Alizar Tanjung
Surat Untuk Shita

;Shita
kepergianku pada negeri orang
negeri lupa ngurarai yang
kubangun sejak dahulu kala
shita, bukanlah candu
di sana kukubur puisi untukmu
sengaja kutumpangkan
aku yakin
Tuhan juga percaya
bahwa tanah takkan berbohong

;Shita
pada barisan pertama
“salam Shita, semoga kau tak lupa
bahwa kita bertemu sunyi
pernah di perpanjangan malam
setengah guntai di sepetak mata
pada retak gelap dan rembulan lenyap”
;Shita
Pada bait kedua
“Shita kau tahu kan?
jalan lengang tepian pulang
kutumpangkan perasaan pada daun
menyimpan sajak dari angin
hingga suatu saat aku yakin itu daun melati”

;shita
Bait ketiga bait perpisahan
“Shita di sana tak lagi ada melati
hanya ada ilalang rontok
tumbuh di kursi lapuk
kota tujuan telah meneggelamkanku
dengan bau anyir
di resleting celana
sebab di kota ini segalanya menjadi halal”

Padang, 2008

Seputar Indonesia, 4 Januari 2009

Alizar Tanjung
Duka
;Aceh Menjelang DesemberUsai

gemericik ombak mengikis pantai
sedebur gelombang menghempas batu karang
menenggelamkan namanama, serangkaian
bulan sabit akhir kehilangan rona pada shubuh
yang tersiksa

bukan tak ada mata
atau tepian pantai di kepala mendongak angkasa
semerbak tanda menyapa pada laut, pantai, pasir
dan kekeringan air mata
semua bergerak pada lintasan zigzag
anjing melolong perih
bersahutan penghuni malam

kini tinggal duka serpihan lama
dari sekian ribu nama
tinggal menetap sebagai tamu
pada Nisan masih bernafas
Padang, 2 Juni 2008

Seputar Indonesia, 4 Januari 2009

Alizar Tanjung
Ia Hanya Ingin Satu
;Kartini

bukan maksudku ingin menceritakan
atau mendebarkan ke seluruh alam
cerita gadis yang lama dimakan zaman,
mungkin saja dia sekarang
tulang belulang disenyap bumi
dan rambutnya tergerai peras di selah tanah

takkan tertaril oleh goresan
ke lubuk yang pasi
dia lah wanita, gadisku
yang berbuat dengan kehendak
tak tertarik oleh rembulan
di tengah ngiang awan
serapah malam ketika gendrang ditabuh perang
dan darahnya tumbuh subur
menggebur bumi, mengaliri sungai
tanpa berharap kelak kau harus mengingatku

gadis yang tak pernah lelah
dia lah jiwa, hanya ingin satu
“untuk anakku ada pusaka nusa bangsa dan cinta”
Padang, 15 oktober 2008

Seputar Indonesia, 4 Januari 2009

Alizar Tanjung
Nak

Pagi cumbu
menaruh cemburu
pada ibu-ibu membawa mukenah
di taman doa
setiap langkah berbuah rimbun
itulah matang rindu, Nak
bukan benci
di dinginnya pagi
di ujung dendam, nelangsa sepi
meainkan ma’rifat nak
sebab pituah berjenjang
di rintik embun yang jatuh
di kolam rindu
telaga qalbu
Padang, Agustus 2008

Seputar Indonesia, 4 Januari 2009

Andha S
Membenam
pinto a

sedalam-dalam engkau menyelam
ke timbul juga mengadu tenggelam.
puisi hanya insang
yang tak mengajarkan cara berenang

namun kata kadang terlalu terang
untuk membuatmu nyalang
di dasar kolam.

Kapalo Koto, 2009

Koran Tempo, 26 April 2009

Andha S
Hidangan Puisi
esha tp

meja hanya umpama
untuk puisi yang kini terhidang di atasnya.
namun mulut yang menganga
terlalu bersepakat dengan dahaga

sehingga lapar di perut penyair yang gemetar
kesulitan mencerna banyak aksara.

Kapalo Koto, 2009

Koran Tempo, 26 April 2009

Andha S
Temu Batu

dipilih tempat dipilih waktu
buat para batu bertemu
disepuh angin lima penjuru
pasak muka untung beradu

di jejakmu yang memberat
akankah bisa kutemu pahat?
sedang akar-akar mencuat dari tanah
dan berpilin di kakiku
membuat langkah jadi penat

kau masih juga membuhul riwayat jadi urat
menulisnya dalam lembaran yang mesti
tersampaikan sebagai pesan:
jika aku pemulung kata
canggung diapung ombak
terkilir dipanggul gunung

sementara kau hanya batu
diam di mata pahat, mataku
yang minta sekerat nasihat?

bumi jadi kian tinggi
di lembah cadas sepi
kau undang angin-angin menari
kau sulap kerikil-kerikil gagu jelma
patung dewa dipuja-dipuji

tapi kulihat sebaris igau bakal pecah
di perut mimpi
seperti ukiran tanah liat
takut dipahat
apalagi tertusuk duri

dipilih tempat dipilih waktu
menjamu batu lima penjuru

Kandangpadati, 2008

Kompas, 1 Februari 2009

Andha S
Lilin Dingin

mungkin kau hanya akan menemukan
seungguk kenangan buruk
tentang rumah kami. di sana tak ada teman
untuk bercakap-cakap. sepasang sendok
dan garpu, gelas keramik putih bertangkai, juga
sebuah piring yang pinggirnya sumbing tepat di tubir meja
hanya berbisik-bisik sesama mereka.
sementara beberapa orang penghuni rumah
larut dengan diri masing-masing
diam dan kaku, bersikeras ingin menjadi batu.

kau telah terlanjur di dalam, maka ingatlah pintu
tempatmu masuk. sebab jendela-jendela
kadang menyembunyikan jalan keluar. kami selalu merasa
seseorang atau sesuatu, telah memasang semacam perangkap
sebab kami selalu mesti kembali meski setiap hari
adalah langkah yang kami niatkan untuk pergi.

tapi, sebuah gerhana yang tak jadi
tengah melelehkan tubuh kami. dan kami pun segera
tak jadi menyebutnya air mata.

dan dalam nikmat rintih-rintih kami berharap
ibu api di kepala kami segera melahirkan anak-anaknya.
kami berharap jika kelak anak-anak tersebut lahir
salah satu dari mereka akan segera menghambur
ke pangkal mulut perempuan itu
memberi terang kepada seorang pertapa di sana.
(semoga saja sang pertapa mau mengganti mantranya
sebab kami pun sedang suluk:
diam dan kaku, dipaksa jadi batu!).

sedang perempuan di sudut dipan itu masih saja meracau,
laki-laki di depan kursi kayu sehabis membanting pintu
segan membatu, sepasang bocah ingusan itu pun
ingin menjadi gadis korek api dalam kisah lalu.

namun, di wajah sepasang bocah itu
kami melihat jutaan kenangan berhamburan dari
kepala kami. kisah-kisah yang terus terbakar
seperti sayap kunang-kunang disayat jutaan bintang
nun di langit yang tak lagi bisa kami cengkramai.
padahal saat ini kami tak ingin membicarakannya
sebagai kesedihan.

kami sungguh tak ingin kembali dari malam, pulang
ke waktu yang tak bisa diulang. kami
adalah pohon berbuah matahari.
dalam rumah ini.

maka kami izinkan kaupungut buah-buah kami
yang berserakan ke segala penjuru; ke liang jantung
para penghuni rumah ini. walaupun kelak
kau hanya mampu menyalakannya dalam hatimu
dan membangunkan segala yang telah tertidur
dalam hati mereka.

lalu kita akan sama-sama merasakan alpa
kepada selain dari diri kita. kita akan merasakan
betapa keruhnya bunyi jantung yang memperdengarkan hidup
sebagai panghambaan pada diri masing-masing.
kita akan tahu, kami telah pasi dan kaku,
dingin seperti batu.

tepat pada saat itu kita telah terpisah sangat jauh.
kau telah datang ke pulang yang tak bisa ditempuh.
orang-orang seperti tak ada lagi. seperti gerhana
yang tak jadi. namun matahari telah padam di kepala kami.
barangkali ada yang berhasil mencuri korek api
kemudian menghabiskannya sendiri?

perempuan di sudut dipan itu akhirnya pergi
ke dipan orang lain. di depan pintu hanya ada kursi kayu
tanpa patung lelaki batu di situ.
lalu kau, barangkali akan menemukan
lebih banyak ingatan buruk tentang rumah ini.
semuanya telah berubah kini. dan lihatlah
sepasang bocah itu hanya berhasil menjadi lilin

seperti gadis korek api
membakar mimpi sendiri.

Kapalo Koto, 2008-2009

Lampung Post, 22 Maret 2009

Andika Destika Khagen
Tuhan Tidak Pernah Mengajarkan

Tuhan tidak pernah mengajarkan kebohongan
Tuhan tidak pernah mengajarkan peperangan
Tuhan tidak pernah mengajarkan permusuhan
Tuhan tidak pernah mengajarkan kesombongan
Tuhan tidak pernah mengajarkan kemunafikan
Tuhan tidak pernah mengajarkan keburukan

Dari siapakah semua itu dipelajari?

2007

Singgalang, 30 September 2007

Andika Destika Khagen
pelabuhan terakhir

sungai yang tenang telah hilang, “di padepokan kuhentikan kapal berlabuh.” anak-anak berteriak tentang musim hujan, yang tiada henti. kutunggu datangnya kapal kedua yang ‘ kan mendarat. aku yakin, esok tidak ada lagi kapal yang menuju ke tenggara. “berlabuhlah segera, sebelum pelabuhan berlari mencari dirinya sendiri.” di ufuk timur matahari mulai terbenam, dan sore yang mencekam.

layar terkembang,
jemari tua menggenggam kayu jati,
detik-detik yang tak bertukar

kapal akan terus berlayar, epilog akan segera berakhir.

2007

Singgalang, 30 September 2007

Andika Destika Khagen
Petani yang Ingin Mati

Dengar do’a petani di gubuk reotnya yang mewah
(dibanding saudaranya di kolong jembatan)

Tuhanku,
62 tahun yang lalu
aku bangga menjadi seorang petani
dengan sombong aku berkata:
“Akulah yang memberi makan seluruh negeri”

62 tahun kini,
ketika kutu tidak mau lagi singgah di kepalaku
ketika gigi sudah hilang satu per satu
aku mulai lelah
dan cuma itu yang aku dapat selama 62 tahun

jangan tanya nasib anak-anakku
sekarang mereka telah menghilang
bersama bumi yang tidak punya hati

Tuhanku,
Aku ingin mati
Kalau dapat…..hari ini!!!
2007

Singgalang, 30 September 2007

Andika Destika Khagen
putih

keagungan terletak pada warna putih. demikian adanya dalam takdir. suci, bersih, mungkin juga terhormat. lambang putih sudah terlanjur jadi bersih. kodrat.
“bayi yang telanjang itu adalah putih.”
tak nyana, putih jadi karang. sok putih, diputih-putihkan, berusaha jadi putih, benar-benar putih, sekedar putih, adalah putih.
putih berjalan sendirian. dalam putihnya. bersama putihnya. putih tak punya mata. putih benar-benar jadi karang.
kelinci putih dipelihara dalam rumah yang putih. ditimang-timang. digendong. dipelihara, dininabobokkan.
semua ingin jadi putih. aku, kamu, ia. ada atau tiada.
ah, putih terlanjur menjadi kodrat. “belikan aku sekarung beras berwarna putih.”
2007

Singgalang, 30 September 2007

Andika Destika Khagen
Malam Setan

Berpestalah Setan!!!
Ini malammu
Takkan ada malaikat yang menganggu
Karena malam ini aku adalah pengikutmu
2006

Singgalang, 30 September 2007

Andika Destika Khagen
aku ingin beliung

bahkan, tidur pun tak mampu membuatku tenang
bermimpi aku takut
di manakah muara sungai disembunyikan bidadari sehabis mandi?
orok bayi di depan rumah mencari puting susu ibu.
aku ingin beliung!!!
2007

Singgalang, 30 September 2007

Arif Rizki
MANEKIN

Manekin O Manekin
aku mencintai nafas yang bukan hidungmu
yang bukan jantungmu
yang bukan paru-parumu
Manekin O Manekin
aku mencintai gerak yang bukan tanganmu
yang bukan kaki-kakimu
yang bukan badanmu

sebab kau lebih nafas
lebih hidung
lebih jantung
lebih paru-paru
dan kau sangat tangan
sangat kaki
sangat badan

hingga aku mati dalam penciptaan

Padang Ekspres, 1 Februari 2009

Arif Rizki
LOGAM

Logam di matamu itu, Binar; samakah dengan seguyur hujan di hari siang?
mereka katakan di tiap belahan dan simpang,
hujan telah merupa logam;
kita harus segera menggenapkan kepergian. sebelum siang sebenar-benar
bohlam yang membuat mata lebih pejam. lebih padam

tapi kepergian apa yang hendak dihikayatkan?
hutan-hutan itu telah besi, lagu ladang telah derit tembaga
dan tiup angin mengepung seumpama janji yang bundar
di lipat almanak yang usang

kita tak segera dewasa dengan jam dinding yang hilir
mudik itu. tapi kita akan menulis epilog sederhana;
tentang hujan yang membuat luka di lidah
atau pohon-pohon yang mentah
dan kau, Binar. jika benar air mata
telah menggenang seumpama logam yang runyam,
dan kepundan dari gunung yang tumbuh dari kediam-diaman kita,
siapkanlah tarian untuk hujan, angin dan hutan
yang telah besi dan telah tembaga itu;

sekedar tanda bahwa kita gagal memanen cinta

Padang Ekspres, 1 Februari 2009

Arif Rizki
GURUN

pasir yang jatuh dari waktu. kuhirup seumpama candu
lalu menjadi gurun dalam diriku
sebagai cawan bagi para pejalan
yang gemetar dengan kepulangan

ada lubuk pula disitu, tempat kau mencuci muka,
berkaca dan meminum tuba usia
“ada musim yang tak singgah, mampirlah untuk berlelah”
dan merendam badan ke dalam badanku:
tempat kita seharusnya bertamu

Padang Ekspres, 1 Februari 2009

Arif Rizki
ULAR DAN APEL

dan kucatat segurat kalimat di belah dadamu;
sesuatu telah berguncang melebihi tipuan ular dan apel
yang membuat langit lebih kerap hitam dan tebal

pertemuan di pangkal itu menyisakan sebidang taman
yang lalu kita tanami pohon yang berakar dari ciuman.
hingga ketika aku menghirup waktu dari tubuhmu, ada urat
yang tumbuh di badan kita. (ada ular dan apel disana)

kita sekiranya terlalu bertanam
hingga mata kita rimbun untuk bertatapan
maka barangkali kita perlu membakar ladang ini
kemudian tidur tanpa gusar hujan
walaupun terbangun dengan gigi
yang dipenuhi ampas khuldi

Padang Ekspres, 1 Februari 2009

Arif Rizki
BATU BATIKAM

usah kau tikam batu itu sebelum kau sudahi tikai di dirimu.
kita habil dan qabil malam ini. bukan lagi
merupa datuk yang menyeterukan tongkat yang tanam di luhak-luhak
yang menggenangi badan kita

hilir bermudik kita jambangi kematian-kematian kecil dalam dada
dan langkahku kau genggam di hulunya.
juga tak selalu bisa berdekap dalam riak yang tenang . bahkan selepas hujan,
tunas pelangi tak jua mewajah di muka kita
di luar, lonsong peluru berlepasan dari bedil-bedil membidiki segala rindu dendam
maka mari butakan mata pedang. sebab batu itu belum waktunya kita tikam

Padang Ekspres, 23 Maret 2008

Arif Rizki
PERISTIWA PULANG

di air tawar genggammu menjadi lain. bukan angin
yang sibuk atau gemuruh yang batuk. tetapi geletar yang tak terkata
dan betapa rel kereta tak mengantar kita kemana-mana.

sepagi kopi, aku mengenangmu dengan menulis puisi tentang stasiun yang tak dikunjungi keberangkatan dan kedatangan. dimana kepulangan hanya ada dalam diri.
bukan di gerbang stasiun atau rel karatan

kata-kata selalu merambat kedalam tubuhku yang kemudian kujelma rentetan
kereta kata yang ternyata tak membawamu kemana saja
matamu tetap saja air tawar. meskipun senin itu begitu asin dan waktu sepahit ampas kopi
hingga di air tawar genggammu jadi lain. memugar senin yang asin dengan peristiwa pulang yang teramat sederhana. dan aku paham sungguh tentang waktu yang merupa kopi yang tinggal setenguk di jalan kita.
dan matamu tetap saja air tawar

Padang Ekspres, 23 Maret 2008

Arif Rizki
KERANDA HUJAN

bulir air berjatuh dari rambutmu yang selebat hujan.
menggenang di halaman catatan-catatan yang ditoreh setiap perjumpaan.
ada yang berbasahan selain buku-buku yang dikemasi dalam jinjinganmu; sebuah
petuah yang kau kepalakan setingginya
ditanganmu poros-poros rencana berloncatan dan menjelma rumputan yang selalu
kau minta aku membacanya
aku juga suka suka berbasah dengan hujan. ucap yang begitu saja tak mau kau dendangkan.
sebab hujan bukan saja menerpa ruangmu, namun juga lelangkahku
aku juga suka mengambar keranda. menduga-duga
masa yang bertumpangan di pundakku dan mendorong pintu bagai menutup waktu
kau ataupun aku sekalipun tak akan berlain simpang, karena tarian kita sama betul gerik wajahnya.
dan kau tak akan memugar payung bukan?
diantara dendang-dendang baling di hari sore, aku mengelanakan duga-duga ke pintu ragumu.
kaukah itu yang menguncinya dari dalam selalu malam?

Padang Ekspres, 23 Maret 2008

C. H. Yurma
EPILOG RANAH

bundo kanduang melipat hari
sedih sendiri di sudut negri

2005

Padang Ekspres, 24 September 2006

C. H. Yurma
HANYA UPACARA NELAYAN

sebentar lagi dahaga mekar
di ambang pintu yang menyibak wangi garam

walau kenangan pelesir ke dalam uap kopi pagi
dan mimpi kita tak tidur-tidur
kita selalu tahu,
ada yang pulang membawa gemas tingkah laut
sekaligus gemulai tari gelombang
buat mainan kangen anak-istri
menyambut hari yang selalu sakral
bersujud
berjuang hidup

2006

Bali Post, 27 Januari 2008

C. H. Yurma
SENARAI ASPARAGUS

;lorong yang terdemam

seketika saja aku menjauh dari ruasmu
cuma berbulan-bulan
(sekali datang – lama menghilang)
sebab lelah cumbu
adalah khianat berulang
memulangkan tubuh
dalam kenang tak terbilang

ada peluk yang terus terhalang
tapi bukan dalam doa

oi budak-budak…
siapa yang menjemput hujan
mari adu tenggak di ketiak jalan
menghimpun setengah
apa yang mungkin saja tak kita ingat
seperti tangis kekanak bersilang ngiang
menembang dolanan
yang terlalu mudah untuk kita ulang

dari lapang tanah gersang
kita kulum panas waktu
sama memberangkatkan senja
akhirnya setitik tuak kental
menitis di celah pulai
pertanda lubang adalah gerbang
tempat menyimpan hantu diri

waktu terus saja ke kejauhan harap
biar kesedihan mendulang amarah
melagukan kisah laknat hingga sudah
kelak persuaan sebagaimana kepastian
menabuh telinga kita
– memanggil pada satu arah
semak ilalang yang masih saja basah

2008

Harian Andalas, 20 Juli 2008

C. H. Yurma
KAPAL BELIA
(aku)

pernah kutatap matamu
mengikuti ke mana arah pandangnya
laut menyambut dan senja begitu tenang
tapi aku takut pada lupa
hingga tak lagi kenal maut di pucuk karang
jika tiba-tiba hendak kucoba memukat tubuhmu

sebab aku kapal belia
kadang candu dimabuk ombak

maka kuputuskan sebuah cara
seperti melontar doa-doa ke liang awan
kelak hujan atau kemarau akan menyudahinya

2008

Lampung Post, 1 Februari 2009

C. H. Yurma
INSOMNIA

badan
jadi bangkai apung
racun kopi
deras ngalir menepak darah
maka jadilah ia laut
tempat lelap berlayar
sejauh-jauh angin
tinggal aku,
jalang ditikam hujan pagi
2008

Lampung Post, 1 Februari 2009

C. H. Yurma
DENDAM MUSIM DALAM DIRI

kecimpung gelegar mendung
menitah payung terkembang
dengan tangan gemetar
yang tersengat kejut jantung

melesatlah ke beranda rumah
agar tertahan ceracau aliran darah
dan maut pun tak sampai-sampai

2008

Jurnal Nasional, 11 Januari 2009

Deddy Arsya
MATA KAIL

“bangunkan aku sebelum jam lima pagi. aku akan ke lubuk itu menyelami mata kail yang tersangkut. mungkin sebuah batu besar di dasarnya telah membuatnya begitu. mungkin seekor ikan jantan telah melilitkan talinya pada batu itu.”

“jam dua belas pas. aku belum ingin tidur. aku terbayang mata kailmu, menjadi besar. malam yang lentur. mata kail yang basah. dan hujan pun menggigil di dalam tubuh kita setelahnya.”

“terlalu cepat rasanya, besok kau bukan istriku lagi. seorang lain telah kutemukan dalam wujud ikan. di gua di lubuk itu, di dasar air itu. di sana kami akan tinggal. membuat anak, membangun masa depan dan impian.”

“kau pun telah menemukan seekor kura-kura berpunggung hijau. yang akan melundungimu dari tatapan mata siapa pun. di dalam akuarium itu, ia akan menyala melebihi apa saja.”

“suatu hari nanti, kau pun akan menikah. dengan tripang, ubur-ubur, atau umang-umang.”

“dan aku akan menjadi sepasang matahari yang rapuh di kemudian hari. di kemudian hari yang jauh. tentu bisa saja dekat. sedekat ibu jari dan telunjuk. sejauh cakrawala tiada tertembus.”

“setelah jam lima pagi itu, kau kubangunkan. dengkurmu masih basah di telingaku. seperti hujan itu. tapi aku tetap bersikeras pada diriku, sudah waktunya. sudah waktunya. maka aku siapkan mantel hujanmu. menyeduh kopi dan emping tanpa gula yang kemarin juga. sudah demikian acap aku berkata tentang cita-cita padamu. tentang cinta. pindah rumah, dipan yang berderit tiap dinaiki, segelas jus pagi hari. semuanya. maka aku memilih diam. melebihi batu, yang katamu diam terpaling. tapi kataku … kita berdebat panjang. dalam erang meninggi.”

“sedikit terlambat. mestinya sebelum jam lima pagi, mata kail itu sudah harus ditemukan. ia buta untuk membedakan apa saja. buaya-buaya raksasa itu akan datang dari arah muara. menghampiri mulut gua. dan kita tak akan menemukan apa-apa selain sia-sia.”

“ikan itu akan mati di ujung tali. tinggal gelembung di permukaan. mencibir kita sekehendaknya. dan kau akan terluka oleh cintamu sendiri. oleh mata kailmu sendiri.”

“antara batas insang dan kuat selammu.”

“demikian usia kesetiaan.”

“dan aku menebak bau air. lalu kita tercekik mimpi masing-masing. seperti ikan di dasar itu.”

“mata kail itu menyilang dalam tenggorokan. mata kail itu menjadi ganas dan lapar.”

“kau inginkan ikan-ikan yang mengepak dalam akuarium. miniatur-miniatur pohon, rumah berpagar putih, kincir air yang bergerak lambat, sapi-sapi yang gemuk dan kurus, taman-taman berbunga lili, pohon mangga yang tinggi mencucuk, hutan-hutan berwarna asap, dipan yang lebar dan panjang, televisi 21 inc yang penuh hujan. bagaimana aku tak tahu tentang itu?”

“aku mendengar langkahmu di malam hari. aku mendengar air di akurium itu beriak sendiri, dan mata kail itu telah dilemparkan ke tengah-tengah yang paling jauh. ke bibir gua. ke mulut buaya-buaya raksasa.”

“tapi aku hanya inginkan rumah yang berderak oleh rentak anak-anak. aku hanya inginkan kau cemburu. aku inginkan …. tak lebih dari itu”

“mata kail itu menari-nari di dasar air.”

“matahari telah melepaskannya dari mulut ikan. ujung tali telah diseret arus air yang jadi deras dalam sekejap. aku masih mendengar kepaknya dalam tidurku. aku masih menghitung berapa banyak rentak yang tersisa di rumah ini. di lubuk itu, katamu. air di akuarium menjadi asin. seasin lautan.

“tak ada kura-kura berpunggung hijau.”

“tak ada ubur-ubur, tak ada tripang, tak ada umang.”

“kita hanya akan memelihara mabuk masing-masing”

Kompas, 15 Juni 2008

Deddy Arsya
TOKO SERBA LIMA RIBU

”aku masuki dirimu seperti memasuki toko serba lima ribu. aku satu set mainan anak-anak, tusuk gigi, dan satu pak pengorek telinga. ibuku boneka hiu gergaji, ayahku kampak bermata dua seperti dalam cerita silat di televisi. kau ingin menyebut nama-nama pemilik bibir yang pernah mengucapkan cinta dan hidup dalam kenanganmu. tapi orang-orang masuk dan keluar membawa apa saja menjauh dari pintu.”

”aku pendingan ruangan yang menempel di sudut toko. seseorang, mungkin pelayan yang mengerti isyarat hati, akan mengganti lagu dari tape di meja kasir dan menyembunyikan satu peristiwa bunuh diri di kantong belakang. menyalakan kipas angin di sudut lain dan menggumamkan kematian yang dingin. tidakkah pendingin ruangan, kipas angin, dan tape di meja kasir juga bagian yang akan dijual dari dirimu?”

