Diarsipkan di bawah: halaman esai
Oleh: Esha Tegar Putra
Perioderisasi kesusastraan Indonesia beberapa tahun belakangan ini jauh berubah dari wacana yang muncul sebelumnya. Di segi permunculan karya, media penyebaran, dan lahirnya institusi independen dengan berbagai kegiatan yang mendukung perkembangan kesusastraan di berbagai daerah telah merubah paradigma “peta kesusastraan” memusat, menjadi “jejaring kesusastraan” yang meyebar.
Diarsipkan di bawah: Sesuatu Apa Saja

Judul Buku : Tarekat Syatariyah di Minangkabau
Penulis : Oman Fathurahman
Penerbit : Prenada Media Group, Ecole francaise d’Exstreme-Orient, PPIM UIN Jakarta dan KITLV – Jakarta
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Minangkabau (Sumatra Barat), tak pelak telah memberikan kontribusi terhadap terciptanya tradisi dan wacana keilmuan Islam di dunia Melayu-Indonesia yang distingtif dan tak habis-babisnya memberi inspirasi bagi peneliti, sebab keragaman yang berada di dalamnya.
Kekhasan corak, budaya, dan ekspresi Islam seperti terlihat di Minangkabau inilah yang pada gilirannya membentuk apa yang disebut Islam lokal, serta muncul di berbagai wilayah sebagai mozaik-mozaik beragam yang membentuk corak Islam Melayu Indonesia yang khas pula, terutama ketika dibanding dengan corak dan ekspresi Islam yang berkembang di wilayah asalnya di Tanah Arab (Prof. Dr. Azyumardi Azra: 2008)