2008-12-19-23-24-41_00111

Judul Buku : Tarekat Syatariyah di Minangkabau

Penulis : Oman Fathurahman

Penerbit : Prenada Media Group, Ecole francaise d’Exstreme-Orient, PPIM UIN Jakarta dan KITLV – Jakarta

Cetakan : Pertama, Agustus 2008

Minangkabau (Sumatra Barat), tak pelak telah memberikan kontribusi terhadap terciptanya tradisi dan wacana keilmuan Islam di dunia Melayu-Indonesia yang distingtif dan tak habis-babisnya memberi inspirasi bagi peneliti, sebab keragaman yang berada di dalamnya.

Kekhasan corak, budaya, dan ekspresi Islam seperti terlihat di Minangkabau inilah yang pada gilirannya membentuk apa yang disebut Islam lokal, serta muncul di berbagai wilayah sebagai mozaik-mozaik beragam yang membentuk corak Islam Melayu Indonesia yang khas pula, terutama ketika dibanding dengan corak dan ekspresi Islam yang berkembang di wilayah asalnya di Tanah Arab (Prof. Dr. Azyumardi Azra: 2008)

Wacana inilah yang diangkat Oman Fathurahman dalam buku terbarunya “Tarekat Syatariyah di Minangkabau” (selanjutnaya akan ditulis: TSDM) yang dulunya merupakan disertasi doktoralnya. Oman mengapresiasi warisan intelektual Islam Indonesia dalam konteks kalangan pribumi itu sendiri dan terlihat betapa khasanah pernaskahan nusantara dapat menjadi sumber penting dalam upaya rekonstruksi sejarak sosial-intelektual keagamaan di wilayah tertentu.

Buku TSDM yang terdiri dari enam bagian (bab) tersebut meliputi pendahuluan yang membahas tentang naskah nusantara keagamaan, kajian tentang Tarekat Syattariyah, dan mengapa tarekat Syattariyah muncul di Sumatra Barat (?). Bagian keduanya lebih fokus terhadap Tarekat Syattariyah, mulai dari organisasi tarekat di dunia Tasawuf sampai pada pelacakan terhadap akar tarekat Syattariyah dari India sampai Haramayn. Bagian-bagian selanjutnya membahas mengenai Tarekat dan tradisi keagamaan di Sumatra Barat, berlanjut pada sumber-sumber tertulis tentang tarekat Syattriyah, Transmisi Ajaran dan Zikir Tarekat Syattariyah dan bagian terakhir membahas mengenai dinamika Tarekat Syatariyah di Sumatra Barat. Adapun pada bagian akhir buku TSDM, penulis melampirkan transkripsi teks Pengkajian Tarekat, silsilah Shaikh Burhanuddin dari Ulakan dan guru-gurunya, Silsilah Shaikh Burhanuddin dan sebagian murid-muridnya di Sumatra Barat, Silsilah Tarekat Syatariyah “versi Kuningan”, Silsilah Tarekat Syatariyah “versi Cirebon”, Silsilah Tarekat Syatariyah “versi Giriloyo”, dan tabel transmisi Ritual Tarekat Syatariyah.

Prof. Dr. Azyumardi Azra, selaku Guru Besar sejarah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengungkapkan, bahwasanya buku (TSDM) yang mengkaji tentang naskah-naskah Surau di Minangkabau ini semakin meyakinkan kita betapa Surau pernah memainkan peran penting sebagai ‘local genius’ dalam kehidupan keagamaan, sosial-budaya, dan adat istiadat masyarakat Minangkabau. Selain itu, Azyumardi Azra menambahkan, dalam buku TSDM kita disuguhi sumber-sumber lokal berupa naskah-naskah tulisan tangan berikut saling silang hubungan antarnaskahnya, pembaca buku TSDM juga akan menjumpai informasi penting mengenai sejauhmana dinamikan dan perkembangan tarekat Syattariyah di Minangkabau, terutama menyangkut rumusan ajarannya beserta mata rantai antara guru dan muridnya.

Tak jauh berbeda dengan pendapat Azyumardi Azra, Guru Besar Filologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Achhadiati Ikram, menyatakan bahwa telaah penulis dalam buku ini telah membuktikan betapa pentingnya studi naskah lama (manuskrip) untuk pengetahuan sosial-budaya, yang pada gilirannya memberikan pencerahan bagi pengenalan jati diri bangsa.