”termasuk yang ingin kau lupakan: peristiwa bunuh diri itu!”

”aku membawa pacarku ke dalam dirimu suatu petang, berbelanja boneka anjing bermata besar dengan uang pas-pasan, dan menemukan tulang rusukku di antara gigi depannya yang runcing. aku memelihara omong kosong dengan mengingat hari ulang tahun kakek buyut kita yang menghilang dalam sebuah pertempuran saudara. pacarku akan mengulang omong kosong itu beberapa kali, dan mengutuk kesepianku. mungkin kepada lelaki lain yang dia kencani.”

”aku terus melubangi pohon di halamanmu dan menjulurkan sebelah tangan untuk membuka pintu. ada yang rebah tepat di pintu masuk di suatu hujan badai dan menyadari dengan terlambat: ayah kita di masa lalu pernah memangkas rambut kita sampai botak di bawah rindang pohon itu.”

”kita besar dan menemukan diri tak lagi sesederhana bunyi ketuk yang diwakilkan suara batuk atau desir air pembasuh kaki itu. ibu bergegas turun dan menemukanku telah telanjang dengan tubuh warna-warni.”

”kau seperti toko serba lima ribu!”

Kompas, 28 September 2008

Deddy Arsya
TENGGELAM DIAM-DIAM

“jika kau tenggelam dan mati dalam perjalanan nanti, apa yang akan dilakukan kekasihmu menjelang itu? aku mungkin bisa menuliskan suatu rencana yang biasa misalnya, memancing di akuarium rumah sendiri, mencuci karpet dengan sabun mandi, atau menjamur kasur di atas kompor.”

“kau boleh menceburkan dirimu ke danau itu. tapi aku katakan, aku tak menginginkan sesuatu pun menyumbul dari tenang air itu. itulah salahnya jika kita selalu menghindari arus deras, batu-batu di dasar yang kita pijak memantulkan ngilu ke pangkal gigi yang berlubang ini.”

“kapan ya kita bisa ke dokter gigi menghabiskan seluruh honor sajak ini hanya untuk sekali pemeriksaan. tidakkah lumut di batu-batu yang kita pijak itu memantulkan gamang tubuh kita seluruhnya. seperti rasa sakit di gigi.”

“tenggelam perlahan-lahan itu lebih bagus dari menonton televisi, atau memasukkah batu-batu kecil ke dalam saku piyama sehabis sembahyang, dan mimpikan mereka menjadi emas. meskipun sekarang bukan waktu yang tepat untuk tidur, tapi kita telah melakukan perjalanan 15 jam dengan bis ekonomi, menyaksikan hutan kiri & kanan bagai selembar kain batik. aku menjadi tahu, kau tinggal di dusun yang mengajarkan anak-anak menghisap rokok yang telah diharamkan. bagaimana kalau kita mabuk ketika sedang mandi, atau tidur dengan mata terbuka, apakah itu juga diharamkan. atau: apakah maksudmu menulis sajak ini.”

“apakah kau pernah mengerti pertanyaan itu tidak cocok untuk cuaca seperti sekarang. kita terlibat macet hampir setengah hari. aku sedang sakit gigi. kau boleh mengerjakan sembahyang sepanjang hari untuk tahun berikutnya sekaligus. bisakah kita meminta tuhan bersabar seperti bisakah kita menimba hujan dari bak mandi untuk menjadi banjir di kota ini.”

“temanku menulis sajak tentang akar-akar pohon, kampung halaman penuh kenangan, dan terkadang kesunyian. aku katakan padanya, bisakah kau menulis sajak tentang cinta melebihi panjang sorban seorang padri. atau melebihi ayat-ayat yang dibaca dalam sembahyang.”

“aku tak pernah tidur-tidur hanya untuk mencurigaimu. kita sulit menemukan bahagia di kota ini, apa sebaiknya kita pindah saja. mengunjungi danau biru dan hijau, atau berjaga-jaga dengan membawa akuarium ini ke mana-mana sambil merasakan diri tenggelam.”

Kompas, 3 Mei 2009

Delvi Yandra
Suratmu Menikam Jantung

;Kepada sangsi

kubaca tulisan panjangmu yang pantai, sayang
berpalung dalam kamar menikam jantung
kaulah gelombang. Berhempasan tak tentu arah
ke pulau. Ke penantian panjang tak berkesudahan

bersitubuh dalam kepalan waktu
aku hilang rupa
aku remuk redam
apalagi untuk bersitahan
mematah ranting putus di jalan

keridlaan jualah
yang datang. Bagai angin ingin kugenggam

seperti halnya, debu mutiara
setiap butirnya yang ikhlas
yang menempel. Melekat di pelupuk mata
kredo

Kandangpadati, September 2007

Singgalang, 11 Januari 2009

Delvi Yandra
Patahan Kredo

Patahan tulang-tulangku hanyut di sungai gangga
air sucinya telah keruh oleh nyeri luka
ke sungai mana lagi akan kubasuh riak-riak wajah ini?
aku merasa dipenuhi dendam kesumat berjumpalitan

Kepercayaanku tumpah ruah berbuah sakit
sehingga seluruh tangis luruh dalam pori-pori
tak mampu lagi kudirikan tubuh tegap
sebab segala badan rapuh dikelemasan masa

Kini kutuang air mata di cangkir kesayanganmu
agar kau teguk makna ini sebagai buah kedekatan
yang pernah kita semai di ladang tubuh kita

Pasar baru, Oktober 2007

Singgalang, 11 Januari 2009

Delvi Yandra
Di Ambang Pintu

Pintumu bersarang tarantula tua
tak bernama
aku mengetuk gaung dalamnya
ketukan makna kualirkan lewat ventilasi
meraung bumbung di palung pintu
berdesing lalu bising

Sekali lagi
kali ini di ambang pintu
dan tarantula tua membuka jalan
aku mencarimu

Rumahteduh, September 2007

Singgalang, 11 Januari 2009
Delvi Yandra
Misalkan Seorang Kolektor
Mati Muda

Aku adalah kalbu yang berdebu
terbang sepenuh ruang
menempel dan melekat di sudut waktu
memberi tempat pada luang

Kubiarkan tanganmu menjangkauku
meski sedepa tak terlampau
aku belum mau mati muda
dihimpit bumi dipukul penggada
nyesak dalam dada

Kaulah mastodon atau gergasi
koleksiku yang berharga
kupajang dalam lemari besi

Dan hidup, kuhabiskan dalam etalase sejarah

Rumahteduh, september 2007

Singgalang, 11 Januari 2009

Delvi Yandra
Berita Laut

Aku khidmat mendengar gemuruh gelombang
berhempasan di batu diam. Batu yang bersiteguh
di kediamannya tanpa bergeser semeter pun

aku setuju menatap jauh
lampu-lampu air. Seperti halnya mutiara
aku ikhlas dikaitkan pada langit
begitu rupa

ingin kusampaikan kabar padamu
agar tersiar tentang laut
yang begitu palung. Mencucuk-cucuk aku
seharian penuh

Tepilaut, 26 September 2007

Singgalang, 11 Januari 2009

Delvi Yandra
Rossalina

Rossalina, dalam sakit kutuliskan sajak manis untukmu
teguklah di antara jarak dan dingin hujan
kelak kita akan saling mengerti
bahwa malam telah didatangkan
kepada kita, untuk dinikmati seharian penuh

bukalah jendela kamarmu
bulan kaku dan pohon bisu
sementara sekumpulan bintang merangsek
di sela igauku, menjelma rindu

dan, dalam sakitku kini
aku ingin mencintaimu
lebih dari sekedar sajak
luas tanpa batas, tanpa jarak

Kandangpadati, Februari 2009

Padang Ekspres, 1 Maret 2009

Delvi Yandra
Sepasang Bayang
Melintasi Suara Adzan

Setelah gema kumandang adzan berkelindan
dalam taman firdaus. Seperti sepasang bayang
Kusaksikan kebisuan kalam dan kenistaan cahaya
bersitahan mengenang patahan cinta yang agung
yang penuh gairah sesayup suara anak-anak baru pulang mengaji
menghitung jarak yang pedih dan perih merintih di waktu malam

O, bukan cinta yang kuagungkan sebagai syukur ketika sahur
serupa ibu memasak sayur di dapur
adalah kaji yang tak putus dalam sehari
malang benar hari yang tak henti sujud dalam ribuan rakaat

Di depan pintu kupastikan tegak tubuhmu pulang menujuku
dan selepas shalat aku telah melepas sakit yang mencucuk-cucuk
dalam batinku. Lalu sepasang bayang
tumbuh di tubuhku

Seperti muntahan hari yang kau suguhkan
dan Tuhan menyaksikannya melintasi suara adzan

Dumai, Februari 2008

Padang Ekspres, 1 Maret 2009

Delvi Yandra
Pantai Tuhan

Aku saksikan pantai panjang merantai di sepanjang tanjung
ia rampungkan dalam sudut yang tak sudah
lalu, sekumpulan umang-umang bergeser dihempas riak kecil
dan tongkang mulai merapat menurunkan udang
menurunkan sekelumit hidup yang pahit
seperti enggan menemu malam

Ah, bukan nelayan yang tak mau melaut
sebab orang-orang sibuk membuang minyak melempar tuba
sesampah laut mengapung dan merapat ke pantai

Kelak Tuhan akan murka, seperti musa
membelah laut dan hidup orang-orang yang khusyuk menemu pagi

kusampaikan pula pada pulau-pulau yang menyepi
bahwa setelah ini keindahan akan berlipat-lipat
lebih dari apa yang terbayangkan

Dumai, 2008

Padang Ekspres, 1 Maret 2009

Delvi Yandra
Ibu di Pagi Raya

adalah rumpun bunga dalam taman ibu
semekar hati raya yang wewarnanya berupa
kupu kumbang berterbangan mencari sudut
mata ibu yang madu, yang manis mengulit ari

sebagaimana matahari kuning masak di pucuk daun
embun menghilang

sementara bersimpuh pagi
anak-anak baru akan sekolah. Di tanah lapang.
alam bebas selalu punya kelakar
yang menarik, cerita untuk ibu

(kudengar petatah petitih nun jauh)
muasal siang dan malam
dan bunyi bansi di pematang
adalah ibu di pagi raya

Kandangpadati, Agustus 2007

Padang Ekspres, 13 Januari 2008

Delvi Yandra
Ruang Kosong
;Untuk Y dan S.R.

Hati adalah kumparan ruang kosong
yang sepi. Aku khidmat mendengar gaung dalammu
kadang kucemas-cemaskan sendiri
sebelum kau benar-benar angin yang berjumpalitan
di kedalaman khusyukku.

Telah kutempatkan hatiku di ronggamu
yang paling sunyi. Agar dapat kau cerna muntahanku
sebagai puisi.
sebagai batu yang selalu diam dalam ngalir sungai
yang betah menunggu dengan jutaan rakaat

Lalu lumut dan sesampah hulu menghampiriku
pelan-pelan.

Kandangpadati, September 2007

Padang Ekspres, 13 Januari 2008

Delvi Yandra
Misalkan Kau
Sebuah Peta Buta

Sulit bagiku membaca desir
angin di bibirmu yang pasi. Kubiar rinai basah di punggungmu
hingga membentuk lekuk dan belahan kata. Diam.

Bukitku sepi tanpa mata angin
sempat kehilangan tempat tuju
kecuali bila ada jejak langkahmu
di sepanjang jalanku
menuntunku pulang atau malah bikin aku
kembali hilang arah bahkan tersesat

Dalam ukuran skala berapa
aku dapat membaca segala apa
yang tergambar di petamu

Kandangpadati, 21 September 2007

Padang Ekspres, 13 Januari 2008

Delvi Yandra
Madah Buat Sri
Di Malam Jahanam

Kini aku menunggumu hingga palung
Suatu ketika yang telah membikin jauh
Lalu kubiarkan malam semakin pekat
semakin pedat. Aku mengumpat sendirian
di waktu yang basah genangan air mata

Air mata. Kering di belahan wajahku
mendarah dedah dalam gigil malam
kubaca makna pada pesan pendek lalu
hatiku telah mencair di lembab kulit

Ketika kau menerima pesan pendek
dari seseorang—bukan aku. Kupastikan lengkung senyummu
begitu lepas. Sedangkan aku telah melepas sakit
yang mencucuk-cucuk dalam batinku

Pasar baru, 07 Oktober 2007

Padang Ekspres, 13 Januari 2008

Delvi Yandra
Sekat

Aku sekarat disekat jaringmu
tarantula tua menghampiri aku
lalu kamu memahaminya sebagai cinta

Pasar baru, Oktober 2007

Padang Ekspres, 13 Januari 2008

Dewi Kumala Sutra
MUSLIMAH CREATIVE AREA

Bunda, jadi muslimah itu susah
Kemana-mana kutenteng ijazah
Lamaran kerjaku diterima, Bunda
Tapi, jilbabku harus dibuka
Bunda, jadi muslimah itu mesti tegar
Pakaian longgar berjilbab besar
Menyapu halaman rumah berkaos kaki dibilang tetangga crazy!

Bunda, jadi muslimah itu harus mandiri
Pintar jaga diri
Pandai beladiri
Ternyata bikin laki-laki gigit jari

Bunda, muslimah itu harus gaul
Tak hirau dengan orang yang bersiul
Bukan maksud mengasingkan diri
Tapi gaul asalkan syar’i

Bunda, muslimah mestilah cerdas
Menjadi khairunnas
Sebagai tempat bertanya
Tak ada maksud apa-apa
Hanya untuk nabung pahala

Bunda, muslimah tak boleh malu-maluin
Harus pintar main
Bermain dengan kompor, bermain dengan waktu
Bermain dengan kesehatan, bermain dengan keluarga
Dan bermain dengan masyarakat
Asalkan saja tidak main-main

Bunda, muslimah bukanlah sarjana roti
Tapi ia orang yang berpotensi
Mampu menghidupi diri sendiri
Dengan mujahidun munafsihi

Bunda, kuhitung-hitung selama ini
Untuk Islam apa yang sudah kuberi?

Bunda…, di sana muslimah kreatif
Bunda…, di sana muslimah brilliant
Bunda…, di sana muslimah militant

Bunda, kenapa aku tak kunjung berubah?
Apa selama ini aku hanyalah kawat?
Tidak Bunda, kuingin menjadi akhwat!

Bunda, doakan anakmu ini
Terhitung dalam barisan mar’ah sholehah
Kuingin sekuat Asma’
Kuingin secerdas Aisyah
Kuingin setegar Fatimah
Kuingin sepemberani Sumayah

Taman Putri malu, 9 Juni 2007

Majalah Tasbih, Oktober 2007

Dewi Kumala Sutra
MATIKU DAN ALAM-MU

Kumandang Shubuh melebarkan mataku
Air wudhu meresapi duka di hati
Kutinggalkan tujuh pelangi obat-obatan itu
Aku bosan! Siapa bilang aku sakit?

Beri aku kebebasan
Tuk jajaki alam-Mu
Biar mata ini kuning
Biar dada ini sesak
Biar rasa panas menyebar di tubuhku
Biar percikan darah mengalir dari kaki dan tanganku

Izinkan aku ya Rabbi, menjajaki alam-Mu
Alam-Mu, alam-Mu…, ya Alam-Mu…
Sudah lama aku merindukannya
Menapaki rumput yang diselimuti embun
Kicauan burung mengiringi langkahku
Semut-semut genit merayap manja di bajuku
Dan bunga liar menyapaku

Oh mentari, begitu ikhlasnya tersenyum
Lambaian daun-daun di pepohonan
Menyuruhku berhenti sejenak
Tidak!
Aku masih kuat!
Aku tidak sakit!

Anak kodok mengajakku berlari
Berlomba menuju puncak bukit-Mu
Aku harus menang!

Kuteguk air pancuran itu
Nikmat, yah amat nikmat
Hey! Katanya kuat! Kenapa kau minum air itu?
Batu-batu mulai meledek
Langkahku gontai
Pasukan nyamuk panik
Hey manusia! Ingat pesan Bundamu!
Tubuhku lunglai
Tidak, aku tak ingin pulang!
Aku muak obat-obatan itu!

Aku ingin mati bersama alam-Mu ya Rabbi!
Alam-Mu…, alam-Mu…
Ya, kuingin berpelukan mesra bersama alam-Mu
Izinkan aku ya Rabbi…

Majalah Tasbih, Maret-April 2008

Dewi Kumala Sutra
DI PALAK JIWA

Dalam naungan
Selalu terkenang bapak beradzan
Anak-anaknya bergegas di shaf belakang
Usai sholat di panggil Indah nama yang indah
Indah, dibuai rindu
Pagar kayu nan kian melapuk
Dibuai kenangan Indah tak mau
Di Palak jiwa kuburan ayah tak bertemu

P’mails, 03—09 Juni 2007

Dewi Kumala Sutra
CELANA-CELANA GANTUNG

Tuhan memanggil
Memanggil hamba-hambaNya
Wajah-wajah bersih
Menampung di rumah kalbu
Bila mereka sudah mengemis
Kembalilah ke markas itu
Dibaca ayat-ayat cinta-Nya
Celana-celana gantung
Menimati dunia tangga hijau
Mereka tersenyum
Walau srigala bersiap menerkan
Hidup mati di tangan Allah saja
Celana-celana gantung
Amatlah mencintai-Nya

Mesjid kampus, 14 April 2007

Majalah Tasbih, November-Desember 2008

Dewi Kumala Sutra
KEMARAU HATI

Terlalu sering hati dikotori
Tak lagi putih ditutupi debu
Gersang, penuh noda yang menjijikkan
Akankah kembali mewangi?

Sedangkan ia semakin busuk, berbau amis
Ketika hidayah menjarak jauh
Ketika usia setengah abad
Sekeping hati merangkak kembali
Mencari dan memetik hidayah
Namun, awan hitam bersahut gelegar petir
Melempar hati ke lembah maksiat
Dunia gelap menyapa lagi

Hati yang gersang bertambah busuk
Mengalahkan nanah dan bangkai anjing
Ho…akkk! Semua ingin muntah!
Akankah taubat nashuha menghampiri hati?
Mengikis lumuran dosa?
Sedangkan hujan enggan mengguyur deras
Kemarau tiada henti
Dan lumpur-lumpur kian mengeras
Hatinya semakin kaku, berbalut benang hitam
Hidayah kian menyombongkan diri
Akankah ia kembali?

Majalah Tasbih, 2007

Dewi Kumala Sutra
KARENA AKU MENANTI

Sisik-sisik langit berkeping
Impianku terkatung-katung
Hanya anak-anak kepiting yang mengerti
Aku di sini
Karena aku menanti
mana jurang kuningnya?
Aku di sini
Karena aku menanti
Kalaupun tak ada
Mana jurang kelabunya?

P’mails, 03—09 Juni 2007

Edo Virama Putra
BARABAH

Sembai sayapmu mengagum hati
terjuntai dihembus angin timur
dada ranting patah lembab bertahan
¬adakah kau resah setiap tikungan angin?
paruh tajam mematuk pisang ranum
mengupas hari hari dirintik hujan
bersitatap jauh kedepan menepis suara parau
inikah jalan setapak tanpa simpang?
subuh suaramu mendayu dayu
:menyambut pagi yang masih basah
mengipas sayap dikusutkan malam
berapa getah kusiapkan memikatmu?
oh, lelah kubersitahan memasang jerat ditepian mandi
barabah lalu lalang mengibas sayap”menjauhlah”sebelum malam
dimana musim kawin tiba menetas almanak tua

Kandang Padati, 2007

Media Indonesia, 26 Agustus 2007

Edo Virama Putra
Rinai
:setelah rintik membasahi keningku

gabak melayang sepanjang musim
menuai hari hari di dedaun sirih yang luka
gagap langkahku tersendat diujung rambutmu,
sebentuk rinai hujan melembab dipipi ranum
kemana lentik senja kusandingkan?

semasa beringin berdiri kokoh,
kau bersandar didahan gempal
memuji reranting yang liat dihinggapi murai
begitu cewang dilangit menebar cerah
selingkar akar masih bergayut
memutar arah langkah kiblat sajadah

sesungging senyum tak pernah rekah
bergantung dilekuk ngarai kaupunya
sedu angin di pulau perca menatap gelisahmu
begitu goyang menggoncang

uraklah tungku sebelum kayu disilangkan
dan api bersitahan gemulai panasnya

Agustus, 2007

Media Indonesia, 26 Agustus 2007

Edo Virama Putra
Orasi Kesunyian

Suara bansi telah menjalar keubun ubun
berdengung dimatamu yang menahun resah
tingkah gendang menyambut malam
seperti menyambut hari hari rusuh
dibawah gelak tawa bocah lugu

aku merindumu

betapa sampelong mencucuk batin
merayap dibongkah mimpi
tak ada suluh menerangi jalan setapak
menuju tepian mandi lembab melumut
dan rantau tak bertuah lagi

saluang menafsir orasi kesunyian
yang memukau orang perenial
ketika ragkiang tak berisi padi
adakah kesunyian berpunya?

retak jua tanah ini yang pernah kau igaukan
sambil menahan kata kelu dibibirmu
memuncak dikibas angin pesisir

aku merindumu
memahami luka dikesunyian

Agustus, 2007

Media Indonesia, 26 Agustus 2007

Edo Virama Putra
Tambo
:wisran hadi

Dibalik jendela tua
orang orang melihat masa lalu,
membuka tambo kusam dirangkiang rubuh
berkelakar mesra tentang datuk datuk
tentang bundo kanduang
sutan rumanduang atau puti bungsu
gelisah merunut silsilah rapuh tak bernama

ahai, aku diam membisu
mendengar celoteh mereka,
merekam sejarah berupa petuah
dan bermimpi membalik waktu
dalam gumulan emosi

Agustus, 2007

Media Indonesia, 26 Agustus 2007

Edo Virama Putra
Dendang

Selangkah lagi aku hadir
dihalaman puisimu yang ranum
merangkai kata dalam dendang
dan sarunai bersiul seriuh kicau
ulurkan sehayun sapa seketika
aku bersila dibawah pematang
mendepa perkenalan, si buyung,
kau si upik menenun dianjungan
melentik jemari selentik sirih
durailah tawa di rumah gadang
bukan legian yang kau punya

O, bebisik pinang muda pulau perca
aku tating carano ketengah
sebagai sembah tuan dan puan
begitu sirih penawar risau
bertahan ditampuk basah
harumlah seperti bunga kopi
ditanah moyangku

Agustus, 2007

Media Indonesia, 26 Agustus 2007

Edo Virama Putra
Luka Lama 1
;majapahit

dua pulau berseberang arah
membuka kenangan dalam kelam

jawi, beribu kapal mengarungi samudra
membawa sastria beribu pedang
membawa luka di setiap generasi

swarnadwipa, ladang padi berabad-abad
menerima luka di padang sibusuak
menerima kaba di setiap generasi

dan tangis selalu ada di setiap musim

kandangpadati, 2007
Singgalang, 13 Januari 2008

Edo Virama Putra
Luka Lama 2
:padri

sepanjang pantai barat orang orang berlabuh
menunggu harum pala dan lada
datang dari penjuru dunia
inikah tanah moyangku?

Bonjol, melingkar bukit
dan tumbuhlah bambu aur berduri

kau begitu kokoh pada masamu
melenggang di atas kuda putih
dengan sorban, jubah, serta sebuah kitab
menerangi hari hari kelam sejarah

retak jua tanah ini, dan cinta tak bertepi

sebuah plakat dengan basa basi
menawar persahabatan tuan atau puan
ahai, gelombang darah membuncah
antara saudara di padang rumput hijau
adakah penyesalan?

rusuh hari hari dimulut meriam
menjengkal kemenangan pada darah
pada perjanjian dan tangis bayi
pada benteng bambu berduri yang roboh

dalam gelisah pembuangan
aku tak menemukan kebangkitan

kandangpadati, 2007

Singgalang, 13 Januari 2008

Edo Virama Putra
Luka Lama 3
;prri

aku masih kanak,li
mendengar luka dari leluhur
di sebuah pagi; barangkali februari

ketika ia pulang dari utara membawa mahzab
dan duduk di sebuah kursi goyang
mendengar kicau murai seriuh angin berhembus
geram berpalut emosi mendidih jantung
dan cerutu di tangan kanan diremas
berserak di lantai pualam,mati
“kembalilah kepangkuan ibu nak”katanya
dan jalan telah bersimpang dua

di antara dua pulau, cinta tak bersemi
hanya nyanyian perang dan darah

jalan-jalan tebaran selonsong peluru
bau mensiu mengepul di udara
mayat bergelimpangan
sungai dan kolam ikan memerah
dan sesudah magrib suara tahlil berdengung
dari perempuan yang membisu tangis

adakah kerinduan dari mereka?
keseimbangan dua hati satu tujuan

kandangpadati, 2007

Singgalang, 13 Januari 2008

Edo Virama Putra
Melepas Ayah

di laman itu kita menatap, membuka gerbang
memulai pagi menjelang petang
mendepa kepergian dengan ransel hijau di pundakmu

dan aku melihatmu di balik jendela
melukis perjalanansebelum sorga itu datang
kita lelaki, ayah, cerita luka kau dendangkan
dikanakku hingga mengenal cinta

di laman itu kita menatap, membuka gerbang
menilik sejarah kebelakang rumah
dan langkahmu secerah syawal ketika hujan reda

melepasmu serasa ladang kopi kita membunga, ayah
di cabangnya buah begitu merah ranum
tak ada semut atau musang menjamah
dewasaku hingga mengenal maut

kandangpadati, 2007

Singgalang, 13 Januari 2008

Edo Virama Putra
Memilih Jalan

tetua telah meneruka semua rimba
mengolah sekedar perlu
menanam padi hingga bernas menguning

setapak jalan yang kupilih dari leluhur
dari musim gelisah hampa sepanjang tahun
melukis takdir dalam almanak kusam
demi penyumbat tangis perempuan tua
perempuan sepanjang zaman di negeri berkabut

kelok jalan yang berliku kutempuh dalam bisu
pahit, manis, atau asam adalah rempah kehidupan
memilih jalan diantara dua simpang; jalan puisi
menyejuk di halaman penyair itu

kandangpadati, 2007

Singgalang, 13 Januari 2008

Eka Satiawan
Kado kelahiran
: win

“aku tak bisa menggambar apa-apa pada usiamu”

di balik pagar
yang kelak kau pancang satu sudut dengan namamu
aku pernah dipulun badai
dikecup kering panjang usia terpepat tak bisa apa-apa

dik, angin masih muda kau panggul
jangan sampai jadi puyu, jadi taufan, jadi bencana
menyampul langkahmu
hingga patah- terseok tak bisa pulang
berpeluk gurau bersama

sesekali pada laut yang kau tempuh
ombak pernah juga tak menghempas
maka singgahilah sebuah pulau
menjahit layar yang koyak dipisau angin
bungkuslah beberapa biji palawija
buat lepas rindu pada bilik rumah ibu

“aku tak bisa menggambar apa-apa
pada usia yang pernah kulalui”

tak salah siapa, win
hanya mata tak mau terbuka

berkali-kali ibu terisak di lengan sendiri
mati kecemasan
beberapa carut kusuntingkan pada malam

ada juga tawa

Rumah Teduh 2007

Padang ekspres, 29 Juli 2007

Eka Satiawan
Yang Mendiamku Sedalam Ini

aku mengenakan kemeja kotak-kotak
siang itu di depan rumahmu. membacakan beberapa bait
cinta sederhana Sarpadi. dalam hati. hanya dalam hati.
berdiri.

matahari menggigil di rambutku,
lalu cepat-cepat sembunyi membentuk awan dan hujan.
sepertinya hanya basa-basi,
sebab kita takkan pernah dirindukan
kecuali kau dan aku.

daun-daun berguguran. selembar, kuning, tepat di ujung
sepatu hitamku yang kau belikan. maaf, tapi aku hanya
sesekali menangis. jangan hiraukan

daun itu terbang lagi. aku pulang,
dan ketika menoleh ke belakang,
daun itu sudah menutup satu huruf di namamu,
satu angka di tanggal lahirmu.

