my document warnet by-pass

my document warnet by-pass

Garis Ladang

di ladang kita berpandang, bersahutan suara, saling berebut
tali puisi. ladangku rumpang ladangmu lempang. hah
jadinya aku cuma bertanam rumput gajah. biar dijarah
perempuan malang yang di pinggangnya terselip sebilah sabit
(aku tahu ia bakal merambahnya secara diam-diam bila
seminggu saja aku tak berkunjung ke ladang) sebab matamu
merah apel, dan di sini aku tak bisa membibitnya. tapi bakal
kusayat dalam perih, kuiris dengan tajam. sebab jemariku
telah biasa menujah pucuk kopi dan kulit manis di tiap
musim bertukar

dalam manis tebu, dalam pahit empedu, di mana garis
ladang bakal bertemu dengan lagu yang menandakan
dinginnya suara gunung? orang kata cuma di silungkang
tempat bertenun adalah mengasah waktu, tempat perempuan
berparas kelabu dan senyum yang makin batu. di sanalah
cerita dingin yang teramat dijahitkan. dengan benang ragu

tapi bukankah di air lembah, dingin juga menujah? biarlah
lurah bersuara tentang puisi yang direbut malang. tentang
peristiwa sunsang, peristiwa yang berlainan perut, peristiwa
yang saling menikamkan usus. dan semua itu berupa tali puisi
yang dipintal secara pasi, dengan tangan masih disusup gabuk

aku jadi si peragu, jadi gugu, di lambungku tertanak batu. sebab
kita dua ladang yang bersahutan garang. dan cuma di puisi beradu
suara. sebab matamu merah apel dan aku telah bertanam rumput
gajah. mengingat ulah seorang perempuan yang di pinggangnya
terselip sebilah sabit. tapi tak apalah, tali puisi bakal memanjang
biar diulur dan ditarik setiap kali bersahut diri

Kandangpadati, 2008

Ladang Jamur

dibuang, aku jauh…
ladang kata, ladang makna, ladanglah segala, adakah
tumpak tanah yang lebih hebat rebahnya daripada
ladang? adakah tampuk kayu lebih lekuk simpangnya
daripada ladang? tapi yang menghujam
dari pusaran angin limbubu juga ladang

“baiklah jamur, tumbuhlah, lagakmu ramai benalu
rumpun yang tak pasti jadi dalam tidur para perupa lama
dalam lempung yang dikirim bahasa kayu di tiap patahan
menyiksa”

yang bersongkok kepalanya itu, mak, menabuh daun
bawang, merebut tiap kelopak masam dan berharap di
antara parak siang menyisa peristiwa senja yang amat
dalam kenangannya. tapi aku beranjak dari tingkahan
bunyi sendok dan kuali kosong di tunggu setengah
padam. tetaplah jamur yang didapat, dikelubik dari
patahan kayu ladang. menggulainya seketika dingin
turun dari ujung atap rumah-resap ke kering badan

tak mau lagi dibuang, aku jauh…
sebab kumbang sering kali menikam pandang, di tiap
susutnya perjumpaan ladang, itulah bahasa yang paling
menyiksa. tapi adakah tumpak tanah yang lebih hebat
rebahnya daripada ladang? adakah tampuk kayu lebih
lekuk simpangnya daripada ladang?

Kandangpadati, 2008


Kucing Air

kalau kau mengenal pasti bentuk kucing air
tentunya kau tak akan meraut lidi batang enau
sebab kucing air tak takut dengan lecutan tajam
ia juga tak gentar dengan semburan api tungku
yang panas baranya memutihkan mata

kucing air datang dari dalam diri, menjelma
sebuah bahasa yang setiap kali kau berucap
akan membuat orang-orang berpikir tentang
makna gelak dan tangis. tapi siapa yang akan
sanggup melap pipimu atau menjahit bibirmu
jika kau menjelmakan kucing air? semuanya
akan menyuruk di dalam pakaian yang
dikenakan untuk menutup malu. mirip umang-
umang yang dibenam ke dalam cambung
berisi parutan kelapa. ia akan menyuruk sejauh-
jauhnya dalam cangkang keras, tak akan
bisa kau lecut dan kau susup dengan bibirmu

begitulah kucing air yang berada dalam
dirimu (mungkin juga akan kau temu di
diriku suatu kali) sebab kucing air suka rasuk ke
diri siapa saja. tapi adakah ungkapan yang lebih
baik untuk kucing air yang selalu mencakau
malu dalam tubuh orang-orang lalu
menggantungnya di batang hidung?

Kandangpadati, 2008