pelaminan itu<br />
burung-burung sudah lebih dulu berlabuh di sarang-sarang<br />
di pohon, lembah-lembah tersunyi dan malam teramat keramat</p>
<p>Bisakah kau sedikit mengerti dengan hasratku ini? Memasukkan kata<br />
Dalam setiap ceruk tubuhku, dan aku lukis puisi kurus<br />
atau berlayar ke dalam labirin mata kita yang cekung seperti teluk?<br />
laron-laron lebih riang dengan nyanyiannya<br />
semakin menyudutkan kita pada kepenatan ini<br />
mungkin kau bisa melukis cerita kita di rahimku, atau sedikit<br />
tak cukup menggoda berlamat-lamat membuat janin</p>
<p>barangkali, ada banyak cerita yang tak kunjung sudah<br />
untuk dihidangkan sebagai menu sarapan pagi<br />
membayangkan anak-anak manis memanggilku Ibu</p>
<p>Aku merapikan jasmu, layaknya<br />
dan melepasmu bekerja dan membuai angan<br />
Melayangkan semuanya kembali ke muara</p>
<p>berhentilah menyajikan dadaku pada celoteh kantormu<br />
karena api, laut karang-karang akan menghempas<br />
: karena aku istrimu</p>
<p>Rumah Teduh, April 2008</p>
<p>Majalah Horison, Agustus 2008</p>
<p>Kurnia Hadinata<br />
<strong>Nostalgi Mengantarkan Mu (Perempuan dengan Mata Terindah)</strong></p>
<p>Re, daun yang sembab, menangis dalam jejak hujan bergegas seperti perjumpaan kita dulu pada  stasiun  perpisahan.  Wajah manusia senja yang sibuk semakin geris mengajak kita pada sebuah kemungkinan. lalu mengeras dalam palung dada.  Satu desibel tembang kenangan nan syahdu seperti berlari memangil air mata “ sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan,” Orang-orang seperti mengemis kesedihan di mataku, juga mata anak kita Re.</p>
<p>Pegang erat tanganku Re, aku akan mengantarkanmu, pucuk-pucuk pinus dan kabut yang mengitari magis dalam alunan kasih deru motor  tua ini.  Inilah perjalanan yang menetas di setiap waktu yang kita rebus bersama. Karena akulah lelaki yang akan setia  menjamu tangismu. Jangan tengok kebelakang Re! Biarkanlah bekas jejak kita, biarkanlah kenangan di padang belakang sekolah itu berlalu dihapus hujan sore mengalir menuju laut dan samudra yang menjadi fosil sejarah kita kelak.</p>
<p>Senandung hidup semakin menderu meninggalkan tangis demi tangis yang kian menyayat, aroma penjaja jagung bakar, secangkir kapoccino hangat dan dingin yang semakin menebal, kau lilitkan dagumu di pundaku, kitalah pemuja kepulangan itu, mengalir dalam likuk dan balut angin gunung yang meringkuk menahan kerinduan.</p>
<p>Kemana kita Re? Ke kampungmu, ke dusun dan rumah pinggir kali dengan aroma bambu dan aku rindu gemericik hujan yang menyentuh hangat ujung-ujung daunnya, juga pada ibumu yang selalu mengalirkan cahaya dalam canda tawanya.  Re,  di tepian perjalanan aku ukir wajahku di punggungmu, mendiami kerang dan palung-palung terdalam hatimu, aku lukis luka-luka dan pesta pora yang memanggil tawa ria untuk anak-anak kita.</p>
<p>Re, perempuanku yang ku pilih dari gadis terlahir, dari laut, bukit, gunung dan dusun-dusun yang ngilu, hapus air mata itu, jangan biarkan kesedihan menjadi raja dalam kerajaan hatimu.  Jika waktunya tiba, malam yang kesepian dan lolongan anjing-anjing kampung menyerbu kerinduanmu padaku, maka aku akan pulang dari rantau  sakti bertuah yang memberikan aku makna hidup.</p>
<p>Re, nafasmulah yang kian menjalar dalam nadiku menjadikan aku laki-laki yang tegar menetaskan perjalanan ini menuju stasiun terakhir dan berharap kau menungguku dengan setangkai mawar dalam rupa senja yang teramat melankolis, kaulah yang ku pilih dari perempuan-perempuan terlahir menjamu seluruh perubahan zaman dan dekap matahari yang kurus membakar rupa.</p>
<p>Padang-Pasaman Akhir Maret yang pucat 2006</p>
<p>Majalah Horison, Agustus 2008</p>
<p>Kurnia Hadinata<br />
<strong>Narasi Hujan</strong></p>
<p>Aku tidak mau menjadi penanam benih karang di pantaimu.  Ketika kapalku oleng dan derai bibirmu menjamu segala yang ditawarkan matahari padaku. Semuanya akan mengigil beku.  Tapakku semakin geris tak bisa membekaskan sejarah di sekujur tubuhmu.  Marilah pulang elakmu, menuju pesisir dengan segala kedamaian memanjakan mata kita.</p>
<p>Aku belum berkemas, ketika hujan menyisir segala kabut menuju kematian yang semakin mendekat.  Tidak ada kata, ketika hujan itu, segalanya gigil.  Lalu rambutmu menjadi nyiur-nyiur mengipaskan anginmu menuju muara-muara, tiba-tiba kapalmu berlabuh di rahimku. Menurunkan awaknya lalu menanam bibit senggama itu sebagai sebuah perjanjian terdahulu.</p>
<p>Aku tidak mau menjadi pengukir kematian di punggungmu. Tidak juga sepasang payudaraku yang membuatmu tabah dalam genggamanku.<br />
Kakanda, lihatlah sepasang malaikat mengajak kita menceritakan lagu pertemuan dulu , dan beranjak mambuat sarang di bekas pantai tempat dimana sauh bahtera pertama kita tertambat.</p>
<p>Sekarang, seperti ini kiranya sebuah perpisahan, antara aku perempuanmu menunggu dengan janin di perutku  seperti  kebun bunga dan segala kumbang yang mengitarinya.</p>
<p>Majalah Horison, Juli 2005</p>
<p>Mike Juni Yanti<br />
<strong>SARUNG PISAU </strong></p>
<p>merentang membentang malam<br />
dalam pisau tanpa ganggang</p>
<p>aku cermin wajahmu<br />
kilau kilatnya memilihku dalam liku liku<br />
mengiris redup remangku sebagai gadis kecil<br />
yang pasrah menunggu bulan dalam keranjang<br />
berjalan sebagai peziarah menuju bibir waktu</p>
<p>aku ingat deret alismu yang terakhir<br />
mata sayu dan pipi pualam<br />
sebelum kau membangun rumah layar<br />
memberiku segenggam mega</p>
<p>aku teduh dalam sejuta bait zikir<br />
namun rumahku makna dari hikayat pelaut<br />
yang tak pulang saban petang</p>
<p>kau yang pergi dalam derit pintu<br />
bersama warna bukit lancip<br />
tanpa pesan<br />
hanya kembang langit saat aku dijendela<br />
satu persatu berlepasan dari sarangnya.<br />
Bukittinggi, 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 29 Juni 2008</p>
<p>Mike Juni Yanti<br />
<strong>TAMU DARI SELAT</strong></p>
<p>berjalan dari lorong ke lorong kotamu kotaku<br />
menebarkan aroma kubangan<br />
tempat orang buangan melukiskan nasib<br />
memahatnya dalam pecahan angan angan<br />
di kolopak mata masing masing<br />
menelusuri asal dalam cahaya redup<br />
setia hanyut dalam relung kali<br />
menambatkan doa doa</p>
<p>menulis lembar demi lembar silsilah<br />
di antara guguran riwayat<br />
dalam kebun kebun bakau, sawit, karet<br />
menyuguhkan tenunan kabut sebagai<br />
kesetiaan pada penjuru mata angin</p>
<p>hidup berbilang  musim<br />
menerka nerka jarak<br />
di selat mana kita ditenggelamkan<br />
lalu mengapung di sudut nadi masing masing</p>
<p>Padang Ekspres, 29 Juni 2008</p>
<p>Mike Juni Yanti<br />
<strong>TUBUH GERHANA</strong></p>
<p>meminang masa kecil<br />
diantara masjid, rumah dan beranda<br />
nyeri yang berjalan pelan<br />
sekarung impian di ladang do’a<br />
aku menggelinding<br />
mengayuh di muara berharap meminang hulu<br />
merayu dalam satu perahu<br />
menyimpan kenangan sebagai kunang kunang<br />
menunggu hujan berwarna jingga<br />
dan langit terbuka</p>
<p>setajam salam yang kudengar<br />
“ begini rasanya menetas di tubuh gerhana” katamu</p>
<p>seperti hujan kita tak pernah tahu itu cahaya atau kilat<br />
suaramupun kian lerai mencucup bibir surya<br />
meninggalkan getah embun di batang tebu<br />
sisa matamu pias di bukit kapur<br />
meninggalkan secerlang kuku<br />
Bukittinggi, 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 29 Juni 2008</p>
<p>Mike Juni Yanti<br />
<strong>TANJUNG</strong></p>
<p>siang menyusut ke hulu<br />
di lingkar urat nadi menunggu api<br />
apa yang membunuh kelopak berlahan</p>
<p>saban hari datang<br />
kau jadi bunga tanjung yang nyeri<br />
di kedalaman cinta yang rahasia<br />
impian menjadi sekawanan maut yang bergandengan</p>
<p>aku tak ingin  menangis<br />
sebab tangis mengutuk bumi<br />
mengantar sengsara batu batu<br />
membangkai berlahan lerai</p>
<p>di rambutmu yang urai kau menyimpan senja lengang<br />
apakah kunjungan ini sebuah kepulangan<br />
sementara guratan nasib kita arah yang tak bertemu<br />
sebab aku bukan waktu berhenti di kesenyapan nadi</p>
<p>Bukittinggi, 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 29 Juni 2008</p>
<p>Muhammad Subhan<br />
<strong>TENTANG DERITA SUMI</strong></p>
<p>kutahu kau membenci setiap bayi yang lahir<br />
dari rahimmu yang kotor, sumi<br />
seperti kau juga membenci setiap lelaki yang meniduri<br />
tubuhmu ketika malam meninggalkan sisa-sisa nafsu<br />
dan birahi diantara ruang yang temaram<br />
sebab tak disinari penerang dan sehelai selimut<br />
yang menutup semua kebohongan yang kau tawarkan;<br />
janji, rindu, cinta, dan tentu juga uang.</p>
<p>ketika malam ini tiga lelaki meniduri tubuhmu<br />
untuk kesekian kali, seperti tanpa pamrih kau tersenyum<br />
menyetujui semuanya tanpa merasa berdosa<br />
bahwa benih yang mereka tanam juga akan<br />
melahirkan bayi-bayi yang selalu kau benci itu.</p>
<p>tapi ketika malam telah larut dan tubuhmu<br />
semakin tak berdaya menahan derita yang perih<br />
kau malah berteriak menyumpah serapahi ibumu<br />
yang telah lama terkubur di bumi<br />
dan menumpahkan semua kesalahan itu padanya<br />
mengapa dia telah melahirkan tubuhmu yang hina.</p>
<p>kutahu, batinmu yang suci itu diam-diam mengutuki<br />
tubuhmu yang dekil, kotor dan berkubang lumpur dosa<br />
tapi kau tak peduli semuanya<br />
seperti ketidakpeduliaanmu pada<br />
bayi-bayi yang lahir dan mati di rahimmu<br />
setelah kenikmatan semu kau teguk<br />
bersama anggur dan setumpuk uang yang diselipkan<br />
lelaki hidung belang diantara blus biru kumuh dan lusuh<br />
yang entah sampai kapan kau lunasi hutang kreditnya.</p>
<p>di malam menjelang pagi ini, sumi<br />
entah mengapa tiba-tiba kau tadahkan tangan<br />
tinggi ke angkasa dan berteriak sekuatnya sebelum nafasmu<br />
yang terakhir lepas dari jasadmu yang dekil dan kotor<br />
sekotor darah di rahimmu yang telah melahirkan bayi-bayi<br />
kesekian kali untuk hidup lalu mati.</p>
<p>Padang, April 2003</p>
<p>Mimbar Minang, 26 Juni 2004</p>
<p>Muhammad Subhan<br />
<strong>SUATU PAGI DI PASAR PADANGPANJANG</strong></p>
<p>ketenangan yang syahdu<br />
bau bunga di etalase toko<br />
buah-buahan<br />
suara telapak kaki kuda<br />
dan asap bahan bakar<br />
yang begitu akrab.</p>
<p>Padangpanjang, 2009</p>
<p>Lautan Sajadah, Hima Basindo FKIP UMSB Padangpanjang, 2009</p>
<p>Muhammad Subhan<br />
<strong>MAHKAMAH TUHAN</strong></p>
<p>jarum jam yang berdetak menyisiri waktu<br />
tak pernah pasti kapan berakhir<br />
tanpa bosan mendendangkan lagu<br />
tak, tuk! tak, tuk!</p>
<p>ah, sketsa kehidupan semu<br />
tak berwatas dan hanya tuhan yang tahu<br />
kapan yang hidup, mati<br />
dan yang mati dihidupkan kembali.</p>
<p>sampai persidangan yang maha adil dibuka<br />
di mahkamah dengan jutaan terdakwa<br />
dan yang yang jelas<br />
tuhanlah hakim mulia<br />
yang mengadili kita.</p>
<p>Aceh, April 2000</p>
<p>Aceh Ekspres, 19—25 Juni 2000</p>
<p>Muhammad Subhan<br />
<strong>WAJAH-WAJAH</strong></p>
<p>kutemui wajah bapakku pada wajahku<br />
dia tersenyum haru<br />
kutemui wajah ibuku pada wajahku<br />
dia tersenyum rindu<br />
kutemui wajah adikku pada wajahku<br />
dia tersenyum lugu<br />
kutemui wajahmu pada wajahku<br />
kau tersipu malu.</p>
<p>Padang, 15 Januari 2002</p>
<p>Singgalang, 17 Februari 2002</p>
<p>Muhammad Subhan<br />
<strong>MENANTI HUJAN BERHENTI</strong></p>
<p>menanti hujan berhenti<br />
kau termenung sendiri<br />
merenungi bumi<br />
merenungi langit<br />
merenungi awan yang menurunkan air<br />
adakah pertanda kota akan banjir</p>
<p>menanti hujan berhenti<br />
kau menghitung tetes-tetes air<br />
diantara pucuk kamboja<br />
dan saluran air yang bocor.</p>
<p>Padang, 12 Januari 2002</p>
<p>Singgalang, 17 Februari 2002</p>
<p>Muhammad Subhan<br />
<strong>KALIGRAFI</strong></p>
<p>pada kanvas suci<br />
ayat-ayat illahi<br />
melukis diri.</p>
<p>Padangpanjang, 2009</p>
<p>Serambi Indonesia, 8 Februari 2009</p>
<p>Muhammad Subhan<br />
MIHRAB</p>
<p>di dalam mihrab<br />
sujudku untuk-Mu<br />
rabbi</p>
<p>Padangpanjang, 2009</p>
<p>Serambi Indonesia, 8 Februari 2009</p>
<p>Muhammad Subhan<br />
<strong>TERUS MENCARI</strong></p>
<p>sepuluh kali kumenatap<br />
hampa<br />
sunyi dan sepi</p>
<p>seratus kali kubicara<br />
diam<br />
tunduk membungkam</p>
<p>seribu kali kutanya<br />
kau tak menjawab<br />
hilang sekejab</p>
<p>sejuta kali kumencari<br />
dapat<br />
siapa yang berbuat</p>
<p>Aceh, 24 Maret 1998</p>
<p>Serambi Indonesia, 31 Mei 1998<br />
Muhammad Subhan<br />
<strong>DI KAMP PENGUNGSI</strong></p>
<p>pagi itu di kamp pengungsi<br />
satu lagi mayat ditanam orang<br />
tak ada tangis<br />
tak ada duka<br />
semua berlalu begitu saja<br />
kecuali isak pilu bocah sebelas tahun<br />
di hadapan tubuh kaku<br />
tubuh yang mengadu pada tuhan<br />
tentang pengadilan dunia yang tak lagi adil</p>
<p>kematian itu sebagai pertanda<br />
duka sang bocah sebagai seruan<br />
pada kita yang tinggal<br />
untuk mengulur tangan</p>
<p>tapi yang jelas<br />
semua berlalu begitu saja</p>
<p>Aceh, 1 Agustus 1999<br />
Serambi Indonesia, 5 September 1999</p>
<p>Muhammad Subhan<br />
<strong>ROMANSA SETELAH HUJAN</strong></p>
<p>hai, mengapa masih diluar<br />
masuklah ke rumahku<br />
hujan yang belum reda<br />
membawa gigil dan tubuhmu<br />
pergilah ke perapian<br />
cari kehangatan di sana</p>
<p>hai, mengapa masih diam<br />
bakarlah kayu-kayu kering itu<br />
buka dan ganti bajumu<br />
keringkan di samping tungku</p>
<p>hei, kau di mana<br />
aku di mana<br />
kenapa ranjang itu basah?</p>
<p>Padang, Januari 2001</p>
<p>Padang Pos, 29 Januari—4 Februari 2001</p>
<p>Muhammad Subhan<br />
<strong>SEMALAM</strong></p>
<p>engkaukah yang semalam mendekapku<br />
dalam dingin yang menusuk<br />
dan menampar-nampar kaca jendela<br />
cottage tempat kita berbulan madu</p>
<p>mungkinkah ingatanku telah tua<br />
renta bersama angan yang<br />
senantiasa menggoncangkan tubuh<br />
membangunkanku dari mimpi panjang<br />
berabad-abad silam.</p>
<p>Padang, September 2000</p>
<p>Padang Pos, Padang, 20—26 November 2000</p>
<p>Nilna R Isna<br />
<strong>Berita</strong></p>
<p>Berita hari ini<br />
dituliskan dua bocah<br />
terbunuh<br />
bukan, saling membunuh<br />
katanya karena ayah mereka<br />
bukan, karena ibu mereka<br />
juga bukan, karena berita</p>
<p>Berita hari ini<br />
dikisahkan duka anak kepala desa<br />
katanya diperkosa<br />
lalu dibunuh<br />
baru dirampok<br />
kemudian masuk berita</p>
<p>Berita hari ini<br />
kota-kota dilanda<br />
bencana<br />
banjir dan gempa<br />
orang berduyun-duyun<br />
meninggalkan harta<br />
meninggalkan benda<br />
tapi tak pernah ketinggalan berita</p>
<p>Berita hari ini<br />
Kantor redaksi terluka<br />
Walikota datang membawa bunga</p>
<p>Kayutanam, Desember 2006</p>
<p>P’Mails, Februari 2007</p>
<p>Nilna R Isna<br />
<strong>Anak-anaknya binasa</strong></p>
<p>Masih ingat bagaimana<br />
cara mumi tertawa<br />
terbahak melihat anak cucunya<br />
yang meminta segala-galanya<br />
Padahal,<br />
bumi menyucurkan<br />
hujan dari atap rumah<br />
tinggal menengadahkan kepala</p>
<p>Cucu tak ingat bagaimana<br />
buyut menimba sumur<br />
menanam pisang<br />
tuk dikudap bersama<br />
dalam jamba</p>
<p>Dari prosa dan filosofi<br />
antropologi, arkeologi<br />
nabi pertama bercengkerama<br />
&#8220;Anak-anaknya akan binasa<br />
lama-lama&#8221;</p>
<p>Kayutanam, Desember 2006</p>
<p>P’Mails, Februari 2007</p>
<p>Nilna R Isna<br />
<strong>Berkali-kali</strong></p>
<p>Sehari dalam 24 jam<br />
dipenuhi 8 jam pelajaran<br />
ditambah 100 PR logaritma matematika<br />
10 soal gelombang elektromagnetik fisika<br />
uji kompetensi 2.1 halaman 97 buku kimia Marten<br />
dikali- kali berat bukuku setiap minggu<br />
berkali-kali Rp. 1.000 sebelum pukul 07.00<br />
46 siswa setiap kelas<br />
dibimbing 98 orang guru<br />
dibagi per kelasnya 25 kelas<br />
serta 17-an pegawai tata usaha sekolah<br />
tambah 2 satpam, 11 penjaga kantin juga 3 uni-uni kopsis<br />
seorang pengurus mesjid<br />
10 shaf dalam tiap mesjid<br />
seminggu-seminggu hadir 45 peserta pesantren<br />
50 orang remaja mesjid<br />
15 merapat selisihnya berkurang<br />
dijumlahkan 6.666 ayat Al-Quran<br />
5 mahasiswa bertanya padaku<br />
”Untuk apa kami didatangkan?”<br />
Aku menjawab,<br />
”Untuk diperhitungkan dan memperhitungkan.”<br />
Tersentak aku sekejap,<br />
”Sejak kapan aku mulai berhitung?”</p>
<p>Padang, September 2006</p>
<p>P’Mails, 3 Juni 2007</p>
<p>Nilna R Isna<br />
<strong>Pecah di Gelombang</strong></p>
<p>ntuk: kawan penyair bengkel kayutanam 06</p>
<p>kau tak ubah sejumput rumput<br />
disabit sebilah galah. dan aku sebatang pohon<br />
ditebang kilatan ombak.<br />
bergelombang. menyambar-nyambar<br />
kau dan aku hanya dua keping karang<br />
pecah jua di gelombang<br />
kau dan aku sama sekerat kayu<br />
yang ditanam di halaman<br />
kutelusuri jua lelorong gua<br />
menyambut dentang jam-jam kota<br />
kelam, kupintal jarum tanpa mata</p>
<p>Desember 2006</p>
<p>Riau Pos, 8 April 2007<br />
Nilna R Isna<br />
<strong>Ordinat</strong></p>
<p>atau kita bergulat juga, teta<br />
di sofa absisi ordinat, tanpa limit<br />
tindih menindih seribu frekuensi<br />
sekalipun ujungnya bebas, gerak-gerak<br />
dekapkan balutan paralel sampai nyentuh<br />
atau kita bergumul saja, kelvin<br />
di balik selimut terbuai osmosis<br />
murni terlarut<br />
tikam-menikam tak kenal momentum<br />
biar matriksnya nol, mengeliat integral<br />
selipkan lapis resonansi hingga mendesah</p>
<p>Padang. Januari 2007</p>
<p>Riau Pos, 8 April 2007</p>
<p>Nilna R Isna<br />
<strong>Sebelum Penyakit Itu Datang</strong></p>
<p>Aku sendirian di rumah<br />
Kamu apa kabar?</p>
<p>dan penyakit kesepian hinggap selalu<br />
setiap malam sebelum dia tidur<br />
memaksanya membongkar rak-rak<br />
tempatnya menyembunyikan berlembar koran<br />
yang kabarnya tlah usang</p>
<p>sebelum penyakit itu datang<br />
…</p>
<p>Padang, Maret 2008</p>
<p>Singgalang, 18 Mei 2008</p>
<p>Nilna R Isna<br />
<strong>Gulir</strong></p>
<p>gulir, detaknya mengigaukan aku<br />
pada derik jangkrik<br />
dengan melodi 12 malam<br />
Lalu, aku berlayar ke sunyimu<br />
(yang mungkin masih di jalanan beraspal)<br />
Masuk. Hadir. Ke mimpi yang tak kau hiraukan<br />
dan kita bersitatap, agak menduga</p>
<p>Padang, September 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 28 September 2008</p>
<p>Nilna R Isna<br />
<strong>Sublim</strong></p>
<p>dan bila jiwa jengah<br />
curilah ayatnya yang resah</p>
<p>Padang, Agustus 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 28 September 2008</p>
<p>Nilna R Isna<br />
Lengang</p>
<p>Sampaikan salamku pada aksara 5<br />
Lama aku tak mendengar kabar beritanya<br />
Adakah dia baik-baik saja ?</p>
<p>Aku ingin membacakan puisi di shubuh ke dua puluh tujuh<br />
sebelum pagi meracau untuknya<br />
pada arena kembang api itu. Atau pada api unggun ?</p>
<p>Pada kayu bakar<br />
Kubisikkan sekejap lengang</p>
<p>Padang, April 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 28 September 2008</p>
<p>Nilna R Isna<br />
<strong>Cangkir pada Lembah</strong></p>
<p>ingin ku sampai pada lembah itu<br />
dimana aku dapat melihat salju</p>
<p>Kusentuh<br />
Luruh</p>
<p>hujan deras mengguyur pelepahku<br />
membasahi pucuk cemaraku<br />
getir dahan-dahanku<br />
dan kutemui dua cangkir itu</p>
<p>Padang, Februari 2007</p>
<p>Padang Ekspres, 28 September 2008</p>
<p>Pinto Anugrah<br />
<strong>Angin Lanun</strong></p>
<p>malam mendekap usang di kelok-kelok sungai. Tak kau<br />
layari lagi tongkang. Merapuk rabuk di bibir teluk. Padahal kutunggu<br />
sepatah pantun di selatmu. Tak ingin kau jadikan aku puan<br />
dengan selendang kuning</p>
<p>menari serampang di kepala. Petang di buih yang tenang. Aku kembali<br />
ke masalalumu yang lapuk. Pernah kita bersua di bandar yang jalang.<br />
Orang-orang saling menjelang. Persuaan yang tak pernah tercatat hikayat.<br />
Pada pusaran ribut angin lanun. Kau panggil aku:</p>
<p>Lanun. Yang tak pernah mencatat hikayat laut. Di selatmu<br />
yang menua. Kulayari dengan dendang yang kusut. Memanggil<br />
iba pada anak-anak dagang. Datanglah membaca hikayat<br />
yang dibawa kapal merapat di bandar. Membungkus kilau<br />
emas di pasir pesisirmu.</p>
<p>Sepanjang selat sepanjang tarikhnya, hikayat<br />
apungkan kapal-kapal. Padahal di balik buih yang meranggak<br />
muncung meriam menganga. Muntahkan bedil,<br />
beribu-ribu banyaknya berwaktu-waktu lamanya. Tenggelamlah</p>
<p>ke dasar hikayat. Lanun yang tak menggarisi peta-peta.<br />
Tersesat di bibir selat.</p>
<p>Kandangpadati, 0707 – 10</p>
<p>Kompas, 27 Juli 2008</p>
<p>Pinto Anugrah<br />
<strong>Angin Samun</strong></p>
<p>Rindang rimba menggelayut pada pucat tangis<br />
lengang jalan mereka. Seperti subuh yang murung<br />
di antara nyanyian jangkrik, tak satu pun sitatap<br />
menyapa</p>
<p>di antara derai-derai rimbun daun. Sedang di belakang<br />
menyapa kilau tebasan, parang yang haus.<br />
Aku dengar derit roda pedati, belah sunyi rimba,<br />
tempat samun terkantuk-kantuk, menggantung di dahan<br />
peluk bini menajam mata parang.</p>
<p>Dan nujum yang dikirim jauh<br />
dari tawa kanak yang berkejaran di jalan tanah,<br />
jalan kampung. Menyisa, samun yang mengendap<br />
di balik batang-batang kayu. Samun</p>
<p>yang tak lagi kabar di hantar angin, berbisik<br />
pada daun-daun. Dan di sini hanya pucat darah<br />
menetes seperti embun di pucuk daun. Jatuh<br />
pada ubun-ubunnya, mencium tanah.</p>
<p>Pada rengek anaknya di pangkuan<br />
bini yang menanti kabar angin.<br />
Samun.</p>
<p>Kandangpadati, 071205</p>
<p>Kompas, 27 Juli 2008</p>
<p>Pinto Anugrah<br />
<strong>Musim Tanam</strong></p>
<p>Di mana kautanam dirimu, biar kupetik saat musim panen<br />
di antara benih-benih. Ranggas juga di hatiku</p>
<p>seumpama kita yang jatuh pada musim tanam,<br />