Prof. Dr. Hendri Chamber-Loir, Ecole francaise d’Extreme-Orient di jakarta mengungkapkan bahwa penulis TSDM mengibaratkan filologi (ilmu tentang naskah-naskah kuno) sebagai sebuah kunci. Kunci itulah yang memberikan akses kepada naskah-naskah lama sebagai sumber pengetahuan tentang masa silam. Tetapi sekali pintu terbuka, sang pakar tidak puas berhenti di ambangnya saja, maka jadilah pengejawantahan sebagai sejarahwan. Buku TSDM, ungkapnya, membuktikan dengan gemilang bahwa batas-batas anatara berbagai ilmu dapat dan perlu diterobosi karena makana historis hanya dapat lahir dari gabungan ilmu-ilmu tersebut.

Adapun dalam buku TSDM yang fokus telaahnya adalah naskah-naskah keagamaan, dalam hal ini naskah tentang tarekat Syattarriyah yang muncul di Sumatra Barat, atau Minangkabau. Naskah-naskah yang menjadi sumber primer buku tersebut berjumlah 10 judul, yakni karangan atau tulisan dari tiga orang ulama Syattariyah di Sumatra Barat, yakni Imam Maulana Abdul Manaf Amin (1922-2006), H. K Deram (w. 2000), dan Tuanku Bagindo Abbas Ulakan. Ia juga menyertakan 2 sumber Arab untuk mengukur sejauhmana dinamika yang terjadi dalam ajaran tarekat Syattariyah di Sumatra Barat, yakni al-Simt al-Majid, sebuah kitab tasawuf karangan Syaikh Ahmad al-Qushashi, dan Ithaf al-Dhaki bi Sharh al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi, karangan Ibrahim al-Kurani.

Penulis TSDM melakukan pengkajian filologi dengan interdisipliner dan kontekstulisasi terhadap teks naskah. Dengan hubungan, silsilah, rekonstruksi terhadap teks. Penulis juga melakukan penekatan sejarah sosial-intelektual dalam pengertian dimaksudkan sebagai kajian atau analisisis terhadap faktor-faktor sosial intelektual yang mempengaruhi terjadinya peristiwa sejarah tersebut—Tarekat Syattariyah di Minangkabau—sehingga, salah satu tujuan dari kajian dalam buku TSDM adalah rekonstruksi ajaran tarekat Syattariyah yang terdapat dalam naskah-naskahnya, serta telaah atas dinamika dan perkembangannya di tengah-tengah keagamaan Islam di Sumatra Barat umumnya.

Tentunya dengan segala kelengkapan dalam buku TSDM ada juga kekkurangannya. Tapi hal ini lebih pada batasan penulis dalam minimnya naskah-naskah bantu yang menyangkut dengan kajiannya. Misalnya saja pada lampiran, tentang Silsilah Shaikh Burhanuddin Ulakan yang merujuk pada naskah Tanbi al-Mashi, Khilfayat al-Muhtajin, dan naskah-naskah Melayu Minangkabau. Serta tentang Silsilah Shaikh Burhanuddin Ulakan dan Guru-gurunya dan Silsilah Syaikh Burhanuddin Ulakan dan murid-muridnya , yang bersumber pada naskah-naskah melayu Minangkabau dan sumber-sumber lokal lain. Silsilah ini tidak dilengkapi dengan tahunnya, misalkan pada Shaikh Burhanudin Ulakan (1056-1111 H/ 1646-1699 M) dengan muridnya Tuanku nan Tuo Mansiangan—tidak ada data tertulis mengenai tahun—disusul dengan muridnya Tuanku nan Tuo cangking (1136-1246 H/ 1723-1830 M), disusul dengan Tuanku Nan Renceh, tanpa tahun yang jelas. Tentunya batasan ini bukanlah sesuatu yang fatal, keterbatasan penulis dengan data yang minim tentunya adalah alasannya.

Semoga dengan hadirnya buku TSDM ini akan membuat penelitian tentang filologi makin semarak lagi. Tentunya berharap peneliti-peneliti lain di Sumatra Barat akan dapat menambah lagi atau menggali lagi khasanah naskah-naskah lain yang berada di Sumatra Barat. (Esha Tegar Putra)

About these ads