Oleh: Esha Tegar Putra

Ada pendapat menarik yang dikemukakan oleh JJ. Kusni atas pernyataan Sutardji Calzoum Bachri (Tardji) mengenai “eksplorasi isi puisi” beberapa tahun silam. Tardji menilai perkembangan puisi sangat meriah dan bahkan sudah mulai sangat ramai. Tetapi, eksplorasi isi cendrung berkurang disebabkan tidak adanya penemuan baru. Sebaliknya, JJ. Kusni berpendapat, bahwasanya “zaman” ketika Tardji meng-otoproklamasi-kan dirinya sebagai “presiden penyair” berbeda dengan kemajuan perpuisian di Indonesia saat ini.

Hal ini tidak pernah tuntas dibahas dalam kajian kesusastraan. Baik itu kritikus atau pun para pencipta puisi; persoalan eksplorasi isi dan estetika dalam puisi. Ketika dikembalikan lagi pada “wujud”-nya, puisi menjadi jalinan teks yang hadir dalam sistim tanda (semiotik) dan nyatanya, memang puisi, dianggap sebagai awal-mula dari karya sastra. Pada akhirnya, tetap puisi akan dikembalikan pada pembaca (masyarakat) melalui “wujud” yang berbeda kapasitasnya; berbeda dari sudut pandang pencipta; berbeda dari sudut pandang kritikus. Akan tetapi, ada satu pertanyaan yang sangat penting saya kira dilontarkan Radhar Panca Dahana di sebuah warung nasi kecil di sudut kota Padang, pada dikusi singkat beberapa minggu yang lalu: apakah puisi—sebagaimana hal-nya dengan bidang seni lainnya—sudah mewakili masyarakatnya saat ini?

Dalam puisi hadir berbagai macam wacana intelektual, terkandung dalam “teks,” dengan berbagai cara pengungkapan dan pola penyuguhan penyairnya. Puisi muncul dari keterusikan batiniah seorang penyair. Muncul dari semacam polemik intelektual diri yang bermula dari pandangan, pikiran, rasa, hingga mencapai tahap penghadiran “teks” sebagai perwujudan dari wacana yang ingin dihadirkan.

Adakalanya puisi menjadi semacam pemicu semangat bagi sebuah masyarakat (bangsa?). Melihat seketika kemunculan Chairil dengan “Diponegoro” atau “Karawang-Bekasi”, timbul semacam ransangan semangat bagi kaum terpelajar untuk menghadirkan sosok “Diponegoro” dalam semangat perjuangan mereka. Di bagian inilah, hubungan antara puisi, eksplorasi dan estetika dihantarkan pada masyarakat sezamannya, dihadirkan dalam tataran fungsi puisi sebagai karya sastra yang memang milik masyarakat.

Kiranya Tarji, pada persoalan di atas memosisikan diri sebagai masyarkat puisi dalam kapasitasnya sebagai kreator yang “menilai” puisi dalam tataran eksplorasi isi yang tujuannya alah “fungsi” puisi itu sendiri. JJ. Kusni pun di lain sisi benar, dengan mengambil contoh Chairil; puisi; dan estetika zamannya (Angkatan Pujangga Baru) yang muncul pada masa gejolak keinginan masyarakat (bangsa?) untuk merdeka dari tirani penjajah—di balik permasalahan kepenyairan Chairil yang terang-terangan menolak estetika puisi Sutan Takdir Alisyahbana (Angkatan Pujangga Lama). Sekarang muncul lagi: apakah memang masih ada estika baru, baik itu persoalan eksplorasi puisi dalam perpuisian Indonesia saat ini?