desir angin menyimak di pematang. Adakah kau<br />
yang duduk di dangau sana.</p>
<p>Di kelok-kelok pematang. Kaurambah rerumput<br />
semak umpatmu. Pada kubangan. Keciprak lenyah lenguhmu,<br />
kau mengumpat ujar. Padahal kaudatangi juga<br />
dangauku,</p>
<p>adakah kau bertanam di sana.</p>
<p>Kandangpadati, 0708—09</p>
<p>Koran Tempo, 2 Desember 2007</p>
<p>Pinto Anugrah<br />
<strong>Pandam Petang</strong></p>
<p>Di dalam rumah kututup matimu. Hujan di luar,<br />
sepongah cerita tak bisa kuantar. Tanah masih basah<br />
untuk kugali</p>
<p>dan kaubuka jendela di hatimu yang petang. Kapan kita berkabar<br />
lagi, mungkin tentang jalan-jalan kecil di kampung.<br />
Bukan jalan menuju pandammu. Di sana hanya ujung lebuh<br />
yang menuju yang entah.</p>
<p>Kandangpadati, 0708— 09</p>
<p>Koran Tempo, 2 Desember 2007</p>
<p>Pinto Anugrah<br />
<strong>Rindu Semak</strong></p>
<p>Sebuah rindu dalam semak. Tumbuh berhari-hari. Padanya<br />
hendak kautanam, menuai hari.<br />
Getar tanah, di ujung airmatamu. Sedang ibu tak kaudengar<br />
tangisnya. Lama sudah tak kautakzim kabar petang.</p>
<p>Kandangpadati, 0708—09</p>
<p>Koran Tempo, 2 Desember 2007</p>
<p>Pinto Anugrah<br />
<strong>Akhir Pekan</strong></p>
<p>Maukah kau ke kota untuk tamasya akhir<br />
pekan. Sebelum penjemputan mungkin. Ujung-ujung kampung<br />
mulai lengang padanya.<br />
Ada lagi yang berangkat, keluhmu. Di sini rindu menyemak<br />
membaca tahun yang basah.</p>
<p>Sedang di ranjangku, tak lagi satupun yang singgah. Kusen pintu kamar<br />
yang habis dimakan rayap, kutinggal. Mereka berduyun-duyun, mendayung<br />
pelabuhan yang selalu pecah pada senja.<br />
Jauh di kampung</p>
<p>aku berakhir pekan sendiri.</p>
<p>Kandangpadati, 0709</p>
<p>Koran Tempo, 2 Desember 2007</p>
<p>Pinto Anugrah<br />
<strong>Petak Umpat</strong></p>
<p>Tak seperti di jalan setapak yang kaucari<br />
ujungnya. Di ujung, petang<br />
pecah di balik belukar. Adakah kausembunyi<br />
di sana, memetak-umpet umpatmu.<br />
Aku sembunyi dulu dalam baju.<br />
Kau tak kunjung keluar dari miang semak.</p>
<p>Kandangpadati, 0709—11</p>
<p>Koran Tempo, 2 Desember 2007</p>
<p>Ragdi F. Daye<br />
<strong>Lekuk</strong></p>
<p>ah, teluk. pertautan melembabkan. pagi. siang. sore. malam<br />
waktu kian cendawan. lapuk. ombak menyepak nyepak<br />
kapal singgah menambatkan gelisah. bau duka<br />
luka. benua yang meriang. tak kau angkat sauh dari hatiku.<br />
berkarat. kuli kuli berbaju daki menyanyi terbungkuk<br />
hidup terus berlayar. meninggalkan riak pelabuhan seperti<br />
jari kanak kanak yang manja. seseorang ingin bersemayam<br />
di lekuk matamu. tapi musim selalu sama:<br />
harapan yang diasinkan.</p>
<p>(Padang, Oktober 2005)</p>
<p>Haluan, 13 November 2005</p>
<p>Ragdi F. Daye<br />
<strong>Siluet</strong></p>
<p>/1/<br />
Kosong tepi jalan. Daun-daun lansano<br />
pirang. Sebagai yasmin<br />
kau memilih taman lebih teduh<br />
Dari diriku</p>
<p>Menggigil batu-batu. Debu-debu<br />
kaku. Bukankah langit telah robek<br />
waktu itu. Menumpahkan tanah, api, dan<br />
warna-warna abu</p>
<p>Kau memetik doa dari tampuk<br />
yang lantas layu.</p>
<p>/2/<br />
Dadaku tak cukup angkasa menanggung<br />
dunia. Udara memuai<br />
Namamu menggeletar<br />
syair-syair rindu<br />
Kuusap dinding kosong. Kosong<br />
Seutuh wajahmu</p>
<p>/3/<br />
Hari berkanvas gelap<br />
Horison pecah<br />
Kuseka kecewa berleleh di tepi mata<br />
Berlari tak sampai<br />
Menunggu tak kunjung datang</p>
<p>Asimtut saja</p>
<p>/4/<br />
Manakah wajahmu<br />
Aku terbenam di laguna<br />
Jasad menggembung. Darah<br />
berkhianat. Mata candu<br />
menjamah warna<br />
Membayang<br />
Rebah</p>
<p>Berdiri di situ<br />
Tak terusik. Tak sampai tangan</p>
<p>/5/<br />
Tinggal tubuh dingin mengisak</p>
<p>(Ilalangsenja Padang, Mei 2006)</p>
<p>Kompas, 13 Agustus 2006</p>
<p>Ragdi F. Daye<br />
<strong>Mudik</strong></p>
<p>Di hulu sungai itu: kesedihanmu<br />
tumpah bersama sunyi batu-batu<br />
Cuaca tambah tajam menguis<br />
tubuhmu; luka-luka dan sakarat</p>
<p>Inilah perjalanan suci itu<br />
Kembali ke rahim. Kembali<br />
ke tempat segalanya bermula</p>
<p>Tapi hari menjadi pekat<br />
Di atas, entah matahari<br />
entah bulan; begitu saja padam</p>
<p>: Aku hanya salmon yang tersesat.</p>
<p>Rimbo Tabuah, Solok, Oktober 2006</p>
<p>Sabili No. 24, Juni 2007</p>
<p>Ragdi F. Daye<br />
<strong>Sungai Ibu</strong></p>
<p>Sungai dalam dirimu yang menghanyutkan perahu<br />
tanah, air, dan sehelai takdir mengalir lepas<br />
Waktu menderas seperti terhempas<br />
Elang-elang memekik, seruling kecemasan mengertip<br />
berlumut bebatu<br />
Terbaca sebagai paleograf tentang kabar<br />
Orang-orang meretas jalan kembali<br />
Orang-orang menyuling darah</p>
<p>Sungai dalam dirimu menempuh gelap benua<br />
Di tepinya anak-anak berkecimpung menyelam<br />
sejarah yang dialirkan sepanjang Nil, Huang Ho<br />
Eufrat, Gangga, Kampar, atau Kapuas</p>
<p>Adalah rahimmu yang membersitkan sungai-sungai ke muara<br />
Kehidupan datang peradaban lahir digantikan<br />
Peperangan penaklukan</p>
<p>Ibu, darah dan tuba menjadi keruh di sungaimu<br />
Sampai ke hilir benua. Bukan Habil bukan Kabil<br />
perahu ini dipecahkan dihanyutkan<br />
Atas riak yang menjadi lidah gelombang<br />
Melumpur pori-porimu<br />
Menghempas takdir di tepi.</p>
<p>(Padang, Mei 2005)</p>
<p>Padang Ekspres, 31 Juli 2005</p>
<p>Ragdi F. Daye<strong><br />
Tanah Darah, 4</strong></p>
<p>Di lembah tak terdengar lagi derak pedati<br />
Jalan setapak tinggal semak<br />
Sesekali saja ada pemburu menyoraki<br />
kawanan babi</p>
<p>Entah di mana serpihan itu ditompangkan<br />
Dalam seruang lobang kayu, di celah bebatu<br />
atau goa hening<br />
Sampai ilalang tumbuh<br />
dan zaman menimbun jejakmu<br />
juga suara senapang yang bersipongang<br />
menggegerkan rimba</p>
<p>Tetapi masih kubungkukkan kepala<br />
sebagai isyarat luka<br />
yang tetap membekas pada mukaku<br />
Tetapi masih kucari secelah retak<br />
dalam diriku<br />
Tempat aksara membeku terkunci</p>
<p>Menilasi masa laluku<br />
Tak sekedar ruang kosong<br />
atau dongeng keterlaluan<br />
Sejarah luka selalu berderak<br />
dan bersipongang<br />
dalam kisah<br />
yang dikuburkan.</p>
<p>Rimbo Tabuah, Solok, April 2006</p>
<p>Kompas, 13 Agustus 2006</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>DI BANGKU TAMAN</strong><br />
&#8211;rion</p>
<p>Gemericik air menggenangi kita,<br />
kau mulai bercerita masa yang<br />
semakin jelas kugambar. Anak anak<br />
bermain bola, ibu ibu yang marah,<br />
ikan ikan yang dirayu memakan<br />
kail. Ah, menyenangkan, bukan?</p>
<p>Tapi kau melirikku menjadi sayu.<br />
setatap kau letakkan detik-detik<br />
yang memisahkan kau dan aku. Di<br />
terminal<br />
itu, tentu sepekan lalu, kau<br />
menghiburku<br />
dengan selembar potret,<br />
terlanjur, kau pesankan selembar<br />
kertas.<br />
Biar kucatat sekedar kenangan!<br />
Pada perjalanan, kau menjemput.<br />
Mungkin kita kembali bersuara,<br />
Dalam sebuah buku yang kutulis<br />
Berminggu minggu</p>
<p>Terminal sore, 2006</p>
<p>Padang Ekspres, 28 Januari 2007</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>HUJAN TAK PERNAH USAI</strong></p>
<p>Masih tercium olehku<br />
Anyir kata yang kau cicipi,<br />
Bercengkrama dalam detak nafasku.<br />
Masih terhirup olehku<br />
Bau basah tanah yang rekah,<br />
Dalam erang, ngilu dan sembab<br />
Mataku.<br />
Tertelan pula pahit air mata<br />
Yang belum usai kubungkus,<br />
Masih saja kau lempar cendawan itu.<br />
Dalam tetes hujan yang kuriakkan<br />
Di pematang sawah ibu,<br />
Kubangun bongkahan-bongkahan<br />
pasir<br />
Yang merumput, mungkin<br />
Hujan takkan pernah usai,<br />
Biar kumenunggu sepi dalam bisik<br />
Yang kau selipkan di jembatan itu.</p>
<p>Januari’07</p>
<p>Padang Ekspres, 28 Januari 2007</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>SEBATAS JUMPA</strong></p>
<p>Pada sebuah tepian. Setapak jalan<br />
mengamit laron laron yang diguncang<br />
jedah.</p>
<p>Rumput-rumput bersiul memanggil<br />
semak di pelataran, roda-roda<br />
mobil, entah ringkik kuda-seperti<br />
masa itu-kian menumpuk.<br />
menggeraikan layang yang<br />
kujatuhkan. Sempat pada bayang<br />
kuisyaratkan menggenggam jangkar.</p>
<p>Layang layang itu tetap meninggi.<br />
Tepian semakin sepi. Setapak langkah<br />
melukis kata di bawah rumput rumput<br />
yang menggigau malam.</p>
<p>“Mungkin esok jam tujuh pagi,<br />
Jangkar itu kubawa pergi.”</p>
<p>Silent’06</p>
<p>Padang Ekspres, 28 Januari 2007</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>PU(S) TAKA INI PUN BERNYANYI</strong></p>
<p>Semua menulis abjad, pada<br />
Lembaran duka di sudut lawang.<br />
Keluguan ini terus menyemat<br />
di ujung kertas. Seperti Braille yang<br />
disembunyikan. Pedih jua halaman halaman<br />
buku<br />
itu kaukunyah.</p>
<p>Usang-usangnya menatap bola<br />
mata yang hambar. Di jantung kota<br />
berpendaran meja-meja yang berbaris<br />
kosong, kesunyian yang terus mencekam.<br />
Pena-pena pun enggan menelusuri.<br />
pu(s)taka ini pun bernyanyi ngeri.</p>
<p>(mei),’06</p>
<p>Padang Ekspres, 28 Januari 2007</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>SUATU PETANG DI FEBRUARI</strong></p>
<p>(1)<br />
Suara-suara yang  meninggi.<br />
Suara itu lagi. Pada Februari yang<br />
mengharu. Ragam cemas pecah pada<br />
Rahim yang mengering.<br />
Sejekap. Kau hibahkan semangkuk<br />
Harapan di tepi kasur. Biarlah ia merah<br />
dulu, katamu.</p>
<p>(2)<br />
Waktu-waktu yang menghilang. Tangis<br />
Tangis yang berderai. Selimur yang tak<br />
Kau jejaki lagi, melelapkanmu pada<br />
Suara tangis bayi. “Ah, semakin lebar<br />
Bola matamu yang coklat.”</p>
<p>(3)<br />
Kian sepi jua malam ini. Langkah langkah<br />
Anak kecil berlari, membuka jendela<br />
dan menyapamu di balik sang fajar.<br />
Daun daun meninggi. Ranting pohon<br />
Semakin jauh kau gamit.</p>
<p>(4)<br />
Suara itu sayup sayup terdengar lagi.<br />
Mengingatkanmu pada haru di petang<br />
Februari.<br />
“Usapan pipimu menghapus hari hari<br />
Yang kutanggalkan.”<br />
Berkali-kali.</p>
<p>(Feb’), 2006</p>
<p>Padang Ekspres, 28 Januari 2007</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>KETIKA HIDUP KUAWALI DENGAN ALIF-NYA</strong></p>
<p>kutulis gelisah dalam ragu<br />
memberangkatkan airmata<br />
sebagai janji kesepian</p>
<p>kuucap sajak dari endapanku<br />
mengendap diam, luluh</p>
<p>ketika hidup kuawali dengan alif-nya<br />
akulah dingin itu,<br />
doaku menyala pada ombak<br />
yang menebing</p>
<p>Padang Ekspres, 20 Juli 2008</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>SEPANJANG PENUNGGUAN</strong></p>
<p>kelak aku hanya beku<br />
dan sajak ini bermula dari rahimku</p>
<p>Padang Ekspres, 20 Juli 2008</p>
<p>Ria Febrina<br />
SENANDUNG ANAK SENJA DALAM SAJADAH</p>
<p>tentang luka<br />
untuk kepulanganku<br />
menangis dalam</p>
<p>pada ibu, petangku bersenandung<br />
dari jauh, dari kau</p>
<p>Padang Ekspres, 20 Juli 2008</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>BAGI AYAH,<br />
DI STASIUN MUSIM</strong></p>
<p>kemudian aku mengulang nama<br />
dari kepulangan yang<br />
menebalkan debu rindu<br />
aku mengulang sepenggal sejarah<br />
ketika aku berupa menjadi isak</p>
<p>hingga perih menyiang namaku,<br />
bagimu ayah</p>
<p>Padang Ekspres, 20 Juli 2008</p>
<p>Ria Febrina<br />
HUJAN BERGALAU, BU!</p>
<p>hujan menggigau dalam<br />
mengernyit lorong sel-selku<br />
kisruh, terusterus menyesakku</p>
<p>hujan igau-igaukan dingin<br />
aku takut,<br />
rindu bersemayam, bu!</p>
<p>Musimhujan, 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 20 Juli 2008</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>BUKAN WAJAHMU,<br />
SEBELUM AKU PERGI</strong></p>
<p>bergegas susuri cemas<br />
rupakan tanggal dan tahun<br />
mencari ia yang lelah,<br />
seusai salam ini</p>
<p>bukan wajahmu,<br />
pada akhir<br />
berulang-ulang sayupkan perjumpaan</p>
<p>Padang Ekspres, 20 Juli 2008</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>CATATAN TENTANG KABILAH</strong></p>
<p>dari jurhum, kau tanggalkan<br />
di tempat itu rumah<br />
biar hajar serta ismail<br />
tak diperkenan pergi</p>
<p>dari kabilah, dari sejarah<br />
pintu rumahmu telah kuat<br />
perjalanan tak lagi tiada</p>
<p>Padang Ekspres, 20 Juli 2008</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>USAIKAN MUSIM ITU,<br />
MESKI TENTANG SESEORANG</strong></p>
<p>gerimis menyudahi<br />
berupa akhir di antara kemarin</p>
<p>tinggalkan petang<br />
lalu bersimpuh pada asa<br />
biarkan segalanya lahir<br />
biarkan semuanya mendekap<br />
menjadi lisut<br />
usaikan malam ini</p>
<p>Padang Ekspres, 20 Juli 2008</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>selembar risalat</strong></p>
<p>langit pun menua, sayang!<br />
jika kau ke ladang, rabalah pematang<br />
kemarin-kemarin masih usang</p>
<p>lisut kakimu serupa aku<br />
setelah kerak nasi, kita tak lagi meneguk hujan</p>
<p>dan tentang surau, lapuk di atas kayu<br />
lumbung pun kering</p>
<p>sejak kau pergi,<br />
cangkulmu masih di sudut, penuh lumut<br />
harusnya kupotretkan, biar kau datang</p>
<p>P’Mails, 31 Agustus—6 September 2008</p>
<p>Ria Febrina<br />
<strong>di kotaku bulan masih merah</strong></p>
<p>di kotaku bulan tinggal sekerat<br />
larik-lariknya tak bergetar. Ada laki-laki<br />
bersepi di atas ilalang<br />
mukanya kusam menceritakan kalam<br />
dengan saluang, ia meraba kelam</p>
<p>aku menikmatinya dengan puisi<br />
yang tersurat sepenggal-sepenggal<br />
seperti ladang-ladang yang ditinggal<br />
aku menikmatinya dengan sunyi</p>
<p>P’Mails, 31 Agustus—6 September 2008</p>
<p>Rio SY<br />
<strong>Lubuk Ikan</strong><br />
penyelaman diam-diam turun<br />
dari sebuah sampan<br />
percakapan bisik-bisik bertiup dari tetas angin<br />
air itu beriak, tapi ikan pun tak tahu<br />
di kedalaman selam terurai umpanumpan<br />
tergantung di runcing kail<br />
di mana kau akan leluasa mengait usia<br />
yang menari dalam lubuk itu<br />
suara air yang meloloskan ikan laju<br />
tersimpan dalam timbul tenggelam pengapung<br />
tak kau sentakkan?<br />
menarik peristiwa yang hanyut<br />
lalu menyembunyikannya di keranjang<br />
batuan dalam lubuk diam-diam menjaga legam<br />
menumbuhkan lumut di antara rasa jenuh menunggu<br />
dengan pancing di genggaman<br />
dengan tangan yang lupa berjabat salam<br />
dari dalam lubuk itu aku mengapai<br />
meraih sampai pada permukaan<br />
tempat kawanan rusa meneguk rasa haus<br />
pada permukaan tempat melihat diri sendiri<br />
mungkin ada gores luka<br />
setelah lepas dari sebuah perburuan<br />
Padang, 2009</p>
<p>Seputar Indonesia, 15 Februari 2009</p>
<p>Rio SY<br />
<strong>Hari Panen</strong><br />
(mata sabit)<br />
setiap angin hinggap pada sebuah bulan<br />
yang setajam mata sabit<br />
menebas hari-hari panen<br />
kubayangkan sesak nafasmu<br />
menghitung butir hampa berat<br />
yang tak terpisah bernas<br />
tak ditiup penggirik yang memutar<br />
ayun tangan petani membuat pusaran<br />
menghisapku dalam-dalam<br />
lantas melepasku pada sawah yang lain<br />
sawah yang menghamparkan para peadu layanglayang<br />
kita sama-sama mengasah benang<br />
setiap kali disentakkan, putus, dan lepaslah rindu<br />
yang diulur panjang<br />
berlarian anak orang dari masa lalu<br />
mengejar kepergian yang terkadang hinggap<br />
pada sebuah bulan setajam mata sabit<br />
menebas hari-hari panen<br />
Padang, 2009</p>
<p>Seputar Indonesia, 15 Februari 2009</p>
<p>Rio SY<br />
<strong>Pengembalian</strong><br />
mengapa kembali<br />
sehabis air basuhan dijentikkan<br />
basah tercekat di ruangan<br />
apa karena kudapati helai rambutmu<br />
rontok di sebuah sisir kayu<br />
ambillah sisir ini<br />
kau perlu merapikan<br />
rambutmu yang diamuk dendam<br />
“aku telah diam dalam peram<br />
memendam diri sendiri<br />
menunggu tetas”<br />
untuk siapa kembali<br />
sehabis pengakuan dimuntahkan<br />
terserak di ruang yang menelanku bulat-bulat<br />
tetapi kau surukkan kain pel, sapu,<br />
bahkan ember tak bertangkai itu<br />
apa yang kau bawa kembali<br />
selain cinta yang dulu kupinjamkan<br />
Padang, 2009</p>
<p>Seputar Indonesia, 15 Februari 2009</p>
<p>Rio SY<br />
<strong>Tirai</strong><br />
jangan tarik itu tirai yang menutup jalan hari<br />
mungkin seseorang sedang sembunyi di baliknya<br />
mungkin seorang pencuri<br />
sedang ketakutan di belakangnya<br />
sebab kita tiba-tiba terbangun<br />
tapi aku tahu kita tak pernah tidur benar<br />
sebelum sedikit bertengkar<br />
tentang sesuatu yang terbaring di dalam kolong dipan<br />
“selalu saja merebak bau bangkai puisi<br />
yang di bawa induk kucing ke bawah sana”<br />
apa yang membuatmu terbiasa<br />
menatap ke luar jendela<br />
sewaktu kamar sebegini malamnya<br />
mungkin kau ingin menemui pencuri itu<br />
pencuri yang mengambil isi rumah<br />
tanpa meninggalkan rasa kehilangan setelahnya<br />
Padang, 2009</p>
<p>Padang Ekspres, 5 April 2009</p>
<p>Rio SY<br />
<strong>Malam Sampelong</strong><br />
masih akan ada ketukan kecil di jendela kamar<br />
dari jari yang gigil ingin menyuapkan nasi ke bibirmu<br />
sebab sejambu cium akan terbelah di sana<br />
dibelah belati dari asahan tangan para perambah rimba<br />
pada malam-malam nakal<br />
dan ringkik jangkrik hampir diam<br />
hanya terdengar lenguh engsel ketika membukanya<br />
semacam ratap dawai rabab<br />
ulurkan gerai rambutmu atau julaikan alas kasur<br />
tapi kau duduk saja mendengar lagu malam<br />
hingga lusuh, kendati jam tidur telah menjadi pasti<br />
di setiap jengkal derak dipan<br />
idamkanlah baju ganih berdeta emas<br />
dingin menyentak setelah setali rambut ditarik sisir<br />
dalam cermin yang membagi wajah menjadi dua<br />
wajah kita<br />
seperti yang kau inginkan<br />
masih akan ada jelangan di pintu belakang<br />
berjingkat di kaki pencuri<br />
diam-diam mengambil wangi tubuh di lipatan<br />
baju dan lingkar subang yang ditanggal sebelum tidur<br />
kemudian menjadi canggung yang tanggung<br />
dalam hilang yang tak tertebak raibnya<br />
di antara gigil ketukan. segigil puisi yang terbaring<br />
di atas kertas. tempat kita masih akan saling<br />
menyapa tanpa harus jatuh cinta<br />
Padang, 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 5 April 2009</p>
<p>Rio SY<br />
<strong>Ranji Ibu</strong><br />
bolehkah kubentangkan ranji itu, bu?<br />
membaca tumbuhnya pohon silsilah<br />
merasa asing pada tanah berkabut</p>
<p>leluhur terpahat batu nisan<br />
di antara semerbak kemenyan<br />
tengah dipersiapkan dengan dendang<br />
berapa lamakah usia waktu, bu?<br />
melahirkan sungai, tebing, dan muara<br />
di setiap riwayat asal usul bermula<br />
sebagai pewaris aku tumbuh dengan rindu<br />
menghitung bergundukgunduk kuburan<br />
yang tak pernah ditaburi melati<br />
RuangSempit, 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 12 Otk 2008</p>
<p>Romi Zarman<br />
<strong>Jadi Kaca</strong></p>
<p>Ia serupa kaca<br />
hanya memantulkan cahaya.</p>
<p>Ia bukan serupa matahari yang punya cahaya sendiri.<br />
Di suatu hari, di saat malam berganti pagi, ia terus menanti<br />
tapi pagi bagai tak kembali. Kembali ia serupa kaca,<br />
tak memantulkan cahaya.</p>
<p>2007</p>
<p>Koran Tempo, 19 Agustus 2007</p>
<p>Romi Zarman<br />
<strong>Di Bandara</strong></p>
<p>Ada yang melambai<br />
saat tangan membentang jarak<br />
dari bayang-bayang;<br />
saat bayang-bayang mengukur badan<br />
sepanjang siang.</p>
<p>Hari semakin petang<br />
ia berangsur-angsur menghilang.</p>
<p>Ada yang melambai; ada yang tak sampai.</p>
<p>2008</p>
<p>Jurnal Bogor, 28 Oktober 2008</p>
<p>Romi Zarman<br />
<strong>Burung Buta</strong></p>
<p>Seorang lelaki tua<br />
duduk di beranda dengan mata<br />
yang berkaca-kaca.</p>
<p>Ia bayangkan seekor burung buta<br />
yang tak tahu harus ke mana ketika hari<br />
sudah senja.</p>
<p>Dengan kedua sayap yang ia punya, ia hendak berkata,<br />
&#8220;Aku tak tahu jalan. Aku tak tahu jalan. Aku ingin<br />
terbang ke dalam sangkar.&#8221;</p>
<p>Tapi sangkarnya sudah dibakar.</p>
<p>2009</p>
<p>Suara Merdeka, 4 Januari 2009</p>
<p>Romi Zarman<br />
<strong>Dua Burung</strong></p>
<p>Burung manakah yang membubung dari<br />
dalam tubuhku saat malam telah turun?</p>
<p>Jangan kau katakan bahwa ia tak ada.<br />
Aku memang belum terjaga saat ia terbang<br />
ke angkasa.<br />
Ia bawa engkau ke suatu masa,<br />
padahal aku belum tua.</p>
<p>Burung manakah<br />
yang membubung ke dalam tubuhku<br />
saat fajar akan menjelang?<br />
Ia kembalikan engkau seperti semula,<br />
seperti aku seperti engkau. Lempung manakah<br />
yang mengurung ia dalam raga?</p>
<p>2008</p>
<p>Koran Tempo, 8 Juni 2008</p>
<p>Romi Zarman<br />
<strong>Kelelawar</strong></p>
<p>Astaga, ada jalan</p>
<p>membentang di kepalaku. Engkau katakan<br />
bahwa engkau seorang pencari.<br />
Berhari-hari menyusuri jalan yang sama.<br />
Engkau bosan<br />
engkau putuskan keluar dari kepalaku<br />
tanpa salam,<br />
tanpa ucapan: astaga, dunia.</p>
<p>Engkau kira hanya malam<br />
dan matahari engkau lihat bulan<br />
setiap terbang, berbulan-bulan,</p>
<p>sampai letih,<br />
sampai kepak tak bersayap lagi<br />
engkau putuskan kembali:</p>
<p>astaga, ada jalan<br />
membentang di depanku.</p>
<p>Padang, 2008</p>
<p>Koran Tempo, 8 Juni 2008</p>
<p>Romi Zarman<br />
<strong>Dua Tanjung</strong></p>
<p>Tanjung Sani Tanjung Sigiran,<br />
berapa jarak kalian<br />
ketika gerimis jadi hujan?</p>
<p>Hujan di masa silam, hujan yang jadi catatan<br />
ketika ingatan seseorang menjemput kalian<br />
ke dalam kawah<br />
yang pecah.<br />
Berapa usia kalian<br />
saat masih sepasang insan?</p>
<p>Tanjung Sani Tanjung Sigiran,<br />
seperti sepasang tangan<br />
yang dipisahkan<br />