Kandang Padati 2007

Padang Ekspres, 7 September 2008

Eka Satiawan
Singgahlah Kata Sehari Di Bilikku

sehari saja kata singgahlah di bilikku. Singgahlah
kupilin serupa tembakau, bakar jadi puisi, sebab kau
takkan pernah jadi kenangan. Sehari saja singgahlah
melilit rangka bikin liang di uratku berdiam di sana

pintu-pintu sudah kepecah sudah tak ada halang rintang
singgahlah kata. mewujud apa saja tak apa sebab kau ada
singgahlah. jendela juga sudah kulepas

menjadilah dalam jaga dalam igau tak berbeda. Singgahlah!
mari bermain. kau jadi aku boleh juga jadi belam api atau puisi
sama saja sebab diam membakar. sehari saja singgahlah kata
kita sudahi rima-rima patah tak tentu ini.dinding-dinding
kuruntuh sudah sejak lama ditumbuh lumut, jamur,
juga tempat berteduh si kaki seribu dan laba-laba.
atap pun tak ada

kita berteduh dalam puisi itu kelak. menari, menangis
sesuka hati. tak ada lelucon lagi.
singgahlah kata sehari saja
bilik terhampar sepanjang jarak kau dan aku!

rumahteduh ,2007

Padang Ekspres, 7 September 2008

Esha Tegar Putra
Sepinggan Sajak Sepi
tentunya kita tak bakal saling melupa, sekarang aku sepinggan
sajak sepi, sedangkan kau sebentuk kata hati
tentunya kau tak akan pernah mengira bahwasanya aku akan
mempunyai sepasang mata berbahaya, mata yang bisa memandang
tembus lewat sesela angin (maka dari jauh, dari jarak yang tak bisa
kau tebak, pastinya aku akan menatapmu dengan penuh malu)
aku juga seorang penujum yang tahu di tempat mana kau
sembunyikan rasa sakit, ke sudut mana kau benamkan kenangan geli
yang selalu ingin kau nikmati sendiri
pastinya aku tak akan banyak berucap dan bergumam lagi
tapi piuhan mantra dan jimat penghela akan kudedahkan
(bagi siapa saja yang menyembunyikan kenangan
ke pucuk paling rahasia)
aku juga akan mengobati kau, jika dalam sakit
aku akan menyajikan sepunggung tulang
agar kau kuat dalam mengingat dan sigap berucap
tetap saja aku akan kau maknai sepinggan sajak sepi
sebab kau sebentuk kata hati
dan kita pastinya akan cepat bertemu jika sakit melibatkan diri
Jalantunggang, 2008/09
Koran Tempo, 15 Maret 2009

Esha Tegar Putra
Mengukur Jarak
akhirnya aku tahu, antara singgalang dan buahbatu
ada yang terentang serupa benang, yakni matamu; mata perdu
meski sesekali aku tersesat di jalan panjang dan tubuh jalang
bayangmu tumbang di antara serak bunyi puput batang padi
kiranya siapa yang lebih mengerti selain sunyi yang kian mati
matamu menyiratkan lubuk dalam, bayangan di dasarnya terkurung
terbenam juga angan, pantai panjang dikulum pasir bergaram
matamu menyiratkan sesuatu yang padam, sesuatu yang geram
antara singgalang dan buahbatu adalah rindu, begitulah seruku
teramat lapang ini langit, teramat sulit buat digigit
aku kian bergairah; di sini lembu, kuda, tempua, kecebong
segala binatang ikut berseru dari hunianku, ikut berseru sepi
jarak tak merupa benang pintalan biasa (bukan pintalan si tua yang
dengan gemetar menenun kenangan lama di helaian kain satin)
bilamana rindu ini padu menjadi bau gaharu, siapa yang bakal
sanggup menenun makna cinta yang berubah jadi perca?
isyarat mata perdumu, sekumparan kabut lembut penggenap kalut
tapi siapa yang sanggup menelungkupkan tanjungku ke arah lautmu?
kali saja pasir susut, singgalang merupa gundukan tanah biasa
tak bersuara tak berseru, dan buahbatu menghela itu rindu
di ini tahun pucuk cinta menumbuh baru, sesuatu yang padu
digenapkan tubuhmu, dengan bau lokan rebus dan amis susu lembu
akhirnya sajak jadi himpunan bahasa yang tak perlu diberi tahu
dan aku akan berucap mengenai jalang malam menjelma tubuhmu
kiranya kau tak mengerti, sajak tumbuh di dagumu, punggungmu
dadamu, di segala yang ada padamu menumbuhkan gairah sajak
Kandangpadati, 2008

Koran Tempo, 15 Maret 2009

Esha Tegar Putra
Pohon Agung

1
kuamati sebatang tubuhmu
seperti mengamati sebatang pohon agung
di hari yang mendung

bola matamu kelihatan cekung
seakan menenung dan menghisapku
ke dalam tempurung yang mengapung

rambut yang terjalin dan berpilin
membayangkanku akan sumbulan akar
sehabis menusuk bebatuan lapuk dengan garangnya

dan di rengkah bibirmu itu
kayu-kayu belah di kemarau yang tak sudah
kemarau yang tak memberi pertukaran pada warna sungai

punggungmu entah berwarna apa
terlihat belang-belang dengan serat menebal
seperti bekas batang terpanggang

2
tubuhmu yang sebatang pohon agung
dengan buah lebat yang begitu nikmat dulunya
seringkali aku salah duga memaknai itu. ingatanku tak cukup kuat
menerjemahkan isyarat yang kau buat di kali kesekian hujan merambat

di suatu ketika aku hanya bisa berharap
tubuhmu yang sebatang pohon agung
dijadikan tembat bergelantung. dan akan melambungkan
keinginan beburung; mengarung langit lapang yang kini murung

cuma di kerisik daun jatuh
(barangkali itu tangismu turun) dapat kusaksikan
persetubuhan nikmatmu dengan badan angin. semacam
permainan, dan hanya lenguh burukmu yang bisa kutangkap

3
aku ingin medekat dengan penuh harap
lalu mendekap tubuhmu yang sebatang pohon agung
sembari merapal doa-doa lama yang temurun diajarkan para tetua
agar senantiasa kau bisa memahami kesakitanku, kesakitan penebang
pohon rimba—sesekali aku merupa penggetah burung

siasat apakah yang bisa merubuhkanmu
sebatang pohon agung dalam mendung
aku begitu takjub pada tangkai dan surai lebatmu
yang mengucurkan getah mentah. harapku berjaga di antara patahan
ranting, di antara runtuhan lapuk dan terbangan gabukmu

4
agar di hari yang mendung
ketuban awan segera pecah dan tempias air dapat
berburu di kedudukan tanah
hingga tubuhmu, oh, yang sebatang pohon agung
menjadi pertanda dimulainya musim berpinak
bagi sepasukan semak

Kandangpadati, 2009

Kompas, 12 April 2009

Esha Tegar Putra
Seretan Suara

suara siapakah yang menyeretmu hingga tergelepar di tepian pesisir
dengungnya tak seperti bunyi lebah, gaungnya tak seperti desiran angin
yang beradu kian-kemari di punggung lembah. suara siapakah
yang telah menelantarkan tubuhmu hingga tak sanggup lagi merapal
isyarat kerang pecah, tak sanggup membau amisnya lendir ikan

dan seperti menemu lubang dalam, kau tak sanggup menyuarakan
sakit pada badan yang diregang oleh jarak. di tepian pesisir tanganmu
digelipatkan, dan di lain jarak (mungkin di tengah laut) kakimu
diapungkan. seakan dijadikan umpan bagi ikan-ikan bergigi tajam

suara siapakah itu, yang menghelamu jadi makhluk pendiam yang
tak sanggup mengusap jejak pasir yang melekat di kening beningmu

Kandangpadati, 2009

Kompas, 12 April 2009

Fadhila Ramadhona
malam pembukaan

adalah perumpamaan airmata;
ada yang sungguh memanggil di balik gerimis
tanpa sempat mengantar kembang pada awan
yang mengirim nama angin
hingga penjurunya tumpah dari dasar langit

“bukankah kesedihan mengubah kita dengan cara yang berbeda?”

desember, 2007

Pikiran Rakyat, 12 Januari 2008

Fadhila Ramadhona
perkawinan bulan

pada pertemuan ingatan di mana suara lepas mencari jiwa yang sama
sampai langit tak berbahasa.
maka untuk sekian usia, kau pun menari seperti musim hujan, memanggil,
lalu masuki kedalaman waktu yang ganjil.

pada percakapan daun-daun di mana rindu menikam pucuk jantung.
menjemput tujuh kedukaan dengan mantra qabul. bait gelisah menderas
nuju rupa pengantin.

pada percintaan kata di mana takdir tak punya sepakat. malam runtuh
di kota merah. menerka warna yang bertamasya jauh ke negeri angin.

setelahnya, hanya pernikahan di sebidang bulan yang membayang

desember, 2007

Pikiran Rakyat, 12 Januari 2008

Fadhila Ramadhona
pesan

“dan kujatuhkan air mata pada hulu, yang menjadikannya
pesan kepada muara”

aku rindu pantai dengan lengking angin yang memburu
barak hingga medan-medan perang
pada enam langkah pengembaraan sampai

aku rindu pantaimu yang datang mengetuk pintu
meski gigil membuat kita tak punya kata
tapi tubuh ini mengisyaratkan sepi
maka masuklah!
masuk ke mimpi paling sempurna

aku rindu pantai yang menghangatkan kenangan
serupa kerinduan kekanak pada dongeng si pak tua

Pikiran Rakyat, 27 Desember 2008

Fadhila Ramadhona
kematian cuaca

ada cemas yang tak mampu dinamai kala hujan tinggal sekerat.
wajah dini hari menjadi bayang. demikian waktu hanya ruang kosong
yang menuntun jiwa-jiwa dari bilik perempuan ke warna petang.

sesekali seseorang mempersembahkan rerama yang dipermainkan
angin ke langit sunyi. hingga tiga ratus tahun setelahnya adalah selengkung
lengang pecah menyetubuhi tanah merah. menggetarkan hari jadi
gelap yang ragu. dan bulan-bulan pada keasingan ciuman telah jadi duka.
petanda empat penjuru mulai hilang arah barangkali
juga perayaan kematian musim

ada cemas yang tak mampu dinamai kala hujan tinggal sekerat.
sungai-sungai tengadah ke utara dalam mantra purba.
usia cuaca makin tak berdetak. tubuh serupa singgah yang entah.

maret, 2008

Pikiran Rakyat, 27 Desember 2008

Fadhila Ramadhona
ranjang
: AR. Kusuma

untuk sekian subuh: yang memenggal balik kenangan,
jejak itu tak mau pergi dari ranjang. mungkin telah membenam
bersama kota juga cemas berulang di dada mereka.
“tapi selalu orang-orang membangun dalam diri yang lain!”

untuk sekian subuh: yang mengubur perjumpaan
alangkah sepi wangi rambut berbekas. segenap nyala dari tidurku
semalam. betapa tetamu datang hanya membunyikan lambai, sungguh

kau pun

desember, 2008

Pikiran Rakyat, 27 Desember 2008

Fatris Mohammad Faiz
KOTAMU 1

kotamu begitu dingin,
aku kenang sebagai gelisah matahari
orang-orang berjalan lamban seperti menjajakan kerinduan
akan perang, letusan yang ngiang
—setengah abad yang hilang

pada bangku-bangku taman
tak lagi kutemukan sisa hujan semalam
barangkali seorang yang tak pernah percaya pada cuaca
telah menghapusnya

tapi aku merasa ada yang tak bisa dihapus
sebijak kita menyembunyikan dosa
ke ceruk di mana
tuhan tak masuk dalam halaman pertama sebuah cerita

Bukittinggi, 2006

Padang Ekspres, 27 Mei 2007

Fatris Mohammad Faiz
ALAMAT

aku menunggumu, entah menunda setiap keberangkatan
dengan tujuan selalu berubah
halte-halte dan terminal tak lain hanya sebuah persinggahan
yang memajang slogan-slogan perih
seolah kita telah ragu pada posisi bayang-bayang

aku menunggumu, ataukah mencarimu
dengan alamat yang salah di kota yang tak tentu
sebab gedung-gedung tumbuh melahirkan gergasi
“aku selalu takut membayangkan anak-anak
menikmati hujan dari dalam ponsel,” katamu

aku menunggumu, entah mencari bayang yang hilang
ditelan gedung-gedung gemuk menjulang

Bukittinggi, Januari 2007

Padang Ekspres, 27 Mei 2007

Fatris Mohammad Faiz
Sonet Laut
i
kita tak pernah benar serupa laut
:tahu kapan mesti surut

tapi senja begitu asing
membuatmu selalu ingin membayangkan kepergiannya

siapa yang lupa arah?

ii
lupakan tanggal dan kalender yang sibuk mengurus
tiap keberangkatan

iii
lalu kit abaca tipa gerak
atau derak ditinggal ombak tiap kau mencoba mengabadikan
jejak
orang-orang telah berangkat
melambai di pelabuhan lain

2005-2006

Padang Ekspres, 2 Juli 2006

Fatris Mohammad Faiz
BALADA NEGERI TERCINTA
:Anna Akhmatova

Air matamu yang hangat melubangi
Lantai gigil es tahun baru
Pohon poplar penjara itu terus saja membungkuk
Tak terdengar sesuara—namun betapa banyak nyawa
Tak berdosa tengah menghampiri mautnya sendiri.

Di Odesso, suatu saat tak ada lagi arak,
pun arah kehilangan dari pendar dan matahari lewat. Ukraina meresap
negeriku perlahan akan lesap dalam sorak-sorai

hinggap dalam cermin dan pantulan nama-nama
dan kota, kelak akan meninggalkan bentuknya di wajah
Senapan tua atau warna warni
Kembang yang menempel di tubuh remaja, tubuhku.

Seseorang telah berangkat, menyeberangi senja berpuluh tahun
Memanggul senapang tua dan tak pernah kembali

Padang Ekspres, 20 April 2008

Fatris Mohammad Faiz
CERMIN
:Hafidz Mamuk

Di kamar aku berkaca pada ejaan lama
semua membuangku
ke jalan-jalan, ke sesak
ke boutique.
Semua serba tak berwarna.
Serba tak teraba.

Aku bercermin pada retak cuaca
banyak garis di muka
tak terbaca.

Aku keluar
Jalanan sepi
Malam-malam tak peduli

Seperti masa silam

Padang Ekspres, 20 April 2008

Fernando
Untitled

Aku membencimu
karena kamu
pengobat rindu,
pencerah imajinasi.

Aku membencimu
karena kamu
penyegar dahaga,
penyejuk jiwa.

Aku membencimu
karena kamu
inspirasiku.

INS, 2006

Singgalang, 3 Agustus 2008

Fernando
Sajak Mati

Aku masih berkerudung resah
Patah, menyiksa jejak waktu di dada
Aku tidak tahu dimana kau berada
Kau mengapa
masih mau kau mengatakannya

Jika kau gerai langkahmu di mataku
Mungkin hujan ini kering sudah di baju
Masih ada berita kau serta
Dalam belanga,
Kau tidak di sana

Padang, Juli 2008

Padang Ekspres, 07 Desember 2008

Fernando
Kopi

Kami sudah duduk di atas matahari
menelan ludah menunggu
tenggelamnya kelam
tetap bersabar
karena sebentar lagi kami hilang
namun jangan cemas
besok kita jumpa lagi

Padang, 2008

Padang Ekspres, 07 Desember 2008

Fernando
Sajak Tidur

Dia itu diam terbaring
tidak sunyi membaca kata kata
walau seolah gemetar menarik narik nyawa
dengan seru di atas dipan jingga
apa tak ingat, apa akan remuk dalam perang

katamu dulu dia itu penuh kutuk
mengepul, mengumpul benci dan sesal
sesal bukan dalam ucap
ucap pun bukan dalam tarikan garis vertikal
meniti hitam di atas teka teki yang mengajak aku
mengiris mata bisu menutup ragu

kamu memang lupa akan birahi
dalam rintik rindu masih pada jejak
menikam nikam sedih tentang pesan
pesan pada dia itu berhimpitan
dalam pagi

Padang, Januari – April 2009

Padang Ekspres, 19 April 2009

Fernando
Tembakau

gerak tanganmu tiada kaku
ketika asyik meracik candu
bersama seorang penangkap waktu
kau menggulung tembakau dulu
saat ingin mengantar aku
lewat asap tanda
usai melepas rindu
purna jua menjadi abu

malam juga mengutusmu
kala aku tiada selalu
mengikatmu dalam saku
dengan semerbak aroma itu
jasadmu tetap menebar rindu
walau tiada kata yang harus kupaku

terus menguap bara dalam genggam
menerobos kenang tentang kampung
tempat kau dan aku
memulai semua rindu

Padang, Februari 2009

Suara Karya,14 Maret 2009

Fernando
Lilin Hijau

dari kemarin ibu mencari bentuk ciptaan baru
rencananya akan dibentuk seperti apa ada padamu
dari lempung itu, ia mulai menakar yang mana
akan mengisi buku jari dan mana yang hilang
dalam jurang garis umur yang selalu pergi

gundukan lempung itu ia sulap layak dedaun
teringat pada mereka yang selalu remaja dalam mata
meski satu kali pernah musim membawanya
merasakan tua sebelum lahir kembali
melewati pusaran waktu di bulan ketiga

usai insyaf dalam jenuh ibu meminang hijau
sehingga ia makin larut dalam bentuk
seolah tahu lempung hendak jadi patung
semakin kusadar ibu seorang kudus
yang gemar beternak batu
mengundang nyawa – nyawa sepi
singgah dalam ciptaan sendiri

Padang, April 2009

Padang Ekspres, 19 April 2009

Fitra Yanti
perhelatan kabut

datanglah
aku menjamumu
dalam sebuah perhelatan
kabut sesak nafas
kehabisan cium

datanglah, meski
hanya sekedar bertanya
kabar hujan desember
di tanah ini

masih
menyugu
berjuta gegar gigil

lalu tinggalkan saja aku
di tengah hujan gamang
memagut bibir basah
di deras yang tercurah

“ia selalu menjelaskan surat-surat
yang kau kirimkan
lewat renyai hujan
berdenyar
pada pesta kabut kali ini,”

kampung gigil, desember 2007

Padang Ekspres, 06 Januari 2008

Fitra Yanti
pelampung keramba

kukira, angin hanya kabar biasa
menemani angguk cemara
ragu
kala pagi jatuh di laman gigil
penuh lunau

“bangun, kau mesti meraih subuh di mata pukat, sayang”

lantunan ungu serupa cambuk
tiap sebentar berkesiur
menggoyang pelampung keramba
sesekali mengkuncindani mata pancing
orang-orang berbaju dingin
dengan lesung pipi merona apel
riang menghadang rindu
pada sekawanan kulari
dibawa bergelut ke bibir
bila ia kesepian amis

begitulah aku,
melewati langit
tiap pintu waktu berderit

namun, senja selalu patah
di ujung dayung
terus menepi
ke sebuah dermaga latah
dan, aku
terus di belah risau
tentang esok yang tak terjual

“biarlah, sayang meski sisik-sisik
bertumbuhan di sebatang badanmu
besok tetaplah kayuh sang subuh dengan semangat fajar”

kampung gigil, desember 2007

Pikiran Rakyat, 19 Januari 2008

Fitra Yanti
sepi itu, belum juga padam

semua sepi padam sendiri*
tapi tidak padaku
aku mengeja ngilu
sajak-sajak
terlulur
di gurik waktu
selalu saja tega
melubangi aku

bayangan kabut terus memisau
di ujung mata
dan tarian angin bersijingkat
memarkan, leburkan aku lumat-lumat
mendemamkan sekujur

lagi, ingin kusampaikan:
“ia tak pernah habis”

*meminjam sebaris sajak marhalim zaini

Pikiran Rakyat, 19 Januari 2008

Fitra Yanti
desember; daun-daun basah

padamu pernah kukatakan hidup
saat bertandang ke daun-daun basah
sehabis hujan menyalak
sudut-sudut negeri
minggu pagi ketika itu.

kita dihuncang kisau
di penghujung siang
kata-kata tak jadi puisi
dan mulai berkisah
desember kali ini benar-benar basah
mata digenangi banjir
seketika
dipinang hujan
duduk di pekarangan daun muda

cerita tentang rumah daun
yang kita cipta
di masa kekanak
di belakang rumah

kini sehabis waktu,
kita diamkan rindu menyigi
belukar bisu
gambut nan gembur

desember, 2007

Padang Ekspres, 06 Januari 2008

Fitra Yanti
igau perempuan siak

selamanyakah aku di balik kaca
perempuan payau membaca kepulangan
di tikungan penat
di gerigi jembatan
berpendar mengejar bayangan sajak
anak-anak

selamanyakah aku mendandani sunyi
serupa pengasingan ibu-ibu muda
di lapak-lapak sore
sayup angin berdesir pada dada lapuk
kisahkan senyum yang pernah berniat jadi hujan

“lakimu baru saja pulang berkuli
dari seberang malaka !”

berkemaslah aku dengan sejumput setia
menghisap aroma daun pandan
dari tubuh terpiuh peluh
isi rahim dengan janin lugu
sebentar lagi orang-orang melihatnya berkecimpung
ke badan siak
ke buih yang telah lama mengalirkan bangkai

seperti kapal-kapal bubar
ketika kaca retak
tak ada siapa-siapa di sana

september, 2007

Pikiran Rakyat, 19 Januari 2008

Fitra Yanti
karam di tepi

aku bukan pelaut
yang seketika terkesiap
melihat ciri badai
namun kugasak juga perahu ini
ke laut yang setiap hari kau suguhkan

“melayari matamu
gelombangnya mengajakku karam
padahal masih di tepi,”

2007

Pikiran Rakyat, 19 Januari 2008

Fitra Yanti
aku di laut lain

aku hanya riak dari laut yang lain
sesekali meramaikan ombak
lalu
susup

agustus 2007

Pikiran Rakyat, 19 Januari 2008

Fitra Yanti
berbagi ladang

bisakah kita resapi luka waktu
bisu
ngilu

masuklah ke balik wajah samar
mengintip di jendela pondok
kebunnya ditindih kaki kota
sembunyi perih diam-diam
beku
sepi

benih kita
tak mungkin tumbuh
di sepetak tanah
miliknya

desember, 2006

Pikiran Rakyat, 19 Januari 2008

Fitra Yanti
gigil bibir dan secangkir kopi

tampunglah rentak hujan dari mataku
pagi ini lagi tumpah ke dalam secangkir kopi
minumlah,
barangkali bisa mendiamkan gigil bibirmu
bukan merapal yasin atau ayat-ayat sore
sebab aku ditakuti-takuti malam
teringat kedua tanganku tak lagi perawan
kala kau gasak jemarimu ke relungnya

kehilangan ini ngilu, tuan

desember, 2007

Padang Ekspres, 06 Januari 2008

Fitra Yanti
bulan demam dengan selimutnya

kehilangan ini ngilu
barangkali rela
tapi bila sebagai selimut dingin

di luar bulan mabuk mengintip
sebagai aku
tersudut
mengintip keriangan
dalam petikan gitar

demam panjang agustus kemarin
meninggalkan cibir

2007

Padang Ekspres, 06 Januari 2008

Ganda Cipta
Renung

Putih abu abu
Entah putih atau kelabu
Dari-Mu
Karena aku
Pada-Mu

Padang, Oktober 04

Singgalang, 21 November 2004

Ganda Cipta
AKU TAWARKAN DUNIA PADAMU

Dari rak rak yang memajang dunia kecil
Pada satu sisi ruang di depan jendela
Kulihat bulan merenungi nasib di tengah malam
Bayang wajahnya berduka dilindas roda roda
kendaraan yang mengejar cita cita manusia