oleh sebuah<br />
bentangan,</p>
<p>bentangan danau,</p>
<p>danau yang bernama Maninjau,<br />
danau yang pecah dari kawah Gunung Tinjau<br />
ketika kalian dihadang<br />
Bujang Sambilan.</p>
<p>Tanjung Sani Tanjung Sigiran,<br />
berapa jarak kalian<br />
ketika masih sepasang insan?</p>
<p>Insan di masa silam,<br />
insan yang pernah mengucapkan<br />
akan ada yang hilang<br />
seperti tumbangnya kayu gadang<br />
di rumah kalian.</p>
<p>Tanjung Sani Tanjung Sigiran,<br />
berapa jarak kalian<br />
ketika ada yang pulang<br />
bergandeng tangan<br />
dari seberang,</p>
<p>dari seberang danau, dari seberang pulau?</p>
<p>2008</p>
<p>Kompas, 13 Juli 2008</p>
<p>Romi Zarman<br />
<strong>Jam Rantau</strong></p>
<p>Duh,<br />
bulan,<br />
kenapa datang<br />
saat jarum jam lewat tengah malam?</p>
<p>Malam yang geronggang,<br />
malam yang mengantarkan seseorang<br />
ke sebuah jalan, jalan datang,<br />
jalan pulang.</p>
<p>Duh,<br />
bulan,<br />
mana matahari<br />
ketika kau melirik pagi?</p>
<p>Pagi yang geronggang,<br />
pagi yang menjemput seseorang<br />
setelah jarum jam lewat parak siang.</p>
<p>Siang yang mengusir seseorang<br />
ke dalam detak jarum jam lewat tengah malam.<br />
Dan bulan,</p>
<p>duh, kenapa datang menusuk jarum jam?</p>
<p>2008</p>
<p>Kompas, 13 Juli 2008</p>
<p>Romi Zarman<br />
<strong>Perulangan</strong></p>
<p>Bila kau jadi kupu kupu, ia ingin jadi bunga.<br />
Bila kau jadi bunga, ia ingin jadi kelopak.<br />
Buat apa jadi bunga bila kelopak menggugurkannya?<br />
Kau pikirlah selagi tampuknya kau sentuh<br />
selagi daunnya kau tempuh.</p>
<p>Adakah harum bunga kau temukan?<br />
Ah buat apa harum bunga<br />
bila hanya menyisakan keberadaan</p>
<p>sementara. Engkau jadi batang, ia jadi pisang.<br />
Buat apa jadi pisang bila masak batang ditebang?<br />
Kau pikirlah selagi kulitnya kau buang<br />
selagi isinya kau makan.</p>
<p>2007</p>
<p>Koran Tempo, 3 Februari 2008</p>
<p>Romi Zarman<br />
<strong>Mengokang</strong></p>
<p>Belum membidik tapi kau telah mengokang,<br />
tahukah engkau bahwa ia akan terbang?</p>
<p>Buat apa langkah dan gerak bila tidak selalu menyibak?<br />
Kau pasanglah kuda-kuda untuk mengatur<br />
arah dan jarak.<br />
Mungkin kau akan pulang sebelum datang.</p>
<p>Telah kau kokang tapi ia malah terbang, tahukah engkau<br />
kapan ia akan datang?<br />
Buat apa arah dan jarak bila jejak tak bertapak?<br />
Kau pasanglah kuda-kuda untuk mengukur langkah<br />
dan gerak.<br />
Mungkin kau akan belajar sebelum gemar.</p>
<p>2007</p>
<p>Koran Tempo, 3 Februari 2008</p>
<p>S Metron M<br />
<strong>Kepada Tuanku,<br />
yang Pernah Menyentak-nyentak Sejarah</strong></p>
<p>Siapakah engkau sebenarnya Tuanku?<br />
Datang dari kepungan bukit menuju bangsa yang ditangkap ragu: apakah mitos atau logos. Bayangmu memanjang. Menutupi jejak dibelakangmu. Membentuk potongan-potongan sejarah. Sejarah yang dijarah. Orang-orang –nanti— berteriak ketika namamu hanya disebut sebagai manusia.</p>
<p>Sebelum itu engkau baur, Tuanku. Samar. Seperti foto yang difotokopi. Angin pantai timur juga tidak menceritakan apa-apa. Hanya asinnya darah yang kau tumpahkan untuk negeri yang kau anggap linu. Buku harianmu juga hampa. Hanya cerita sebagai manusia (entah kenapa –nanti— orang-orang tidak percaya). Cerita sebagai seorang ayah dan pemimpin yang lugu.</p>
<p>1815<br />
Darimana kita memulai tentang dirimu?<br />
Koto Tuo hanya tempat singgah. Tempat menyerpih bersama Harimau Nan Salapan. Menghirup udara Cangkiang yang penuh gairah. Menempa diri dengan ayat-ayat. Mencari kebenaran di dalamnya. Lalu, kau pergi pada dinginnya Alahanpanjang. Memanaskan pengertian dengan tungku yang kau bawa dari gurumu.</p>
<p>Membangun pagar dengan hati. Mendirikan masjid dengan jantung. Debarannya seperti berkabar di seluruh negeri: Alahanpanjang adalah denyut.</p>
<p>1821<br />
Bukankah dari sini catatan itu dimulai, Tuanku?<br />
Hanya musim yang bicara tentang kenangan. Ia pun menghampirimu. Dari dusun yang terjepit, Tuanku merasa mengulangi kisah masa lalu. Ada triwarna di bolamatamu, ketika Simawang luruh dalam senja.</p>
<p>1833<br />
Berangkatlah, Tuanku.<br />
Ketika api tak lagi padam oleh air. Ketika angin monsun menghentak-hentak mengaburkan tanda-tanda. Berangkatlah. Ke ranah yang tidak bisa dimasuki apapun. Sepetak tanah yang tidak akan berikan pada siapapun.</p>
<p>Tapi tidak dendam, kan, Tuanku?<br />
Meski pada orang-orang yang memintamu dengan (sungguh) takzim keluar dari rumah yang tonggaknya Tuanku pancang dengan peluh. Dari perkampungan yang Tuanku bangun dari arteri yang pecah. Dan khianat berada di antaranya.</p>
<p>Marah mungkin iya, ya, Tuanku?<br />
Tak akan rela hatimu kafir-kafir itu menyentuh surgamu. Apalagi melantakkannya. Tapi, nasib melingkarimu. Garis khatulistiwa menyeretmu ke kancah sejarah. Di mana, takdir berujung kata menyerah. Adakah ragu pernah terpancang di hati, Tuanku?</p>
<p>1836<br />
Sungguh lirih suara angin itu, Tuanku.<br />
Derap kuda tidak lagi berpacu dengan matahari. Tapi, kenapa ke timur? Di sana, takkan Tuanku baui lagi aroma kopi, pala dan cengkeh. Siapa yang Tuanku lindungi? Nan Renceh? Tambusai? Mensiangan? Atau karena Tuanku tidak lahir dari perut negeri ini?</p>
<p>1985<br />
Nah, bacalah, Tuanku.<br />
Orang-orang terbakar hanya karena ingin mendewakan dirimu. Mereka menyeruduk-nyeruduk karena ingatan yang melintas. Memori yang tandas.<br />
Ketika kau pergi pada negeri penuh bambu, kesiuran daunnya penuh kisah. Entah kenapa kau jadi imam. Memimpin lima ribu lebih pasukan. Menaklukkan negeri sekitar yang pernah membuatmu resah.</p>
<p>Mereka tidak tahu hatimu pernah gundah. Ketika Tuanku Hitam rebah karena panah. Ketika Tuanku Gapuak bermandi darah dari senapan-senapan yang terarah. Ketika Tuanku Keluat terpakar dihantam howitzer, ketika&#8230; ya, kan Tuanku?<br />
Mereka tidak pernah tahu, hatimu buncah ketika memeluk, mencium dan menidurkan Kesayanganmu. Adakah dewa seperti itu, Tuanku?</p>
<p>Sekarang<br />
Kami kehilangan suluh. Suluh yang Tuanku gunakan untuk membakar kebodohan. Juga tungku. Tungku yang Tuanku gunakan untuk menghangatkan kecerdasan.<br />
Kami sudah meremas-remas kamus. Menyigi-nyigi ensiklopedi. Menawar tanda-tanda. Melipat-lipat cuaca, tak jua kami temukan. Sembunyikan di mana, Tuanku?<br />
Apa karena sejarah selalu memihak yang kalah?</p>
<p>2007</p>
<p>Padang Ekspres, 14 September 2008</p>
<p>S Metron M<br />
<strong>Di Fatamorgana Pagi</strong></p>
<p>tubuhmu membuncah serupa sampanye pecah. sisa-sisanya kita jilati dengan gianni versace dan jean-paul gaultire.</p>
<p>Kita bicarakan tentang paris, milan atau london. dinginnya lantai ini, ucapmu menawarkan bau holston, tanpa sdar kau akrabi dengan senyum nabi.</p>
<p>hanya sesaat waktu yang kita sisakan untuk kembali ke ruang masing-masing. harapan dicap sentimentil. kita dimakan malam. larut bersama cocktail dan tequila. matahari menjadi mimpi yang tak selesai.</p>
<p>kembali tating tangan dan tatah kaki sambil dudukkan baik-baik senyummu dalam hatiku. dingin lantai ini. hanya angin bisa menghembuskan ke telingamu, tanpa bau apa-apa.</p>
<p>Kita pulang diatapi blitz. menjadikan pagi fatamorgana tanpa mampu menjemputnya esok hari.</p>
<p>Padang, Oktober 1998</p>
<p>Puisi 1999 Sumatra Barat, DKSB 1999</p>
<p>Sayyid Madany Syani<br />
<strong>Fajar dalam Gaun Merah Muda</strong></p>
<p>dari ufuk timur ia menyulut terang<br />
seperti gadis bergaun merah muda<br />
bertengger pada kedewasaan<br />
menertawakan musim-musim yang berputar<br />
berganti dalam ruang kaca<br />
lalu menelikung senja<br />
di pematang sawah</p>
<p>ia pun bergumam<br />
mengaji dalam kekal suara azan<br />
terjal batin yang ia pugar<br />
dalam keseharian, dalam lingkaran pertemuan</p>
<p>fajar menyerupai bejana<br />
tenggelam dalam awal purnama<br />
hanyut di jembatan mega<br />
seperti gadis bergaun merah muda<br />
yang pergi dalam lindap suara perpisahan</p>
<p>;fajar bersuka-ria dalam gelombang.</p>
<p>Rumah Cinta, 2007<br />
Padang Ekspres, 23 November 2008</p>
<p>Sayyid Madany Syani<br />
<strong>Perjalanan</strong></p>
<p>nafas bebatuan seperti memanggil pulang<br />
cerita tentang pepohonan, tualang yang menitip siang<br />
dengan air yang menguntit karam<br />
dan selendang gadis muda yang<br />
hanyut dibawa pasang</p>
<p>pada garis tangan ibu<br />
senja menjejakkan catatan-catatannya<br />
dimana ketulusan menjadi garang<br />
dan kampung halaman meneruka dalam bayang</p>
<p>jadilah kepulangan adalah sesuatu yang mustahil<br />
meski kereta telah lambat menemukan peron</p>
<p>o, gadis muda dengan selendang hijaunya<br />
berjalan dalam riang malam<br />
kandas dalam lautan<br />
hingar dalam nestapa kampung halaman</p>
<p>F 2.5, Oktober 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 23 November 2008</p>
<p>Sayyid Madany Syani<br />
<strong>Perjalanan</strong></p>
<p>ujung jalan yang kita tempuh<br />
menakar hujan dengan sebab yang entah<br />
mungkin, di pertengahan nanti<br />
kita terpeleset curam basah</p>
<p>bayangan setinggi pohon mangga<br />
menyurut dalam getir cahaya yang tak terduga<br />
mungkin, gerhana<br />
atau malam saja</p>
<p>sediakan kertas atau semacamnya<br />
buat kita berteduh dari mimpi</p>
<p>sementara, ujung jalan yang kita tuju<br />
menjauh setapak-demi setapak<br />
kita tersekat dari lamun kenyataan</p>
<p>di sinilah sayang, saat jalan kita terhenti<br />
sehabis hujan dengan akar pohon yang tajam<br />
cukam memahat tebing<br />
dan pandam kita terlalu dini untuk ada</p>
<p>Langkah, November 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 22 Maret 2009</p>
<p>Sayyid Madany Syani<br />
<strong>Ababil</strong></p>
<p>;terbang<br />
mengawal Ka’bah<br />
mendera bebatuan neraka</p>
<p>sejumput jarak dari Mekkah<br />
berbaris lelah, sepasukan gajah<br />
dan sepotong-sepotong daging hangus terbakar cahaya</p>
<p>hari itu,<br />
ketika semua bersembunyi dalam kalut,<br />
dan detak waktu yang merangkak cepat<br />
kabut turun di jengkal panorama gersang</p>
<p>ababil, dengan riuh rendah<br />
memberi kabar tentang anak Abdullah yang takkan terjamah<br />
dengan segenggam kepundan neraka,<br />
ia hujankan kepada gading-gading yang mencuat rikuh pada angin<br />
memuja-muja kematian<br />
sambil melafadzkan;<br />
“maha suci Allah, maha suci engkau Ya Allah”</p>
<p>dan ketika semua berakhir,<br />
langit menyaksikan semua berubah seperti daun kering<br />
yang jatuh dari pohon-pohon mati<br />
dan hilang beterbangan dihembus gemuruh angin gurun</p>
<p>SENJA, Januari 2007</p>
<p>Pikiran Rakyat; 22 September 2007</p>
<p>Sayyid Madany Syani<br />
<strong>Bukan Seorang Penyair</strong></p>
<p>aku, yang mengais kata untuk puisi<br />
dari sampah Bantar Gebang<br />
dari got dan comberan amis<br />
dari sisa plastik minuman, di jalanan<br />
hanya sekedar memungut dan membaca slogan-slogan</p>
<p>aku, yang merangkai kata jadi sajak<br />
meniti getek Ciliwung,<br />
hanya sekedar menuliskan kelu<br />
yang bercerita tentang kehidupan<br />
menggores nurani, membakar jiwa jadi abu</p>
<p>aku, yang bercerita tentang prosa<br />
lirih kudengarkan pedagang asongan<br />
yang tidak akan pernah tahu<br />
kapan duitnya cukup, untuk beli rumah</p>
<p>aku, yang berusaha mencipta syair<br />
telah berkata kepada laut<br />
“kapan engkau datang merengkuh daratan?”</p>
<p>aku, yang kadang menahan tangis dalam keramaian<br />
selalu melekatkan jaket kesedihan<br />
di ujung pena, atau sekerat pensil 2 B<br />
kusandarkan kehidupan,<br />
tetapi</p>
<p>aku bukan penyair<br />
hanya sebatas penciptaan<br />
dan selesai</p>
<p>Rumah Cinta, Juni 2004</p>
<p>Pikiran Rakyat; 22 September 2007</p>
<p>Sayyid Madany Syani<br />
<strong>Ode Badai</strong></p>
<p>adakah arus hilir mencerabuti pepohonan akasia<br />
rimbun dalam benam badai<br />
menikam gemuruh, dan air mata sungai<br />
yang terisak riuh</p>
<p>mata yang menikam bebatuan<br />
dalam upacara purnama yang basah<br />
darah meruap dalam bara kemenyan<br />
menutup kalap badai yang bertempuran</p>
<p>badai&#8230;badai&#8230;badai&#8230;</p>
<p>tak lekang tangis menghilang dalam letusan sangkakala<br />
dinding-dinding batu penuh kesumat<br />
bersama dengan keheningan yang hilang cekam<br />
menusuk lewat bantal, guling dan kasur</p>
<p>siapa yang melaknat diri?</p>
<p>mengharap darwis lewat di sisian rumah<br />
sambil mengatakan; “mari mati<br />
mari&#8230;mari&#8230;.<br />
demi nurani!”</p>
<p>AA. Navis, September 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 23 November 2008</p>
<p>Sayyid Madany Syani<br />
<strong>Ngiangmu</strong><br />
;Rudi Datuak</p>
<p>kau telah bertemu dengan nasib<br />
genggaman yang menirukan igau<br />
hujan menikam darah<br />
dan aku ingat semasa kita berteduh<br />
dalam ruang kopi yang hangat</p>
<p>kurindu gumammu sahabat<br />
menebas pilu di antara jalanan yang rawan<br />
dan kau berceloteh tentang masa depan<br />
yang begitu suram kurasa</p>
<p>ngiang suara yang tertuba<br />
cium garis tanganmu yang swarga<br />
dimana kau menjemput nasib<br />
dengan gegas, dan bertemu raib<br />
yang tak dapat kau tolak</p>
<p>oh langit dengan darah tergenang<br />
menghitung pertanda sebagai pasi<br />
dan wajahmu jatuh dalam kental kopi<br />
yang kuseruput semalaman</p>
<p>kau telah berkawan dengan kafan<br />
meniadakan nafas dan retak tangis kawan-kawan<br />
rapal doa dan igau yang jemu<br />
tentang masa depan<br />
selamat jalan!</p>
<p>Rumah Cinta, November 2008</p>
<p>Singgalang, 21 Desember 2008</p>
<p>Sayyid Madany Syani<br />
<strong>Menemui Reda</strong></p>
<p>;sebelum reda, kutawar janji pada hujan<br />
itu menengarai sunyi yang sedan<br />
lagi pula, aku tak meminta sesuatu yang memberatkan<br />
jika hujan esok hari setuju memberi pertanda</p>
<p>gadis yang berkelindan pada perempatan barisan itu<br />
kemarin, dan kemarinnya lagi<br />
pertemuan meringkus jejak dan jarak<br />
bersitatap melampaui kejauhan</p>
<p>oh, aku hanya meminta hujan sebagai pertanda<br />
bersamaan dengan kemunculan gadis itu kembali<br />
dan aku akan mengejarnya sampai batas ilalang<br />
sampai kutemui ia, dengan debaran jantung<br />
lebih berlipat kencang dari biasanya</p>
<p>sungguh, kerinduan yang belum dapat terobati</p>
<p>sementara waktu tak lekas berpisah<br />
menggodaku seperti prajurit yang kalah</p>
<p>maka sebelum reda, kutawar janji pada hujan<br />
agar menemuiku bersama gadis yang berkelindan pada perempatan barisan<br />
besok, dan besoknya lagi</p>
<p>Tunggang, Januari 2009</p>
<p>Singgalang, 21 Desember 2008</p>
<p>Sayyid Madany Syani<br />
<strong>Pelarian</strong><br />
;untuk I</p>
<p>ditemuinya jejak lazim di basah tanah<br />
tampaknya, menelusuri lelorong kosong<br />
yang ditinggal lekas</p>
<p>mereka mengejar jejak itu berhari-hari<br />
dalam gulungan debu yang memedihkan mata<br />
dalam sorot purnama yang membuhul dari akar-akar pohon</p>
<p>lalu, sorot telaga pun menyeringai dalam kurun waktu yang bersamaan<br />
jejak itu kembali mengabur di balik kabut<br />
wewarna menjadi pasi di setiap jengkal jejak yang ditinggalkan</p>
<p>seolah-olah jejak yang dicarinya ditelan kesunyian hutan<br />
menjauh dari kepungan, lalu mencari celah untuk sebuah titik perubahan</p>
<p>supaya apa kita mengejar<br />
supaya apa kita dikejar</p>
<p>harum jejak meruap kembali dari tanah<br />
mungkin ilusi atau iluminasi yang tersublimasi</p>
<p>tetapi, sebetulnya ia tak pernah pergi dari lelorong itu<br />
ia tak pernah menghilang dari sorot purnama atau telaga<br />
menuju hutan</p>
<p>ia tetap disana, saat cermin dirinya<br />
merangkak menjauh ketika mereka mengejar<br />
dengan bara api yang keluar dari mulutnya</p>
<p>Rumah Cinta, Februari 2009</p>
<p>Singgalang, 21 Desember 2008</p>
<p>Sayyid Madany Syani<br />
<strong>Di Bawah Hujan</strong><br />
;Tommy Firdaus</p>
<p>tadi aku mandi hujan, sebentar saja<br />
menguyupkan badan untuk melepas hari-hari lelah<br />
lalu, menikmati sansai badan yang resam ditelan debu jalan<br />
lalu pias<br />
lalu hilang<br />
dibawa ke hilir, tempat jalan dan jatuhnya air</p>
<p>kau terlihat di keremangan kabut<br />
membawa payung dan memakai jas hujan<br />
berdiam dalam suram langit<br />
dan samar bintang timur yang redup dikalahkan kelebatan hujan</p>
<p>ketika kilat menyentuh tubuh kita<br />
kau bilang, “matilah dirimu<br />
seperti chairil yang menyeduh puisi dalam paru-parunya!”</p>
<p>kau lenyap di antara rerimbunan pohon<br />
meninggalkanku dalam ketertegunan<br />
lalu lingkaran fajar mulai mengintip<br />
berkelok dalam bayang-bayang hujan</p>
<p>lelah menjumputi rusuk yang sebentar-sebentar hingar dalam ketakberdayaan<br />
namun, jikalau semua  itu cuma sepi<br />
maka, perjalanan adalah titik terang dari keharuan<br />
kau yang meneruka pinggiran jurang dengan mata yang tajam<br />
mendekati lindap pertemuan seolah-olah menjadi sentosa</p>
<p>Rumah Cinta, Mei 2009</p>
<p>Singgalang, 21 Desember 2008</p>
<p>Siti Hasanah<br />
<strong>Danau Perantauan</strong></p>
<p>Pagi tak menjelma apa-apa<br />
Semusim rindu, meninggalkan tanya<br />
dan bimbang yang sibuk. Kukais jejak lama<br />
tertinggal di ranah ini. Rimba, atau lembah tak henti memanggil<br />
tapi kularikan tubuh menepis kabut, mencari danau perantauan<br />
tak kujelajahi musim di sana, di rimba yang suluhnya<br />
hampir padam. Menimang keraguan, kubungkam<br />
seribu bahasa. Rona di rimba melukis garis yang murung<br />
menatap harap, akan kusinggahi jua ia ke sana</p>
<p>Kuteruskan menyusur waktu,<br />
Seperti lakon yang kehilangan roh, terkesima<br />
ranah pun mengerang menyaksikan<br />
semak mekar melilit, dedaunan tidur dalam belaian angin<br />
kujemput jua kerinduan di sela-sela sunyi<br />
hingga cakrawala menitikkan airmata</p>
<p>“akh, biarkan aku memagut damai sejenak!”</p>
<p>Mei, 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 13 Juli 2008</p>
<p>Siti Hasanah<br />
<strong>Pengakuan</strong></p>
<p>Akulah hamlet yang sebenarnya<br />
Sukmaku menari di antara luka dan kata<br />
Piring-piring pecah, getir yang lengang<br />
Akulah jasad yang membusuk<br />
Namun tetap hidup, menghentakkan kaki<br />
pada sebilah pisau berkarat<br />
Tuhan, kutuklah rohku jadi arca<br />
agar tersapu jua jejak-jejak itu<br />
Jeritan yang tak pernah lepas<br />
atau tangis yang tak terdengar lagi<br />
sebait kisahku, membiru<br />
lebab karena medan perpacuan</p>
<p>Kubangun jua menara itu<br />
Bangunan bertali gantungan<br />
di atasnya. Terkisahlah lonceng-lonceng maut<br />
Berdentang memanggil-manggil namaku<br />
dendang bocah kecil dan gumam<br />
perempuan tua. Nista yang kutanggung<br />
Sekisah janji yang kupahat<br />
hanyalah seutas kata yang berselingkuh<br />
dengan kata lain. Kepergian dan ditinggalkan</p>
<p>O, langit! Akulah hamlet itu<br />
Terkerangkeng bersama sayatan dan darah<br />
Tak ada cerita yang mampu bersemayam di sisi ruang hati<br />
Ilalang mulai tarikan gelisah di ujung malam<br />
Hanya mataku yang berkaca-kaca menatap sejarah<br />
Kaper-kaper kecil bersama pengharapan,<br />
terarak ke puncak keperihan, menggoreskan segaris tangis<br />
Aku dan penyesalan<br />
Terkubur di palung terdalam<br />
Jejak dan ribuan impian</p>
<p>Sirna!</p>
<p>April—Mei, 2008</p>
<p>Padang Ekspres, 13 Juli 2008</p>
<p>Siti Hasanah<br />
<strong>Ujung Kembara</strong></p>
<p>Hari serasa tak memaknai apa-apa<br />
Di tepi telaga itu pernah kuintip bunga-bunga<br />
memandikan tubuh layu. Rona yang usang oleh waktu,<br />
tak secuil pun rias yang memaniskan kehidupan<br />
Tampak bagai kota mati, berdendang dalam musim hambar<br />
Melisut di tengah batin yang haus</p>
<p>Aku hanya si pengembara seberang pulau,<br />
menyisir waktu yang hilang. Jiwaku kering di sebuah ruang<br />
berkelanan jua mencari seteguk cahaya. Di atapku, tampak langit<br />
menikahkan sesuatu. Bumi menampung airmata langit<br />
Adakah mungkin karena rintihku tak kunjung henti meriuh<br />
Gigil, tak ada teriakan, membelah bumi atau cakrawala<br />
Memecah kesunyian panjang, bulan menyinar lelah. Kujilati jua<br />
harapan-harapan yang mulai tandus. Menimang setiap jiwa<br />
yang memberi udara atau teratai kehidupan<br />
(tapi angin merisau, hanya bergeming. Tak berbisik tentang harap)</p>
<p>Di jalan penghabisan, bersimpuh pasrah<br />
Menjalin sisa sinar terkumpul, meski tak menyiram apa-apa<br />
Namun malaikat tak memungut jiwa yang kering<br />
Tak kunjung temukan seteguk cahaya memasuki<br />
ujung kembara. Biarlah pandang melebur bersama mimpi<br />
Di segala penjuru, tak kulihat ada yang subur, tumbuh<br />
di laman-laman penuh daun berdesau, orang-orang<br />
melukis senyuman, atau mengukir kebahagiaan<br />
hanya tampak berbondong di tanah pemakaman<br />
menagisi segaris nasib yang bergelut di puing-puing<br />
pembakaran sejarah masing-masing.</p>
<p>Padang Ekspres, 13 Juli 2008</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>BULAN GULITA</strong></p>
<p>di jiwa<br />
bersemanyam malam<br />
tak mau pergi<br />
ah!</p>
<p>Padangpanjang, 2008</p>
<p>Harian Aceh, 5 Oktober 2008</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
BULAN HUJAN</p>
<p>hujan<br />
dimatamu  mengurung getir. Terang<br />
bulan sembunyikan bayang di putih<br />
paras. Aku gali intan di dada<br />
ah!</p>
<p>Padangpanjang, 2008</p>
<p>Harian Aceh, 5 Oktober 2008</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>BULAN DURI</strong></p>
<p>merangkai<br />
duri jadi kembang di dinding<br />
hati. Nyeri mempersiang sepi<br />
mata air melaut di nurani.</p>
<p>menata<br />
duri jadi mawar dibingkai<br />
kalbu. Aku rautkan siksa dengan sembilu<br />
agar sakit terasa nikmat<br />
ah!</p>
<p>Riau, 2008</p>
<p>Harian Aceh, 5 Oktober 2008</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>BAYANG</strong></p>
<p>kapan mampu<br />
menghilangkan bayang menghantui<br />
pikiran-menggoda keinginan.</p>
<p>kapan sanggup<br />
membunuh bayang merajai<br />
jiwa-menghela nafsu.</p>
<p>kapan bisa<br />
menangkap bayang penjarai<br />
rayu dalam neraka agar tak menyaru<br />
(kita memang tak mampu membaca isyarat alam)</p>
<p>Aceh, 2008</p>
<p>Solo Pos, 16 Nopember  2008</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>LAUT TAWAR</strong></p>
<p>dari rantau<br />
terkenang laut tawar jadi<br />
kenangan. Petri pukes membatu bukti<br />
cinta seorang hamba. Depik  tempat berkecipak<br />
bensu peteri menunggu Malem Dewa di buntul kubu<br />
di gubuk makni tua.</p>
<p>dari rantau<br />
gigilmu menggeretakkan rahang<br />
rindu demamkan jiwa<br />
ah!</p>
<p>Padangpanjang, 2008</p>
<p><em>Catatan; 1. Pukes  (legenda puteri Pukes di Laut Tawar Takengon)<br />
2. Depik  ( Sejenis ikan yang spesifik berada di Danau Laut Tawar)<br />
3. Bensu ( Puteri yang terkecil)<br />
4. Malem Dewa (Anak raja Piadah yang meminang Bensu)<br />
5. Buntul Kubu (Salah satu tempat bertemu Malem Dewa dengan Bensu<br />
Peteri yang berada di tengah kota Takengon)<br />
6. Makni Tua (seorang nenek tua yang penghuni Buyntul Kubu)</em></p>
<p>Serambi Indonesia, 9 Nopember 2008</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>LANGSA</strong><br />
-Kepada Penyair LK. Ara-<br />
Hasyim KS dan Taufik Ismail</p>
<p>dari sudut yang paling sunyi<br />
dalam sepi gelap mata<br />
angin nelusup menorehkan luka.</p>
<p>dari sudut yang paling sunyi<br />
dalam kabut nanar mata<br />
berpuluh rencong berhulu di dada.</p>
<p>dari sudut yang paling sunyi<br />
kabulkan doa hamba menyalin kata<br />
menyampaikan kebenaran hakiki.</p>
<p>dari sudut yang paling sunyi<br />
maaf terbuka selebar langit<br />
bagi siapapun yang pernah memberikan getir.</p>
<p>-Losmen Bali, Desember 2005-</p>
<p>Serambi Indonesia, 14 Januari 1996</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>AKULAH DEBU</strong></p>
<p>sendiri<br />
rasakan sakit. Sepi kembali<br />
kepelukan hati.</p>
<p>-Banda Aceh, 1994-</p>
<p>Serambi Indonesia, 26 Maret 1995</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>SENYUM BULAN</strong></p>
<p>-bagi pelukis Virsevenny</p>
<p>ada gundah berombak di dada<br />
lambungkan harap pada sepucuk hati<br />
tumpahkan sekian resah, gauli gelisah</p>
<p>ada gundah berombak di dada<br />
tiang mana ikatkan tali<br />
biar kapal dapat merapat melabuhkan rasa<br />
pendam dalam laut nurani</p>
<p>ada gundah berombak di dada<br />
terik hari bergasing atas kepala<br />
o, jangan biarkan gerimis tempias ke wajah<br />
o, jangan biarkan nyeri membungkus luka<br />
(mari jemput waktu lewat senyum di kening bulan)</p>
<p>Serambi Indonesia, 8 Pebruari 1994</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>LEBARAN MALAM ITU<br />
BULAN MENARI  DI ATAS PERAHU</strong></p>
<p>semua<br />
orang harus menanggalkan<br />
permusuhan. Separah apapun bentuk<br />
luka kita jahit dengan silaturrahmi<br />
bulan menari di atas perahu<br />
ah!</p>
<p>-Takengon/Ceka, 1 Syawal 1412 H</p>
<p>Harian Waspada, 26 April 1992</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>JAKARTA</strong></p>
<p>terkurung keramaian Jakarta<br />
mengepul asap di hati jadi api<br />
aku ingat kampung;<br />
masa kecil yang indah<br />
selepas ngaji, membaca Hikayat Prang Sabi<br />
memaknai penyerahan diri merindui Allah.<br />
Masa remaja penuh gairah<br />
memilih rumah tempat berteduh<br />
bawa pulang mawar membagi keluh-kesah<br />
bercermin pada kesetiaan Adam-Hawa<br />
(terasa hidup tak ingin cepat kumati)</p>
<p>terkurung keramaian Jakarta<br />
mengepul asap di hati jadi api<br />
aku menyaksikan;<br />
badut-badut mempertontonkan gelisah<br />
di gedung ber-AC tapi gerah bernuara dendam<br />
melempar bara jadi ambisi tak terkendali<br />
(disini, nurani tersimpan di kantong jas safari)</p>
<p>Jakarta, 20 Oktober 1999</p>
<p>Aceh Ekspres, 2 Mei 2000</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>BERITA</strong></p>
<p>merpati putih<br />
mengitari malam tanpa bintang<br />
mengirim keluh-kesah bersama<br />
darah. Ini kepak terakhir;<br />
terkulai jatuh di atas tungku jadi bara<br />
(siapa sanggup memamah luka cinta tak teraba)</p>
<p>Padang, 1999</p>
<p>Aceh Ekspres, 2 Mei 2000</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>LUKA</strong></p>
<p>malam membuat lupa segalanya<br />
bulan tembaga tertusuk runcing ilalang.</p>
<p>Aceh, 1990</p>
<p>Republika, 12 Mei 1991</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>TUNDA</strong></p>
<p>tak<br />
bisa menancapkan rindu<br />
pada ladang berdebu. Sawah<br />
kering dan terpecah-pecah<br />
terpaksa tak bisa membajak lagi.</p>
<p>Banda Aceh/Ceka, 1990</p>
<p>Serambi Indonesia, 2 Desember 1990</p>
<p>Sulaiman Juned<br />
<strong>BULAN DUKA</strong></p>
<p>samudera hindia mengirm<br />
maut. Masih lekat di jiwa tentang Aceh<br />
dilipat air raya-Yogya diluluhlantakkan<br />
gempa. Aroma kematian<br />
menyekap<br />
pikiran.</p>
<p>samudera hindia mengirim<br />
maut. Tuhan menegur<br />
kita menunggu<br />
giliran-siapkan<br />
diri<br />
ah!</p>
<p>Solo, 2007</p>
<p>Tabloid Investigasi Banda Aceh, 5 Agustus 2008</p>
<p>Sulaiman Juned<strong><br />
BULAN API</strong></p>
<p>aku<br />
mengenang catatan<br />
dengan renyai mata. Di atas<br />
tungku jiwa terjerang jadi arang<br />
ah!</p>
<p>Padangpanjang, 2008</p>
<p>Tabloid Investigasi Banda Aceh, 5 Agustus 2008</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
Gadis Kecilku</p>
<p>Gadis kecilku,<br />
esok kita akan menanam kata,<br />
agar menjadi hutan rimba kalimat-kalimat yang bermakna,<br />
dan kita akan membangun pondok disana,<br />
memutarbalikan logika.<br />
Tidak bicara benar dan salah.<br />
Juga tidak membeda-beda,<br />
kerena kita sepakat manusia itu sama.</p>
<p>Painan,<br />
Januari 2007</p>
<p>Padang Eksres, 25 Februari 2007</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Aku Mengundangm</strong>u</p>
<p>Aku mengundangmu datang ke sudut sunyi sajak-sajakku.<br />
Mungkin beberapa saat menghabiskan waktumu,<br />
untuk bercerita tentang akar rumput dan maut.<br />
Juga gairah mengepal dari pulang<br />
yang hanya terjanjikan.<br />
Jika sempat berkemahlah beberapa hari<br />
Di tanah hening sajak-sajakku.<br />
Mungkin aku bisa memasakkan<br />
beberapa tanggal untuk kau kenang,<br />
dan bisa ceritakan pada anak cucumu.<br />
Sembari malam menjemput, unggun dikelilingi kata-kata.<br />
Mungkin aku hanya bisa mangundangmu,<br />
satu kali ini saja.<br />
Menawarkan malam telentang,<br />
menatap sajak-sajak terbang.<br />
Painan, November 2007<br />
Bali Post, 30 November 2008 dan kompas.com, 28 Desember 2008</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Pantai 7</strong><br />
Kepada: Pramoedya Anata Toer<br />
Minggu, di sebuah pantai kau paksa kami menjadi saksi,<br />
saat jiwa masih samar membaca cuaca.<br />
Musim membaca tiba.<br />
Sejarah yang gegabah menyerahkan diri pada sepenggal malam.<br />
Hujani jejak yang diisi sepi.<br />
Naskah-naskah berdarah,<br />
berciprakan renung pada huruf-huruf<br />
sepanjang pasir yang ku injak.<br />
Telanjang kaki menatap langit,<br />
semua menjadi tiada dan tak tau kapan bermula.<br />
Perempuan-perempuan yang terperkosa.<br />
Jawab takdir, melangkah lewati kata-kata,<br />
kawat berduri adalah surga yang digerayangi kupu-kupu.<br />
“telah ku cumbu gerwani<br />
yang tau sunyi-senyap perjuangan,<br />
tak hanya sekedar kata<br />
tapi juga kesendirian yang mencekam”.<br />
Minggu di sebuah pantai, kau paksa kami mengoreskan peluh.<br />
Tertoreh tanggal, saat aku alfa mengucapkan salam.<br />
Ketika kata-kata beriringan makin panjang mengantarkan ke peraduan.<br />
Painan, April 2007<br />
kompas.com, 28 Desember 2008</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Kekasih Khayalan</strong><br />
Aku punya kekasih hayalan.<br />
Ia sering memperkosaku diam-diam kala subuh menjemput.<br />
Kala sepi mencumbu.<br />
Ia selalu bilang,<br />
Paling suka dengan ceritaku.<br />
Tentang kertas, pena dan prajurit kata-kata yang selalu bertempur demi hati.<br />
Tentang mereka yang mati:<br />
antara kamar mandi dan kamar tidur.<br />
Oh kekasih khayalanku yang nakal<br />
Ia selalu menyapaku kala terbius dalam buku.<br />
Memelukku dalam catatan hariannya.<br />
Berlari-lari dalam petikan rokok,<br />
Batuk dan rambut rontokku.<br />
Suatu hari ketika senja, di ladang kata<br />
Aku sedang menyirami puisiku dengan obrolan demonstran<br />
Ia datang mengajakku rehat,<br />
Reingkarnasilah menjadi rindu, katanya.<br />
Kita akan ziarah ke pemakam kidung agung.<br />
kekasih khayalan<br />
Ia sering memperkosaku diam-diam kala subuh menjemput.<br />
Makanya rambutku selalu basah.<br />
Selepas Subuh sebelum ‘Duha.<br />
Painan, November 2005<br />
kompas.com, 28 Desember 2008</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Pameran Wajah</strong></p>
<p>Pameran wajah di jalan-jalan, di sudut tikungan.<br />
Memamerkan ketakutan, namun tak pemalu,<br />
ada juga yang gemar melucu, menggoda,<br />
kadang genit, uh&#8230; mata itu, senyum itu.<br />
Wajah-wajah yang mejeng di jalan seperti menyimpan rahasia.<br />
Menyimpan bom waktu, meledak mencari cinta.<br />
Musim bercinta datang, mari saling menipu.<br />
”Meraptlah, mari berpelukan,<br />
aku kedinginan berbulan-bulan disini,<br />
kecuplah bibir lembut, leher jenjang, teriakan kesunyianmu”<br />
Lama-lama wajah itu mulai tanpak lusuh, sepertinya pata hati,<br />
aku menyapa ia diam saja.<br />
Mungkin sudah merasa asing dan aneh terus diperhatikan,<br />
ditertawakan anak baru gede yang mondar-mandir<br />
kala pentang meyambut.<br />
Tengah malam, ketika tikungan nampak sepi,<br />
dan jalan-jalan sudah sunyi.<br />
Tiba-tiba wajah-wajah itu melompat, satu, dua, tiga, sembilan,<br />
sebalas, dua belas, seratus tiga satu, seribu, dua ribu sembilan.<br />
Mereka terpaksa pulang, bersembunyi di ranjang.<br />
Painan, Januari 2009<br />
kompas.com, 17 April 2009</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Sang Pendongeng</strong><br />
Berat menjanjikan sebuh senja padamu, apalagi senja yang sepoi-sepoi dengan sekeranjang puisi yang kita tebar kelaut.<br />
Prosa-prosa yang tak terselesaikan: kini menjadi pagi yang sering membelai-belai rambutku, “bangun sayang, bangun…kita akan kekeranda, nisan yang menggombal”<br />
Nanar yang mencekam dalam ruang malam dan seteguk berita koran pagi.<br />
Pustaka hitam, tempat teman mengerami telur-telur revolusi.<br />
Jejak sejarah racuni kakus jiwa, menjeritlah tanpa suara.<br />
Uh….ternyata dongeng itu kuyup menjadi bahasa lisan yang sempurna.<br />
Senanglah dia sang pendongeng menceritakan paradigma semu tentang dunia.<br />
Hanya di kolom realitas aku bangga menjadi angin.<br />
Diskusi malam yang tak mencapai kesimpulan.<br />
Kita akan bertanya, bertanya, bertanya, belajar.<br />
Aku hanya mengucapkan apa yang telah aku pertahankan.</p>
<p>Batu Sangka<br />
kompas.com, 17 April 2009</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Catatan Tentang Bintang, (Cerita Bintang Dini Hari)</strong></p>
<p>Malam adalah jaring-jaring holistik yang lebur,<br />
di bintang: “ini ku catatkan untukmu”<br />
seluruh yang bisa kubaca<br />
dalam bening, pada pahatan sayir:<br />
~adalah legenda tentang negeri selalu dimalamnya bintang berlukiskan, selalu berebut berkilau, memancarkan keteduhan, dan samar-samar menjadi diriku, di sejilid buku~<br />
Dalam dan beku.</p>
<p>Malam selalu punya lanskap kilau yang tak tercatat.<br />
Di halaman artikel kebebasan, yang mengalun, merangkai, luluh lantangkan teradisi.<br />
Lalu ada rasi-rasi yang menampakan diri, membujur dari timur kebarat. Balajar menggenggam, berdiskusi, mencaci, terduduk dalam kosong.<br />
Bintang hadir memberi seufuk kehangatan.</p>
<p>Dan aku menyimpan sunyi dalam deretan daun-daun.<br />
Ke Subuh yang ranum, hijau bulan dan deru ungu angin.<br />
“seperti biasa di negeri atas awan, aku menghitung bintang, sambil telentang dan membungkus sisi peluh yang juga belum terjawab. Akan kita selesaikan seperti apa, malam?”<br />
siluet tunggal dibayang yang muram.</p>
<p>“Catatlah bintang selalu ada<br />
walau tak hadir dijilid-jilid malam”</p>
<p>Painan, April 2006</p>
<p>Padang Ekspres, 7 Mai 2006</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Di sebuah Jum’at</strong></p>
<p>Sebelum ke Jum’at orang-orang berkumpul dilapau,<br />
menghitung pelik dan politik.<br />
~ sekarang masih di adat nan sabana adat, kelu dan harga ~<br />
segulung tikar menafikan alur puisi yang sebagaimana mestinya.<br />
koran-koran berserak: aku tercecer memungut putaran jam.</p>
<p>Di Jum’at kayu.<br />
Rumah gadang ba bilik limo<br />
Orang-orang struktural yang dicekam gelisah.<br />
Menyublin keluar jendela, sambil menggenggam kedua mata dan sepuluh basah.<br />
~sakali aie gadang, sakali tapian rutuh, terdeskripsikan dalam gagasan yang tak jelas, kabur di dunia nyata dan tersesat di dunia maya, mimpi-mimpi hanya menjadi utopia yang hambar~</p>
<p>Bundo, batu lado jo gulai sampadeh.<br />
mamak mengunci animisme,<br />
dipolitik praktis, “ya… sah-sah saja menlakukan apa”,<br />
anak di pangku: di lolong, adat basandi alu jo patuik.</p>
<p>Di balakang rumah ketek, rumah bagonjong jadi kandang ayam.</p>
<p>Batu Sangka, Mai 2006</p>
<p>Singgalang, 28 Desember 2008</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Sang Demonstran 2</strong></p>
<p>Demostran itu menembus brikade sejarah, nan usang.<br />
Pekiknya ”Keringat ini adalah harga diri, perjuangkan kebebasan”</p>
<p>Dia erami telur-telur semangat,<br />
dan berkakta “kita tak ada apa-apa kalau tak mau mengapa”</p>
<p>Demonstran ceking itu hanya teriak sendirian.<br />
Senapan berpuluh mengarah padanya.<br />
Membajak dia punya kemerdekaan.<br />
Tak bisu, tapi terus mengelu-elu.<br />
Sembari berharap<br />
Tan Malaka datang, teriak “suara saya akan lebih keras dari kubur dari pada di atas muka bumi”</p>
<p>Komandan pasukan menghampirinya<br />
Bertanya. “sudahlah, keadilan yang kau harapkan tak akan pernah datang. Sebab revolusi telah sama-sama kita kubur dalam-dalam saat domakrasi telah punya tafsir yang berbeda di Indonesia”<br />
Pak komandan lebih mendekat, memeluknya<br />
Berbisik “jika kau ingin merdeka, pilihlah kuburan yang baik untuk bermimpi”<br />
Juli 2005</p>
<p>Singgalang, 29 Juli 2007</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Perjalanan</strong></p>
<p>Setiap perjalanan selalu meninggalkan pena, sejarah, cerita, kumpulan muntah, dan.<br />
Tinggal angin dideru jejak, menyukai jingga.<br />
Dialog dan monolog ku saling melahap secangkir teh dan rokok: berdua.</p>
<p>Setiap perjalanan selalu menggoreskan resah, gelisah, bahagia, tawa, tangis, tapi.<br />
Kenangan tinggal tumpukan dalam bab-bab, huruf-huruf yang terpenjara.<br />
Hingga disuatu penginapan aku harus membungkus prolog dan epilog, hilang dari tatapan.</p>
<p>Sejak aku banyak mengabisakan waktu di perjalanan.<br />
Selalu yang tersisa: tidur, bertemu mimpi-mimpi.<br />
Berada di dunia baru, harapan baru dan langkah baru ke perjalanan berikutnya.</p>
<p>Painan, April 2005</p>
<p>Padang Ekspres, 7 Mai 2006</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Kata</strong></p>
<p>Selepas hujan malam masih basah<br />
Yang tercecer adalah huruf-huruf<br />
Saat musim mencatat menjadi beku<br />
Memuai dikeringat<br />
Hari-hari benar-benar menjadi gelisa</p>
<p>Peluh dan takdir<br />
Tanah masih basah<br />
Tanah tumpah darah<br />
Tanah air disengketa<br />
Kata-kata masih saja terus memperjuangkan kebenaran.</p>
<p>Dikota, tempat semua kata dipenjara<br />
Atau direkayasa<br />
Aku meronta-ronta karna tak kuat berdusta.</p>
<p>Bali Post, 27 Januari 2007</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Kota Senja</strong></p>
<p>Apa yang bisa kucatatkan untukmu tentang sanset sore ini?<br />
Sore di kotaku, yang waktu kau datang,<br />
kau katakan “aku menemukan kota senja”<br />
dan kau minta di catatkan sesuatu tentang sore kita.</p>
<p>Namun,<br />
Setiap kesempatan membentuk ruang waktu tersendiri,<br />
walau singgah dihalaman-halaman,<br />
spasi mengajarkan pada kita betapa pentingnya berjarak yang memerdekakan.<br />
Kita memilih untuk tidak saling terjajah.</p>
<p>Di waktu sore membeku,<br />
dan mentari terapung setengah,<br />
saatnya kita berkata-kata, menyaksikan kejujuran dikerengkeng logika.<br />
Yang tercatat: “paling mendebarkan dari hidup adalah perpisahan”</p>
<p>Painan, Juni 2006<br />
Singgalang, 29 Juli 2007</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Malam Kental</strong></p>
<p>Perempuan, dingin mencengram, karang-karang berselimut pasir.<br />
Ini kota yang dikelilingi bukit,<br />
pantai di Barat bergandengan dengan air terjun di Timur,<br />
setia pada mata hari yang terbit dan terbenam.<br />
Jangan ragu, catatlah namaku dibatu tapal sejarah negeri ini,<br />
sampai bertemu di Bukit Tampat.</p>
<p>Malam itu aku berbaring di pasir,<br />
sayup-sayup nyanyianmu terdengar bersama ombak,<br />
juga warna api unggun yang meremang.<br />
Inilah pulau dimana bintang menjadi beku<br />
dan bulan muncul perlahan dibalik bukit ujung Timur,<br />
pukul dua pagi.</p>
<p>Aku memanggilmu,<br />
coba kau tebak gelisah bujang-bujang di kota ini,<br />
pori-pori yang mengeluarkan darah dari lemak yang memucat.<br />
Kesepian dan keterkekangan.<br />
“aku ingin pulang”, bermain bola bersama tuan Marx.<br />
Semua berteriak, liar:<br />
“pergilah kelaut, lupakan mimpi-mimpi”</p>
<p>Painan, Oktober 2006</p>
<p>Padang Ekspres, 5 November 2006</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Pantai 5</strong></p>
<p>Aku anak pantai, kulitku terbakar sepi<br />
Tiap malam merayakan kesendirian<br />
Dideretan ombak yang rindang<br />
aku mengumpulkan kata-kata<br />
mengabarkan pada pasir,<br />
agar bakau merangkainya dalam curiga<br />
dan menuntaskan semua dendam<br />
menghalau resah dan gelisah.</p>
<p>Namun, senja selalu mengingatkan sisa-sisa sakitku<br />
Headline hujan:<br />
“kumpulkan lagi kuka itu, tulislah dalam cerita<br />
agar tak basi dan lari”<br />
selalu di pantai akan ada bisikan-bisakan rahasia<br />
yang mengantar pertanyaan-pertanyaan.</p>
<p>Aku anak pantai<br />
Tiap malam merayakan kesendirianku<br />
Suatu hari aku akan membekukan ombak,<br />
Kejadikan dongeng pengantar tidur.</p>
<p>Painan,<br />
April 2007</p>
<p>Haluan, 27 Mai 2007</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Puisi, Maaf Aku Lupa Menyisipkan Sajak Cinta Di Baitmu.</strong></p>
<p>Ketika puisi lahir, mati pun menjadi hening dalam lamun.<br />
Menjadi ayat-ayat sederhana yang pantas dibaca musyafir.<br />
Lalu turun seperti hujan untuk anak-anak yang baru berumur tiga hari.</p>
<p>Berapa lama aku lupa menulis sajak cinta.<br />
Sajak teduh, “cinta diciptakan bukan untuk<br />
menyakiti, cinta itu meneduhkan”.<br />
Bukankan kata itu yang membuat aku tetap bernafas.</p>
<p>Embun pun jatuh ketika mentari menyapa bumi.<br />
Sang petualang, dengan ransel disandang.<br />
Menatap jauh, langit, dengan puja puji religi.<br />
Haruskah pengikraran didefenisikan sebuah ritual?<br />
“terserahlah, puisi pun diinterprestasikan sesuka yang membaca”<br />
rambut panjang dan tatapan matamu.</p>
<p>Seperti itulah, kupu-kupu pun ingin menghabiskan hidupnya sebelum patah tumbuh hilang baganti.</p>
<p>Ayolah, kita selesaikan hari ini dengan kalimat indah.<br />
Sebuah puisi yang teduh,<br />
Puisi cinta yang ketika dibaca lukisanpun ingin keluar, khusyuk mendengar.<br />
Membuat kita bergandeng tangan, tanpa menghilangkan kompetisi.<br />
Menjelaskan pengalaman intim, pengalaman malam yang hening.</p>
<p>“cintu, kudus, rindu pun turun di telaga bunda”</p>
<p>Labor Antropologi<br />
September 2005</p>
<p>Singgalang, 29 Juli 2007</p>
<p>Yuka Fainka Putra<br />
<strong>Kau Pernah Menjanjikan Esok</strong></p>
<p>Kau yang sempat menjanjikan esok.<br />
Esok: untuk bercerita, tentang bagaimana puisi lahir<br />
dan memilih sebuah senja di kasur<br />
kamar tidur yang jingga<br />
matahari perlahan tenggelam di rak buku<br />
dan puisi itu tak menanya kenapa dia ada.</p>
<p>Di esok yang pernah terucap<br />
Cerita bagaimana memilih, mempertangungjawabkan janji.<br />
Tak harus buang-buang waktu,<br />
tak harus, bermenung lama-lama,<br />
apalagi harus bersendiri.<br />
Karena mencatat, hari ini manjadi berarti.<br />
Puisi lahir untuk berbahasa.</p>
<p>Jika besok yang kau janjikan akan nyata.<br />
Berjanjilah untuk hadir apa adanya<br />
Dengan tatapan tajam dan suara serak<br />
Kita akan berkisah<br />
Tanpa banyak saling sapa<br />
Puisi memberi ruang intim, untuk esok yang sederhana.</p>
<p>Painan,<br />
Septembar 2006</p>
<p>Padang Ekspres, 8 Februari 2009</p>
<p>Zelfeni Wimra<br />
<strong>bus kota dalam dada</strong></p>
<p>“suara apa di dalam?” tanyamu.<br />
ketika itu, sepulang menyiang tembakau<br />
aku senang menyuruhmu telungkup<br />
dan tidur di punggungmu</p>
<p>“suara orang menumbuk padi,” jawabku.<br />
lalu kita seperti menemu pusung. berduyun ke langgar tepi kampung<br />
berebut putik mentimun sebelum magrib menyaga<br />
dan angka-angak meraja</p>
<p>di ceruk belukar ransam, kita kelukkan daun pakis<br />
itulah mahkota, aku raja kau ratunya. Kita pun kawin-kawin<br />
kisah yang dicemburui anak-anak tupai ini kelak, katamu<br />
jadi kenangan paling harum dalam kubur<br />
lebihi pisang panggang, randang ubi<br />
atau pun reroti yang kemudian membesarkan anak-anakmu<br />
di kota</p>
<p>di kali penghabisan, kita masih sempat menafsir rumpun kacang<br />
menandai luka miang gabah yang cecer<br />
barangkali pematang sawah; torotoar; bahu ibu kita<br />
ditumbuk tahun-tahun, umpama ketela luluh dalam kue-kue</p>
<p>tapi tubuhmu telah bujur</p>
<p>“peluk dadaku. kau tahukah, tangis siapa di dalam?”<br />
aku dekatkan telinga. batin.<br />
“aku mendengar bus kota. ia mendekat. lalu jauh,”<br />
tapi jawabku berganti gagau.<br />
parau.</p>
<p>padang, 2007</p>
<p>Kompas, 1 Juli 2007</p>