Pada dunia kecil ini penuh dengan belantara kata kata
dari berbagai bahasa yang tak seluruhnya aku mengerti
Kadang begitu buas mengaum menjagakan malam
dan kadang dengan lembut bernyanyi menidurkan siang

Kemarin lusa kita bersua tiada senyum dan air muka
hanya bunyi tapak tapak kaki yang saling bersautan
dan banyak kata ingin ku bisikkan dari jendela yang selalu terbuka
“ini dunia, bukan sekedar lembaran lembaran dengan bermacam aroma tinta”

Ku sangsikan ketulianmu hingga diam saja
Ku awas pada buta matamu ketika meraba senja
dan malampun telah merestui kita bercinta
di antara rak rak dan jendela yang terbuka

Padang, 20 Januari 05

Dua Episode Pacar Merah, DKSB dan Yayasan CBI Padang, 2005

Ganda Cipta
Siti Nurabaya di Pagi yang Renyah

ada senyum yang tertanam di seonggok bukit berbuah mitos
serupa kanvas bersetubuh dengan warna yang melahirkan rupa
bagi laut dan langit, ia bukan sekedar kesetian

tak kusangka, riak batang arau memecah dalam perut kegelisahan
adalah benci yang melesat dari patahan-patahan angin
sementara di rahim seorang ibu, siti nurbaya mengibarkan bendera
tapi jalan penuh darah, silau oleh tulang-belulang yang menancapkan diri
pada etalase-etalase sunyi yang menyimpan lanskap sebuah kota

kini mimpiku bagai api dalam sekam, memeluk hangat kerinduan
dari sebentuk perjalanan asap yang mengapai-gapai langit
jika untung malang datang bersama hujan, barangkali liptan-lipatan waktu
telah mengusir senja pada pembaringan malam, hingga bermil-mil pantai hilang ombak
tapi rindu itu terbakar seperti berhektar-hektar hutan

lalu, siti nurbaya mampir dalam pagiku yang renyah
melembai-lambaikan sehelai selendang kusam berwarna putih
dari kejauhan ia berbisik ingin pamit dan tak akan balik
kali ini kesedihan dimataku benar-benar kering
sekering padang pasir yang membentangkan siti nurbaya lain
pada tidur-tidurku yang lain

begitulah, seorang perempuan datang dan pergi pada satu kesempatan
tak membiarkan kengan jatuh pada gulungan zaman
kemudian berbait-bait sajak mencari jejak pada sebuah bukit
di antara laut dan langit sepenggal nisan mengirim derita
penantian itu tak pernah mempunyai nama

Padang, 04 Agustus 2007

Padang Ekspres, 11 Mei 2008

Ganda Cipta
Figura Padang Karbala

dingin yang menyiksa sepi meluruhkan cahaya malam
kabut-kabut merayap di dinding-dinding nyiur
menjelma sebagai air mata, mencari sebentuk lubuk
yang dulu menjejakan sejarah dalam figura berwarna merah

dari gurun pasir berabad-abad lalu
parade duka menghoyak replika dendam
tumpah dalam biru laut yang bergemuruh
menatap langit jauh padang karbala

berduyun-duyun kepala meratapi bulan di awal tahun
lesap bersama nyanyian-nyanyian merdu perempuan muda
dari hikayat syair tua bagindo malin

seratus dua puluh luka menantang kematian
dalam ringkik dan derap telapak kuda

seratus dua puluh luka terbingkai di padang karbala
berkecamuk dendam dalam riak berketurunan

Padang, 11 Januari 08

Padang Ekspres, 9 November 2008

Ganda Cipta
Mulaqat
:jejak dari reruntuhan kota lama

kota itu seperti tenggelam dalam sepi
setia menanti zaman yang telah hilang
hingga gemuruh laut jadi sia-sia menghempas pantai
memunggah kenangan di selat yang menghalang

perigi bukit cina teronggok di dataran malaka
tempat hang lipu bersemayam dondang sayang
dari sana aku lihat kapal-kapal bersilang siur
melayari sejarah yang pecah dan terpisah
seperti januari yang selalu kembali
dalam lekuk musim yang bertikai pada asal

kota itu seperti menyusup dalam barisan kata
menderapkan langkah pada bibir pantun orang melayu
sesejuk air perigi, semanis pisang jarum, sebesar bendahara
di tanah yang menemukan anak segala bangsa

beginilah aku menziarahimu dalam sua yang bersauh darah
menikam puing-puing kota yang berserakan dalam pengkhianatan
dan jejak kita tak akan tersapu gelombang laut yang makin dangkal
selama desember setia di akhir tikungan mencatat kenangan

Padang, 15 Januari 08

Padang Ekspres, 9 November 2008

Heru JP
Semenjak Lumpuh

Semenjak lumpuh, ia pindahkan laut
ke kursi roda. Burung, pohon kelapa,
dan angin, ia titipkan di kolam renang
pada sebuah denah dalam dirimu.

Semenjak lumpuh, ia pindahkan langit
ke kursi roda. Segala cuaca, ia sisipkan
di setiap pohon dalam dirimu.

Semenjak lumpuh, ia pindahkan dirimu
ke diriku. Rasa ingin mencair, melebur
dan meleleh, ia simpan dalam dirinya.

2007

Padang Ekspres, 23 Desember 2007

Heru JP
Semak Belukar

Seperti akar beringin melilit patung di tubuhmu: urat-urat di tubuhnya
menggeliat, menyembul di balik kulit. Kadang mengayam, membelit
seperti ular di batang hati, menggelepar seperti cacing di dasar diri.

Seperti pangkal beringin yang dipahat jadi patung di tubuhmu: bagian
tubuhnya dipahat jadi dirimu, lalu mengelupas di kulit jiwa, membenam
dalam semak belukar pada perasaanku. Dalam perasaan semak belukarku.

2007

Padang Ekspres, 23 Desember 2007

Heru JP
Tambang

Rohmu seperti membesar: tubuh ini begitu sempit,
Adakah tubuh lainmu untuknya?
Ia tampak memanjang, memahat lebar, dan menjadi
ruang kosong dalam dirimu.

Rohmu seperti mengeras: tubuh ini begitu rapuh,
Adakah tubuh lainmu untuknya?
Ia tampak menyebar, menggilas bekas, dan menjadi
tambang dalam tubuhmu.

Menambang ruang kosong sampai ke dasarmu.

2007

Padang Ekspres, 23 Desember 2007

Heru JP
Sebelum Lahir

Kucintai malaikat maut
karena di bibirnya senyummu terpaut
Kusampaikan bisuku dengan seluruh bahasa
tapi mulutnya masih menganga

Kucintai malaikat maut
karena di lidahnya jasadku tersangkut
Kusampaikan butaku dengan segala raba
agar ia rela membuka segala doa

2008

Padang Ekspres, 1 Februari 2009

Heru JP
Kepompong

Maukah kau membentangkan hamparan di tubuhku?
Hamparan yang melantaikan badanku. Aku ingin
melepas selaput di kulit diriku.
Selaput apa yang kaubentangkan di tubuhku?
Tampak seperti keriput; bagai kepompong
membalut kusut.
Kepompong yang entah kapan berhenti merajut tubuhku.

2007

Padang Ekspres, 1 Februari 2009

Heru JP
Kepada Penyair Padang

Pelabuhan telah mengirim badai:
memastikan kapan tibanya kapal yang kita tunggu.
Tapi kita tak tahu badai apa yang sanggup
membawa pulang kapal itu. Kita selalu berharap
kapal segera datang dan kita pun bisa benar-benar berangkat
ke tempat di mana Malin Kundang
pelabuhan terakhir bagi ombak dan batu karang

2008

Padang Ekspres, 1 Februari 2009

Heru JP
Puisi untuk Kekasih

Boleh kausebut bukan puisi
sebab kata-katanya tak berjanji
menyepakati kalimat yang dicari

Boleh kausebut bukan puisi
sebab kata-katanya belum kaumiliki
Tapi dalam diriku ada yang menanti
dirimu menjadi kalimat-kalimat sendiri

2008

Koran Tempo, 8 Februari 2009

Heru JP
Sarapan

Begitulah aku sarapan. Menerima masakan
dari pedalaman cintamu. Kuhembuskan decas
dalam pedasnya. Kau tak tahu
sampai kapan akan kukenyangkan puisi-puisiku
Mungkin sampai kumuntahkan sendatan
bahasa yang belum terucap lancar kepadamu

2008

Koran Tempo, 8 Februari 2009

Heru JP
Terbangun Tengah Malam Setelah Bermimpi Menjadi Kedua Matamu

Apa yang paling dalam di bumi ini, katamu. Sungguh
aku tak tahu. Bagiku sejauh apa mata memandang itulah
yang paling dalam dan barangkali itu pula yang paling dangkal.
Adakah yang lebih dalam dari jurang, katamu. Sungguh bukan begitu.
Bumi ini begitu dalam, takkan pernah kaulihat dasarnya.
Mataku atau matamu hanya sanggup melihat sebatas jurang.
Jauh setelah jurang entah apa namanya, entah dengan apa melihatnya,
entah dengan apa ke sana: aku teringat air terjun yang hendak
membawa jurang ke dasar bumi dan mereka tak kunjung kembali,
meski entah berapa sungai mencoba mengikuti.

2008

Koran Tempo, 8 Februari 2009

Iggoy el Fitra
Soneta Venezia

Aku menyusuri sungai yang keloknya kusut berlatar kabut
menjagai warnamu yang lembut
Dengan gondola, kukayuh dayung tunggal
seberat dosa dan gelombang tubuhmu
dari pelabuhan duka, menyapa setiap kanal beraroma luka
“Hoaiaaaaaaaaaoiiiii” pekikku pada dinding-dinding balkon masa lalu
Siluet riak memantulkan suaraku berkali-berkali, bertubi-tubi
Terhunus hingga ke bibirmu yang mengertap tertusuk duri

Ah, ini adalah perjalanan

Di atas air, darahku mengalir dan kau tak bercermin kepadanya
seolah hanya membaui anyir
Di dahimu telah kugoreskan cinta dengan belati
Tak ada perih, tak ada pedih, tak ada lirih,
sebab yang kusayat serupa hati sendiri

Bukankah perjalanan juga kenangan?

Perjalanan kau jadikan daun kering
yang kaupijak menjelang lelahku ke dermaga
Kau takkan mengingat bahkan mengenang bunyi remuk ruas-ruasnya
Lalu kita tahu siapa yang begitu dungu
“Antarkan aku ke masjid usang di depan katedral,” pintamu
Barangkali nanti di sana kita menjelma satu manusia penuh rahasia
Kelak akan melahirkan rahasia lagi untuk sebuah rahasia

Ada dendang pilu di dadamu pada akhir perjalanan

Hanya berdua mengapung menanti mautku di sebuah ujung
“Hah, mari kita tuntaskan perjalanan ini!”
Aku menceburkan tubuh ke dalam pekatnya kenangan
berenang mencari gelombang tubuh yang lebih tenang
Membawa lebam di kepala dan seribu jahitan di jiwa
Kau lantas mengayuh dayungku, menemui khafilah tua yang bisa kauajak berpesiar dengan kapal keliling dunia yang lebar
Kau berkelakar:
“Kenangan adalah sampah yang harus dibakar”

Ilalangsenja Padang, 21 Mei 2006

Catatan: – Venezia, kota di Italia yang terkenal dengan gondolanya –perahu berdayung tunggal.

Herbarium, antologi puisi 4 kota, Pustaka Pujangga, 2007

Iggoy el Fitra
Kepada Puisi

Kepadamu, puisi, kuserahkan gemericik sungai
batang-batang tebu yang menjulai
di tepiannya, pematang mengalirkan air pemandian sawah
Ambillah, puisi, ambillah lanskap itu
bersama rintih ruak-ruak, menyisa riak-riak
di atas genangan buntu bandar

Kepadamu, puisi, kuberikan kepak kupu-kupu
menelikungi asap pembakaran kayu
di kaki batang pinang. Lelalat buah bertebaran
menjelang senja, berteduh di bawah rerimbun cempedak
Dekaplah, puisi, dekaplah segala yang bergerak
bersama lantun ngaji dalam siluet pohon kelapa

Kepadamu, puisi, kuperdengarkan ciap-ciap pipit
terbang membawa helai-helai daun panjang,
di pohon ambacang mereka mencipta sarang
Dengarlah, puisi, dengarlah mereka beradu tembang
Bernyanyi serta keluarga katak dan cipak ikan nila

Tapi sediakah kau, puisi, kubiarkan langau-langau
mengerubungi bangkai
di patahan sungai?

Ilalangsenja|Padang 25 November 2007

Kampung dalam Diri, antologi puisi 5 kota, PPLK, 2008

Iggoy el Fitra
‘Hestychane, Oyasuminasai’

Bunga yang tidak pernah lelah
Aku akan membiarkanmu terbang demi pergantian musim
Ikut berenang bersama koinobori ke hulu sungai yang bening airnya
Tak ada kodomo no hi atau bahkan aki matsuri
Kau hanya terus berjingkatan dan menyetel turbo level lima
Melesat, melintasi Teluk Enoshima seperti shinkansen Gunung Fuji

Menerobos badai dan menumbangkan pohon-pohon jyooryokujyu yang pernah menghangatkan kita kala dingin salju bertahta
Onegaishimasu…
Aku hanya masih ingin melihat guratan tawamu esok pagi

Ilalangsenja Padang, 10 Maret 2006

Catatan:
Koinobori: Bendera berbentuk ikan; dipasang pada hari anak di Jepang
Kodomo no hi: Hari anak
Aki matsuri: Perayaan musim gugur
Shinkansen: Kereta cepat
Jyooryokujyu: Pohon segala musim
Onegaishimasu: Tolonglah
Oyasuminasai: Selamat tidur

Lampung Pos, 14 Januari 2007

Iggoy el Fitra
Hikayat Pinang Masak

Bunga pisang jantung hatimu, ya Patik
Siapa tak sayang elok parasmu yang cantik

Syahdan, aku mengingatmu sepanjang hulu
Di Ulu Lautmu, pinang yang dicari-cari orang
sampai ujung rambutmu
bidadara-bidadara Palembang menyerang

Tiada yang dihendaki Sunan, ya sayang
selain hadirmu, selain legitmu
terbang-layang di lingkarnya sebagai
dayang-dayang
Kelak disuruhnya kau
memelintir sungut dan birahinya yang berkicau

Kau tahu hulubalang hendak datang
menjemput dan menjadikanmu perempuan istana keseribu
Di sana, kau cemas, nantinya seperti boneka
berhidup hampa dengan melas di dada

Rebuslah-rebus jantung pisang itu, kata ayahanda
dan mandilah kau bersamanya
setelah airnya tak lagi bergelora

Ketika mereka datang, hatimu riang
tubuhmu menjelma hitam-legam
seperti manusia yang seram
Kau beri senyuman kecut
kepada para penjemput
“Aku Patik, Paduka, si Putri Pinang Masak,” bisikmu
Hulubalang yang malang, hatinya bingung bukan kepalang
lalu hendak bilang,
“Putri Pinang Masak namamu,
Sunan akan sesak melihatmu.”

Dibawanya juga kau ke istana
Maka Sunan pun bergidiklah
Kau pun bergiranglah

Enyah dari hadapnya

Kau pulang
rayuan lama datang
Pemuda mabuk, mereka terpuruk pada syair-syair kepayang

tiada beban dicari beban
batu digalas pergi meretas
bukan buatan hatiku rawan
lirik dilepas dapati balas

baru ditanak si nasi pulut
temannya nasi sambal mersik
si pinang masak hatiku hanyut
budi terpuji putri nan cantik

Tak ingatkah kau, Putri
di seberang sana ada bahaya
tengah mengintai dan mengejar-ngejar

Kaukira mereka – manusia seberang–
percaya begitu saja?
Tidakkah kau tahu,
Hulubalang itu kembali dengan perahu
untuk langsung menyeretmu

Sunan telah murka
Dan kau masih dicintai petaka

“Pergilah pergi anakku sayang…”
Bundamu berujar seolah kau adalah fajar
yang patut dicarikan pagi tempatmu memekar

Sisirlah laut itu sekarang
dari sungai Ogan ke teluk Lancang

Tangisi saja, Putri
biar air mata yang mengantarmu
lewat bahtera, menyisir rawa
dan paya-paya
pergi dari kampung tercinta

“Oi, Empat Ulu Laut, hatiku surut,
biarlah aku hanyut
dalam sedih yang membalut.”

Kautangisi saja, Putri, tangisi tangis
hingga air matamu habis
dan sedihmu tertinggal di sana
berkeping-keping beriris-iris

Di Lembah itu, kau datang padaku
dan kepada mereka –orang-orang dusun–
kauajarkan santun
kauperlihatkan bagaimana
menjadikan hidup begitu anggun

Orang-orang itu berteladan kepadamu
Bergelantungan di cerlang auramu

Lantas kepadakulah, kausuguhi gulai
yang tumpahnya tak bisa usai
di atas anyamanmu
Kau tahu, aku hanyalah pandai kayu
yang tak pintar merayu, apalagi
membalas senyummu nan ayu

“Hanya umbang sagu, ya Putri.”
Umbang sagu berdepa-depa di hadapmu

Suatu hari kelak, kauanyam
emas-emasku, dan aku
mencarikan picis-picis kayu
untukmu, agar air mata
tak lagi bisa menembusnya

Demikianlah, sebuah kisah
menyamarkan kita yang berserah

Ini kali, aku si Sungging
membuahi mimpiku sendiri
mimpi-mimpi yang pernah diimpikan orang

Aku memuji, kau memuja
teruntuk sekerjap cahaya
nantinya

Ilalangsenja|Padang 25 Maret 2007

Ibumi: Kisah-kisah dari Tanah di Bawah Pelangi, I:Boekoe, 2008.

Kurnia Hadinata
Lagu kota kenangan

Kukira beginilah jadinya, kurajut sendiri warna hidupku, aku kemas kesedihan dan kesepian, aku tinggalkan senja di kota ini dalam gigil selepas gerimis menyapa.
Di perjalanan kubayangkan jalan kenangan dan barisan pohon tropika yang beku terseduh angin seperti sungai dan laut berkabung merayu mendung mengucurkan hujan dan secuil tangismu di ambang perpisahan itu.

Langit stasiun dan wajah orang-orang senja, juga wajahmu adinda seperti mengisyaratkan sesuatu, mengajakku ke perjamuan pesta pora, namun tanah menawarkan aroma kesedihan yang berapi, sebuah keberangkatan tetapi seluruhnya seperti mengisyaratkan kedatangan.

Ingatlah setangkai mawar yang kuberikan padamu di awal April yang sembab, selepas kupu-kupu meniupkan roh menuju musim purba, kita menjadi sepasang pengantin primata, berbicara dari hati ke hati dan kulihat matamu menangis, hujan membawa mimpi dan angan kencan pertama ke hari nan mengelupas gaib.

Kekasih hujan kusebut namamu, selalu aku selipkan setangai mawar di pintu rumahmu di setiap penghujung minggu, ketika kota kita larut dalam weekend yang sibuk. Kita berjanji bersama mengusir aroma kematian dan kesepian, lalu pergi membawa duka gulana, merendanya menjadi taman firdaus dengan gemintang yang indah tempat tumpuan harapan kelak.

Kini semuanya menjelma menjadi mimpi, dan ketika terjaga kita pun saling berkemas menunaikan langkah masing-masing menaburkan jejak di kota ini, gerimis dan setangkai mawar telah hanyut menjadi karang keabadian
.
Bandung, 24 April 2006

Majalah Horison, Februari 2007

Kurnia Hadinata
Tangis Berenang Dalam Mata Kita

Tangis itu dinda, angin dan lagu yang mendiami palung-palung
Adakah nanti kita di persimpangan itu menempuh musim hujan
Dari kepungan gerimis, hari-hari yang teramat lusuh
Dan waktu yang kurus terbenam pada jejak pagi.

Kedukaan, selama kornea mata kita tidak hilang
Bergulung dalam diam, lagu sendu dan tangis terakhir
Tubuh yang kita rapuhkan dari kedukaan muda-muda
Mungkin dari alur silsilah yang sudah kita tulis
Mendiami kebahagian dan secuil aubade dari air mata
Lebih luas dari tangis di hadapan kita

Dan kita tumbuh dari perut alam, seperti sajak-sajak kering
Menjaring pekat karang dan kabut-kabut yang tercekik
Tangis itu dinda, ia berenang dalam mata kita

Panti Pasaman (Rumah Teduh) Agustus 2007

Majalah Horison, Agustus 2008

Kurnia Hadinata
Bukittinggi

Kotamu begitu gigil
Aku katup dalam mantel dan sehelai syal hangat
Seteguk kapucino mungkin juga kegelisahan hari
Dan kitapun larut dalam percakapan
Membuat negeri di dada sendiri

Orang-orang seperti menjaja matahari
Dari dentang jam gadang yang semakin merisaukan
Dari abad dan kaba-kaba yang malas bertutur

Padamu di bangku-bangku bulevar
Derap langkah di seribu jenjangmu
Tak kutemukan lagi sebingkai kemarau
Juga lepak-lepak dan payung
Warna-warni di pasar bawah

Oh, kota kenangan
Kota amai- amai
Kota sejuta historis
Dimana seribu ceruk ceritamu mendiami
Dekap lagu lama dan halaman terakhir
Sebuah perjanjian mengais
Dalam- dalam rupa kita.
Bukittinggi 23 Juni 2007

Majalah Horison, Agustus 2008

Kurnia Hadinata
Sebuah Sajak Tak Romantis
Setengah Bercerita
Buat Abna Hidayati
Aku merasa tergadai melihatnya
di dalam redup lampu jalan dan kegaduhan
Di apartemen kecil di dekat Harvard Square,
jantung kota Cambridge, berdenyut
dan itu cukup bagi kami untuk memulai
setelah pernikahan itu tergelincir
mungkin terseok lalu berjalan entah kemana

Aku merusaha merapat, “Bagaimana perjalanan ini?”
tetapi dia sudah tidak lagi berminat dalam keraguan
menulis, dan entah jengah menghabiskan kapucino
pada teguk terakhir yang terlalu malas

Di wajahnya, burung-burung berkeliaran
lagi, kami bahas tentang libur musim panas lalu
menyusun sepotong demi sepotong mozaik itu
mungkin saja, tetapi matamu menawarkan api
kami membuka jalan sendiri-sendiri, tetapi terlalu kabur
pada masa yang berhaluan menuju rumah itu
mereguk silsilah masing-masing

Pertemuan ini terasa menyiksa, ‘Bagusnya kita akhiri saja!
hujan menggelepar, wajah Cambridge semakin cemas
seperti dara yang ragu akan kekasihnya
kami lekas menutup isi kepala, mengemasnya sebagai bekal

Kita lupakan saja
anggap tak saling kenal
buat apa diingat, diingat pertemuan sentimentil ini

Aku kembali merasa tergadai melihatnya
di dalam seringai hujan dan kesepian
Di apartemen kecil di dekat Harvard Square,
jantung kota Cambridge, tak kunjung padam
mengelupas seperti ribuan sirip yang berderai
melupakan semuanya, kami berpisah lamat-lamat
dan lelap yang ganjil ini

Rumah Teduh April 2008

Majalah Horison, Agustus 2008

Kurnia Hadinata
Malam Pernikahan

Malam pernikahan
aku menanggalkan jubah ini, setelah penat penjadi ratu
Setelah semua orang-orang melepaskan tawa canda
Dan piring-piring kotor, kata selamatan, sampah dan kepenatan
dan barangkali kau jengah dengan seremonial semacam ini

Kita tak lagi terbuai dengan dendang dangdutan kampung itu
suara serak dan goyang binalnya seperti mencibir dan memaki
; tetapi semua undangan terhibur dibuatnya, persetan peduliku

Mungkin, larut malam tak meninggalkan jejak
dan kau tak jua kunjung menjejaki pelaminan itu
burung-burung sudah lebih dulu berlabuh di sarang-sarang
di pohon, lembah-lembah tersunyi dan malam teramat keramat

Bisakah kau sedikit mengerti dengan hasratku ini? Memasukkan kata
Dalam setiap ceruk tubuhku, dan aku lukis puisi kurus
atau berlayar ke dalam labirin mata kita yang cekung seperti teluk?
laron-laron lebih riang dengan nyanyiannya
semakin menyudutkan kita pada kepenatan ini
mungkin kau bisa melukis cerita kita di rahimku, atau sedikit
tak cukup menggoda berlamat-lamat membuat janin

barangkali, ada banyak cerita yang tak kunjung sudah
untuk dihidangkan sebagai menu sarapan pagi
membayangkan anak-anak manis memanggilku Ibu

Aku merapikan jasmu, layaknya
dan melepasmu bekerja dan membuai angan
Melayangkan semuanya kembali ke muara

berhentilah menyajikan dadaku pada celoteh kantormu
karena api, laut karang-karang akan menghempas
: karena aku istrimu

Rumah Teduh, April 2008

Majalah Horison, Agustus 2008

Kurnia Hadinata
Nostalgi Mengantarkan Mu (Perempuan dengan Mata Terindah)

Re, daun yang sembab, menangis dalam jejak hujan bergegas seperti perjumpaan kita dulu pada stasiun perpisahan. Wajah manusia senja yang sibuk semakin geris mengajak kita pada sebuah kemungkinan. lalu mengeras dalam palung dada. Satu desibel tembang kenangan nan syahdu seperti berlari memangil air mata “ sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan,” Orang-orang seperti mengemis kesedihan di mataku, juga mata anak kita Re.