<p>Zelfeni Wimra<br />
<strong>siul sembilu</strong></p>
<p>rindu siapa pula yang mengelupas di kulit bambu?<br />
aku disayatnya. menekuk ngilu. terbirit<br />
bersiul-siul memalsukan luka di balik saku baju<br />
darah, cegatmu. tinta, bantahku<br />
tinta bagi cerita larat yang melimpah<br />
sejak punggungmu mengabur di jalan lurus itu<br />
kutumpuk siul ini di halaman, meski jejakmu masih basah<br />
dan tiap menyingkap pintu, derai riangmu menyergapku<br />
denting piring dingin. gelas-gelas diam. tungku diam<br />
pada serpih arang kugadaikan andai<br />
kita bersilu-siul lagi lalu terbakar di perapian ini</p>
<p>2006</p>
<p>Kompas, 1 Juli 2007</p>
<p>Zelfeni Wimra<br />
minyak tanah surga</p>
<p>sudahi saja rengekmu<br />
mari menyala puisi<br />
di umbut pelepah kelapa kering<br />
tanah kita tak berminyak lagi<br />
sia-sia mengidam api<br />
bergurulah pada anai-anai<br />
yang bergelimpangan dilena lampu</p>
<p>sudah. tutuplah kitab sejarah itu<br />
lendir minyak kelapa di piring loyang<br />
dan bunga alang-alang sebagai sumbu<br />
pelita bagi malam lengang<br />
hanya derap sepatu penjajah di laman</p>
<p>cukup puisi ini saja yang malang<br />
izinkan aku merebut lenganmu<br />
berjingkrak lagi ke ladang pisang<br />
bukankah penghuni surga<br />
hanya orang berhati riang?</p>
<p>2008</p>
<p>Kompas, 27 Juli 2008</p>
<p>Zelfeni Wimra<br />
<strong>datanglah, meski bukan sebagai hujan</strong></p>
<p>kerak bendul di beranda mengelupas<br />
kemarau belum mau berhenti<br />
datanglah, meski bukan sebagai hujan<br />
jadi teman bercerita saja sudah cukup bagi letih<br />
karena waktu yang terus susut<br />
tak henti menabur kenangan<br />
sedang kita sering tak sempat memungutnya</p>
<p>2007</p>
<p>Kompas, 27 Juli 2008</p>
<p>Zelfeni Wimra<br />
<strong>kabar nyinyir tentang tangis terbengkalai</strong></p>
<p>selalu ada yang berdenging di pintu<br />
seakan kau kembali<br />
memeriksa garis pedih di lutut anak-anak<br />
yang jatuh berkejaran<br />
berikutnya gema riang melinang bunga-bunga<br />
berseteru dengan detik nyinyir<br />
yang melulu berkabar tentang tangis<br />
terbengkalai<br />
di mata ibu-ibu tinggal<br />
sesisa umur saja<br />
biarkan aku menumpasnya<br />
seperti meneguk rahasia<br />
yang larut dalam secangkir kopi<br />
sisa cerita yang kau tinggalkan<br />
di meja taman<br />
tapi desing angin<br />
mengapa pula meniup bau kerudungmu?<br />
menggeleparkan doa kekasih yang tersungkur<br />
berkirim salam dari pengasingan<br />
dirajam pecahan takdir<br />
pembangkangan<br />
harusnya kubalikkan badan<br />
memunggungi tikungan yang menelanmu<br />
tiada menoleh lagi<br />
tiada risau lagi<br />
karena kitalah pejalan yang telanjur<br />
digerus sepi<br />
tidak begitu adanya<br />
bahkan aku telah berlari<br />
tapi ke halaman licin itu lagi<br />
mematri ragi tapak sepatu<br />
entah tali apa yang telah memautku di sana</p>
<p>2007</p>
<p>Kompas, 27 Juli 2008</p>
<p>Zul Afrita<br />
<strong>Kesunyian Jendela Matamu</strong></p>
<p>tengah malam, laut tenang di jendela matamu<br />
kedipmu lengang dan nyanyian pagi,<br />
nyanyian petang,nyanyian senja.</p>
<p>(burung-burung berhenti berdendang<br />
bersedih, sarangnya telah kau punahkan dengan badai<br />
yang kau kirim senja tadi)</p>
<p>sejak lama aku jatuh di kedua sunyi matamu<br />
sinarnya membuat gagu<br />
tak perlu kau terima hati berceceran ini<br />
biarlah ditangkap angin<br />
ditenggelamkan air<br />
nanti kau berbencana, pudar, gusar<br />
telah airmata mengalir<br />
hanyutkan diwaktu sebentar.<br />
kau menggelepar di malam buta<br />
bercerita tentang cinta<br />
meratapi perpisahan<br />
perasaan terapung di kepala<br />
mulut tertahan bicara.<br />
sunyi hati terbakar kesedihan<br />
malam pun tak ada bintang memberi kerlip<br />
atau bulan benderang<br />
atau jejangkrik berdendang<br />
pada malam hanya aku sendiri yang kau temukan tenggelam.<br />
larut menimang gerimis</p>
<p>Studio Senja, Padang, Januari 2008</p>
<p>Seputar Indonesia, 13 Juli 2008</p>
<p>Zul Afrita<br />
<strong>Jejak Langkah Lelah</strong></p>
<p>Hari lelah hitung jejak langkah,<br />
Ada tercecer tak pernah dihitung<br />
Muka pesiang pada cermin retak, berdebu kecipak angin<br />
Melambungkan angan<br />
Siang bertandang<br />
Lelap terkapar di tanah basah.<br />
Cium lukamu penat menanti penawar<br />
Kau berada dalam bayang, memudar hujan<br />
Bersama deras air dari langit. Petir menyambar<br />
Asal kau mengerti dengus hari-hari<br />
Mengajarkan berlari<br />
Bersama damai awan. Berlalu dengan tenang.<br />
Katakan padamu, siang tak selama terang<br />
Malam tak selama berbintang<br />
Pesankan pada ibumu menuai padi di sawah<br />
Matahari telah membakar punggungnya</p>
<p>Padang, Januari 2008</p>
<p>Seputar Indonesia, 13 Juli 2008</p>
<p>Zul Afrita<br />
<strong>Sahabat Sehari-hari</strong></p>
<p>Sahabat itu, orang banyak mengukir cerita<br />
mereka bermusik, bermalam gerimis, berapiunggun, bermalam<br />
di puncak mata</p>
<p>Sahabat itu, air merendam rumahrumah, menghanyutkan segala citacita<br />
orang rendah<br />
bukubuku sekolah hancur, di toko tak murah</p>
<p>Sahabat itu, pengemis memintaminta di tengah pasar, di wajah<br />
rumah makan, di muka swalayan, di rumahrumah didatanginya</p>
<p>Sahabat itu, api yang menghanguskan, membakar rumah,<br />
gedunggedung, pasar, hutan, dan rumah tangga</p>
<p>Sahabat itu, pejabat kita yang sangat lincah bermain uang di kantor,<br />
menjual diri untuk uang, istri, anakanak,<br />
untuk barang-barang mewah.</p>
<p>Sahabat itu, orangorang bermuka sama seperti duburnya.<br />
Menjual dirinya pada malammalam liar dingin.</p>
<p>Sahabat itu, orangorang yang merintih tak makanmakan,<br />
gizi tak cukup, anakanak menderita busung lapar, gizi rendah,<br />
nyamuk menyerang, asapasap rokok setiap saat merasuk paruparu.<br />
Rumah sakit banjir pasien, dokter tak ada yang menganggur.</p>
<p>Sahabat itu, orangorang pintar mengambil muka muka bosnya,<br />
muka dosennya, muka gurunya, muka ibunya,<br />
muka bapaknya, muka pacarnya, bahkan muka Tuhannya.</p>
<p>Sahabat itu, ibu ditinggal bapak di rumah setiap malam.<br />
kasur tetangga lebih empuk<br />
Anak kecil telah berani mencium lawan jenisnya mengajaknya<br />
berkencan, mandi berdua, makan berdua, sekolah berdua. Selalu<br />
berdua-dua ke mana-mana.</p>
<p>Sahabat itu kita</p>
<p>Tanah Tuhan, 2008</p>
<p>Seputar Indonesia, 13 Juli 2008</p>
<p>Zul Afrita<br />
<strong>Sepi</strong></p>
<p>musik berhenti mengalun<br />
orang-orang kehilang nyanyian</p>
<p>siang berkabut larut<br />
dawai gitar putus dimakan tikus<br />
seruling jatuh lepas genggaman<br />
ke lantai pecah, terbelah<br />
listrik padam, lampu sisik habis minyak<br />
jam berhenti berdetak bersama sajak<br />
teman pada pergi diangkut Tuhan<br />
bersama cerita, bersama mimpi<br />
angin tertahan di beranda<br />
rokok tinggal puntung<br />
gemerisik air di kamar mandi tersumbat<br />
api mengabukan kayu di dapur sendirian<br />
ibu tak pulang<br />
ayah telah merantau jauh, di negeri<br />
Tuhan<br />
cicak di kamar berhenti berkejaran<br />
si betina tak datang mengantarkan<br />
ciuman<br />
bunga dalam pot layu<br />
kupu-kupu diawetkan di museum<br />
tak ada cengkrama dalam rumah<br />
semua berhenti bercerita, takut terluka</p>
<p>tanahtuhan, 2008</p>
<p>Majalah Annida, No 1/xviii/September 2008</p>
<p>Zul Afrita<strong><br />
Ombak </strong></p>
<p>Kusentuh ombak yang mengejarku ke bibir pantai<br />
ombak masih sepi di siang diturun gelombag<br />
salamkan senyum simpulmu manis tusuk hatiku hingga luka<br />
tapi tak apalah dek, hidup itu memang harus ada luka<br />
tersenyumlah diriku, aku memang lelaki yang terlahir<br />
dari pesakit ibuku.</p>
<p>Pantai Gandoria Pariaman, November 2006</p>
<p>Padang Ekspres, 9 September 2007</p>
<p>Zul Afrita<br />
<strong>Wajah Turun</strong></p>
<p>wajah turun menekur<br />
ada suara ngikik rendah di sisi jendela<br />
mungkin teramat ramai menghujam kalbu<br />
matanya abu-abu<br />
menengok permata digelar di wajahmu<br />
sudah usang, lusuh aku terbunuh<br />
dengan panah yang dihujamkan minggu lalu<br />
mungkin segera berlalu jauh.</p>
<p>2007</p>
<p>Padang Ekspres, 9 September 2007</p>
<p>Zul Afrita<br />
duh cantiknya, DARAHMU!</p>
<p>Sejarah diukir di dinding berlumut<br />
Aku mau memprotesmu<br />
Jantungku kau sobek-sobek cinta<br />
Anak panah kau menembusnya<br />
Kau tetap saja berkata:<br />
Duh cantiknya, DARAHMU!</p>
<p>Tanahtuhan, maret 2008</p>
<p>Singgalang, 4 Mei 2007</p>
<p>Zul Afrita<br />
<strong>Bingung</strong></p>
<p>a      n<br />
l 	               b<br />
u		      e<br />
b		       r<br />
k<br />
a<br />
bs<br />
u<br />
n<br />
g</p>
<p>!!</p>
<p>Singgalang, 4 Mei 2007</p>
<p>Zul Afrita<br />
Api</p>
<p>i, matamu sebentuk surga<br />
i, aku larut dalam pandangan semu<br />
i, mengajarkan tentang api<br />
i, kemudian aku menghanguskanmu<br />
i, semenjak kau pergi tak kembali-kembali<br />
i, karena beranda hati sepi<br />
i, nyanyian tlah usai malam-malam sepi<br />
i, ada kau angkut jiwaku pergi<br />
i, kehilangan nyawa pada jejak tertinggal<br />
i, mau menjemputmu dengan tentara emosi<br />
i, kau tunggulah di jendelamu setiap pagi<br />
i, aku akan mengamen di wajahmu sunyi<br />
i, biarlah mama mengusirku kembali</p>
<p>sungguhkah telah hapus di hatimu<br />
setelah kau temukan sebentuk hati<br />
lebih manja, suatu kisah pernah bercerita<br />
tentang datang- perginya kau begitu saja.</p>
<p>i, kau salah, aku tak pernah goyah memelukmu</p>
<p>tanahtuhan, Maret 2008</p>
<p>Singgalang, 4 Mei 2007</p>
<p>Zul Afrita<br />
<strong>tanahtuhan</strong></p>
<p>Tempat kau terlempar dari surga<br />
Adam dan Hawa telah menelan kuldi<br />
Nenek moyang iblis itu merayunya<br />
Alam tercipta tempat kalian bernaung<br />
Hampa dari nyanyian</p>
<p>Dia tak pernah mencerca dan mengumpaT<br />
meski selalu saja langkah ragU<br />
iman-iman di dada goyaH<br />
sebenarnya kau tanyA<br />
dari dulu Dia TuhaN</p>
<p>Tempat kau berladang dosa<br />
Agaknya berjualan iman<br />
Nereka memanggil-panggil jasad kalian<br />
Akankah bayang-bayang bidadari<br />
Hanya sebatas mimpi?</p>
<p>kalian bercerita pernah tersesaT<br />
di ladang Tuhan tak kalian tahU<br />
masih saja sempat maraH<br />
Tuhan telah memberi nyawA<br />
kau tak mau hidup, mati pun segaN</p>
<p>tanahtuhan, Maret 2008</p>
<p>Singgalang, 4 Mei 2007</p>
<p>Zulham<br />
<strong>aku kehilangan satu waktu dalam kamarku</strong></p>
<p>aku kehilangan satu waktu dalam kamarku<br />
yang jadi sedotan jus jambu. tanggal dipanggang<br />
dalam microwave. tak semua berketahuan<br />
lalu kau mendengus seperti ingin dihapus dari aplikasi<br />
kakiku yang kecil meneriaki truk container sebagai pencuri<br />
membawa  lari rimba prematur. hutan jadi miniatur, jadi perabot<br />
berkurung dalam sangkar. dalam ruang pajang. suara-suara<br />
terbang rendah membau mata kaki. tak jeli memenuh ruang<br />
cuma satu kilobytes. menit-menit berhembus<br />
lewat hidung lalu ke jantung merembes ke paru-paru<br />
mendirikan kemah, mendirikan istana megah</p>
<p>aku lupa bagaimana caranya masturbasi<br />
perutku ditumbuhi ilalang. ada kekanak<br />
bermain bola; bola dari kepala begitu riangnya<br />
sepak penalti ke dalam almari dalam baju yang belum di cuci<br />
mengumpul jadi satu</p>
<p>aku kehilangan satu waktu dalam kamarku<br />
dari kotak vcd bermunculan tentara. berbaris<br />
sepanjang mata menendang cahaya lampu<br />
di mana ada perang? aku tak mendengar<br />
dentum meriam atau alun komposisi orkestra</p>
<p>aku kehilangan satu waktu dalam kamarku<br />
berjalan di seputar pelataran parkir<br />
membuat kakiku nyinyir menyihir buah pelir</p>
<p>belanti, 2007</p>
<p>Padang Ekspres, September 2007</p>
<p>Zulham<br />
<strong>sehabismu</strong></p>
<p>sehabismu menjemur padi, kutanak nasi dalam jemari<br />
lauk kita ratap kekanak menanti bapak beli jajanan<br />
lalu tubuhmu menjelma batang mangga, tempat menyusu—<br />
bertemu segala keluh. tukak menjadi berkaratan dalam nadi<br />
mengalirlah segala yang terkubur dalam ingatan, biar<br />
kuketam dengan musim. subuh mendingin<br />
berselang dalam kecup hanyut dan surut, kepalaku laut<br />
berlayarlah dalam dadaku. segala bermula di sini<br />
orang-orang memahat petang, membuka ladang<br />
membangun pematang di sisi-sisi jalan</p>
<p>sehabismu meratap atap yang murung saat hujan turun<br />
kurenda daun kelapa sebentuk mahkota—kau jadi ratu<br />
dangau tepi bukit istana kita, burung jadi tentara<br />
usai berperang kita minum air kelapa muda. tanam segala<br />
decak yang mengelucak membangun kotak dalam otak<br />
kita samar dalam tidur, tak saling kenal. kau bakar rambutku<br />
aku termangu bibirku kelu<br />
dimana kau sembunyi?<br />
di gudang naga atau dalam saku pendeta?</p>
<p>sehabismu menghabisiku.</p>
<p>kandangpadati juni 2007</p>
<p>Padang Ekspres, September 2007</p>
<p>Zulham<br />
<strong>musim muda</strong></p>
<p>pucuk cemara di kesiur embun pada layu musim muda<br />
membelai angin dari sebelah pantai usai merapat ke kasih kekasih<br />
sebelum tumbuh, mari bersangai dalam siang<br />
matahari dan sisa-sisa awan diarak ke hulu<br />
ke sebuah senja yang asing—bulan menua, bebintang hilang warna<br />
tak seperti dunia kita<br />
berkutik dalam putik memantik langkah yang lentik<br />
kesemua jemari bergenggam. adakah ini kepiluan?<br />
mantapkan lafas cuaca mencucuk ranting<br />
pepohonan sebuah taman mengguyurkan daun-daun hijau<br />
ada yang tumbuh jadi semak belukar<br />
menggelar bekas persinggah sutura<br />
ini kedatangan yang keberapa kali?<br />
ke halaman penuh baju lusuh dan jamban tak pernah disiram<br />
menyeringai aroma. bukan inikan yang kita inginkan?<br />
dalam langkah musim muda—segala hijau bergegas antri peti kemas<br />
akan dibawa kemana?<br />
buat hidang meja makan sudah bapak pesankan<br />
dalam peluh bukan garang melintang—petang melenggang</p>
<p>rumahteduh 2007</p>
<p>Padang Ekspres, September 2007</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kandangpadati.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kandangpadati.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kandangpadati.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kandangpadati.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kandangpadati.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kandangpadati.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kandangpadati.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kandangpadati.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kandangpadati.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kandangpadati.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kandangpadati.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kandangpadati.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kandangpadati.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kandangpadati.wordpress.com/718/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=718&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/06/09/acara-diskusi-%e2%80%9cperpuisian-mutakhir-sumatra-barat-di-komunitas-seni-intro-payakumbuh-pkl-4-sore-hari-sabtu-tgl-13-juni-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51503be240b253c8b98264d76e3a4ec6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">esha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/05/15/714/</link>
		<comments>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/05/15/714/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 22:18:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Esha Tegar Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sesuatu Apa Saja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kandangpadati.wordpress.com/?p=714</guid>
		<description><![CDATA[Pinangan Orang Ladang (Kumpulan Puisi) Pengarang : Esha Tegar Putra Penerbit: Frame Publishing (Yogya) Tebal :123 halaman Ukuran :13,5 x 20 cm Harga : Rp. 25.000 Esha, membaca syair-syairmu, aku bersua dengan bahasa yang sekarat dalam nikmat. Tidak, kau tidak menghidupkan bahasa, hanya membuat sakitnya tertanggungkan. Seperti cinta. Karena cinta. Arif Bagus Prasetyo—kritikus sastra Ibarat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=714&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-713" title="cover pinangan orang ladang" src="http://kandangpadati.files.wordpress.com/2009/05/cover-utuh-pinangan-orang-ladang.jpg?w=420&#038;h=305" alt="cover pinangan orang ladang" width="420" height="305" /></p>
<p><strong><span lang="SV"> Pinangan Orang Ladang </span></strong><span lang="SV"><span style="color:#8000ff;"><span style="background-color:#ffff80;">(Kumpulan Puisi)</span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pengarang<span> </span>: Esha Tegar Putra</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="SV">Penerbit: Frame Publishing (Yogya)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="SV">Tebal<span> </span>:123 halaman</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="SV">Ukuran<span> </span>:13,5 x 20 cm</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="SV">Harga<span> </span>: Rp. 25.000</span></p>
<p style="text-align:justify;">
Esha, membaca syair-syairmu, aku bersua dengan bahasa yang sekarat dalam nikmat. Tidak, kau tidak menghidupkan bahasa, hanya membuat sakitnya tertanggungkan. Seperti cinta. Karena cinta.<br />
Arif Bagus Prasetyo—kritikus sastra</p>
<p>Ibarat pecatur, Esha telah menampilkan jurus pembukaan yang cerdas. Memikat perhatian. Saya kira dia akan menjadi petarung yang panjang nafas dan perlu diperhitungkan. Saya bayangan nanti dia akan memainkan banyak jurus baru yang memukau.<br />
Hasan Aspahani—penyair, wartawan, bloger</p>
<p>“&#8230; Orang Ladang” yang baik. Akhirnya kubaca kau di malam buta. Segenap lambang, segala imaji yang membentang, semuanya berjejalan hendak membentuk sebuah tatanan. Ada yang saling bertabrakan; ada yang seiring-sejalan. Maka, aku tak heran, kenapa sesekali ada ledakan, ketenangan, kegalauan, dari sebuah pencarian &#8230;<br />
Romi Zarman—cerpenis</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Untuk pemesanan silahkan hubungi sdr. Indrian Koto di 081802717528. Pembelian buku di atas 5 eksemplar tidak dikenai biaya kirim. buku akan dikirim jika anda sudah mentransfer uang ke No rekening 0117443522 BNI Cabang UGM Atas Nama Indrian Toni bisa juga pemesanan melalui email: indriankoto@gmail.com atau <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1615778708&amp;ref=name" target="_blank">http://www.facebook.com/profile.php?id=1615778708&amp;ref=name</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kandangpadati.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kandangpadati.wordpress.com/714/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kandangpadati.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kandangpadati.wordpress.com/714/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kandangpadati.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kandangpadati.wordpress.com/714/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kandangpadati.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kandangpadati.wordpress.com/714/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kandangpadati.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kandangpadati.wordpress.com/714/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kandangpadati.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kandangpadati.wordpress.com/714/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kandangpadati.wordpress.com/714/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kandangpadati.wordpress.com/714/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=714&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/05/15/714/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51503be240b253c8b98264d76e3a4ec6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">esha</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kandangpadati.files.wordpress.com/2009/05/cover-utuh-pinangan-orang-ladang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cover pinangan orang ladang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sajak-sajak Esha Tegar Putra, Koran Tempo, Minggu, 15 Maret 2009</title>
		<link>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/05/07/sajak-sajak-esha-tegar-putra-koran-tempo-minggu-15-maret-2009/</link>
		<comments>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/05/07/sajak-sajak-esha-tegar-putra-koran-tempo-minggu-15-maret-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 00:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Esha Tegar Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Sajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kandangpadati.wordpress.com/?p=710</guid>
		<description><![CDATA[MENGUKUR JARAK akhirnya aku tahu, antara singgalang dan buahbatu ada yang terentang serupa benang, yakni matamu; mata perdu meski sesekali aku tersesat di jalan panjang dan tubuh jalang bayangmu tumbang di antara serak bunyi puput batang padi kiranya siapa yang lebih mengerti selain sunyi yang kian mati matamu menyiratkan lubuk dalam, bayangan di dasarnya terkurung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=710&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MENGUKUR JARAK</strong></p>
<p>akhirnya aku tahu, antara singgalang dan buahbatu<br />
ada yang terentang serupa benang, yakni matamu; mata perdu</p>
<p>meski sesekali aku tersesat di jalan panjang dan tubuh jalang<br />
bayangmu tumbang di antara serak bunyi puput batang padi<span id="more-710"></span></p>
<p>kiranya siapa yang lebih mengerti selain sunyi yang kian mati<br />
matamu menyiratkan lubuk dalam, bayangan di dasarnya terkurung</p>
<p>terbenam juga angan, pantai panjang dikulum pasir bergaram<br />
matamu menyiratkan sesuatu yang padam, sesuatu yang geram</p>
<p>antara singgalang dan buahbatu adalah rindu, begitulah seruku<br />
teramat lapang ini langit, teramat sulit buat digigit</p>
<p>aku kian bergairah; di sini lembu, kuda, tempua, kecebong<br />
segala binatang ikut berseru dari hunianku, ikut berseru sepi</p>
<p>jarak tak merupa benang pintalan biasa (bukan pintalan si tua yang<br />
dengan gemetar menenun kenangan lama di helaian kain satin)</p>
<p>bilamana rindu ini padu menjadi bau gaharu, siapa yang bakal<br />
sanggup menenun makna cinta yang berubah jadi perca?</p>
<p>isyarat mata perdumu, sekumparan kabut lembut penggenap kalut<br />
tapi siapa yang sanggup menelungkupkan tanjungku ke arah lautmu?</p>
<p>kali saja pasir susut, singgalang merupa gundukan tanah biasa<br />
tak bersuara tak berseru, dan buahbatu menghela itu rindu</p>
<p>di ini tahun pucuk cinta menumbuh baru, sesuatu yang padu<br />
digenapkan tubuhmu, dengan bau lokan rebus dan amis susu lembu</p>
<p>akhirnya sajak jadi himpunan bahasa yang tak perlu diberi tahu<br />
dan aku akan berucap mengenai jalang malam menjelma tubuhmu</p>
<p>kiranya kau tak mengerti, sajak tumbuh di dagumu, punggungmu<br />
dadamu, di segala yang ada padamu menumbuhkan gairah sajak</p>
<p><em>Kandangpadati, 2008</em></p>
<p><strong>SEPINGGAN SAJAK SEPI</strong></p>
<p>tentunya kita tak bakal saling melupa, sekarang aku sepinggan<br />
sajak sepi, sedangkan kau sebentuk kata hati</p>
<p>tentunya kau tak akan pernah mengira bahwasanya aku akan<br />
mempunyai sepasang mata berbahaya, mata yang bisa memandang<br />
tembus lewat sesela angin (maka dari jauh, dari jarak yang tak bisa<br />
kau tebak, pastinya aku akan menatapmu dengan penuh malu)</p>
<p>aku juga seorang penujum yang tahu di tempat mana kau<br />
sembunyikan rasa sakit, ke sudut mana kau benamkan kenangan geli<br />
yang selalu ingin kau nikmati sendiri</p>
<p>pastinya aku tak akan banyak berucap dan bergumam lagi<br />
tapi piuhan mantra dan jimat penghela akan kudedahkan<br />
(bagi siapa saja yang menyembunyikan kenangan<br />
ke pucuk paling rahasia)</p>
<p>aku juga akan mengobati kau, jika dalam sakit<br />
aku akan menyajikan sepunggung tulang<br />
agar kau kuat dalam mengingat dan sigap berucap</p>
<p>tetap saja aku akan kau maknai sepinggan sajak sepi<br />
sebab kau sebentuk kata hati<br />
dan kita pastinya akan cepat bertemu jika sakit melibatkan diri</p>
<p><em>Jalantunggang, 2008/09 </em><a href="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/03/15/Sastra/krn.20090315.159575.id.html"></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kandangpadati.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kandangpadati.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kandangpadati.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kandangpadati.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kandangpadati.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kandangpadati.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kandangpadati.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kandangpadati.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kandangpadati.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kandangpadati.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kandangpadati.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kandangpadati.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kandangpadati.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kandangpadati.wordpress.com/710/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=710&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/05/07/sajak-sajak-esha-tegar-putra-koran-tempo-minggu-15-maret-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51503be240b253c8b98264d76e3a4ec6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">esha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sajak-sajak Esha Tegar Putra, Koran Kompas, Minggu, 12 April 2009</title>
		<link>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/05/07/sajak-sajak-esha-tegar-putra-koran-kompas-minggu-12-april-2009/</link>
		<comments>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/05/07/sajak-sajak-esha-tegar-putra-koran-kompas-minggu-12-april-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 00:48:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Esha Tegar Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Sajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kandangpadati.wordpress.com/?p=706</guid>
		<description><![CDATA[Seretan Suara suara siapakah yang menyeretmu hingga tergelepar di tepian pesisir dengungnya tak seperti bunyi lebah, gaungnya tak seperti desiran angin yang beradu kian-kemari di punggung lembah. suara siapakah yang telah menelantarkan tubuhmu hingga tak sanggup lagi merapal isyarat kerang pecah, tak sanggup membau amisnya lendir ikan dan seperti menemu lubang dalam, kau tak sanggup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=706&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Seretan Suara</strong></p>
<p>suara siapakah yang menyeretmu hingga tergelepar di tepian pesisir</p>
<p>dengungnya tak seperti bunyi lebah, gaungnya tak seperti desiran angin</p>
<p>yang beradu kian-kemari di punggung lembah. suara siapakah</p>
<p>yang telah menelantarkan tubuhmu hingga tak sanggup lagi merapal<span id="more-706"></span></p>
<p>isyarat kerang pecah, tak sanggup membau amisnya lendir ikan</p>
<p>dan seperti menemu lubang dalam, kau tak sanggup menyuarakan</p>
<p>sakit pada badan yang diregang oleh jarak. di tepian pesisir tanganmu</p>
<p>digelipatkan, dan di lain jarak (mungkin di tengah laut) kakimu</p>
<p>diapungkan. seakan dijadikan umpan bagi ikan-ikan bergigi tajam</p>
<p>suara siapakah itu, yang menghelamu jadi makhluk pendiam yang</p>
<p>tak sanggup mengusap jejak pasir yang melekat di kening beningmu</p>
<p><em>Kandangpadati, 2009</em></p>
<p><strong>Pohon Agung</strong></p>
<p>1</p>
<p>kuamati sebatang tubuhmu</p>
<p>seperti mengamati sebatang pohon agung</p>
<p>di hari yang mendung</p>
<p>bola matamu kelihatan cekung</p>
<p>seakan menenung dan menghisapku</p>
<p>ke dalam tempurung yang mengapung</p>
<p>rambut yang terjalin dan berpilin</p>
<p>membayangkanku akan sumbulan akar</p>
<p>sehabis menusuk bebatuan lapuk dengan garangnya</p>
<p>dan di rengkah bibirmu itu</p>
<p>kayu-kayu belah di kemarau yang tak sudah</p>
<p>kemarau yang tak memberi pertukaran pada warna sungai</p>
<p>punggungmu entah berwarna apa</p>
<p>terlihat belang-belang dengan serat menebal</p>
<p>seperti bekas batang terpanggang</p>
<p>2</p>
<p>tubuhmu yang sebatang pohon agung</p>
<p>dengan buah lebat yang begitu nikmat dulunya</p>
<p>sering kali aku salah duga memaknai itu. ingatanku tak cukup kuat</p>
<p>menerjemahkan isyarat yang kau buat di kali kesekian hujan merambat</p>
<p>di suatu ketika aku hanya bisa berharap</p>
<p>tubuhmu yang sebatang pohon agung</p>
<p>dijadikan tempat bergelantung. dan akan melambungkan</p>
<p>keinginan beburung; mengarung langit lapang yang kini murung</p>
<p>cuma di kerisik daun jatuh</p>
<p>(barangkali itu tangismu turun) dapat kusaksikan</p>
<p>persetubuhan nikmatmu dengan badan angin. semacam</p>
<p>permainan, dan hanya lenguh burukmu yang bisa kutangkap</p>
<p>3</p>
<p>aku ingin mendekat dengan penuh harap</p>
<p>lalu mendekap tubuhmu yang sebatang pohon agung</p>
<p>sembari merapal doa-doa lama yang temurun diajarkan para tetua</p>
<p>agar senantiasa kau bisa memahami kesakitanku, kesakitan penebang</p>
<p>pohon rimba—sesekali aku merupa penggetah burung</p>
<p>siasat apakah yang bisa merubuhkanmu</p>
<p>sebatang pohon agung dalam mendung</p>
<p>aku begitu takjub pada tangkai dan surai lebatmu</p>
<p>yang mengucurkan getah mentah. harapku berjaga di antara patahan</p>
<p>ranting, di antara runtuhan lapuk dan terbangan gabukmu</p>
<p>4</p>
<p>agar di hari yang mendung</p>
<p>ketuban awan segera pecah dan tempias air dapat</p>
<p>berburu di kedudukan tanah</p>
<p>hingga tubuhmu, oh, yang sebatang pohon agung</p>
<p>menjadi pertanda dimulainya musim berpinak</p>
<p>bagi sepasukan semak</p>
<p><em>Kandangpadati, 2009</em><a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/12/02572844/sajak.sajak"></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kandangpadati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kandangpadati.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kandangpadati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kandangpadati.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kandangpadati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kandangpadati.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kandangpadati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kandangpadati.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kandangpadati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kandangpadati.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kandangpadati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kandangpadati.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kandangpadati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kandangpadati.wordpress.com/706/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=706&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/05/07/sajak-sajak-esha-tegar-putra-koran-kompas-minggu-12-april-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51503be240b253c8b98264d76e3a4ec6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">esha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lawakan Budaya dalam Kotak</title>
		<link>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/03/28/lawakan-budaya-dalam-kotak/</link>
		<comments>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/03/28/lawakan-budaya-dalam-kotak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 10:09:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Esha Tegar Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[halaman esai]]></category>
		<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kandangpadati.wordpress.com/2009/03/28/lawakan-budaya-dalam-kotak/</guid>
		<description><![CDATA[(Catatan Pementasan Kotakku Rumahku, Teater Size. Taman Budaya Sumbar 31 Mei 2008) “Tadi jadi rocker, kini jadi anak teater awak lai.” Seorang kawan berceloteh seperti itu sambil makan kuaci di sebuah kafe yang terletak di salah satu sudut taman budaya Sumatra Barat. Bagaimana tidak, di depan gedung Teater Utama masih riuh bunyi musik rock dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=704&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(Catatan Pementasan Kotakku Rumahku, Teater Size. Taman Budaya Sumbar 31 Mei 2008)</strong></p>
<p>“Tadi jadi rocker, kini jadi anak teater awak lai.” Seorang kawan berceloteh seperti itu sambil makan kuaci di sebuah kafe yang terletak di salah satu sudut taman budaya Sumatra Barat. Bagaimana tidak, di depan gedung Teater Utama masih riuh bunyi musik rock dan sorak-sorai penonton, sedangkan tak jauh dari sana, yakni di Teater Tertutup, sebuah naskah yang berjudul Kotakku Rumahku karya Paul Maar, dkk, akan dipentaskan oleh grup Teater Size yang disutradarai oleh Zamzami Ismail.. <span id="more-704"></span><br />
31 Mei 2008, kira-kira pukul 20:00, udara Padang lembab karena hujan turun rintik-rintik. Orang-orang di kafe yang sedang menunggu pementasan Kotakku Rumahku mulai beranjak menuju ruangan teater tertutup. seketika masuk, apa yang tersaji di panggung? Dua buah kotak sebagai properti, yang ukurannya berbeda; satu besar, dan satunya lagi kecil; kotak yang kecil bagian depannya (menghadap penonton) ditutupi kain berwarna merah sedangkan kotak yang besar diberi kertas minyak putih dan digambar dengan spidol hitam. Kedua kotak tersebut bagian atasnya tidak tertutup. Dan saya (mungkin juga penonton kebanyakan) bertanya pada diri sendiri: Apa ya isi dalam kotak tersebut?<br />
Lampu redup setelah MC selesai membacakan sinopsis dari pertunjukkan yang disutradarai oleh Zamzami Ismail ini. Terlihat dari dalam gelap dua orang memasuki masing-masing kotak. Tap, lampu pertunjukan dihidupkan, musik cyber (baca: musik komputer) berbunyi. </p>
<p>Kotak, Logat, dan Idientitas<br />
Dua pemain yang tadinya masuk ke dalam kotak muncul dan terlihat setengah bagian badannya. Di kotak kecil seorang pemain memakai topi putih bundar sedang melap-lap sepatu yang warnanya berbeda; hitam dan putih. Sebuah kotak kecil (kardus) dilemparkannya ke luar. Satu orang lagi, pemain yang mengisi kotak besar melihat-lihat dari kotaknya.<br />
“Zakarrr&#8230;,” aktor yang mengisi kota besar menyahut kepada aktor di kotak kecil—yang masih melap-lap sepatu belangnya—dan dengan marah sahutan berbalas, “Zakarudins&#8230;, Peot.” Oh, ternyata aktor yang berada di kotak kecil namanya “Zakarundins”, dan ia tidak mau jika huruf “s” di belakang namanya tertinggal penyebutannya oleh “Peot”—aktor kotak besar.<br />
Dari adegan inilah mulai terlihat perbedaan, peng-kotak-an, yang dimaksud dengan judul naskah. Ingatan saya juga berbalik pada ucapan MC yang tadinya menyebutkan: “semuanya tentang kotak”. Bagaimana tidak, sutradara membuat dua latar perbedaan budaya yang diselipkan melalui dialek masing-masing aktor. Zakarudins—yang tidak mau “s” namanya tertinggal”—ternyata seorang lelaki Minang dan Peot ternyata seorang lelaki Sunda. Dialek pembawaan masing-masing aktor tersebut mampu menyedot penonton dalam bermacam lawakkan budaya yang khas. Semacam komedi satir yang membuat penonton geli sendiri.<br />
Beberapa lawakkan “bodoh,” penertawaan terhadap “diri sendiri” sering kali terdengar. Aktor terus berinteraksi dari kotaknya masing-masing. Lihat saja permainan sepatu (simbol) yang sedang dilap-lap Zakarudins—ternyata sepatunya belang. Peot pun mengatakan bahwa, “jangan-jangan sepatumu kena penyakit! Hii&#8230;, aku tidak maun tertular, dekat-dekat!”<br />
Pada pementasan ini, “sepatu yang belang” dijadikan simbol dari semacam kebodohan (pembodohan?). Kebodohan juga terlihat pada permainan sapu tangan oleh Peot, sapu tangan berlubang yang dianggap aneh, sapu tangan berlubang yang bagian depan dan belakangnya disamakan dengan kotak.<br />
Dua kultur dan pemikiran yang bertolak belakang sangat menonjol sekali dari karakter yang dimiliki Zakarudins dan Peot. Yang satu ingin menipu dengan kecerdikkannya, yang lain ingin membalas tipuan dengan keluguannya.<br />
Ah&#8230;, dua aktor yang berbeda “kotak,” kotak yang merupakan perlambangan “milik pribadi,” yang sangat personal sekali, kotak yang menimbulkan tipuan-tipuan konyol dan “bodoh,” hingga membuat Zakarudins dan Peot bertengkar. Pada hal jauh dalam diri mereka, sebuah “rasa” saling memiliki dan takut kehilangan telah terjalin. Tapi egoisme membuat mereka terus melakukan tuntutan dan berbagai penipuan bodoh terhadap temannya. Apa benar begitu adanya keadaan sekarang?<br />
Ada beberapa adegan lain yang menunjukkan sebuah gambaran yang sifatnya “psikis” harus tergadai dengan benda yang “fisik”. Hal ini terlihat pada permainan kotak kecil (milik Zakarudins), dan kotak besar (milik Peot). Pada saat Zakrudins memutar kotaknya 180 derajat ternyata warna bagian depan kotaknya berubah menjadi hijau. Peot pun terperanjak dan mengatakan kotak Zakarudins “Ajaib,” dan penonton pun tertawa geli melihat tingkah Peot dan penipuan Zakarudins. Keinginan untuk mencoba, bertukar tempat, bahkan ingin memiliki hak orang lain pun membuat Peot rela dipermainkan secara tidak manusiawi oleh Zakarudins. Berkali-kali Zakarudin menipu peot dengan bermain air (kran air) dengan menggunakan air milik Peot.<br />
Begitu pula sebaliknya, kotak Peot ternyata “Ajaib.” Bagaimana tidak, kotak Peot yang bagian sampingnya berlubang jika dimasukkan tangan akan berubah jadi besar pada satu sisi dan kecil pada sisi lainnya.<br />
Memang benar adanya, sifat ingin memiliki membuat dua orang tokoh dalam pementasan Kotakku Rumahku ini ingin memiliki hak tokoh lainnya dengan cara apa pun. Sekalipun harus menggadaikan harga diri dan cap jelek terhadap (milik) orang lain.<br />
Komedi satir yang menjadi pembenaran terhadap realitas dalam pementasan ini. Peristiwa demi peristiwa dipapah dengan lawakan yang memancing imajinasi penonton pada peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Apakah benar adanya seperti itu? Peng-kotak-an, atau rasa kepemilikan yang besar dan rasa ingin memiliki yang sama besarnya, akan membuat kepuasan tersendiri bagi si pengkotak-kotak?<br />
Pada bagian lain, setelah bermacam permainan bodoh tapi kritis yang dibuat oleh Zakarudins dan Peot, muncul seorang (aktor) yang berpakaian seragam, bersepatu lars tinggi, dan membawa genderang ala komandan baris-berbaris. Genderang terus dibunyikan hingga memancing keinginan Zakarudins dan Peot untuk mencoba sekaligus menjadi orang yang berseragam tersebut. Perlombaan “siapa yang dikenal oleh bapak yang berpakaian seragam” itu pun membuat Zakarudins dan peot saling dahulu-mendahului.<br />
Ternyata pemain yang berseragam memakai logat Batak. Mungkin ini benar-benar strategi sutradara untuk mempertemukan tiga kebudayaan melalui logatnya dalam sebuah pementasan. Saya merasa tidak nyaman seketika tokoh (aktor) ketiga ini masuk. karena banyolan yang dibuatnya terkesan tidak pas (seperti dibuat-buat kesannya). Pada adegan inilah papahan menuju klimaks pertunjukan, yakni penyelesaian (mungkin juga pengaburan)  dari segala permasalahan Zakarudins dan Peot dimunculkan. Keinginan Zakarudins dan Peot untuk mencoba “genderang” dan belajar “baris-berbaris” membuat mereka berdua harus menyogok bapak yang berpakaian seragam.<br />
Zakarudins beberapa kali menyogok dengan uang dan Peot hanya meyogok dengan sapu tangan bolong. Zakarudins dan peot juga ingin memperlihatkan kehebatan kotaknya pada pemain yang berseragam. Suap-menyuap pun terjadi dan peot tidak bisa memberikan apa-apa, otomatis pemain yang berseragam melirik kotaknya Zakarudins.<br />
Tanpa disangka, ternyata orang yang berpakaian seragam yang dianggap “hebat dan berwibawa” itu ternyata seorang penipu. Zakarudins dan Peot disuruh berkeliling-keliling dengan genderang dan cara berbaris yang baik, akan tetapi dia menyurukkan kotak milik Zakarudis dan Peot, mirip tukang gusur rumah. Pada adegan ini muncul lagi “rasa” persahabatan mereka, bahwasanya mereka adalah orang yang merasa dirugikan.<br />
Banyolan baru pun terjadi seketika, kotak—pada awalnya adegan dilempar oleh Zakarudis keluar kotaknya—disulap menjadi besar. Perselisihan baru timbul lagi, mengenai “siapakah yang berhak memiliki kotak itu?” Pada akhir adegan beberapa nyanyian tentang permasalahan Indonesia terdengar, kenaikan BBM, kemelaratan, dan hal-hal yang menyangkut kaum kecil.</p>
<p>Konsep Menertawakan Diri<br />
Kiranya ini merupakan pementasan yang baik dan sukses menurut saya. Dengan panggung minimalis dan lawakan budaya yang menggelikan mampu membuat penonton menunggu, lawakan apalagi yang bakal muncul. Adakalanya pementasan ini membuat urat syaraf tegang. Seketika kebodohan-kebodohan dan penertawaan terhadap diri sendiri muncul di panggung. Tentang ini saya juga ingat sebuah acara “4 Mata” yang di bawakan oleh Tukul Arwana. Selain mengeksplorasi ke”bodoh”an dirinya, ia juga menertawakan orang lain sehingga di konsep itulah kesuksesan acaranya. Yang jelas pada pementasan Kotakku Rumahku ini ada konsep kuat yang diusung oleh sutradaranya.<br />
Kotakku Rumahku sebuah lawakan budaya yang pas dengan kondisi sekarang ini. Bukan maksud saya untuk terlalu mengagungkan pementasan ini. Tetapi itulah yang saya dapat dari hasil tontonan saya terhadap pementasan ini.<br />
Sampai pementasan berakhir, dan orang-orang bubar dari gedung Teater Tertutup, Padang (juga saya) basah dalam hujan. Suara musik rock dari depan gedung Teater Utama masih terdengar.<br />
Setidaknya sesuatu telah saya dapat dan bawa. Mungkin semacam kotak di pikiran saya. Akhir kata selamat atas pementasan teater Size; Kotakku Rumahku. Salam budaya, salam kreatif!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kandangpadati.wordpress.com/704/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kandangpadati.wordpress.com/704/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kandangpadati.wordpress.com/704/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kandangpadati.wordpress.com/704/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kandangpadati.wordpress.com/704/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kandangpadati.wordpress.com/704/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kandangpadati.wordpress.com/704/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kandangpadati.wordpress.com/704/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kandangpadati.wordpress.com/704/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kandangpadati.wordpress.com/704/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kandangpadati.wordpress.com/704/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kandangpadati.wordpress.com/704/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kandangpadati.wordpress.com/704/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kandangpadati.wordpress.com/704/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=704&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/03/28/lawakan-budaya-dalam-kotak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51503be240b253c8b98264d76e3a4ec6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">esha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jamila di Akhir Dongeng</title>
		<link>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/28/jamila-di-akhir-dongeng/</link>