Pegang erat tanganku Re, aku akan mengantarkanmu, pucuk-pucuk pinus dan kabut yang mengitari magis dalam alunan kasih deru motor tua ini. Inilah perjalanan yang menetas di setiap waktu yang kita rebus bersama. Karena akulah lelaki yang akan setia menjamu tangismu. Jangan tengok kebelakang Re! Biarkanlah bekas jejak kita, biarkanlah kenangan di padang belakang sekolah itu berlalu dihapus hujan sore mengalir menuju laut dan samudra yang menjadi fosil sejarah kita kelak.

Senandung hidup semakin menderu meninggalkan tangis demi tangis yang kian menyayat, aroma penjaja jagung bakar, secangkir kapoccino hangat dan dingin yang semakin menebal, kau lilitkan dagumu di pundaku, kitalah pemuja kepulangan itu, mengalir dalam likuk dan balut angin gunung yang meringkuk menahan kerinduan.

Kemana kita Re? Ke kampungmu, ke dusun dan rumah pinggir kali dengan aroma bambu dan aku rindu gemericik hujan yang menyentuh hangat ujung-ujung daunnya, juga pada ibumu yang selalu mengalirkan cahaya dalam canda tawanya. Re, di tepian perjalanan aku ukir wajahku di punggungmu, mendiami kerang dan palung-palung terdalam hatimu, aku lukis luka-luka dan pesta pora yang memanggil tawa ria untuk anak-anak kita.

Re, perempuanku yang ku pilih dari gadis terlahir, dari laut, bukit, gunung dan dusun-dusun yang ngilu, hapus air mata itu, jangan biarkan kesedihan menjadi raja dalam kerajaan hatimu. Jika waktunya tiba, malam yang kesepian dan lolongan anjing-anjing kampung menyerbu kerinduanmu padaku, maka aku akan pulang dari rantau sakti bertuah yang memberikan aku makna hidup.

Re, nafasmulah yang kian menjalar dalam nadiku menjadikan aku laki-laki yang tegar menetaskan perjalanan ini menuju stasiun terakhir dan berharap kau menungguku dengan setangkai mawar dalam rupa senja yang teramat melankolis, kaulah yang ku pilih dari perempuan-perempuan terlahir menjamu seluruh perubahan zaman dan dekap matahari yang kurus membakar rupa.

Padang-Pasaman Akhir Maret yang pucat 2006

Majalah Horison, Agustus 2008

Kurnia Hadinata
Narasi Hujan

Aku tidak mau menjadi penanam benih karang di pantaimu. Ketika kapalku oleng dan derai bibirmu menjamu segala yang ditawarkan matahari padaku. Semuanya akan mengigil beku. Tapakku semakin geris tak bisa membekaskan sejarah di sekujur tubuhmu. Marilah pulang elakmu, menuju pesisir dengan segala kedamaian memanjakan mata kita.

Aku belum berkemas, ketika hujan menyisir segala kabut menuju kematian yang semakin mendekat. Tidak ada kata, ketika hujan itu, segalanya gigil. Lalu rambutmu menjadi nyiur-nyiur mengipaskan anginmu menuju muara-muara, tiba-tiba kapalmu berlabuh di rahimku. Menurunkan awaknya lalu menanam bibit senggama itu sebagai sebuah perjanjian terdahulu.

Aku tidak mau menjadi pengukir kematian di punggungmu. Tidak juga sepasang payudaraku yang membuatmu tabah dalam genggamanku.
Kakanda, lihatlah sepasang malaikat mengajak kita menceritakan lagu pertemuan dulu , dan beranjak mambuat sarang di bekas pantai tempat dimana sauh bahtera pertama kita tertambat.

Sekarang, seperti ini kiranya sebuah perpisahan, antara aku perempuanmu menunggu dengan janin di perutku seperti kebun bunga dan segala kumbang yang mengitarinya.

Majalah Horison, Juli 2005

Mike Juni Yanti
SARUNG PISAU

merentang membentang malam
dalam pisau tanpa ganggang

aku cermin wajahmu
kilau kilatnya memilihku dalam liku liku
mengiris redup remangku sebagai gadis kecil
yang pasrah menunggu bulan dalam keranjang
berjalan sebagai peziarah menuju bibir waktu

aku ingat deret alismu yang terakhir
mata sayu dan pipi pualam
sebelum kau membangun rumah layar
memberiku segenggam mega

aku teduh dalam sejuta bait zikir
namun rumahku makna dari hikayat pelaut
yang tak pulang saban petang

kau yang pergi dalam derit pintu
bersama warna bukit lancip
tanpa pesan
hanya kembang langit saat aku dijendela
satu persatu berlepasan dari sarangnya.
Bukittinggi, 2008

Padang Ekspres, 29 Juni 2008

Mike Juni Yanti
TAMU DARI SELAT

berjalan dari lorong ke lorong kotamu kotaku
menebarkan aroma kubangan
tempat orang buangan melukiskan nasib
memahatnya dalam pecahan angan angan
di kolopak mata masing masing
menelusuri asal dalam cahaya redup
setia hanyut dalam relung kali
menambatkan doa doa

menulis lembar demi lembar silsilah
di antara guguran riwayat
dalam kebun kebun bakau, sawit, karet
menyuguhkan tenunan kabut sebagai
kesetiaan pada penjuru mata angin

hidup berbilang musim
menerka nerka jarak
di selat mana kita ditenggelamkan
lalu mengapung di sudut nadi masing masing

Padang Ekspres, 29 Juni 2008

Mike Juni Yanti
TUBUH GERHANA

meminang masa kecil
diantara masjid, rumah dan beranda
nyeri yang berjalan pelan
sekarung impian di ladang do’a
aku menggelinding
mengayuh di muara berharap meminang hulu
merayu dalam satu perahu
menyimpan kenangan sebagai kunang kunang
menunggu hujan berwarna jingga
dan langit terbuka

setajam salam yang kudengar
“ begini rasanya menetas di tubuh gerhana” katamu

seperti hujan kita tak pernah tahu itu cahaya atau kilat
suaramupun kian lerai mencucup bibir surya
meninggalkan getah embun di batang tebu
sisa matamu pias di bukit kapur
meninggalkan secerlang kuku
Bukittinggi, 2008

Padang Ekspres, 29 Juni 2008

Mike Juni Yanti
TANJUNG

siang menyusut ke hulu
di lingkar urat nadi menunggu api
apa yang membunuh kelopak berlahan

saban hari datang
kau jadi bunga tanjung yang nyeri
di kedalaman cinta yang rahasia
impian menjadi sekawanan maut yang bergandengan

aku tak ingin menangis
sebab tangis mengutuk bumi
mengantar sengsara batu batu
membangkai berlahan lerai

di rambutmu yang urai kau menyimpan senja lengang
apakah kunjungan ini sebuah kepulangan
sementara guratan nasib kita arah yang tak bertemu
sebab aku bukan waktu berhenti di kesenyapan nadi

Bukittinggi, 2008

Padang Ekspres, 29 Juni 2008

Muhammad Subhan
TENTANG DERITA SUMI

kutahu kau membenci setiap bayi yang lahir
dari rahimmu yang kotor, sumi
seperti kau juga membenci setiap lelaki yang meniduri
tubuhmu ketika malam meninggalkan sisa-sisa nafsu
dan birahi diantara ruang yang temaram
sebab tak disinari penerang dan sehelai selimut
yang menutup semua kebohongan yang kau tawarkan;
janji, rindu, cinta, dan tentu juga uang.

ketika malam ini tiga lelaki meniduri tubuhmu
untuk kesekian kali, seperti tanpa pamrih kau tersenyum
menyetujui semuanya tanpa merasa berdosa
bahwa benih yang mereka tanam juga akan
melahirkan bayi-bayi yang selalu kau benci itu.

tapi ketika malam telah larut dan tubuhmu
semakin tak berdaya menahan derita yang perih
kau malah berteriak menyumpah serapahi ibumu
yang telah lama terkubur di bumi
dan menumpahkan semua kesalahan itu padanya
mengapa dia telah melahirkan tubuhmu yang hina.

kutahu, batinmu yang suci itu diam-diam mengutuki
tubuhmu yang dekil, kotor dan berkubang lumpur dosa
tapi kau tak peduli semuanya
seperti ketidakpeduliaanmu pada
bayi-bayi yang lahir dan mati di rahimmu
setelah kenikmatan semu kau teguk
bersama anggur dan setumpuk uang yang diselipkan
lelaki hidung belang diantara blus biru kumuh dan lusuh
yang entah sampai kapan kau lunasi hutang kreditnya.

di malam menjelang pagi ini, sumi
entah mengapa tiba-tiba kau tadahkan tangan
tinggi ke angkasa dan berteriak sekuatnya sebelum nafasmu
yang terakhir lepas dari jasadmu yang dekil dan kotor
sekotor darah di rahimmu yang telah melahirkan bayi-bayi
kesekian kali untuk hidup lalu mati.

Padang, April 2003

Mimbar Minang, 26 Juni 2004

Muhammad Subhan
SUATU PAGI DI PASAR PADANGPANJANG

ketenangan yang syahdu
bau bunga di etalase toko
buah-buahan
suara telapak kaki kuda
dan asap bahan bakar
yang begitu akrab.

Padangpanjang, 2009

Lautan Sajadah, Hima Basindo FKIP UMSB Padangpanjang, 2009

Muhammad Subhan
MAHKAMAH TUHAN

jarum jam yang berdetak menyisiri waktu
tak pernah pasti kapan berakhir
tanpa bosan mendendangkan lagu
tak, tuk! tak, tuk!

ah, sketsa kehidupan semu
tak berwatas dan hanya tuhan yang tahu
kapan yang hidup, mati
dan yang mati dihidupkan kembali.

sampai persidangan yang maha adil dibuka
di mahkamah dengan jutaan terdakwa
dan yang yang jelas
tuhanlah hakim mulia
yang mengadili kita.

Aceh, April 2000

Aceh Ekspres, 19—25 Juni 2000

Muhammad Subhan
WAJAH-WAJAH

kutemui wajah bapakku pada wajahku
dia tersenyum haru
kutemui wajah ibuku pada wajahku
dia tersenyum rindu
kutemui wajah adikku pada wajahku
dia tersenyum lugu
kutemui wajahmu pada wajahku
kau tersipu malu.

Padang, 15 Januari 2002

Singgalang, 17 Februari 2002

Muhammad Subhan
MENANTI HUJAN BERHENTI

menanti hujan berhenti
kau termenung sendiri
merenungi bumi
merenungi langit
merenungi awan yang menurunkan air
adakah pertanda kota akan banjir

menanti hujan berhenti
kau menghitung tetes-tetes air
diantara pucuk kamboja
dan saluran air yang bocor.

Padang, 12 Januari 2002

Singgalang, 17 Februari 2002

Muhammad Subhan
KALIGRAFI

pada kanvas suci
ayat-ayat illahi
melukis diri.

Padangpanjang, 2009

Serambi Indonesia, 8 Februari 2009

Muhammad Subhan
MIHRAB

di dalam mihrab
sujudku untuk-Mu
rabbi

Padangpanjang, 2009

Serambi Indonesia, 8 Februari 2009

Muhammad Subhan
TERUS MENCARI

sepuluh kali kumenatap
hampa
sunyi dan sepi

seratus kali kubicara
diam
tunduk membungkam

seribu kali kutanya
kau tak menjawab
hilang sekejab

sejuta kali kumencari
dapat
siapa yang berbuat

Aceh, 24 Maret 1998

Serambi Indonesia, 31 Mei 1998
Muhammad Subhan
DI KAMP PENGUNGSI

pagi itu di kamp pengungsi
satu lagi mayat ditanam orang
tak ada tangis
tak ada duka
semua berlalu begitu saja
kecuali isak pilu bocah sebelas tahun
di hadapan tubuh kaku
tubuh yang mengadu pada tuhan
tentang pengadilan dunia yang tak lagi adil

kematian itu sebagai pertanda
duka sang bocah sebagai seruan
pada kita yang tinggal
untuk mengulur tangan

tapi yang jelas
semua berlalu begitu saja

Aceh, 1 Agustus 1999
Serambi Indonesia, 5 September 1999

Muhammad Subhan
ROMANSA SETELAH HUJAN

hai, mengapa masih diluar
masuklah ke rumahku
hujan yang belum reda
membawa gigil dan tubuhmu
pergilah ke perapian
cari kehangatan di sana

hai, mengapa masih diam
bakarlah kayu-kayu kering itu
buka dan ganti bajumu
keringkan di samping tungku

hei, kau di mana
aku di mana
kenapa ranjang itu basah?

Padang, Januari 2001

Padang Pos, 29 Januari—4 Februari 2001

Muhammad Subhan
SEMALAM

engkaukah yang semalam mendekapku
dalam dingin yang menusuk
dan menampar-nampar kaca jendela
cottage tempat kita berbulan madu

mungkinkah ingatanku telah tua
renta bersama angan yang
senantiasa menggoncangkan tubuh
membangunkanku dari mimpi panjang
berabad-abad silam.

Padang, September 2000

Padang Pos, Padang, 20—26 November 2000

Nilna R Isna
Berita

Berita hari ini
dituliskan dua bocah
terbunuh
bukan, saling membunuh
katanya karena ayah mereka
bukan, karena ibu mereka
juga bukan, karena berita

Berita hari ini
dikisahkan duka anak kepala desa
katanya diperkosa
lalu dibunuh
baru dirampok
kemudian masuk berita

Berita hari ini
kota-kota dilanda
bencana
banjir dan gempa
orang berduyun-duyun
meninggalkan harta
meninggalkan benda
tapi tak pernah ketinggalan berita

Berita hari ini
Kantor redaksi terluka
Walikota datang membawa bunga

Kayutanam, Desember 2006

P’Mails, Februari 2007

Nilna R Isna
Anak-anaknya binasa

Masih ingat bagaimana
cara mumi tertawa
terbahak melihat anak cucunya
yang meminta segala-galanya
Padahal,
bumi menyucurkan
hujan dari atap rumah
tinggal menengadahkan kepala

Cucu tak ingat bagaimana
buyut menimba sumur
menanam pisang
tuk dikudap bersama
dalam jamba

Dari prosa dan filosofi
antropologi, arkeologi
nabi pertama bercengkerama
“Anak-anaknya akan binasa
lama-lama”

Kayutanam, Desember 2006

P’Mails, Februari 2007

Nilna R Isna
Berkali-kali

Sehari dalam 24 jam
dipenuhi 8 jam pelajaran
ditambah 100 PR logaritma matematika
10 soal gelombang elektromagnetik fisika
uji kompetensi 2.1 halaman 97 buku kimia Marten
dikali- kali berat bukuku setiap minggu
berkali-kali Rp. 1.000 sebelum pukul 07.00
46 siswa setiap kelas
dibimbing 98 orang guru
dibagi per kelasnya 25 kelas
serta 17-an pegawai tata usaha sekolah
tambah 2 satpam, 11 penjaga kantin juga 3 uni-uni kopsis
seorang pengurus mesjid
10 shaf dalam tiap mesjid
seminggu-seminggu hadir 45 peserta pesantren
50 orang remaja mesjid
15 merapat selisihnya berkurang
dijumlahkan 6.666 ayat Al-Quran
5 mahasiswa bertanya padaku
”Untuk apa kami didatangkan?”
Aku menjawab,
”Untuk diperhitungkan dan memperhitungkan.”
Tersentak aku sekejap,
”Sejak kapan aku mulai berhitung?”

Padang, September 2006

P’Mails, 3 Juni 2007

Nilna R Isna
Pecah di Gelombang

ntuk: kawan penyair bengkel kayutanam 06

kau tak ubah sejumput rumput
disabit sebilah galah. dan aku sebatang pohon
ditebang kilatan ombak.
bergelombang. menyambar-nyambar
kau dan aku hanya dua keping karang
pecah jua di gelombang
kau dan aku sama sekerat kayu
yang ditanam di halaman
kutelusuri jua lelorong gua
menyambut dentang jam-jam kota
kelam, kupintal jarum tanpa mata

Desember 2006

Riau Pos, 8 April 2007
Nilna R Isna
Ordinat

atau kita bergulat juga, teta
di sofa absisi ordinat, tanpa limit
tindih menindih seribu frekuensi
sekalipun ujungnya bebas, gerak-gerak
dekapkan balutan paralel sampai nyentuh
atau kita bergumul saja, kelvin
di balik selimut terbuai osmosis
murni terlarut
tikam-menikam tak kenal momentum
biar matriksnya nol, mengeliat integral
selipkan lapis resonansi hingga mendesah

Padang. Januari 2007

Riau Pos, 8 April 2007

Nilna R Isna
Sebelum Penyakit Itu Datang

Aku sendirian di rumah
Kamu apa kabar?

dan penyakit kesepian hinggap selalu
setiap malam sebelum dia tidur
memaksanya membongkar rak-rak
tempatnya menyembunyikan berlembar koran
yang kabarnya tlah usang

sebelum penyakit itu datang

Padang, Maret 2008

Singgalang, 18 Mei 2008

Nilna R Isna
Gulir

gulir, detaknya mengigaukan aku
pada derik jangkrik
dengan melodi 12 malam
Lalu, aku berlayar ke sunyimu
(yang mungkin masih di jalanan beraspal)
Masuk. Hadir. Ke mimpi yang tak kau hiraukan
dan kita bersitatap, agak menduga

Padang, September 2008

Padang Ekspres, 28 September 2008

Nilna R Isna
Sublim

dan bila jiwa jengah
curilah ayatnya yang resah

Padang, Agustus 2008

Padang Ekspres, 28 September 2008

Nilna R Isna
Lengang

Sampaikan salamku pada aksara 5
Lama aku tak mendengar kabar beritanya
Adakah dia baik-baik saja ?

Aku ingin membacakan puisi di shubuh ke dua puluh tujuh
sebelum pagi meracau untuknya
pada arena kembang api itu. Atau pada api unggun ?

Pada kayu bakar
Kubisikkan sekejap lengang

Padang, April 2008

Padang Ekspres, 28 September 2008

Nilna R Isna
Cangkir pada Lembah

ingin ku sampai pada lembah itu
dimana aku dapat melihat salju

Kusentuh
Luruh

hujan deras mengguyur pelepahku
membasahi pucuk cemaraku
getir dahan-dahanku
dan kutemui dua cangkir itu

Padang, Februari 2007

Padang Ekspres, 28 September 2008

Pinto Anugrah
Angin Lanun

malam mendekap usang di kelok-kelok sungai. Tak kau
layari lagi tongkang. Merapuk rabuk di bibir teluk. Padahal kutunggu
sepatah pantun di selatmu. Tak ingin kau jadikan aku puan
dengan selendang kuning

menari serampang di kepala. Petang di buih yang tenang. Aku kembali
ke masalalumu yang lapuk. Pernah kita bersua di bandar yang jalang.
Orang-orang saling menjelang. Persuaan yang tak pernah tercatat hikayat.
Pada pusaran ribut angin lanun. Kau panggil aku:

Lanun. Yang tak pernah mencatat hikayat laut. Di selatmu
yang menua. Kulayari dengan dendang yang kusut. Memanggil
iba pada anak-anak dagang. Datanglah membaca hikayat
yang dibawa kapal merapat di bandar. Membungkus kilau
emas di pasir pesisirmu.

Sepanjang selat sepanjang tarikhnya, hikayat
apungkan kapal-kapal. Padahal di balik buih yang meranggak
muncung meriam menganga. Muntahkan bedil,
beribu-ribu banyaknya berwaktu-waktu lamanya. Tenggelamlah

ke dasar hikayat. Lanun yang tak menggarisi peta-peta.
Tersesat di bibir selat.

Kandangpadati, 0707 – 10

Kompas, 27 Juli 2008

Pinto Anugrah
Angin Samun

Rindang rimba menggelayut pada pucat tangis
lengang jalan mereka. Seperti subuh yang murung
di antara nyanyian jangkrik, tak satu pun sitatap
menyapa

di antara derai-derai rimbun daun. Sedang di belakang
menyapa kilau tebasan, parang yang haus.
Aku dengar derit roda pedati, belah sunyi rimba,
tempat samun terkantuk-kantuk, menggantung di dahan
peluk bini menajam mata parang.

Dan nujum yang dikirim jauh
dari tawa kanak yang berkejaran di jalan tanah,
jalan kampung. Menyisa, samun yang mengendap
di balik batang-batang kayu. Samun

yang tak lagi kabar di hantar angin, berbisik
pada daun-daun. Dan di sini hanya pucat darah
menetes seperti embun di pucuk daun. Jatuh
pada ubun-ubunnya, mencium tanah.

Pada rengek anaknya di pangkuan
bini yang menanti kabar angin.
Samun.

Kandangpadati, 071205

Kompas, 27 Juli 2008

Pinto Anugrah
Musim Tanam

Di mana kautanam dirimu, biar kupetik saat musim panen
di antara benih-benih. Ranggas juga di hatiku

seumpama kita yang jatuh pada musim tanam,
desir angin menyimak di pematang. Adakah kau
yang duduk di dangau sana.

Di kelok-kelok pematang. Kaurambah rerumput
semak umpatmu. Pada kubangan. Keciprak lenyah lenguhmu,
kau mengumpat ujar. Padahal kaudatangi juga
dangauku,

adakah kau bertanam di sana.

Kandangpadati, 0708—09

Koran Tempo, 2 Desember 2007

Pinto Anugrah
Pandam Petang

Di dalam rumah kututup matimu. Hujan di luar,
sepongah cerita tak bisa kuantar. Tanah masih basah
untuk kugali

dan kaubuka jendela di hatimu yang petang. Kapan kita berkabar
lagi, mungkin tentang jalan-jalan kecil di kampung.
Bukan jalan menuju pandammu. Di sana hanya ujung lebuh
yang menuju yang entah.

Kandangpadati, 0708— 09

Koran Tempo, 2 Desember 2007

Pinto Anugrah
Rindu Semak

Sebuah rindu dalam semak. Tumbuh berhari-hari. Padanya
hendak kautanam, menuai hari.
Getar tanah, di ujung airmatamu. Sedang ibu tak kaudengar
tangisnya. Lama sudah tak kautakzim kabar petang.

Kandangpadati, 0708—09

Koran Tempo, 2 Desember 2007

Pinto Anugrah
Akhir Pekan

Maukah kau ke kota untuk tamasya akhir
pekan. Sebelum penjemputan mungkin. Ujung-ujung kampung
mulai lengang padanya.
Ada lagi yang berangkat, keluhmu. Di sini rindu menyemak
membaca tahun yang basah.

Sedang di ranjangku, tak lagi satupun yang singgah. Kusen pintu kamar
yang habis dimakan rayap, kutinggal. Mereka berduyun-duyun, mendayung
pelabuhan yang selalu pecah pada senja.
Jauh di kampung

aku berakhir pekan sendiri.

Kandangpadati, 0709

Koran Tempo, 2 Desember 2007

Pinto Anugrah
Petak Umpat

Tak seperti di jalan setapak yang kaucari
ujungnya. Di ujung, petang
pecah di balik belukar. Adakah kausembunyi
di sana, memetak-umpet umpatmu.
Aku sembunyi dulu dalam baju.
Kau tak kunjung keluar dari miang semak.

Kandangpadati, 0709—11

Koran Tempo, 2 Desember 2007

Ragdi F. Daye
Lekuk

ah, teluk. pertautan melembabkan. pagi. siang. sore. malam
waktu kian cendawan. lapuk. ombak menyepak nyepak
kapal singgah menambatkan gelisah. bau duka
luka. benua yang meriang. tak kau angkat sauh dari hatiku.
berkarat. kuli kuli berbaju daki menyanyi terbungkuk
hidup terus berlayar. meninggalkan riak pelabuhan seperti
jari kanak kanak yang manja. seseorang ingin bersemayam
di lekuk matamu. tapi musim selalu sama:
harapan yang diasinkan.

(Padang, Oktober 2005)

Haluan, 13 November 2005

Ragdi F. Daye
Siluet

/1/
Kosong tepi jalan. Daun-daun lansano
pirang. Sebagai yasmin
kau memilih taman lebih teduh
Dari diriku

Menggigil batu-batu. Debu-debu
kaku. Bukankah langit telah robek
waktu itu. Menumpahkan tanah, api, dan
warna-warna abu

Kau memetik doa dari tampuk
yang lantas layu.

/2/
Dadaku tak cukup angkasa menanggung
dunia. Udara memuai
Namamu menggeletar
syair-syair rindu
Kuusap dinding kosong. Kosong
Seutuh wajahmu

/3/
Hari berkanvas gelap
Horison pecah
Kuseka kecewa berleleh di tepi mata
Berlari tak sampai
Menunggu tak kunjung datang

Asimtut saja

/4/
Manakah wajahmu
Aku terbenam di laguna
Jasad menggembung. Darah
berkhianat. Mata candu
menjamah warna
Membayang
Rebah

Berdiri di situ
Tak terusik. Tak sampai tangan

/5/
Tinggal tubuh dingin mengisak

(Ilalangsenja Padang, Mei 2006)

Kompas, 13 Agustus 2006

Ragdi F. Daye
Mudik

Di hulu sungai itu: kesedihanmu
tumpah bersama sunyi batu-batu
Cuaca tambah tajam menguis
tubuhmu; luka-luka dan sakarat

Inilah perjalanan suci itu
Kembali ke rahim. Kembali
ke tempat segalanya bermula

Tapi hari menjadi pekat
Di atas, entah matahari
entah bulan; begitu saja padam

: Aku hanya salmon yang tersesat.

Rimbo Tabuah, Solok, Oktober 2006

Sabili No. 24, Juni 2007

Ragdi F. Daye
Sungai Ibu

Sungai dalam dirimu yang menghanyutkan perahu
tanah, air, dan sehelai takdir mengalir lepas
Waktu menderas seperti terhempas
Elang-elang memekik, seruling kecemasan mengertip
berlumut bebatu
Terbaca sebagai paleograf tentang kabar
Orang-orang meretas jalan kembali
Orang-orang menyuling darah

Sungai dalam dirimu menempuh gelap benua
Di tepinya anak-anak berkecimpung menyelam
sejarah yang dialirkan sepanjang Nil, Huang Ho
Eufrat, Gangga, Kampar, atau Kapuas

Adalah rahimmu yang membersitkan sungai-sungai ke muara
Kehidupan datang peradaban lahir digantikan
Peperangan penaklukan

Ibu, darah dan tuba menjadi keruh di sungaimu
Sampai ke hilir benua. Bukan Habil bukan Kabil
perahu ini dipecahkan dihanyutkan
Atas riak yang menjadi lidah gelombang
Melumpur pori-porimu
Menghempas takdir di tepi.

(Padang, Mei 2005)

Padang Ekspres, 31 Juli 2005

Ragdi F. Daye
Tanah Darah, 4

Di lembah tak terdengar lagi derak pedati
Jalan setapak tinggal semak
Sesekali saja ada pemburu menyoraki
kawanan babi

Entah di mana serpihan itu ditompangkan
Dalam seruang lobang kayu, di celah bebatu
atau goa hening
Sampai ilalang tumbuh
dan zaman menimbun jejakmu
juga suara senapang yang bersipongang
menggegerkan rimba

Tetapi masih kubungkukkan kepala
sebagai isyarat luka
yang tetap membekas pada mukaku
Tetapi masih kucari secelah retak
dalam diriku
Tempat aksara membeku terkunci

Menilasi masa laluku
Tak sekedar ruang kosong
atau dongeng keterlaluan
Sejarah luka selalu berderak
dan bersipongang
dalam kisah
yang dikuburkan.

Rimbo Tabuah, Solok, April 2006

Kompas, 13 Agustus 2006

Ria Febrina
DI BANGKU TAMAN
–rion

Gemericik air menggenangi kita,
kau mulai bercerita masa yang
semakin jelas kugambar. Anak anak
bermain bola, ibu ibu yang marah,
ikan ikan yang dirayu memakan
kail. Ah, menyenangkan, bukan?

Tapi kau melirikku menjadi sayu.
setatap kau letakkan detik-detik
yang memisahkan kau dan aku. Di
terminal
itu, tentu sepekan lalu, kau
menghiburku
dengan selembar potret,
terlanjur, kau pesankan selembar
kertas.
Biar kucatat sekedar kenangan!
Pada perjalanan, kau menjemput.
Mungkin kita kembali bersuara,
Dalam sebuah buku yang kutulis
Berminggu minggu

Terminal sore, 2006

Padang Ekspres, 28 Januari 2007

Ria Febrina
HUJAN TAK PERNAH USAI

Masih tercium olehku
Anyir kata yang kau cicipi,
Bercengkrama dalam detak nafasku.
Masih terhirup olehku
Bau basah tanah yang rekah,
Dalam erang, ngilu dan sembab
Mataku.
Tertelan pula pahit air mata
Yang belum usai kubungkus,
Masih saja kau lempar cendawan itu.
Dalam tetes hujan yang kuriakkan
Di pematang sawah ibu,
Kubangun bongkahan-bongkahan
pasir
Yang merumput, mungkin
Hujan takkan pernah usai,
Biar kumenunggu sepi dalam bisik
Yang kau selipkan di jembatan itu.

Januari’07

Padang Ekspres, 28 Januari 2007

Ria Febrina
SEBATAS JUMPA

Pada sebuah tepian. Setapak jalan
mengamit laron laron yang diguncang
jedah.

Rumput-rumput bersiul memanggil
semak di pelataran, roda-roda
mobil, entah ringkik kuda-seperti
masa itu-kian menumpuk.
menggeraikan layang yang
kujatuhkan. Sempat pada bayang
kuisyaratkan menggenggam jangkar.

Layang layang itu tetap meninggi.
Tepian semakin sepi. Setapak langkah
melukis kata di bawah rumput rumput
yang menggigau malam.

“Mungkin esok jam tujuh pagi,
Jangkar itu kubawa pergi.”

Silent’06

Padang Ekspres, 28 Januari 2007

Ria Febrina
PU(S) TAKA INI PUN BERNYANYI

Semua menulis abjad, pada
Lembaran duka di sudut lawang.
Keluguan ini terus menyemat
di ujung kertas. Seperti Braille yang
disembunyikan. Pedih jua halaman halaman
buku
itu kaukunyah.

Usang-usangnya menatap bola
mata yang hambar. Di jantung kota
berpendaran meja-meja yang berbaris
kosong, kesunyian yang terus mencekam.
Pena-pena pun enggan menelusuri.
pu(s)taka ini pun bernyanyi ngeri.

(mei),’06

Padang Ekspres, 28 Januari 2007

Ria Febrina
SUATU PETANG DI FEBRUARI

(1)
Suara-suara yang meninggi.
Suara itu lagi. Pada Februari yang
mengharu. Ragam cemas pecah pada
Rahim yang mengering.
Sejekap. Kau hibahkan semangkuk
Harapan di tepi kasur. Biarlah ia merah
dulu, katamu.

(2)
Waktu-waktu yang menghilang. Tangis
Tangis yang berderai. Selimur yang tak
Kau jejaki lagi, melelapkanmu pada
Suara tangis bayi. “Ah, semakin lebar
Bola matamu yang coklat.”

(3)
Kian sepi jua malam ini. Langkah langkah
Anak kecil berlari, membuka jendela
dan menyapamu di balik sang fajar.
Daun daun meninggi. Ranting pohon
Semakin jauh kau gamit.

(4)
Suara itu sayup sayup terdengar lagi.
Mengingatkanmu pada haru di petang
Februari.
“Usapan pipimu menghapus hari hari
Yang kutanggalkan.”
Berkali-kali.

(Feb’), 2006

Padang Ekspres, 28 Januari 2007

Ria Febrina
KETIKA HIDUP KUAWALI DENGAN ALIF-NYA

kutulis gelisah dalam ragu
memberangkatkan airmata
sebagai janji kesepian

kuucap sajak dari endapanku
mengendap diam, luluh

ketika hidup kuawali dengan alif-nya
akulah dingin itu,
doaku menyala pada ombak
yang menebing

Padang Ekspres, 20 Juli 2008

Ria Febrina
SEPANJANG PENUNGGUAN

kelak aku hanya beku
dan sajak ini bermula dari rahimku

Padang Ekspres, 20 Juli 2008

Ria Febrina
SENANDUNG ANAK SENJA DALAM SAJADAH

tentang luka
untuk kepulanganku
menangis dalam

pada ibu, petangku bersenandung
dari jauh, dari kau

Padang Ekspres, 20 Juli 2008

Ria Febrina
BAGI AYAH,
DI STASIUN MUSIM

kemudian aku mengulang nama
dari kepulangan yang
menebalkan debu rindu
aku mengulang sepenggal sejarah
ketika aku berupa menjadi isak

hingga perih menyiang namaku,
bagimu ayah

Padang Ekspres, 20 Juli 2008

Ria Febrina
HUJAN BERGALAU, BU!

hujan menggigau dalam
mengernyit lorong sel-selku
kisruh, terusterus menyesakku

hujan igau-igaukan dingin
aku takut,
rindu bersemayam, bu!

Musimhujan, 2008

Padang Ekspres, 20 Juli 2008

Ria Febrina
BUKAN WAJAHMU,
SEBELUM AKU PERGI

bergegas susuri cemas
rupakan tanggal dan tahun
mencari ia yang lelah,
seusai salam ini

bukan wajahmu,
pada akhir
berulang-ulang sayupkan perjumpaan

Padang Ekspres, 20 Juli 2008

Ria Febrina
CATATAN TENTANG KABILAH

dari jurhum, kau tanggalkan
di tempat itu rumah
biar hajar serta ismail
tak diperkenan pergi

dari kabilah, dari sejarah
pintu rumahmu telah kuat
perjalanan tak lagi tiada

Padang Ekspres, 20 Juli 2008

Ria Febrina
USAIKAN MUSIM ITU,
MESKI TENTANG SESEORANG

gerimis menyudahi
berupa akhir di antara kemarin

tinggalkan petang
lalu bersimpuh pada asa
biarkan segalanya lahir
biarkan semuanya mendekap
menjadi lisut
usaikan malam ini

Padang Ekspres, 20 Juli 2008

Ria Febrina
selembar risalat

langit pun menua, sayang!
jika kau ke ladang, rabalah pematang
kemarin-kemarin masih usang

lisut kakimu serupa aku
setelah kerak nasi, kita tak lagi meneguk hujan

dan tentang surau, lapuk di atas kayu
lumbung pun kering

sejak kau pergi,
cangkulmu masih di sudut, penuh lumut
harusnya kupotretkan, biar kau datang

P’Mails, 31 Agustus—6 September 2008

Ria Febrina
di kotaku bulan masih merah

di kotaku bulan tinggal sekerat
larik-lariknya tak bergetar. Ada laki-laki
bersepi di atas ilalang
mukanya kusam menceritakan kalam
dengan saluang, ia meraba kelam

aku menikmatinya dengan puisi
yang tersurat sepenggal-sepenggal
seperti ladang-ladang yang ditinggal
aku menikmatinya dengan sunyi

P’Mails, 31 Agustus—6 September 2008

Rio SY
Lubuk Ikan
penyelaman diam-diam turun
dari sebuah sampan
percakapan bisik-bisik bertiup dari tetas angin
air itu beriak, tapi ikan pun tak tahu
di kedalaman selam terurai umpanumpan
tergantung di runcing kail
di mana kau akan leluasa mengait usia
yang menari dalam lubuk itu
suara air yang meloloskan ikan laju
tersimpan dalam timbul tenggelam pengapung
tak kau sentakkan?
menarik peristiwa yang hanyut
lalu menyembunyikannya di keranjang
batuan dalam lubuk diam-diam menjaga legam
menumbuhkan lumut di antara rasa jenuh menunggu
dengan pancing di genggaman
dengan tangan yang lupa berjabat salam
dari dalam lubuk itu aku mengapai
meraih sampai pada permukaan
tempat kawanan rusa meneguk rasa haus
pada permukaan tempat melihat diri sendiri
mungkin ada gores luka
setelah lepas dari sebuah perburuan
Padang, 2009

Seputar Indonesia, 15 Februari 2009

Rio SY
Hari Panen
(mata sabit)
setiap angin hinggap pada sebuah bulan
yang setajam mata sabit
menebas hari-hari panen
kubayangkan sesak nafasmu
menghitung butir hampa berat
yang tak terpisah bernas
tak ditiup penggirik yang memutar
ayun tangan petani membuat pusaran
menghisapku dalam-dalam
lantas melepasku pada sawah yang lain
sawah yang menghamparkan para peadu layanglayang
kita sama-sama mengasah benang
setiap kali disentakkan, putus, dan lepaslah rindu
yang diulur panjang
berlarian anak orang dari masa lalu
mengejar kepergian yang terkadang hinggap
pada sebuah bulan setajam mata sabit
menebas hari-hari panen
Padang, 2009

Seputar Indonesia, 15 Februari 2009

Rio SY
Pengembalian
mengapa kembali
sehabis air basuhan dijentikkan
basah tercekat di ruangan
apa karena kudapati helai rambutmu
rontok di sebuah sisir kayu
ambillah sisir ini
kau perlu merapikan
rambutmu yang diamuk dendam
“aku telah diam dalam peram
memendam diri sendiri
menunggu tetas”
untuk siapa kembali
sehabis pengakuan dimuntahkan
terserak di ruang yang menelanku bulat-bulat
tetapi kau surukkan kain pel, sapu,
bahkan ember tak bertangkai itu
apa yang kau bawa kembali
selain cinta yang dulu kupinjamkan
Padang, 2009

Seputar Indonesia, 15 Februari 2009

Rio SY
Tirai
jangan tarik itu tirai yang menutup jalan hari
mungkin seseorang sedang sembunyi di baliknya
mungkin seorang pencuri
sedang ketakutan di belakangnya
sebab kita tiba-tiba terbangun
tapi aku tahu kita tak pernah tidur benar
sebelum sedikit bertengkar
tentang sesuatu yang terbaring di dalam kolong dipan
“selalu saja merebak bau bangkai puisi
yang di bawa induk kucing ke bawah sana”
apa yang membuatmu terbiasa
menatap ke luar jendela
sewaktu kamar sebegini malamnya
mungkin kau ingin menemui pencuri itu
pencuri yang mengambil isi rumah
tanpa meninggalkan rasa kehilangan setelahnya
Padang, 2009

Padang Ekspres, 5 April 2009

Rio SY
Malam Sampelong
masih akan ada ketukan kecil di jendela kamar
dari jari yang gigil ingin menyuapkan nasi ke bibirmu
sebab sejambu cium akan terbelah di sana
dibelah belati dari asahan tangan para perambah rimba
pada malam-malam nakal
dan ringkik jangkrik hampir diam
hanya terdengar lenguh engsel ketika membukanya
semacam ratap dawai rabab
ulurkan gerai rambutmu atau julaikan alas kasur
tapi kau duduk saja mendengar lagu malam
hingga lusuh, kendati jam tidur telah menjadi pasti
di setiap jengkal derak dipan
idamkanlah baju ganih berdeta emas
dingin menyentak setelah setali rambut ditarik sisir
dalam cermin yang membagi wajah menjadi dua
wajah kita
seperti yang kau inginkan
masih akan ada jelangan di pintu belakang
berjingkat di kaki pencuri
diam-diam mengambil wangi tubuh di lipatan
baju dan lingkar subang yang ditanggal sebelum tidur
kemudian menjadi canggung yang tanggung
dalam hilang yang tak tertebak raibnya
di antara gigil ketukan. segigil puisi yang terbaring
di atas kertas. tempat kita masih akan saling
menyapa tanpa harus jatuh cinta
Padang, 2008

Padang Ekspres, 5 April 2009

Rio SY
Ranji Ibu
bolehkah kubentangkan ranji itu, bu?
membaca tumbuhnya pohon silsilah
merasa asing pada tanah berkabut

leluhur terpahat batu nisan
di antara semerbak kemenyan
tengah dipersiapkan dengan dendang
berapa lamakah usia waktu, bu?
melahirkan sungai, tebing, dan muara
di setiap riwayat asal usul bermula
sebagai pewaris aku tumbuh dengan rindu
menghitung bergundukgunduk kuburan
yang tak pernah ditaburi melati
RuangSempit, 2008

Padang Ekspres, 12 Otk 2008

Romi Zarman
Jadi Kaca

Ia serupa kaca
hanya memantulkan cahaya.

Ia bukan serupa matahari yang punya cahaya sendiri.
Di suatu hari, di saat malam berganti pagi, ia terus menanti
tapi pagi bagai tak kembali. Kembali ia serupa kaca,
tak memantulkan cahaya.

2007

Koran Tempo, 19 Agustus 2007

Romi Zarman
Di Bandara

Ada yang melambai
saat tangan membentang jarak
dari bayang-bayang;
saat bayang-bayang mengukur badan
sepanjang siang.

Hari semakin petang
ia berangsur-angsur menghilang.

Ada yang melambai; ada yang tak sampai.

2008

Jurnal Bogor, 28 Oktober 2008

Romi Zarman
Burung Buta

Seorang lelaki tua
duduk di beranda dengan mata
yang berkaca-kaca.

Ia bayangkan seekor burung buta
yang tak tahu harus ke mana ketika hari
sudah senja.

Dengan kedua sayap yang ia punya, ia hendak berkata,
“Aku tak tahu jalan. Aku tak tahu jalan. Aku ingin
terbang ke dalam sangkar.”

Tapi sangkarnya sudah dibakar.

2009

Suara Merdeka, 4 Januari 2009

Romi Zarman
Dua Burung

Burung manakah yang membubung dari
dalam tubuhku saat malam telah turun?

Jangan kau katakan bahwa ia tak ada.
Aku memang belum terjaga saat ia terbang
ke angkasa.
Ia bawa engkau ke suatu masa,
padahal aku belum tua.

Burung manakah
yang membubung ke dalam tubuhku
saat fajar akan menjelang?
Ia kembalikan engkau seperti semula,
seperti aku seperti engkau. Lempung manakah
yang mengurung ia dalam raga?

2008

Koran Tempo, 8 Juni 2008

Romi Zarman
Kelelawar

Astaga, ada jalan

membentang di kepalaku. Engkau katakan
bahwa engkau seorang pencari.
Berhari-hari menyusuri jalan yang sama.
Engkau bosan
engkau putuskan keluar dari kepalaku
tanpa salam,
tanpa ucapan: astaga, dunia.

Engkau kira hanya malam
dan matahari engkau lihat bulan
setiap terbang, berbulan-bulan,

sampai letih,
sampai kepak tak bersayap lagi
engkau putuskan kembali:

astaga, ada jalan
membentang di depanku.

Padang, 2008

Koran Tempo, 8 Juni 2008

Romi Zarman
Dua Tanjung

Tanjung Sani Tanjung Sigiran,
berapa jarak kalian
ketika gerimis jadi hujan?

Hujan di masa silam, hujan yang jadi catatan
ketika ingatan seseorang menjemput kalian
ke dalam kawah
yang pecah.
Berapa usia kalian
saat masih sepasang insan?

Tanjung Sani Tanjung Sigiran,
seperti sepasang tangan
yang dipisahkan
oleh sebuah
bentangan,

bentangan danau,

danau yang bernama Maninjau,
danau yang pecah dari kawah Gunung Tinjau
ketika kalian dihadang
Bujang Sambilan.

Tanjung Sani Tanjung Sigiran,
berapa jarak kalian
ketika masih sepasang insan?

Insan di masa silam,
insan yang pernah mengucapkan
akan ada yang hilang
seperti tumbangnya kayu gadang
di rumah kalian.

Tanjung Sani Tanjung Sigiran,
berapa jarak kalian
ketika ada yang pulang
bergandeng tangan
dari seberang,

dari seberang danau, dari seberang pulau?

2008

Kompas, 13 Juli 2008

Romi Zarman
Jam Rantau

Duh,
bulan,
kenapa datang
saat jarum jam lewat tengah malam?

Malam yang geronggang,
malam yang mengantarkan seseorang
ke sebuah jalan, jalan datang,
jalan pulang.

Duh,
bulan,
mana matahari
ketika kau melirik pagi?

Pagi yang geronggang,
pagi yang menjemput seseorang
setelah jarum jam lewat parak siang.

Siang yang mengusir seseorang
ke dalam detak jarum jam lewat tengah malam.
Dan bulan,

duh, kenapa datang menusuk jarum jam?

2008

Kompas, 13 Juli 2008

Romi Zarman
Perulangan

Bila kau jadi kupu kupu, ia ingin jadi bunga.
Bila kau jadi bunga, ia ingin jadi kelopak.
Buat apa jadi bunga bila kelopak menggugurkannya?
Kau pikirlah selagi tampuknya kau sentuh
selagi daunnya kau tempuh.

Adakah harum bunga kau temukan?
Ah buat apa harum bunga
bila hanya menyisakan keberadaan

sementara. Engkau jadi batang, ia jadi pisang.
Buat apa jadi pisang bila masak batang ditebang?
Kau pikirlah selagi kulitnya kau buang
selagi isinya kau makan.

2007

Koran Tempo, 3 Februari 2008

Romi Zarman
Mengokang

Belum membidik tapi kau telah mengokang,
tahukah engkau bahwa ia akan terbang?

Buat apa langkah dan gerak bila tidak selalu menyibak?
Kau pasanglah kuda-kuda untuk mengatur
arah dan jarak.
Mungkin kau akan pulang sebelum datang.

Telah kau kokang tapi ia malah terbang, tahukah engkau
kapan ia akan datang?
Buat apa arah dan jarak bila jejak tak bertapak?
Kau pasanglah kuda-kuda untuk mengukur langkah
dan gerak.
Mungkin kau akan belajar sebelum gemar.

2007

Koran Tempo, 3 Februari 2008

S Metron M
Kepada Tuanku,
yang Pernah Menyentak-nyentak Sejarah

Siapakah engkau sebenarnya Tuanku?
Datang dari kepungan bukit menuju bangsa yang ditangkap ragu: apakah mitos atau logos. Bayangmu memanjang. Menutupi jejak dibelakangmu. Membentuk potongan-potongan sejarah. Sejarah yang dijarah. Orang-orang –nanti— berteriak ketika namamu hanya disebut sebagai manusia.

Sebelum itu engkau baur, Tuanku. Samar. Seperti foto yang difotokopi. Angin pantai timur juga tidak menceritakan apa-apa. Hanya asinnya darah yang kau tumpahkan untuk negeri yang kau anggap linu. Buku harianmu juga hampa. Hanya cerita sebagai manusia (entah kenapa –nanti— orang-orang tidak percaya). Cerita sebagai seorang ayah dan pemimpin yang lugu.

1815
Darimana kita memulai tentang dirimu?
Koto Tuo hanya tempat singgah. Tempat menyerpih bersama Harimau Nan Salapan. Menghirup udara Cangkiang yang penuh gairah. Menempa diri dengan ayat-ayat. Mencari kebenaran di dalamnya. Lalu, kau pergi pada dinginnya Alahanpanjang. Memanaskan pengertian dengan tungku yang kau bawa dari gurumu.

Membangun pagar dengan hati. Mendirikan masjid dengan jantung. Debarannya seperti berkabar di seluruh negeri: Alahanpanjang adalah denyut.

1821
Bukankah dari sini catatan itu dimulai, Tuanku?
Hanya musim yang bicara tentang kenangan. Ia pun menghampirimu. Dari dusun yang terjepit, Tuanku merasa mengulangi kisah masa lalu. Ada triwarna di bolamatamu, ketika Simawang luruh dalam senja.

1833
Berangkatlah, Tuanku.
Ketika api tak lagi padam oleh air. Ketika angin monsun menghentak-hentak mengaburkan tanda-tanda. Berangkatlah. Ke ranah yang tidak bisa dimasuki apapun. Sepetak tanah yang tidak akan berikan pada siapapun.

Tapi tidak dendam, kan, Tuanku?
Meski pada orang-orang yang memintamu dengan (sungguh) takzim keluar dari rumah yang tonggaknya Tuanku pancang dengan peluh. Dari perkampungan yang Tuanku bangun dari arteri yang pecah. Dan khianat berada di antaranya.

Marah mungkin iya, ya, Tuanku?
Tak akan rela hatimu kafir-kafir itu menyentuh surgamu. Apalagi melantakkannya. Tapi, nasib melingkarimu. Garis khatulistiwa menyeretmu ke kancah sejarah. Di mana, takdir berujung kata menyerah. Adakah ragu pernah terpancang di hati, Tuanku?

1836
Sungguh lirih suara angin itu, Tuanku.
Derap kuda tidak lagi berpacu dengan matahari. Tapi, kenapa ke timur? Di sana, takkan Tuanku baui lagi aroma kopi, pala dan cengkeh. Siapa yang Tuanku lindungi? Nan Renceh? Tambusai? Mensiangan? Atau karena Tuanku tidak lahir dari perut negeri ini?

1985
Nah, bacalah, Tuanku.
Orang-orang terbakar hanya karena ingin mendewakan dirimu. Mereka menyeruduk-nyeruduk karena ingatan yang melintas. Memori yang tandas.
Ketika kau pergi pada negeri penuh bambu, kesiuran daunnya penuh kisah. Entah kenapa kau jadi imam. Memimpin lima ribu lebih pasukan. Menaklukkan negeri sekitar yang pernah membuatmu resah.

Mereka tidak tahu hatimu pernah gundah. Ketika Tuanku Hitam rebah karena panah. Ketika Tuanku Gapuak bermandi darah dari senapan-senapan yang terarah. Ketika Tuanku Keluat terpakar dihantam howitzer, ketika… ya, kan Tuanku?
Mereka tidak pernah tahu, hatimu buncah ketika memeluk, mencium dan menidurkan Kesayanganmu. Adakah dewa seperti itu, Tuanku?

Sekarang
Kami kehilangan suluh. Suluh yang Tuanku gunakan untuk membakar kebodohan. Juga tungku. Tungku yang Tuanku gunakan untuk menghangatkan kecerdasan.
Kami sudah meremas-remas kamus. Menyigi-nyigi ensiklopedi. Menawar tanda-tanda. Melipat-lipat cuaca, tak jua kami temukan. Sembunyikan di mana, Tuanku?
Apa karena sejarah selalu memihak yang kalah?

2007

Padang Ekspres, 14 September 2008

S Metron M
Di Fatamorgana Pagi

tubuhmu membuncah serupa sampanye pecah. sisa-sisanya kita jilati dengan gianni versace dan jean-paul gaultire.

Kita bicarakan tentang paris, milan atau london. dinginnya lantai ini, ucapmu menawarkan bau holston, tanpa sdar kau akrabi dengan senyum nabi.

hanya sesaat waktu yang kita sisakan untuk kembali ke ruang masing-masing. harapan dicap sentimentil. kita dimakan malam. larut bersama cocktail dan tequila. matahari menjadi mimpi yang tak selesai.

kembali tating tangan dan tatah kaki sambil dudukkan baik-baik senyummu dalam hatiku. dingin lantai ini. hanya angin bisa menghembuskan ke telingamu, tanpa bau apa-apa.

Kita pulang diatapi blitz. menjadikan pagi fatamorgana tanpa mampu menjemputnya esok hari.