		<comments>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/28/jamila-di-akhir-dongeng/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 18:26:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Esha Tegar Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kandangpadati.wordpress.com/?p=701</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku : Dongeng-dongeng Tua Pengarang : Iyut Fitra Penerbit : AKAR Indonesia Cetakan : Pertama, Januari 2009 Tebal : 138 hal, 14 x 21 Resensiator : Esha Tegar Putra Bagi saya membaca puisi sama dengan menyusun serakan ‘catatan’ tentang peristiwa keseharian. Puisi mengusung ingatan saya menyusuri lekuk kehidupan dunia lewat makna yang saya terima [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=701&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-700" title="dongeng-dongeng-tua2" src="http://kandangpadati.files.wordpress.com/2009/02/dongeng-dongeng-tua2.jpg?w=400&#038;h=294" alt="dongeng-dongeng-tua2" width="400" height="294" /></p>
<p>Judul Buku	: Dongeng-dongeng Tua<br />
Pengarang	: Iyut Fitra<br />
Penerbit	: AKAR Indonesia<br />
Cetakan	: Pertama, Januari 2009<br />
Tebal		: 138 hal, 14 x 21<br />
Resensiator	: Esha Tegar Putra</p>
<p>Bagi saya membaca puisi sama dengan menyusun serakan ‘catatan’ tentang peristiwa keseharian. Puisi mengusung ingatan saya menyusuri lekuk kehidupan dunia lewat makna yang saya terima dari setiap susunan kata, struktur bahasa, tentunya metafor yang dinukilkan di dalamnya. Apa yang saya baca—juga pembaca lainnya barangkali—sebentuk usaha pemaknaan dari rasa yang ditangkap oleh penulis (penyair) dari puisi tersebut.<span id="more-701"></span><br />
Baru-baru ini saya mendapat sebuah buku kumpulan puisi penyair dari Sumatra Barat, Iyut Fitra. Buku tersebut merupakan kumpulan puisi yang keduanya, berjudul Dongeng-dongeng Tua (Akar Indonesia, Januari 2009), setelah kumpulan puisinya yang pertama, Musim Retak (2006), yang diterbitkan atas kerjasama Horison dengan Citra Pendidikan Indonesia.<br />
Dongeng-dongeng Tua, yang diambil dari satu judul puisi dalam kumpulan tersebut mengembalikan ingatan saya kepada Musim Retak, sehingga saya berusaha memaknai kembali kumpulan puisi pertamanya sebelum membaca kumpulan puisi terbarunya. Ternyata memang benar, beberapa pecahan ‘catatan’ yang sebelumnya diserakkan dalam kumpulan puisi pertamanya saya temukan dalam puisi terbarunya. Puisi dengan judul Lagu Pagi yang Aneh 4 dan 6, dalam Dongeng-dongeng Tua pastinya bagian dari Lagu Pagi yang Aneh 8 yang dimuat sebelumnya dalam Musim Retak, begitu juga dengan Wajah 4 yang di buku pertamanya dimuat Wajah 6 dan 8, juga Bunga Putri Lembayung. Tentang struktur bahasa, suasana, dan metafor yang membagun puisi-puisi dalam kumpulan tersebut tetap memerlihatkan style kepenulisannya.<br />
“Sebagaimana proses kreatif saya, biarlah puisi-puisi ini sekarang yang mengembara. Apakah ia akan mengungjungi pembaca atau hanya menjadi bagian yang akan tersimpan di rak buku, tentu ia punya retak nasib sendiri. Ia telah lahir. Dan ia akan melayari kehidupan. Saya tak berhak lagi untk menentukan jalannya”, ungkap Iyut tentang buku yang berisikan 70 judul puisi di catatan pembuka (salam penyair) buku tersebut. Beberapa puisi di dalam buku tersebut saya temukan diksi-diksi (pilihan kata) yang menandakan ciri khas puisinya, seperti ungkapan Afrizal Malna di catatan Musim Retak. Terlihat dari kegemaran Iyut memakai kata, cermin, kota, negri, perempuan, ibu, perang, yang dituliskan dalam sublimitas yang berbeda dengan penyair-penyair lain. Segalanya menguap dan mengembun di kepala pembaca, ‘catatan’ yang menjadi milik (kisah) pembaca seketika dibaca. Kadangkala susunan kata dalam puisinya terkesan seperti lantunan, alunan, atau susunan lirik bernada; bergaung dan berdengung; ini tentulah hasil dari letupan kalimat padu yang ditulisnya. Jadilah semacam ruang usaha, dari penyairnya, untuk membuka puisi menjadi ruang dialogis dan mendekatkan puisi pada pengalaman puitik pembacanya.<br />
Sesekali saya, selaku pembaca, menemukan kedekatan pribadi penyairnya dengan tradisi Minang. Mungkin ini usaha yang lain dari Iyut untuk memperkenalkan tradisi Minang dengan cara penyampaian puisi (sastra) seperti yang sering dilakukan oleh sastrawan-sastrawan dari Minangkabau&#8211;lihat saja karya-karya sastra penulis yang berasal dari Minang (Sumatra Barat). Hal ini terlihat di beberapa puisi yang menggunakan patahan pantun Minang, cerita rakyat, ungkapan keseharian, bahkan cara bertutur puisi dalam kumpulan tersebut. Lihat saja puisi dengan judul Palayaran (hal. 38-42), yang merupakan judul lagu dalam kesenian saluang. Puisi tersebut penuh dengan istilah dan kata semisal tempat kesenian saluang digelar, pantun, alat musik (saluang), bahkan isi dari kalimat dendang: ondeh bulan dimalah bintang, etan di pucuak limau manih/ singkoko tnggang ureknyo, pandan di jawo barabahan/ lah satahun dibalah pinang, lah sabulan lalok jo tangih/ nyatonyo tuan kamaubeknyo, badan jo nyawo den sarahan (Palayaran, hal 42). Perihal ini mungkin hanya faktor kedekatan penyair dengan tanah kelahirannya, jauh dari itu beberapa diksi banyak datang dari usaha pembacaan penyair terhadap persoalan yang universal.<br />
Penyair yang lahir di Payokumbuh, 16 Februari 1968 dan menggerakkan komunitas seni Intro ini sudah seringkali diundang pada event-event sastra di berbagai kota di tanah air. Beberapa puisinya memenangkan lomba yang diadakan oleh Sanggar Minum Kopi Bali, Bung Hatta Award Padang (dengan judul puisi Merah Putih Genting yang dimuat dalam kumpulan Donggeng-dongeng Tua, hal. 94), dan juara I (satu) lomba cipta puisi yang diadakan oleh Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya RI, 2006 (dengan judul puisi Leprechaun yang dimuat dalam Donggeng-dongeng Tua, hal. 83—konon kabarnya satu puisi yang mendapat juara I ini “dihargai” 15 juta oleh dewan juri). Tentunya beberapa puisnya seringkali mengisi lembaran-lembaran sastra surat kabar lokal dan nasional, majalah, di samping termuat dalam puluhan antologi bersama. Dan sebagian puisi yang masuk dalam kumpulan Dongeng-dongeng Tua puisi yang pernah dipublikasikan di surat kabar dan antologi tersebut.<br />
Membaca puisi dalam Dongeng-dongeng Tua, tentunya pembacaan tersebut tak seutuhnya saya maknai sebagai “dirinya” si penyair, tapi lebih kepada pembacaan saya terhadap kejelian si penyair memberi pertanda di setiap apa yang ditangkapnya, dan memaknainya. Lihat saja puisi-puisi dengan judul Mabuk Luka, Galery Kafe, Senandung Orang Malam, Pengemis Tua Itu, Lelaki yang Berangkat, Sebuah Kereta, dll. Hal ini juga diungkap Ivan Adilla dalam catatan pembaca di sampul Dongeng-dongeng tua. Ivan Adilla mengungkapkan bahwasanya puisi-puisi (ditulis dengan sajak) Iyut mengemukakan paradoks dari kehidupan yang galau; tentang harap dari kehilangan, tentang sepi dan keriuhan, kedamaian dalam peperangan serta cinta dan pencarian. Paradoks itu dihadirkan dalam bentuk naratif yang sarat metafora. Juga Sapardi Djoko Damono berungkap bahwasanya Iyut menggunakan sejumlah kearifan setempat (Minang) dan tidak sekedar memoleskan warna dan suasana, tetapi menggaris bawahi makna cinta, perjuangan hidup, dan rasa sunyi yang bisa dibaca di antara larik lariknya.<br />
Sebuah catatan saya kutip dari puisi iyut yang berjudul Hujan Telah Reda (hal. 99)—berkolofon; Payakumbuh 2008 , puisi yang ditulisnya setelah gempa yang mengguncang Sumbar beberapa waktu silam dan puisi ini pernah dimuat di halaman seni koran Kompas: sumatera barat 6 maret, kota-kota diguncang gempa./ kepergian-kepergian pulang siang matahari lurus/ di jalan setapak perjanjian sebelum malam, engkau tak ada, tak ada! dadaku rubuh, debar dan gegas. seolah sebuah kapal tengah/ terperangkap badai/ pohon-pohon berlari. rumah-rumah berlari/ kau lihat kekasihku? Catatan yang membuktikan beberapa anggapan dari pembacaan kritikus, penyair, atau pembaca puisi Iyut.<br />
Bahawasanya puisi memang sebuah anggapan, kristalisasi, proses memaknai hidup. Tak terkecuali Iyut dengan Dongeng-dongeng Tuanya. Tulisan ini bukanlah semacam gugatan atau keharusan, tapi sebuah catatan dari pembaca bagi yang ingin membaca buku kumpulan tersebut. Dan sebuah catatan lain dari puisi Iyut pada puisi terakhirnya dalam Dongeng-dongeng Tua:<br />
&#8230;.jamila sangat mengerti tentang rindu/ saat malam telah larut. Dan puisiku tak kunjung selesai/ ia kirim sepucuk surat/ jenguklah ke ranjangku. Di sini kata sedang menunggu/ maka kusampaikan keringatku pada dinginnya/ menjadi rahasia (Jamila, hal. 135)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kandangpadati.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kandangpadati.wordpress.com/701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kandangpadati.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kandangpadati.wordpress.com/701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kandangpadati.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kandangpadati.wordpress.com/701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kandangpadati.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kandangpadati.wordpress.com/701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kandangpadati.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kandangpadati.wordpress.com/701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kandangpadati.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kandangpadati.wordpress.com/701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kandangpadati.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kandangpadati.wordpress.com/701/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=701&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/28/jamila-di-akhir-dongeng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51503be240b253c8b98264d76e3a4ec6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">esha</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kandangpadati.files.wordpress.com/2009/02/dongeng-dongeng-tua2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dongeng-dongeng-tua2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setumpak Sajak Pembuka Sekodi Pantun</title>
		<link>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/23/setumpak-sajak-pembuka-sekodi-pantun/</link>
		<comments>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/23/setumpak-sajak-pembuka-sekodi-pantun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 06:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Esha Tegar Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kandangpadati.wordpress.com/?p=694</guid>
		<description><![CDATA[/setumpak sajak/ darimanakah rima pantun berbunyi bersibantun kalaulah bukan orang jauh yang melantun duh, tubuh dipisah serupa ubi patah di tampuk bilamana peristiwa lama tingal gaung batang berlubang —malanglah kita semua, yang lupa berpantun berseloka. sungguh kita tak sedang memisahkan garam dari air laut, tak sedang meremas asam di atas talam tembaga, tak berusaha meminang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=694&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--> <strong></strong><strong><span lang="IN">/setumpak sajak/</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">darimanakah rima pantun berbunyi bersibantun </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">kalaulah bukan orang jauh yang melantun</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">duh, tubuh dipisah serupa ubi patah di tampuk</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">bilamana peristiwa lama tingal gaung batang berlubang </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">—malanglah kita semua, yang lupa berpantun berseloka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">sungguh kita tak sedang memisahkan garam dari air laut,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">tak sedang meremas asam di atas talam tembaga,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">tak berusaha meminang unggas betina untuk si jantan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">aduhai berpantun&#8230;. memasang sunting-pasang kopiah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">bagi nada ingatan yang hendak berpiuh dendang lama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">hei, orang jauh. dihela juga hendaknya kisah malang si anak dagang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">sambil menyeruput kopi dan rokok sebatang, mari mengingat </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">pulau pandan jauh di mata dan batang cempedak di tepi bandar </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">yang ditanam anak orang bukittinggi. agar pertalian lama terkebat erat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">dan kalimat di gelanggang tak sekedar riuh persabungan ayam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">pantun bakal menari, berpiuh setumpak sajak, berdekap kuat gurindam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">inilah pantun si anak dagang, menumpang di biduk rumpang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">meyeberangi teluk, merenangi selat, agar beralamat </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">pada lengang kampung:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">/sekodi pantun/</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">ke pulau perca membeli lada</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">lada dibeli pencampur gulai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">mulanya pantun hendak direnda</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">dari bismillah kita memulai</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">anak bincacak anak bincacau</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">pandai menggesek rebab pesisir</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">kalaulah tuan hendak meracau</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">janganlah pantun ini dicibir</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">pinang merebah ke parak orang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">batang bergabuk digurik kumbang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">perihal cinta minta diulang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">berkalang tanah badan di petang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">berkulik elang bukit langkisau</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">pertanda hujan<span> </span>segera datang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">kalau direntang si benang risau</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">tak bakal terpijak tanah kampung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">tuan kopi pergi ke padang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">membeli baju corak melayu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">mengapa dinda berdiri seorang </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">ingin rasanya kanda merayu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">bujang pariaman pergi merantau</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">menggoda gadis sambil menggalas</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">dalam badan angin menghalau</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">sebab di kampung kenangan tumpas</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">disuruh ke surau mengaji nahu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">malah rebana ramai ditepuk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">ini derita siapa yang tahu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">sebab di badan sakit menumpuk</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">parang dibeli di pasar lereng</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">bikinan orang tanjungbarulak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">jikalau datang sakit meradang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">diberi obat jangan menolak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">pisang setandan masak didulang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">peneman duduk kita di lepau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">inilah pantun pengiring dendang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">untuk diingat bujang di rantau</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">teluk bayur di pantai padang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">labuhan olanda dan orang siam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">janganlah buruk pantun dipandang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">bakal peredam rindu yang dalam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">tuan datuk makan di lepau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">rendang dipesan dendeng yang datang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">dalam mimpi dinda menghimbau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">makin memuncak rinduku kampung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">kapal merapat di bandar muar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">kapiten berdiri di ujung geladak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">hendak dengan apa rindu dibayar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">di rantau dagang belumlah tegak </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">membeli kambing di muarapanas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">pasarnya ramai alangkah riuh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">kiranya cinta dimana bertunas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">biarlah rasa menunjukkan arah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">anak ayam main di semak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">diintai musang berbadan legam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">dalam hujan ingatan merebak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">dinda seorang bisa meredam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">di tengah sawah angin merendah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">layang-layang tak jadi terbang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">di badan rasa sudah terdedah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">harapan dagang bakal menghilang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">bunga tanjung tumbuh di tepian</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">harumnya diarak angin gebalau</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">apalah arti di rantau sendirian</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">kesana-kemari tak ada menghirau</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">induk beras pergi ke pasar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">membeli kemeja lengan panjang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">dagang belumlah cukup besar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">masih terkejut dihardik orang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">berliku jalan ke bukittinggi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">di lembah anai singgah dahulu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">jangankan dagang terbang meninggi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">di rantau masih menahan malu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">tegak menjulang gunung merapi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">kokoh merentang gunung singgalang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">jikalau dagang tidak menepi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">alamat badan benar menghilang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">ke bakauheuni kapal disauh</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">dari merak kita menumpang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">inilah pantun si orang jauh</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">bakal pengobat rindukan kampung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span lang="IN">Jalantunggang, 2009</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kandangpadati.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kandangpadati.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kandangpadati.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kandangpadati.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kandangpadati.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kandangpadati.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kandangpadati.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kandangpadati.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kandangpadati.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kandangpadati.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kandangpadati.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kandangpadati.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kandangpadati.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kandangpadati.wordpress.com/694/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=694&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/23/setumpak-sajak-pembuka-sekodi-pantun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51503be240b253c8b98264d76e3a4ec6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">esha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antologi 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 Anugerah Sastra Pena Kencana</title>
		<link>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/23/antologi-60-puisi-indonesia-terbaik-2009-anugerah-sastra-pena-kencana/</link>
		<comments>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/23/antologi-60-puisi-indonesia-terbaik-2009-anugerah-sastra-pena-kencana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 05:56:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Esha Tegar Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/23/antologi-60-puisi-indonesia-terbaik-2009-anugerah-sastra-pena-kencana/</guid>