Padang, Oktober 1998

Puisi 1999 Sumatra Barat, DKSB 1999

Sayyid Madany Syani
Fajar dalam Gaun Merah Muda

dari ufuk timur ia menyulut terang
seperti gadis bergaun merah muda
bertengger pada kedewasaan
menertawakan musim-musim yang berputar
berganti dalam ruang kaca
lalu menelikung senja
di pematang sawah

ia pun bergumam
mengaji dalam kekal suara azan
terjal batin yang ia pugar
dalam keseharian, dalam lingkaran pertemuan

fajar menyerupai bejana
tenggelam dalam awal purnama
hanyut di jembatan mega
seperti gadis bergaun merah muda
yang pergi dalam lindap suara perpisahan

;fajar bersuka-ria dalam gelombang.

Rumah Cinta, 2007
Padang Ekspres, 23 November 2008

Sayyid Madany Syani
Perjalanan

nafas bebatuan seperti memanggil pulang
cerita tentang pepohonan, tualang yang menitip siang
dengan air yang menguntit karam
dan selendang gadis muda yang
hanyut dibawa pasang

pada garis tangan ibu
senja menjejakkan catatan-catatannya
dimana ketulusan menjadi garang
dan kampung halaman meneruka dalam bayang

jadilah kepulangan adalah sesuatu yang mustahil
meski kereta telah lambat menemukan peron

o, gadis muda dengan selendang hijaunya
berjalan dalam riang malam
kandas dalam lautan
hingar dalam nestapa kampung halaman

F 2.5, Oktober 2008

Padang Ekspres, 23 November 2008

Sayyid Madany Syani
Perjalanan

ujung jalan yang kita tempuh
menakar hujan dengan sebab yang entah
mungkin, di pertengahan nanti
kita terpeleset curam basah

bayangan setinggi pohon mangga
menyurut dalam getir cahaya yang tak terduga
mungkin, gerhana
atau malam saja

sediakan kertas atau semacamnya
buat kita berteduh dari mimpi

sementara, ujung jalan yang kita tuju
menjauh setapak-demi setapak
kita tersekat dari lamun kenyataan

di sinilah sayang, saat jalan kita terhenti
sehabis hujan dengan akar pohon yang tajam
cukam memahat tebing
dan pandam kita terlalu dini untuk ada

Langkah, November 2008

Padang Ekspres, 22 Maret 2009

Sayyid Madany Syani
Ababil

;terbang
mengawal Ka’bah
mendera bebatuan neraka

sejumput jarak dari Mekkah
berbaris lelah, sepasukan gajah
dan sepotong-sepotong daging hangus terbakar cahaya

hari itu,
ketika semua bersembunyi dalam kalut,
dan detak waktu yang merangkak cepat
kabut turun di jengkal panorama gersang

ababil, dengan riuh rendah
memberi kabar tentang anak Abdullah yang takkan terjamah
dengan segenggam kepundan neraka,
ia hujankan kepada gading-gading yang mencuat rikuh pada angin
memuja-muja kematian
sambil melafadzkan;
“maha suci Allah, maha suci engkau Ya Allah”

dan ketika semua berakhir,
langit menyaksikan semua berubah seperti daun kering
yang jatuh dari pohon-pohon mati
dan hilang beterbangan dihembus gemuruh angin gurun

SENJA, Januari 2007

Pikiran Rakyat; 22 September 2007

Sayyid Madany Syani
Bukan Seorang Penyair

aku, yang mengais kata untuk puisi
dari sampah Bantar Gebang
dari got dan comberan amis
dari sisa plastik minuman, di jalanan
hanya sekedar memungut dan membaca slogan-slogan

aku, yang merangkai kata jadi sajak
meniti getek Ciliwung,
hanya sekedar menuliskan kelu
yang bercerita tentang kehidupan
menggores nurani, membakar jiwa jadi abu

aku, yang bercerita tentang prosa
lirih kudengarkan pedagang asongan
yang tidak akan pernah tahu
kapan duitnya cukup, untuk beli rumah

aku, yang berusaha mencipta syair
telah berkata kepada laut
“kapan engkau datang merengkuh daratan?”

aku, yang kadang menahan tangis dalam keramaian
selalu melekatkan jaket kesedihan
di ujung pena, atau sekerat pensil 2 B
kusandarkan kehidupan,
tetapi

aku bukan penyair
hanya sebatas penciptaan
dan selesai

Rumah Cinta, Juni 2004

Pikiran Rakyat; 22 September 2007

Sayyid Madany Syani
Ode Badai

adakah arus hilir mencerabuti pepohonan akasia
rimbun dalam benam badai
menikam gemuruh, dan air mata sungai
yang terisak riuh

mata yang menikam bebatuan
dalam upacara purnama yang basah
darah meruap dalam bara kemenyan
menutup kalap badai yang bertempuran

badai…badai…badai…

tak lekang tangis menghilang dalam letusan sangkakala
dinding-dinding batu penuh kesumat
bersama dengan keheningan yang hilang cekam
menusuk lewat bantal, guling dan kasur

siapa yang melaknat diri?

mengharap darwis lewat di sisian rumah
sambil mengatakan; “mari mati
mari…mari….
demi nurani!”

AA. Navis, September 2008

Padang Ekspres, 23 November 2008

Sayyid Madany Syani
Ngiangmu
;Rudi Datuak

kau telah bertemu dengan nasib
genggaman yang menirukan igau
hujan menikam darah
dan aku ingat semasa kita berteduh
dalam ruang kopi yang hangat

kurindu gumammu sahabat
menebas pilu di antara jalanan yang rawan
dan kau berceloteh tentang masa depan
yang begitu suram kurasa

ngiang suara yang tertuba
cium garis tanganmu yang swarga
dimana kau menjemput nasib
dengan gegas, dan bertemu raib
yang tak dapat kau tolak

oh langit dengan darah tergenang
menghitung pertanda sebagai pasi
dan wajahmu jatuh dalam kental kopi
yang kuseruput semalaman

kau telah berkawan dengan kafan
meniadakan nafas dan retak tangis kawan-kawan
rapal doa dan igau yang jemu
tentang masa depan
selamat jalan!

Rumah Cinta, November 2008

Singgalang, 21 Desember 2008

Sayyid Madany Syani
Menemui Reda

;sebelum reda, kutawar janji pada hujan
itu menengarai sunyi yang sedan
lagi pula, aku tak meminta sesuatu yang memberatkan
jika hujan esok hari setuju memberi pertanda

gadis yang berkelindan pada perempatan barisan itu
kemarin, dan kemarinnya lagi
pertemuan meringkus jejak dan jarak
bersitatap melampaui kejauhan

oh, aku hanya meminta hujan sebagai pertanda
bersamaan dengan kemunculan gadis itu kembali
dan aku akan mengejarnya sampai batas ilalang
sampai kutemui ia, dengan debaran jantung
lebih berlipat kencang dari biasanya

sungguh, kerinduan yang belum dapat terobati

sementara waktu tak lekas berpisah
menggodaku seperti prajurit yang kalah

maka sebelum reda, kutawar janji pada hujan
agar menemuiku bersama gadis yang berkelindan pada perempatan barisan
besok, dan besoknya lagi

Tunggang, Januari 2009

Singgalang, 21 Desember 2008

Sayyid Madany Syani
Pelarian
;untuk I

ditemuinya jejak lazim di basah tanah
tampaknya, menelusuri lelorong kosong
yang ditinggal lekas

mereka mengejar jejak itu berhari-hari
dalam gulungan debu yang memedihkan mata
dalam sorot purnama yang membuhul dari akar-akar pohon

lalu, sorot telaga pun menyeringai dalam kurun waktu yang bersamaan
jejak itu kembali mengabur di balik kabut
wewarna menjadi pasi di setiap jengkal jejak yang ditinggalkan

seolah-olah jejak yang dicarinya ditelan kesunyian hutan
menjauh dari kepungan, lalu mencari celah untuk sebuah titik perubahan

supaya apa kita mengejar
supaya apa kita dikejar

harum jejak meruap kembali dari tanah
mungkin ilusi atau iluminasi yang tersublimasi

tetapi, sebetulnya ia tak pernah pergi dari lelorong itu
ia tak pernah menghilang dari sorot purnama atau telaga
menuju hutan

ia tetap disana, saat cermin dirinya
merangkak menjauh ketika mereka mengejar
dengan bara api yang keluar dari mulutnya

Rumah Cinta, Februari 2009

Singgalang, 21 Desember 2008

Sayyid Madany Syani
Di Bawah Hujan
;Tommy Firdaus

tadi aku mandi hujan, sebentar saja
menguyupkan badan untuk melepas hari-hari lelah
lalu, menikmati sansai badan yang resam ditelan debu jalan
lalu pias
lalu hilang
dibawa ke hilir, tempat jalan dan jatuhnya air

kau terlihat di keremangan kabut
membawa payung dan memakai jas hujan
berdiam dalam suram langit
dan samar bintang timur yang redup dikalahkan kelebatan hujan

ketika kilat menyentuh tubuh kita
kau bilang, “matilah dirimu
seperti chairil yang menyeduh puisi dalam paru-parunya!”

kau lenyap di antara rerimbunan pohon
meninggalkanku dalam ketertegunan
lalu lingkaran fajar mulai mengintip
berkelok dalam bayang-bayang hujan

lelah menjumputi rusuk yang sebentar-sebentar hingar dalam ketakberdayaan
namun, jikalau semua itu cuma sepi
maka, perjalanan adalah titik terang dari keharuan
kau yang meneruka pinggiran jurang dengan mata yang tajam
mendekati lindap pertemuan seolah-olah menjadi sentosa

Rumah Cinta, Mei 2009

Singgalang, 21 Desember 2008

Siti Hasanah
Danau Perantauan

Pagi tak menjelma apa-apa
Semusim rindu, meninggalkan tanya
dan bimbang yang sibuk. Kukais jejak lama
tertinggal di ranah ini. Rimba, atau lembah tak henti memanggil
tapi kularikan tubuh menepis kabut, mencari danau perantauan
tak kujelajahi musim di sana, di rimba yang suluhnya
hampir padam. Menimang keraguan, kubungkam
seribu bahasa. Rona di rimba melukis garis yang murung
menatap harap, akan kusinggahi jua ia ke sana

Kuteruskan menyusur waktu,
Seperti lakon yang kehilangan roh, terkesima
ranah pun mengerang menyaksikan
semak mekar melilit, dedaunan tidur dalam belaian angin
kujemput jua kerinduan di sela-sela sunyi
hingga cakrawala menitikkan airmata

“akh, biarkan aku memagut damai sejenak!”

Mei, 2008

Padang Ekspres, 13 Juli 2008

Siti Hasanah
Pengakuan

Akulah hamlet yang sebenarnya
Sukmaku menari di antara luka dan kata
Piring-piring pecah, getir yang lengang
Akulah jasad yang membusuk
Namun tetap hidup, menghentakkan kaki
pada sebilah pisau berkarat
Tuhan, kutuklah rohku jadi arca
agar tersapu jua jejak-jejak itu
Jeritan yang tak pernah lepas
atau tangis yang tak terdengar lagi
sebait kisahku, membiru
lebab karena medan perpacuan

Kubangun jua menara itu
Bangunan bertali gantungan
di atasnya. Terkisahlah lonceng-lonceng maut
Berdentang memanggil-manggil namaku
dendang bocah kecil dan gumam
perempuan tua. Nista yang kutanggung
Sekisah janji yang kupahat
hanyalah seutas kata yang berselingkuh
dengan kata lain. Kepergian dan ditinggalkan

O, langit! Akulah hamlet itu
Terkerangkeng bersama sayatan dan darah
Tak ada cerita yang mampu bersemayam di sisi ruang hati
Ilalang mulai tarikan gelisah di ujung malam
Hanya mataku yang berkaca-kaca menatap sejarah
Kaper-kaper kecil bersama pengharapan,
terarak ke puncak keperihan, menggoreskan segaris tangis
Aku dan penyesalan
Terkubur di palung terdalam
Jejak dan ribuan impian

Sirna!

April—Mei, 2008

Padang Ekspres, 13 Juli 2008

Siti Hasanah
Ujung Kembara

Hari serasa tak memaknai apa-apa
Di tepi telaga itu pernah kuintip bunga-bunga
memandikan tubuh layu. Rona yang usang oleh waktu,
tak secuil pun rias yang memaniskan kehidupan
Tampak bagai kota mati, berdendang dalam musim hambar
Melisut di tengah batin yang haus

Aku hanya si pengembara seberang pulau,
menyisir waktu yang hilang. Jiwaku kering di sebuah ruang
berkelanan jua mencari seteguk cahaya. Di atapku, tampak langit
menikahkan sesuatu. Bumi menampung airmata langit
Adakah mungkin karena rintihku tak kunjung henti meriuh
Gigil, tak ada teriakan, membelah bumi atau cakrawala
Memecah kesunyian panjang, bulan menyinar lelah. Kujilati jua
harapan-harapan yang mulai tandus. Menimang setiap jiwa
yang memberi udara atau teratai kehidupan
(tapi angin merisau, hanya bergeming. Tak berbisik tentang harap)

Di jalan penghabisan, bersimpuh pasrah
Menjalin sisa sinar terkumpul, meski tak menyiram apa-apa
Namun malaikat tak memungut jiwa yang kering
Tak kunjung temukan seteguk cahaya memasuki
ujung kembara. Biarlah pandang melebur bersama mimpi
Di segala penjuru, tak kulihat ada yang subur, tumbuh
di laman-laman penuh daun berdesau, orang-orang
melukis senyuman, atau mengukir kebahagiaan
hanya tampak berbondong di tanah pemakaman
menagisi segaris nasib yang bergelut di puing-puing
pembakaran sejarah masing-masing.

Padang Ekspres, 13 Juli 2008

Sulaiman Juned
BULAN GULITA

di jiwa
bersemanyam malam
tak mau pergi
ah!

Padangpanjang, 2008

Harian Aceh, 5 Oktober 2008

Sulaiman Juned
BULAN HUJAN

hujan
dimatamu mengurung getir. Terang
bulan sembunyikan bayang di putih
paras. Aku gali intan di dada
ah!

Padangpanjang, 2008

Harian Aceh, 5 Oktober 2008

Sulaiman Juned
BULAN DURI

merangkai
duri jadi kembang di dinding
hati. Nyeri mempersiang sepi
mata air melaut di nurani.

menata
duri jadi mawar dibingkai
kalbu. Aku rautkan siksa dengan sembilu
agar sakit terasa nikmat
ah!

Riau, 2008

Harian Aceh, 5 Oktober 2008

Sulaiman Juned
BAYANG

kapan mampu
menghilangkan bayang menghantui
pikiran-menggoda keinginan.

kapan sanggup
membunuh bayang merajai
jiwa-menghela nafsu.

kapan bisa
menangkap bayang penjarai
rayu dalam neraka agar tak menyaru
(kita memang tak mampu membaca isyarat alam)

Aceh, 2008

Solo Pos, 16 Nopember 2008

Sulaiman Juned
LAUT TAWAR

dari rantau
terkenang laut tawar jadi
kenangan. Petri pukes membatu bukti
cinta seorang hamba. Depik tempat berkecipak
bensu peteri menunggu Malem Dewa di buntul kubu
di gubuk makni tua.

dari rantau
gigilmu menggeretakkan rahang
rindu demamkan jiwa
ah!

Padangpanjang, 2008

Catatan; 1. Pukes (legenda puteri Pukes di Laut Tawar Takengon)
2. Depik ( Sejenis ikan yang spesifik berada di Danau Laut Tawar)
3. Bensu ( Puteri yang terkecil)
4. Malem Dewa (Anak raja Piadah yang meminang Bensu)
5. Buntul Kubu (Salah satu tempat bertemu Malem Dewa dengan Bensu
Peteri yang berada di tengah kota Takengon)
6. Makni Tua (seorang nenek tua yang penghuni Buyntul Kubu)

Serambi Indonesia, 9 Nopember 2008

Sulaiman Juned
LANGSA
-Kepada Penyair LK. Ara-
Hasyim KS dan Taufik Ismail

dari sudut yang paling sunyi
dalam sepi gelap mata
angin nelusup menorehkan luka.

dari sudut yang paling sunyi
dalam kabut nanar mata
berpuluh rencong berhulu di dada.

dari sudut yang paling sunyi
kabulkan doa hamba menyalin kata
menyampaikan kebenaran hakiki.

dari sudut yang paling sunyi
maaf terbuka selebar langit
bagi siapapun yang pernah memberikan getir.

-Losmen Bali, Desember 2005-

Serambi Indonesia, 14 Januari 1996

Sulaiman Juned
AKULAH DEBU

sendiri
rasakan sakit. Sepi kembali
kepelukan hati.

-Banda Aceh, 1994-

Serambi Indonesia, 26 Maret 1995

Sulaiman Juned
SENYUM BULAN

-bagi pelukis Virsevenny

ada gundah berombak di dada
lambungkan harap pada sepucuk hati
tumpahkan sekian resah, gauli gelisah

ada gundah berombak di dada
tiang mana ikatkan tali
biar kapal dapat merapat melabuhkan rasa
pendam dalam laut nurani

ada gundah berombak di dada
terik hari bergasing atas kepala
o, jangan biarkan gerimis tempias ke wajah
o, jangan biarkan nyeri membungkus luka
(mari jemput waktu lewat senyum di kening bulan)

Serambi Indonesia, 8 Pebruari 1994

Sulaiman Juned
LEBARAN MALAM ITU
BULAN MENARI DI ATAS PERAHU

semua
orang harus menanggalkan
permusuhan. Separah apapun bentuk
luka kita jahit dengan silaturrahmi
bulan menari di atas perahu
ah!

-Takengon/Ceka, 1 Syawal 1412 H

Harian Waspada, 26 April 1992

Sulaiman Juned
JAKARTA

terkurung keramaian Jakarta
mengepul asap di hati jadi api
aku ingat kampung;
masa kecil yang indah
selepas ngaji, membaca Hikayat Prang Sabi
memaknai penyerahan diri merindui Allah.
Masa remaja penuh gairah
memilih rumah tempat berteduh
bawa pulang mawar membagi keluh-kesah
bercermin pada kesetiaan Adam-Hawa
(terasa hidup tak ingin cepat kumati)

terkurung keramaian Jakarta
mengepul asap di hati jadi api
aku menyaksikan;
badut-badut mempertontonkan gelisah
di gedung ber-AC tapi gerah bernuara dendam
melempar bara jadi ambisi tak terkendali
(disini, nurani tersimpan di kantong jas safari)

Jakarta, 20 Oktober 1999

Aceh Ekspres, 2 Mei 2000

Sulaiman Juned
BERITA

merpati putih
mengitari malam tanpa bintang
mengirim keluh-kesah bersama
darah. Ini kepak terakhir;
terkulai jatuh di atas tungku jadi bara
(siapa sanggup memamah luka cinta tak teraba)

Padang, 1999

Aceh Ekspres, 2 Mei 2000

Sulaiman Juned
LUKA

malam membuat lupa segalanya
bulan tembaga tertusuk runcing ilalang.

Aceh, 1990

Republika, 12 Mei 1991

Sulaiman Juned
TUNDA

tak
bisa menancapkan rindu
pada ladang berdebu. Sawah
kering dan terpecah-pecah
terpaksa tak bisa membajak lagi.

Banda Aceh/Ceka, 1990

Serambi Indonesia, 2 Desember 1990

Sulaiman Juned
BULAN DUKA

samudera hindia mengirm
maut. Masih lekat di jiwa tentang Aceh
dilipat air raya-Yogya diluluhlantakkan
gempa. Aroma kematian
menyekap
pikiran.

samudera hindia mengirim
maut. Tuhan menegur
kita menunggu
giliran-siapkan
diri
ah!

Solo, 2007

Tabloid Investigasi Banda Aceh, 5 Agustus 2008

Sulaiman Juned
BULAN API

aku
mengenang catatan
dengan renyai mata. Di atas
tungku jiwa terjerang jadi arang
ah!

Padangpanjang, 2008

Tabloid Investigasi Banda Aceh, 5 Agustus 2008

Yuka Fainka Putra
Gadis Kecilku

Gadis kecilku,
esok kita akan menanam kata,
agar menjadi hutan rimba kalimat-kalimat yang bermakna,
dan kita akan membangun pondok disana,
memutarbalikan logika.
Tidak bicara benar dan salah.
Juga tidak membeda-beda,
kerena kita sepakat manusia itu sama.

Painan,
Januari 2007

Padang Eksres, 25 Februari 2007

Yuka Fainka Putra
Aku Mengundangmu

Aku mengundangmu datang ke sudut sunyi sajak-sajakku.
Mungkin beberapa saat menghabiskan waktumu,
untuk bercerita tentang akar rumput dan maut.
Juga gairah mengepal dari pulang
yang hanya terjanjikan.
Jika sempat berkemahlah beberapa hari
Di tanah hening sajak-sajakku.
Mungkin aku bisa memasakkan
beberapa tanggal untuk kau kenang,
dan bisa ceritakan pada anak cucumu.
Sembari malam menjemput, unggun dikelilingi kata-kata.
Mungkin aku hanya bisa mangundangmu,
satu kali ini saja.
Menawarkan malam telentang,
menatap sajak-sajak terbang.
Painan, November 2007
Bali Post, 30 November 2008 dan kompas.com, 28 Desember 2008

Yuka Fainka Putra
Pantai 7
Kepada: Pramoedya Anata Toer
Minggu, di sebuah pantai kau paksa kami menjadi saksi,
saat jiwa masih samar membaca cuaca.
Musim membaca tiba.
Sejarah yang gegabah menyerahkan diri pada sepenggal malam.
Hujani jejak yang diisi sepi.
Naskah-naskah berdarah,
berciprakan renung pada huruf-huruf
sepanjang pasir yang ku injak.
Telanjang kaki menatap langit,
semua menjadi tiada dan tak tau kapan bermula.
Perempuan-perempuan yang terperkosa.
Jawab takdir, melangkah lewati kata-kata,
kawat berduri adalah surga yang digerayangi kupu-kupu.
“telah ku cumbu gerwani
yang tau sunyi-senyap perjuangan,
tak hanya sekedar kata
tapi juga kesendirian yang mencekam”.
Minggu di sebuah pantai, kau paksa kami mengoreskan peluh.
Tertoreh tanggal, saat aku alfa mengucapkan salam.
Ketika kata-kata beriringan makin panjang mengantarkan ke peraduan.
Painan, April 2007
kompas.com, 28 Desember 2008

Yuka Fainka Putra
Kekasih Khayalan
Aku punya kekasih hayalan.
Ia sering memperkosaku diam-diam kala subuh menjemput.
Kala sepi mencumbu.
Ia selalu bilang,
Paling suka dengan ceritaku.
Tentang kertas, pena dan prajurit kata-kata yang selalu bertempur demi hati.
Tentang mereka yang mati:
antara kamar mandi dan kamar tidur.
Oh kekasih khayalanku yang nakal
Ia selalu menyapaku kala terbius dalam buku.
Memelukku dalam catatan hariannya.
Berlari-lari dalam petikan rokok,
Batuk dan rambut rontokku.
Suatu hari ketika senja, di ladang kata
Aku sedang menyirami puisiku dengan obrolan demonstran
Ia datang mengajakku rehat,
Reingkarnasilah menjadi rindu, katanya.
Kita akan ziarah ke pemakam kidung agung.
kekasih khayalan
Ia sering memperkosaku diam-diam kala subuh menjemput.
Makanya rambutku selalu basah.
Selepas Subuh sebelum ‘Duha.
Painan, November 2005
kompas.com, 28 Desember 2008

Yuka Fainka Putra
Pameran Wajah

Pameran wajah di jalan-jalan, di sudut tikungan.
Memamerkan ketakutan, namun tak pemalu,
ada juga yang gemar melucu, menggoda,
kadang genit, uh… mata itu, senyum itu.
Wajah-wajah yang mejeng di jalan seperti menyimpan rahasia.
Menyimpan bom waktu, meledak mencari cinta.
Musim bercinta datang, mari saling menipu.
”Meraptlah, mari berpelukan,
aku kedinginan berbulan-bulan disini,
kecuplah bibir lembut, leher jenjang, teriakan kesunyianmu”
Lama-lama wajah itu mulai tanpak lusuh, sepertinya pata hati,
aku menyapa ia diam saja.
Mungkin sudah merasa asing dan aneh terus diperhatikan,
ditertawakan anak baru gede yang mondar-mandir
kala pentang meyambut.
Tengah malam, ketika tikungan nampak sepi,
dan jalan-jalan sudah sunyi.
Tiba-tiba wajah-wajah itu melompat, satu, dua, tiga, sembilan,
sebalas, dua belas, seratus tiga satu, seribu, dua ribu sembilan.
Mereka terpaksa pulang, bersembunyi di ranjang.
Painan, Januari 2009
kompas.com, 17 April 2009

Yuka Fainka Putra
Sang Pendongeng
Berat menjanjikan sebuh senja padamu, apalagi senja yang sepoi-sepoi dengan sekeranjang puisi yang kita tebar kelaut.
Prosa-prosa yang tak terselesaikan: kini menjadi pagi yang sering membelai-belai rambutku, “bangun sayang, bangun…kita akan kekeranda, nisan yang menggombal”
Nanar yang mencekam dalam ruang malam dan seteguk berita koran pagi.
Pustaka hitam, tempat teman mengerami telur-telur revolusi.
Jejak sejarah racuni kakus jiwa, menjeritlah tanpa suara.
Uh….ternyata dongeng itu kuyup menjadi bahasa lisan yang sempurna.
Senanglah dia sang pendongeng menceritakan paradigma semu tentang dunia.
Hanya di kolom realitas aku bangga menjadi angin.
Diskusi malam yang tak mencapai kesimpulan.
Kita akan bertanya, bertanya, bertanya, belajar.
Aku hanya mengucapkan apa yang telah aku pertahankan.