		<description><![CDATA[Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Ukuran : 14 x 21 cm Tebal : 160 halaman Terbit : Pebruari 2009 Puisi-puisi yang dimuat dalam buku ini telah terseleksi oleh koran-koran terkemuka di Indonesia. Setelah sekali lagi disaring oleh tim juri Pena Kencana (Sapardi Joko Damono, Sitok Srengenge dan Joko Pinurbo) terpilihlah 60 puisi yang temanya bervariasi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=692&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-691" title="cover-pena-kencana" src="http://kandangpadati.files.wordpress.com/2009/02/cover-pena-kencana.jpg?w=75&#038;h=111" alt="cover-pena-kencana" width="75" height="111" /></p>
<p>Penerbit     : Gramedia Pustaka Utama<br />
Ukuran  	: 14 x 21 cm<br />
Tebal 	: 160 halaman<br />
Terbit 	: Pebruari 2009</p>
<p>Puisi-puisi yang dimuat dalam buku ini telah terseleksi oleh koran-koran terkemuka di Indonesia. Setelah sekali lagi disaring oleh tim juri Pena Kencana (Sapardi Joko Damono, Sitok Srengenge dan Joko Pinurbo) terpilihlah 60 puisi yang temanya bervariasi. Tahun lalu, &#8220;Kidung Pohon&#8221; karya Jimmy Maruli Alfian terpilih sebagai puisi terbaik pilihan pembaca via sms.</p>
<p>Para penyair dalam buku ini:<br />
Acep Zamzam Noor, Alois A. Nugroho, A. Muttaqien, Ari Pahala Hutabarat, Deddy Arsya, Esha Tegar Putra, Fitri Yani, Frans Nadjira, Gunawan Maryanto, Hasan Aspahani, Inggit Putria Marga, I Nyoman Wirata, Isbedy Stiawan ZS, Jamal D. Rahman, Joko Pinurbo, Komang Ira Puspitaningsih, Kurnia Effendi, Lupita Lukman, Mardi Luhung, Marhalim Zaini, Nana Rishki Susanti, Nersalya Renata, Ni Made Purnama Sari, Nirwan Dewanto, Oka Rusmini, Ook Nugroho, Ramon Damora, Romi Zarman, Sindu Putra, Sunlie Thomas Alexander, Timur Sinar Suprabana, Triyanto Triwikromo, TS Pinang, Warih Wisatsana</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kandangpadati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kandangpadati.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kandangpadati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kandangpadati.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kandangpadati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kandangpadati.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kandangpadati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kandangpadati.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kandangpadati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kandangpadati.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kandangpadati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kandangpadati.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kandangpadati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kandangpadati.wordpress.com/692/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=692&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/23/antologi-60-puisi-indonesia-terbaik-2009-anugerah-sastra-pena-kencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51503be240b253c8b98264d76e3a4ec6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">esha</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kandangpadati.files.wordpress.com/2009/02/cover-pena-kencana.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cover-pena-kencana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seni(man) Jalan “Sendiri”</title>
		<link>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/19/seniman-jalan-%e2%80%9csendiri%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/19/seniman-jalan-%e2%80%9csendiri%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 11:35:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Esha Tegar Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sesuatu Apa Saja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kandangpadati.wordpress.com/?p=689</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Esha Tegar Putra Menyimak tulisan Romi Zarman (RZ), dengan judul Catatan atas Forum Diskusi Sastra Sumbar (Padeks, Minggu, 15/2), membuat saya kembali bertanya-tanya tentang wajah kesenian dan lembaga kesenian Sumbar hari ini. Ya, bagaimanakah wajah kesenian dan lembaga kesenian Sumbar hari ini? Kiranya pada tulisan RZ tersebut, data yang dipaparkan merupakan data faktual dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=689&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: Esha Tegar Putra</em></p>
<p>Menyimak tulisan Romi Zarman (RZ), dengan judul Catatan atas Forum Diskusi Sastra Sumbar (Padeks, Minggu, 15/2), membuat saya kembali bertanya-tanya tentang wajah kesenian dan lembaga kesenian Sumbar hari ini. Ya, bagaimanakah wajah kesenian dan lembaga kesenian Sumbar hari ini? Kiranya pada tulisan RZ tersebut, data yang dipaparkan merupakan data faktual dalam kesusastraan Sumbar hari ini, sastrawan dan penyebaran karyanya. Juga forum-forum yang dilaksanakan berdasarkan ide-ide dari para penggiat sastra yang merasa kurangnya apresiasi, “penghargaan”, apalagi perhatian lembaga semacam Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB), yang seharusnya menjadi ruang dan mediasi bagi kelansungan dunia kesenian, termasuk perkembangan kesusastraan yang dibahas RZ.<span id="more-689"></span><br />
Menengok lagi ke belakang, menelisik muasal forum-forum kesusastraan yang setahun belakangan hadir di Sumbar, khususnya Forum Diskusi Sastra Sumbar (FDSSB) yang sudah diadakan tiga kali, secara insiatif dan seadanya oleh fasilitator acara—dan cuma ini forum diskusi sastra paling diapresiasi selain forum-forum kecil yang diadakan komunitas-komunitas sastra independen.<br />
Dalam pelepasan panitia Temu penyair 2008, di ruang seminar Fakultas Sastra Unand, bulan Mei 2008, disepakatilah untuk membentuk sebuah forum tempat membahas perkembangan sastra Sumbar sekaligus ajang silaturahmi. Menurut kesepakatan tersebut forum akan difasilitasi oleh Komunitas Seni Intro (Payakumbuh), Fakultas Sastra Unand, DKSB. Karena forum direncanakan sehali tiga bulan, baru inilah fasilitator, diambil atas kesepakatan dari wakil yang hadir.<br />
Selepas acara FDSSB pertama di Komunitas Seni Intro, 28 Juni 2008, datang penawaran dari beberapa orang penggiat kesusastraan di UNP yang menjadi tamu pada acara tersebut, khususnya mahasiswa UNP (diantaranya yang bergiat di UKAKES dan Komunitas Ruangsempit) untuk ikut memfasilitasi acara FDSSB ke depannya. Suatu apresiasi yang baik bagi kelanjutan FDSSB, akan tetapi kesepakatan sebelumnya sudah dibuat, tetap acara ke-2 dilanjutkan oleh Fakultas Sastra Unand, dan ke-3 adalah DKSB. Acara FDSSB ke-2 berlanjut pada 19 September 2008, meski banyak undangan dan wakil dari DKSB (yang akan membicarakan kelanjutan FDSSB) tidak datang.<br />
Selaku salah satu penggagas FDSSB, saya dan beberapa orang kawan lainnya berinisiatif untuk mengalihkahkan forum ke UNP. Dan beberapa penggiat kesusastraan UNP (mahasiswa) bersedia melanjutkan tali silaturahmi ini. Hal ini dilakukan, memang, supaya mata rantai yang sudah dijalin tersebut tetap berpautan, tidak putus. Karena geliat kesusastraan di Sumbar belakangan ini kian bergairah. Lihat saja data yang diberikan oleh RZ pada tulisannya, juga sebelumnya saya pernah menulis data yang sama dalam kapasitas bahasan berbeda di koran yang sama.<br />
Akhirnya acara FDSSB diadakan di UNP, pada tanggal 3 Januari 2009, meski acara ini diundur beberapa waktu, tapi fasilitator di UNP berusaha memaksimalkan acara, apresiasipun berdatangan dari beberapa penggiat kesusastraan dan seniman lainnya—khususnya anak-anak muda yang berkapasitas sebagai mahasiswa dan SMA yang datang dari Komunitas Intro. Sangat disayangkan sekali salah seorang wakil dari DKSB yang akan membicarakan kelanjutan FDSSB juga tidak ada.</p>
<p>Dilema Lembaga Kesenian<br />
Pada tataran pokok, Sastra, adalah bagian dari tubuh (komite) kesenian di DKSB, selanjutnya komite-komite seni lainnya. DKSB sebagai salah satu fasilitator dalam dunia kesenian Sumbar seharusnya merangkul senimannya. Beberapa kegiatan di DKSB setahun belakangan tak terdengar gaungnya, tak ada kegiatan memajukan yang tampak. Kesannya, acara atau kegiatan yang diadan DKSB tidak termanajemen, seperti dadakan, tidak terencana dengan baik.  Adakah acara-acara lain yang membahas kemajuan kesenian terkini di Sumbar dari DKSB?<br />
Lihat saja paparan data RZ tentang penulis-penulis “muda” yang berusaha untuk tetap eksis untuk Sumbar, atau kegiatan yang bertajuk film, teater, seni rupa setahun belakangan. Toh, beberapa perupa muda Sumbar beberapa kali juga karyanya dipajang di beberapa galeri di Bali, Jakarta, dsb. Hal ini perlu diapresiasi oleh DKSB sebagai tubuh dari dunia kesenian sumbar itu sendiri. Atau mengenai berbagai polemik mengenai dunia kesenian Sumbar, tak pernah mendapat tanggapan sedikit pun dari DKSB, tak ada inisiatif memajukan, begitulah kesan dan kenyataannya.<br />
DKSB kita “gendut” tak bisa mengurus dirinya sendiri, apalagi mengurus kesenian, seharusnya kita bantu, begitulah istilah Fadlillah dalam tulisannya beberapa bulan silam di halaman yang sama. Tapi istilah tersebut saya artikan dengan; seniman sekarang “kiper maju”, penjaga gawang yang jadi penyerang. Seniman berkarya, memanajemen karyanya sendiri, mencari dana sendiri, mempublikasikan sendiri, bahkan untuk tahap apresiasi harus “sendiri” ( sendiri dalam tanda kutip, meski secara kelompok tetap saja senimannya, bukan institusi yang seharusnya). DKSB yang seharusnya menjadi tempat mengadu bagi seniman. Tentunya tanpa DKSB pun seniman jalan sendiri, sastrawan tetap bisa menulis dan publikasi karya, perupa juga bisa berkarya dan memamerkan karyanya, bukan?<br />
Tapi persoalannya bukan sebatas itu. Jika ini dibiarkan akan terus berlanjut dan lembaga kesenian Sumbar akan jalan ditempat. Meski Taman Budaya Sumbar yang berdampingan dengan DKSB mempunyai beragam ruang dan fasililitas dan aktifitas kesenian, tapi dalam porsi yang berbeda, lain lahan garapnnya. “Saya pikir, kita perlu evaluasi” begitulah ungkap RZ di akhir tulisannya tentang FDSSB yang sekarang tak lagi jelas kelanjutannya karena seharusnya diadakan oleh DKSB. Kiranya bukan hanya satu bagian yang perlu dievaluasi, tapi fungsi komite kesenian yang berada di bawah naungan DKSB harus jelas tujuan ke depannya. Apa misi dan visi DKSB sebenarnya untuk kesenian Sumbar? Bukankah itu yang kita inginkan? Kesenian bukan hanya untuk seniman tapi untuk masyarakat dan kesenian Sumbar. Gairah ini perlu diapresiasi, “dihargai!” </p>
<p>Evaluasi dan Wacana Baru<br />
Kiranya DKSB perlu memikirkan ini ke depan. Seniman adalah organ tubuh DKSB perlu dirangkul lagi, bekerja sama. Data base seniman terkini harus ada (jika yang lama ada datanya) dan perlu evaluasi dengan seniman itu sendiri dalam berbagai soal, mungkin dalam kejelasan dana bagi DKSB dan even-even apa saja yang akan dilakukan demi kemanjuan kesenian Sumbar. Dan ini sudah setahun kepengurusan DKSB yang baru, selepas kepengurusan Ivan Adilla berpindah pada Harris Effendi Thahar dan jajaran. Perlu evaluasi setahun kepengurusan ini, dijelaskan pada seniman, apa yang akan kita lakukan ke depan, secara bersama-sama.<br />
Kiranya banyak sekali kegiatan-kegiatan yang tidak terlaksana lagi, atau mungkin, ada agenda yang baru dari pengurus DKSB (?). Saya contohkan saja, di bidang kesusastraan tidak ada lagi kegiatan workshop kepenulisan, puisi, cerpen dan naskah drama. Tak ada lagi agenda yang pasti mengenai diskusi-diskusi sastra dan seni. Toh, acara yang disepakati oleh pihak DKSB seperi FDSSB Sumbar belum ada kelanjutannya dan ini harus dibicarakan lagi. Dan yang terpenting, selaku seniman, saya berharap DKSB menjadi fasilitator bagi bidang seni yang dinaunginya untuk menjadi perpanjangan tangan ke berbagai pihak sebagai mestinya, mungkin dalam hal finansial yang dibicarakan RZ , tapi dalam taraf yang jelas, dan tidak terkesan percuma.<br />
Jika RZ mencontohkan dengan seniman-seniman Riau yang diperbantukan dana dan fasilitas yang melimpah, mungkin DKSB kita tidak perlu begitu. Hanya saja perhatian yang baik bagi karya seniman-seniman di Sumbar adalah sesuatu “penghargaan” dan itu sudah menjadikan motifasi bagi seniman untuk berkarya lebih baik. Banyak sekali seniman-seniman Sumbar yang diundang karya-karyanya keluar, contohkan saja seni rupa. Atau karya-karya sastra, dan beragam undangan yang tak sempat dihadiri karena persoalan finansial seniman. Tentunya ini hanya bagian kecil dari persoalan seniman, dan berharap untuk ke depan DKSB cepat tanggap, demi kemajuan kesenian Sumbar. Evaluasi, ini memang perlu, perlu ada penjelasan bagi seniman sebagai organ DKSB. Apa yang akan kita lakukan ke depan untuk kesenian Sumbar?  Tak mesti diadakan biennale tiap tahun seperti yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta atau Dewan Kesenian Jogja. Tapi perlu ada wacana baru, ide-ide baru yang cemerlang dari DKSB untuk kemajuan kesenian kita ke depannya.</p>
<p>Esha Tegar Putra. Penyair, “Pinangan Orang Ladang” adalah kumpulan puisi pertamanya yang segera terbit.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kandangpadati.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kandangpadati.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kandangpadati.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kandangpadati.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kandangpadati.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kandangpadati.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kandangpadati.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kandangpadati.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kandangpadati.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kandangpadati.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kandangpadati.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kandangpadati.wordpress.com/689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kandangpadati.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kandangpadati.wordpress.com/689/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=689&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/02/19/seniman-jalan-%e2%80%9csendiri%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51503be240b253c8b98264d76e3a4ec6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">esha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jejak Sang Imam</title>
		<link>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/01/03/jejak-sang-imam/</link>
		<comments>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/01/03/jejak-sang-imam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 18:31:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Esha Tegar Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sesuatu Apa Saja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kandangpadati.wordpress.com/?p=687</guid>
		<description><![CDATA[Di senja usianya, lelaki tua itu masih bersetia dengan kalam, dawat, dan kertas. Dengan penuh ketelitian ia celupkan kalam ke botol dawat, berhati-hati ia mengangkat tangannya kembali, agar dawat tak tumpah. Perlahan ia goreskan kalam yang berdawat itu ke atas kertas di depannya. Mulailah ia bersitekun menulis ajaran tasawuf yang telah melekat pada dirinya dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=687&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Di senja usianya, lelaki tua itu masih bersetia dengan kalam, dawat, dan kertas. Dengan penuh ketelitian ia celupkan kalam ke botol dawat, berhati-hati ia mengangkat tangannya kembali, agar dawat tak tumpah. Perlahan ia goreskan kalam yang berdawat itu ke atas kertas di depannya. Mulailah ia bersitekun menulis ajaran tasawuf yang telah melekat pada dirinya dengan aksara Arab, bukan karena buta huruf latin. Siang itu, selepas Zuhur, di sebuah Surau di tepi batang air yang jauh dari hiruk pikuk kota.</div>
<p><span id="more-687"></span></p>
<p align="justify">Surau itu, yang memang ditempatinya sedari dulu, merupakan tempat ia menulis bait-bait pengetahuan dalam lembaran-lembaran naskah yang sekarang masih tersimpan di sana. Tak banyak yang tahu, tentang apa yang ditulisnya, kecuali beberapa muridnya. Bahkan para peneliti naskah baru mengenalnya 10 tahun belakangan. Orang-orang mengenal dan menghormatinya sebagai Buya, atau Syekh bagi murid-murid tarekat.</p>
<p align="justify">Lelaki tua yang selalu menenteng majalah-majalah Islam sepulang dari pasar di hari pekan itu, akrab dipanggil Buya Imam, merupakan seorang ulama yang perpegang teguh pada ajaran dan prinsip-prinsip amaliah yang yakininya. Beliau tinggal di sebuah surau yang terletak bersebelahan dengan Pesantren Tarbiyah Islamiah (PMTI) Batang Kabung, Koto Tangah, Padang. Puluhan kitab telah ditulisnya sebagai refleksi dari keyakinannya tersebut.</p>
<p align="justify">Bahkan kekerasannya berpegang teguh dapat dilihat pada perdebatan antara kaum tua dan kaum muda ketika terjadinya gerakan Wahabi di Minangkabau. Dalam naskahnya (Risalah Mizan al-Qalb) dia menulis perdebatan itu dan berusaha meluruskan ajaran Islam yang diperdebatkan  tersebut. Dalam naskah ini pula lah istilah Kaum Tuo dan Kaum Mudo pertama kali di perkenalkan.</p>
<p align="justify">Buya Imam, atau lengkapnya Imam Maulana Abdul Manaf Amin al-Khatib, adalah salah seorang guru tarekat Syattariah di Minangkabau. Beliau lahir di Batang Kabung, Padang, pada tanggal 8 Agustus 1922. Ayahnya bernama Amin dan ibunya bernama Fatimah. Beliau bersuku Balai Mansiang.</p>
<p align="justify">Pramono, dosen dan peneliti naskah di Fakultas Sastra Unand, menyebutkan bahwa sebutan “al-Khatib” diambil dari gelar “Khatib Mangkuto”. Di tahun 1943, ia dinobatkan oleh masyarakat Batang Kabung sebagai khatib Jumat di mesjid setempat. Sebagai seorang khatib, beliau mempunyai tanggung jawab kepada kaumnya untuk urusan keagamaan. Setiap ada persoalan muncul, beliau adalah orang tempat bertanya.</p>
<p align="justify">Di tahun 1964, ia meletakkan jabatannya sebagai khatib Jum’at, namun, oleh masyarakat setempat ia dinobatkan sebagai Imam sholat Jum’at di mesjid yang sama, sehingga sebutan “Imam Maulana” dilekatkan padanya. Jadi, nama aslinya sendiri adalah Abdul Manaf Amin. Kata “Amin” pun sesungguhnya diambil dari nama ayahnya, yang merupakan seorang tokoh Muhammadiyah di Muara Penjalinan, Koto Tangah, Padang.</p>
<p align="justify">Kesadaran bahwa kelak ia juga nantinya yang harus mengajar dan berdakwah menjadikan dorongan untuk menulis lebih kuat pada dirinya. Artinya, menulis bukan untuk tujuan keuntungan materi tapi lebih penggilan jiwa, tuntutan agama, tuntutan dakwah, dan ketulusan beramal saleh. Sampai pada akhir usianya, beliau  masih menulis. Seperti yang dituturkan muridnya Zul Asri (35), “Buya itu rajin menulis, kalau beliau tidak sakit, maka, tiap selesai sembahyang dia akan menulis.</p>
<p align="justify">Mula-mula ditulis dulu di buku biasa, setelah itu baru dipindahkan ke kertas lain dengan kalam agar rapi dan bersih.” Selama karir kepenulisannya, ia telah menulis sebanyak 23 naskah, diantaranya tentang biografi, seperti sejarah Syekh Burhanuddin Ulakan, sejarah Syekh Abdurrauf Singkel, sejarah Syekh Paseban, sejarah Syekh Surau Baru, dan lain-lain, Sejarah Perkembangan Islam di Minangkabau, Ilmu Hisab (Kitab Al Taqwim), ajaran-ajaran tarekat Syattariah (Kitab Ziarah Kubur ke Makam Syekh Abdurrauf Singkel, Mizan Qulub, dan seterusnya).</p>
<p align="justify">Risalah Tanbih al-Masyi karangan Syekh Abdurrauf Singkel, merupakan salah satu naskah yang disalinnya dan sangat langka, karena hanya dimiliki oleh empat orang ulama tarekat selain beliau di dunia. Naskah ini berisi salinan teks Tanbih al Masyi karya Syekh Abdurrauf Singkel yang menyoal Wahdatul Wujud. Fisik naskah berukuran13 x 16,5 cm, blok teks 7,5 x 15,5 cm, 13 kuras dengan 8 lembar tiap kuras, 208 halaman dengan 17 baris tiap halaman.</p>
<p align="justify">Penomoran halaman menggunakan angka Arab, halaman 205-208 kosong. Penulisannya menggunakan aksara Arab-Melayu dan Arab, bahasanya bahasa Melayu dan bahasa Arab. Naskah tersebut tanpa sampul dan tanpa kolofon dengan kondisi masih lengkap dan terawat dengan baik. Teksnya cukup rapi dan mudah dibaca, terdapat garis bingkai berupa dua garis halus berwarna hitam.</p>
<p align="justify">Kalam patah, dawat tertunggang, tidak dapat menulis lagi. Seperti itulah,  perjalanan usia menyelesaikan risalah hidup Sang Imam, yang menghabiskan usianya di jagad kepenulisan naskah-naskah kuno di Minangkabau. Hari itu 12 Oktober 2006, beliau menghadapNya. “Jaga surau dan kitab dengan baik,” pesan terakhirnya pada Zul Asri, murid yang merawat beliau. Pesan singkat yang tidak hanya untuk si murid, namun juga untuk kita semua. Selamat jalan Buya! <em><strong>(Gusriyono dan Esha Tegar Putra) </strong></em> <strong>Padang Ekspres </strong> <strong>Minggu, 21 Desember 2008</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kandangpadati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kandangpadati.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kandangpadati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kandangpadati.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kandangpadati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kandangpadati.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kandangpadati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kandangpadati.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kandangpadati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kandangpadati.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kandangpadati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kandangpadati.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kandangpadati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kandangpadati.wordpress.com/687/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kandangpadati.wordpress.com&amp;blog=2295124&amp;post=687&amp;subd=kandangpadati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kandangpadati.wordpress.com/2009/01/03/jejak-sang-imam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/51503be240b253c8b98264d76e3a4ec6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">esha</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