Batu Sangka
kompas.com, 17 April 2009

Yuka Fainka Putra
Catatan Tentang Bintang, (Cerita Bintang Dini Hari)

Malam adalah jaring-jaring holistik yang lebur,
di bintang: “ini ku catatkan untukmu”
seluruh yang bisa kubaca
dalam bening, pada pahatan sayir:
~adalah legenda tentang negeri selalu dimalamnya bintang berlukiskan, selalu berebut berkilau, memancarkan keteduhan, dan samar-samar menjadi diriku, di sejilid buku~
Dalam dan beku.

Malam selalu punya lanskap kilau yang tak tercatat.
Di halaman artikel kebebasan, yang mengalun, merangkai, luluh lantangkan teradisi.
Lalu ada rasi-rasi yang menampakan diri, membujur dari timur kebarat. Balajar menggenggam, berdiskusi, mencaci, terduduk dalam kosong.
Bintang hadir memberi seufuk kehangatan.

Dan aku menyimpan sunyi dalam deretan daun-daun.
Ke Subuh yang ranum, hijau bulan dan deru ungu angin.
“seperti biasa di negeri atas awan, aku menghitung bintang, sambil telentang dan membungkus sisi peluh yang juga belum terjawab. Akan kita selesaikan seperti apa, malam?”
siluet tunggal dibayang yang muram.

“Catatlah bintang selalu ada
walau tak hadir dijilid-jilid malam”

Painan, April 2006

Padang Ekspres, 7 Mai 2006

Yuka Fainka Putra
Di sebuah Jum’at

Sebelum ke Jum’at orang-orang berkumpul dilapau,
menghitung pelik dan politik.
~ sekarang masih di adat nan sabana adat, kelu dan harga ~
segulung tikar menafikan alur puisi yang sebagaimana mestinya.
koran-koran berserak: aku tercecer memungut putaran jam.

Di Jum’at kayu.
Rumah gadang ba bilik limo
Orang-orang struktural yang dicekam gelisah.
Menyublin keluar jendela, sambil menggenggam kedua mata dan sepuluh basah.
~sakali aie gadang, sakali tapian rutuh, terdeskripsikan dalam gagasan yang tak jelas, kabur di dunia nyata dan tersesat di dunia maya, mimpi-mimpi hanya menjadi utopia yang hambar~

Bundo, batu lado jo gulai sampadeh.
mamak mengunci animisme,
dipolitik praktis, “ya… sah-sah saja menlakukan apa”,
anak di pangku: di lolong, adat basandi alu jo patuik.

Di balakang rumah ketek, rumah bagonjong jadi kandang ayam.

Batu Sangka, Mai 2006

Singgalang, 28 Desember 2008

Yuka Fainka Putra
Sang Demonstran 2

Demostran itu menembus brikade sejarah, nan usang.
Pekiknya ”Keringat ini adalah harga diri, perjuangkan kebebasan”

Dia erami telur-telur semangat,
dan berkakta “kita tak ada apa-apa kalau tak mau mengapa”

Demonstran ceking itu hanya teriak sendirian.
Senapan berpuluh mengarah padanya.
Membajak dia punya kemerdekaan.
Tak bisu, tapi terus mengelu-elu.
Sembari berharap
Tan Malaka datang, teriak “suara saya akan lebih keras dari kubur dari pada di atas muka bumi”

Komandan pasukan menghampirinya
Bertanya. “sudahlah, keadilan yang kau harapkan tak akan pernah datang. Sebab revolusi telah sama-sama kita kubur dalam-dalam saat domakrasi telah punya tafsir yang berbeda di Indonesia”
Pak komandan lebih mendekat, memeluknya
Berbisik “jika kau ingin merdeka, pilihlah kuburan yang baik untuk bermimpi”
Juli 2005

Singgalang, 29 Juli 2007

Yuka Fainka Putra
Perjalanan

Setiap perjalanan selalu meninggalkan pena, sejarah, cerita, kumpulan muntah, dan.
Tinggal angin dideru jejak, menyukai jingga.
Dialog dan monolog ku saling melahap secangkir teh dan rokok: berdua.

Setiap perjalanan selalu menggoreskan resah, gelisah, bahagia, tawa, tangis, tapi.
Kenangan tinggal tumpukan dalam bab-bab, huruf-huruf yang terpenjara.
Hingga disuatu penginapan aku harus membungkus prolog dan epilog, hilang dari tatapan.

Sejak aku banyak mengabisakan waktu di perjalanan.
Selalu yang tersisa: tidur, bertemu mimpi-mimpi.
Berada di dunia baru, harapan baru dan langkah baru ke perjalanan berikutnya.

Painan, April 2005

Padang Ekspres, 7 Mai 2006

Yuka Fainka Putra
Kata

Selepas hujan malam masih basah
Yang tercecer adalah huruf-huruf
Saat musim mencatat menjadi beku
Memuai dikeringat
Hari-hari benar-benar menjadi gelisa

Peluh dan takdir
Tanah masih basah
Tanah tumpah darah
Tanah air disengketa
Kata-kata masih saja terus memperjuangkan kebenaran.

Dikota, tempat semua kata dipenjara
Atau direkayasa
Aku meronta-ronta karna tak kuat berdusta.

Bali Post, 27 Januari 2007

Yuka Fainka Putra
Kota Senja

Apa yang bisa kucatatkan untukmu tentang sanset sore ini?
Sore di kotaku, yang waktu kau datang,
kau katakan “aku menemukan kota senja”
dan kau minta di catatkan sesuatu tentang sore kita.

Namun,
Setiap kesempatan membentuk ruang waktu tersendiri,
walau singgah dihalaman-halaman,
spasi mengajarkan pada kita betapa pentingnya berjarak yang memerdekakan.
Kita memilih untuk tidak saling terjajah.

Di waktu sore membeku,
dan mentari terapung setengah,
saatnya kita berkata-kata, menyaksikan kejujuran dikerengkeng logika.
Yang tercatat: “paling mendebarkan dari hidup adalah perpisahan”

Painan, Juni 2006
Singgalang, 29 Juli 2007

Yuka Fainka Putra
Malam Kental

Perempuan, dingin mencengram, karang-karang berselimut pasir.
Ini kota yang dikelilingi bukit,
pantai di Barat bergandengan dengan air terjun di Timur,
setia pada mata hari yang terbit dan terbenam.
Jangan ragu, catatlah namaku dibatu tapal sejarah negeri ini,
sampai bertemu di Bukit Tampat.

Malam itu aku berbaring di pasir,
sayup-sayup nyanyianmu terdengar bersama ombak,
juga warna api unggun yang meremang.
Inilah pulau dimana bintang menjadi beku
dan bulan muncul perlahan dibalik bukit ujung Timur,
pukul dua pagi.

Aku memanggilmu,
coba kau tebak gelisah bujang-bujang di kota ini,
pori-pori yang mengeluarkan darah dari lemak yang memucat.
Kesepian dan keterkekangan.
“aku ingin pulang”, bermain bola bersama tuan Marx.
Semua berteriak, liar:
“pergilah kelaut, lupakan mimpi-mimpi”

Painan, Oktober 2006

Padang Ekspres, 5 November 2006

Yuka Fainka Putra
Pantai 5

Aku anak pantai, kulitku terbakar sepi
Tiap malam merayakan kesendirian
Dideretan ombak yang rindang
aku mengumpulkan kata-kata
mengabarkan pada pasir,
agar bakau merangkainya dalam curiga
dan menuntaskan semua dendam
menghalau resah dan gelisah.

Namun, senja selalu mengingatkan sisa-sisa sakitku
Headline hujan:
“kumpulkan lagi kuka itu, tulislah dalam cerita
agar tak basi dan lari”
selalu di pantai akan ada bisikan-bisakan rahasia
yang mengantar pertanyaan-pertanyaan.

Aku anak pantai
Tiap malam merayakan kesendirianku
Suatu hari aku akan membekukan ombak,
Kejadikan dongeng pengantar tidur.

Painan,
April 2007

Haluan, 27 Mai 2007

Yuka Fainka Putra
Puisi, Maaf Aku Lupa Menyisipkan Sajak Cinta Di Baitmu.

Ketika puisi lahir, mati pun menjadi hening dalam lamun.
Menjadi ayat-ayat sederhana yang pantas dibaca musyafir.
Lalu turun seperti hujan untuk anak-anak yang baru berumur tiga hari.

Berapa lama aku lupa menulis sajak cinta.
Sajak teduh, “cinta diciptakan bukan untuk
menyakiti, cinta itu meneduhkan”.
Bukankan kata itu yang membuat aku tetap bernafas.

Embun pun jatuh ketika mentari menyapa bumi.
Sang petualang, dengan ransel disandang.
Menatap jauh, langit, dengan puja puji religi.
Haruskah pengikraran didefenisikan sebuah ritual?
“terserahlah, puisi pun diinterprestasikan sesuka yang membaca”
rambut panjang dan tatapan matamu.

Seperti itulah, kupu-kupu pun ingin menghabiskan hidupnya sebelum patah tumbuh hilang baganti.

Ayolah, kita selesaikan hari ini dengan kalimat indah.
Sebuah puisi yang teduh,
Puisi cinta yang ketika dibaca lukisanpun ingin keluar, khusyuk mendengar.
Membuat kita bergandeng tangan, tanpa menghilangkan kompetisi.
Menjelaskan pengalaman intim, pengalaman malam yang hening.

“cintu, kudus, rindu pun turun di telaga bunda”

Labor Antropologi
September 2005

Singgalang, 29 Juli 2007

Yuka Fainka Putra
Kau Pernah Menjanjikan Esok

Kau yang sempat menjanjikan esok.
Esok: untuk bercerita, tentang bagaimana puisi lahir
dan memilih sebuah senja di kasur
kamar tidur yang jingga
matahari perlahan tenggelam di rak buku
dan puisi itu tak menanya kenapa dia ada.

Di esok yang pernah terucap
Cerita bagaimana memilih, mempertangungjawabkan janji.
Tak harus buang-buang waktu,
tak harus, bermenung lama-lama,
apalagi harus bersendiri.
Karena mencatat, hari ini manjadi berarti.
Puisi lahir untuk berbahasa.

Jika besok yang kau janjikan akan nyata.
Berjanjilah untuk hadir apa adanya
Dengan tatapan tajam dan suara serak
Kita akan berkisah
Tanpa banyak saling sapa
Puisi memberi ruang intim, untuk esok yang sederhana.

Painan,
Septembar 2006

Padang Ekspres, 8 Februari 2009

Zelfeni Wimra
bus kota dalam dada

“suara apa di dalam?” tanyamu.
ketika itu, sepulang menyiang tembakau
aku senang menyuruhmu telungkup
dan tidur di punggungmu

“suara orang menumbuk padi,” jawabku.
lalu kita seperti menemu pusung. berduyun ke langgar tepi kampung
berebut putik mentimun sebelum magrib menyaga
dan angka-angak meraja

di ceruk belukar ransam, kita kelukkan daun pakis
itulah mahkota, aku raja kau ratunya. Kita pun kawin-kawin
kisah yang dicemburui anak-anak tupai ini kelak, katamu
jadi kenangan paling harum dalam kubur
lebihi pisang panggang, randang ubi
atau pun reroti yang kemudian membesarkan anak-anakmu
di kota

di kali penghabisan, kita masih sempat menafsir rumpun kacang
menandai luka miang gabah yang cecer
barangkali pematang sawah; torotoar; bahu ibu kita
ditumbuk tahun-tahun, umpama ketela luluh dalam kue-kue

tapi tubuhmu telah bujur

“peluk dadaku. kau tahukah, tangis siapa di dalam?”
aku dekatkan telinga. batin.
“aku mendengar bus kota. ia mendekat. lalu jauh,”
tapi jawabku berganti gagau.
parau.

padang, 2007

Kompas, 1 Juli 2007

Zelfeni Wimra
siul sembilu

rindu siapa pula yang mengelupas di kulit bambu?
aku disayatnya. menekuk ngilu. terbirit
bersiul-siul memalsukan luka di balik saku baju
darah, cegatmu. tinta, bantahku
tinta bagi cerita larat yang melimpah
sejak punggungmu mengabur di jalan lurus itu
kutumpuk siul ini di halaman, meski jejakmu masih basah
dan tiap menyingkap pintu, derai riangmu menyergapku
denting piring dingin. gelas-gelas diam. tungku diam
pada serpih arang kugadaikan andai
kita bersilu-siul lagi lalu terbakar di perapian ini

2006

Kompas, 1 Juli 2007

Zelfeni Wimra
minyak tanah surga

sudahi saja rengekmu
mari menyala puisi
di umbut pelepah kelapa kering
tanah kita tak berminyak lagi
sia-sia mengidam api
bergurulah pada anai-anai
yang bergelimpangan dilena lampu

sudah. tutuplah kitab sejarah itu
lendir minyak kelapa di piring loyang
dan bunga alang-alang sebagai sumbu
pelita bagi malam lengang
hanya derap sepatu penjajah di laman

cukup puisi ini saja yang malang
izinkan aku merebut lenganmu
berjingkrak lagi ke ladang pisang
bukankah penghuni surga
hanya orang berhati riang?

2008

Kompas, 27 Juli 2008

Zelfeni Wimra
datanglah, meski bukan sebagai hujan

kerak bendul di beranda mengelupas
kemarau belum mau berhenti
datanglah, meski bukan sebagai hujan
jadi teman bercerita saja sudah cukup bagi letih
karena waktu yang terus susut
tak henti menabur kenangan
sedang kita sering tak sempat memungutnya

2007

Kompas, 27 Juli 2008

Zelfeni Wimra
kabar nyinyir tentang tangis terbengkalai

selalu ada yang berdenging di pintu
seakan kau kembali
memeriksa garis pedih di lutut anak-anak
yang jatuh berkejaran
berikutnya gema riang melinang bunga-bunga
berseteru dengan detik nyinyir
yang melulu berkabar tentang tangis
terbengkalai
di mata ibu-ibu tinggal
sesisa umur saja
biarkan aku menumpasnya
seperti meneguk rahasia
yang larut dalam secangkir kopi
sisa cerita yang kau tinggalkan
di meja taman
tapi desing angin
mengapa pula meniup bau kerudungmu?
menggeleparkan doa kekasih yang tersungkur
berkirim salam dari pengasingan
dirajam pecahan takdir
pembangkangan
harusnya kubalikkan badan
memunggungi tikungan yang menelanmu
tiada menoleh lagi
tiada risau lagi
karena kitalah pejalan yang telanjur
digerus sepi
tidak begitu adanya
bahkan aku telah berlari
tapi ke halaman licin itu lagi
mematri ragi tapak sepatu
entah tali apa yang telah memautku di sana

2007

Kompas, 27 Juli 2008

Zul Afrita
Kesunyian Jendela Matamu

tengah malam, laut tenang di jendela matamu
kedipmu lengang dan nyanyian pagi,
nyanyian petang,nyanyian senja.

(burung-burung berhenti berdendang
bersedih, sarangnya telah kau punahkan dengan badai
yang kau kirim senja tadi)

sejak lama aku jatuh di kedua sunyi matamu
sinarnya membuat gagu
tak perlu kau terima hati berceceran ini
biarlah ditangkap angin
ditenggelamkan air
nanti kau berbencana, pudar, gusar
telah airmata mengalir
hanyutkan diwaktu sebentar.
kau menggelepar di malam buta
bercerita tentang cinta
meratapi perpisahan
perasaan terapung di kepala
mulut tertahan bicara.
sunyi hati terbakar kesedihan
malam pun tak ada bintang memberi kerlip
atau bulan benderang
atau jejangkrik berdendang
pada malam hanya aku sendiri yang kau temukan tenggelam.
larut menimang gerimis

Studio Senja, Padang, Januari 2008

Seputar Indonesia, 13 Juli 2008

Zul Afrita
Jejak Langkah Lelah

Hari lelah hitung jejak langkah,
Ada tercecer tak pernah dihitung
Muka pesiang pada cermin retak, berdebu kecipak angin
Melambungkan angan
Siang bertandang
Lelap terkapar di tanah basah.
Cium lukamu penat menanti penawar
Kau berada dalam bayang, memudar hujan
Bersama deras air dari langit. Petir menyambar
Asal kau mengerti dengus hari-hari
Mengajarkan berlari
Bersama damai awan. Berlalu dengan tenang.
Katakan padamu, siang tak selama terang
Malam tak selama berbintang
Pesankan pada ibumu menuai padi di sawah
Matahari telah membakar punggungnya

Padang, Januari 2008

Seputar Indonesia, 13 Juli 2008

Zul Afrita
Sahabat Sehari-hari

Sahabat itu, orang banyak mengukir cerita
mereka bermusik, bermalam gerimis, berapiunggun, bermalam
di puncak mata

Sahabat itu, air merendam rumahrumah, menghanyutkan segala citacita
orang rendah
bukubuku sekolah hancur, di toko tak murah

Sahabat itu, pengemis memintaminta di tengah pasar, di wajah
rumah makan, di muka swalayan, di rumahrumah didatanginya

Sahabat itu, api yang menghanguskan, membakar rumah,
gedunggedung, pasar, hutan, dan rumah tangga

Sahabat itu, pejabat kita yang sangat lincah bermain uang di kantor,
menjual diri untuk uang, istri, anakanak,
untuk barang-barang mewah.

Sahabat itu, orangorang bermuka sama seperti duburnya.
Menjual dirinya pada malammalam liar dingin.

Sahabat itu, orangorang yang merintih tak makanmakan,
gizi tak cukup, anakanak menderita busung lapar, gizi rendah,
nyamuk menyerang, asapasap rokok setiap saat merasuk paruparu.
Rumah sakit banjir pasien, dokter tak ada yang menganggur.

Sahabat itu, orangorang pintar mengambil muka muka bosnya,
muka dosennya, muka gurunya, muka ibunya,
muka bapaknya, muka pacarnya, bahkan muka Tuhannya.

Sahabat itu, ibu ditinggal bapak di rumah setiap malam.
kasur tetangga lebih empuk
Anak kecil telah berani mencium lawan jenisnya mengajaknya
berkencan, mandi berdua, makan berdua, sekolah berdua. Selalu
berdua-dua ke mana-mana.

Sahabat itu kita

Tanah Tuhan, 2008

Seputar Indonesia, 13 Juli 2008

Zul Afrita
Sepi

musik berhenti mengalun
orang-orang kehilang nyanyian

siang berkabut larut
dawai gitar putus dimakan tikus
seruling jatuh lepas genggaman
ke lantai pecah, terbelah
listrik padam, lampu sisik habis minyak
jam berhenti berdetak bersama sajak
teman pada pergi diangkut Tuhan
bersama cerita, bersama mimpi
angin tertahan di beranda
rokok tinggal puntung
gemerisik air di kamar mandi tersumbat
api mengabukan kayu di dapur sendirian
ibu tak pulang
ayah telah merantau jauh, di negeri
Tuhan
cicak di kamar berhenti berkejaran
si betina tak datang mengantarkan
ciuman
bunga dalam pot layu
kupu-kupu diawetkan di museum
tak ada cengkrama dalam rumah
semua berhenti bercerita, takut terluka

tanahtuhan, 2008

Majalah Annida, No 1/xviii/September 2008

Zul Afrita
Ombak

Kusentuh ombak yang mengejarku ke bibir pantai
ombak masih sepi di siang diturun gelombag
salamkan senyum simpulmu manis tusuk hatiku hingga luka
tapi tak apalah dek, hidup itu memang harus ada luka
tersenyumlah diriku, aku memang lelaki yang terlahir
dari pesakit ibuku.

Pantai Gandoria Pariaman, November 2006

Padang Ekspres, 9 September 2007

Zul Afrita
Wajah Turun

wajah turun menekur
ada suara ngikik rendah di sisi jendela
mungkin teramat ramai menghujam kalbu
matanya abu-abu
menengok permata digelar di wajahmu
sudah usang, lusuh aku terbunuh
dengan panah yang dihujamkan minggu lalu
mungkin segera berlalu jauh.

2007

Padang Ekspres, 9 September 2007

Zul Afrita
duh cantiknya, DARAHMU!

Sejarah diukir di dinding berlumut
Aku mau memprotesmu
Jantungku kau sobek-sobek cinta
Anak panah kau menembusnya
Kau tetap saja berkata:
Duh cantiknya, DARAHMU!

Tanahtuhan, maret 2008

Singgalang, 4 Mei 2007

Zul Afrita
Bingung

a n
l b
u e
b r
k
a
bs
u
n
g

!!

Singgalang, 4 Mei 2007

Zul Afrita
Api

i, matamu sebentuk surga
i, aku larut dalam pandangan semu
i, mengajarkan tentang api
i, kemudian aku menghanguskanmu
i, semenjak kau pergi tak kembali-kembali
i, karena beranda hati sepi
i, nyanyian tlah usai malam-malam sepi
i, ada kau angkut jiwaku pergi
i, kehilangan nyawa pada jejak tertinggal
i, mau menjemputmu dengan tentara emosi
i, kau tunggulah di jendelamu setiap pagi
i, aku akan mengamen di wajahmu sunyi
i, biarlah mama mengusirku kembali

sungguhkah telah hapus di hatimu
setelah kau temukan sebentuk hati
lebih manja, suatu kisah pernah bercerita
tentang datang- perginya kau begitu saja.

i, kau salah, aku tak pernah goyah memelukmu

tanahtuhan, Maret 2008

Singgalang, 4 Mei 2007

Zul Afrita
tanahtuhan

Tempat kau terlempar dari surga
Adam dan Hawa telah menelan kuldi
Nenek moyang iblis itu merayunya
Alam tercipta tempat kalian bernaung
Hampa dari nyanyian

Dia tak pernah mencerca dan mengumpaT
meski selalu saja langkah ragU
iman-iman di dada goyaH
sebenarnya kau tanyA
dari dulu Dia TuhaN

Tempat kau berladang dosa
Agaknya berjualan iman
Nereka memanggil-panggil jasad kalian
Akankah bayang-bayang bidadari
Hanya sebatas mimpi?

kalian bercerita pernah tersesaT
di ladang Tuhan tak kalian tahU
masih saja sempat maraH
Tuhan telah memberi nyawA
kau tak mau hidup, mati pun segaN

tanahtuhan, Maret 2008

Singgalang, 4 Mei 2007

Zulham
aku kehilangan satu waktu dalam kamarku

aku kehilangan satu waktu dalam kamarku
yang jadi sedotan jus jambu. tanggal dipanggang
dalam microwave. tak semua berketahuan
lalu kau mendengus seperti ingin dihapus dari aplikasi
kakiku yang kecil meneriaki truk container sebagai pencuri
membawa lari rimba prematur. hutan jadi miniatur, jadi perabot
berkurung dalam sangkar. dalam ruang pajang. suara-suara
terbang rendah membau mata kaki. tak jeli memenuh ruang
cuma satu kilobytes. menit-menit berhembus
lewat hidung lalu ke jantung merembes ke paru-paru
mendirikan kemah, mendirikan istana megah

aku lupa bagaimana caranya masturbasi
perutku ditumbuhi ilalang. ada kekanak
bermain bola; bola dari kepala begitu riangnya
sepak penalti ke dalam almari dalam baju yang belum di cuci
mengumpul jadi satu

aku kehilangan satu waktu dalam kamarku
dari kotak vcd bermunculan tentara. berbaris
sepanjang mata menendang cahaya lampu
di mana ada perang? aku tak mendengar
dentum meriam atau alun komposisi orkestra

aku kehilangan satu waktu dalam kamarku
berjalan di seputar pelataran parkir
membuat kakiku nyinyir menyihir buah pelir

belanti, 2007

Padang Ekspres, September 2007

Zulham
sehabismu

sehabismu menjemur padi, kutanak nasi dalam jemari
lauk kita ratap kekanak menanti bapak beli jajanan
lalu tubuhmu menjelma batang mangga, tempat menyusu—
bertemu segala keluh. tukak menjadi berkaratan dalam nadi
mengalirlah segala yang terkubur dalam ingatan, biar
kuketam dengan musim. subuh mendingin
berselang dalam kecup hanyut dan surut, kepalaku laut
berlayarlah dalam dadaku. segala bermula di sini
orang-orang memahat petang, membuka ladang
membangun pematang di sisi-sisi jalan

sehabismu meratap atap yang murung saat hujan turun
kurenda daun kelapa sebentuk mahkota—kau jadi ratu
dangau tepi bukit istana kita, burung jadi tentara
usai berperang kita minum air kelapa muda. tanam segala
decak yang mengelucak membangun kotak dalam otak
kita samar dalam tidur, tak saling kenal. kau bakar rambutku
aku termangu bibirku kelu
dimana kau sembunyi?
di gudang naga atau dalam saku pendeta?

sehabismu menghabisiku.

kandangpadati juni 2007

Padang Ekspres, September 2007

Zulham
musim muda

pucuk cemara di kesiur embun pada layu musim muda
membelai angin dari sebelah pantai usai merapat ke kasih kekasih
sebelum tumbuh, mari bersangai dalam siang
matahari dan sisa-sisa awan diarak ke hulu
ke sebuah senja yang asing—bulan menua, bebintang hilang warna
tak seperti dunia kita
berkutik dalam putik memantik langkah yang lentik
kesemua jemari bergenggam. adakah ini kepiluan?
mantapkan lafas cuaca mencucuk ranting
pepohonan sebuah taman mengguyurkan daun-daun hijau
ada yang tumbuh jadi semak belukar
menggelar bekas persinggah sutura
ini kedatangan yang keberapa kali?
ke halaman penuh baju lusuh dan jamban tak pernah disiram
menyeringai aroma. bukan inikan yang kita inginkan?
dalam langkah musim muda—segala hijau bergegas antri peti kemas
akan dibawa kemana?
buat hidang meja makan sudah bapak pesankan
dalam peluh bukan garang melintang—petang melenggang

rumahteduh 2007

Padang Ekspres, September 2007