Ketika Sutan Takdir Alisyahbana membentuk, memanifestasikan, estetika isi dan bentuk puisinya menyerupai estetika pantun, Chairil berontak dengan ke-aku-annya dan “pandangannya” terhadap barat. Setelah itu, ketika Tardji dengan “Kredo” puisinya, mengembalikan puisi pada mantra, pada kebebasanya, tanpa pengekangan makna dari “kata” yang muncul. Sapardi hadir pula dengan melankolianya, atau Rendra mencari sendiri pemaknaan puisi dengan balada dan puisi pamfletnya. Goenawan Mohamad dengan “Asmaradana” dan pembacaannya terhadap karya-karya sastra dunia. Afrizal Malna muncul (dekade 80-an) dengan elemen yang sebelumnya tidak dianggap puitis dan menjadikannya puisi. Gus Tf muncul dengan interpretasi “kosmos.” Dorothea dengan penerobosan terhadap struktur yang dianggap “tabu” sampai pada dekade ini muncul puisi-puisi Ragdy F Daye, Zelfeni Wimra, Chairan hafzan Yurma, Romi Zarman, Deddy Arsya, Pinto Anugrah, Feni Efendi, Ria Febrina, Nilna R Isna—dalam ruang lingkup Sumatra Barat—dan banyak lagi puisi yang muncul dari beragam proses intelektual penyair saat ini.

Kembali lagi pada pertanyaan di atas: apakah estetika baru muncul dari proses puisi saat ini? Proses puisi, sama halnya dengan proses penciptaan karya seni lainnya. Sesuatu akan dianggap berhasil jika karya itu dimaknai oleh masyarakat (pembaca-nya). Dalam kapasitas pencipta, karya muncul, hadir sebagai manifastasi “diri”nya terhadap wilayah sosialnya, terhadap zamannya. Pencipta akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghadirkan sesuatu yang “baru” sesuatu yang lain dari yang lain sehingga si pencipta akan dianggap berhasil jika karyanya diapresiasi oleh khalayak banyak.

Persoalan estetika baru dalam puisi tentunya berhubungan dengan persoalan “nilai”, sebagaimana karya, untuk mencapai taraf “nilai” (semacam ukuran) tidaklah ada sebuah pembatasan dan “nilai” tersebut harus dikembalikan pada dudukan fungsinya.

Melihat perkembangan perpuisian Indonesia saat ini. Di zaman yang serba berkemungkinan, penyair dalam puisinya, seperti berusaha mengejar ketertinggalannya dengan media modern. Puisi muncul sebagai tafsir sebuah peristiwa budaya dengan segala persoalan yang ada di dalamnya. Penyair mencoba masuk—mungkin sebagai penafsir yang faktual dengan beragam (cara) pengungkapan masing-masing; pengungkapan yang jelas; pernungkapan yang mengurung simbol, dan sebagian besar penyair yang mencoba hal tersebut bahkan tidak berhasil.

Seperti pendapat Warih Wisatsana, bahwa sekian penyair gagal merespon kejadian yang mengatasi nalar dan rasanya. Sesungguhnya disebabkan kekurangpahaman akan batas daya ungkap puisi serta cara hadir puisi itu sendiri di tengah percepatan perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya.

Pada ghalibnya puisi memang tidak seluruhnya berusaha menyaingi media modern (sebagai penafsir yang lebih faktual) melainkan justru melakukan kajian secara kritis terhadapnya seraya terus menggali lebih jauh sosok dirinya yang tak terkungkung (batas) apapun.

Pengaruh semacam inilah yang kiranya menjadi sebuah kebaruan bagi puisi-puisi saat ini—atau lazimnya disebut mutakhir. Puisi dihadirkan sebagai “teks” sastra yang menafsir faktual, bisa menyaingi wacana yang dihadirkan media modern, puisi melalui pikiran si penyair mencoba menafsir kembali sesuatu yang baru. Akan tetapi dari segi eksplorasi isi dan estetika yang kiranya tidak tertutup kemungkinan mereka memakai gaya atau pencarian sama dengan para penyair zaman sebelum mereka. Tidak tertutup juga kemungkinan sebagian besar dari “teks” atau “wacana’ yang dihadirkan sudah dipakai oleh penyair generasi sebelumnya (bukan?).

Sebut saja ruang lingkup Denpasar-Bali (sekarang) dengan Umbu Landu Parangi yang menjadi semacam “nabi” puisi, “bersabda” dari ruang prosesnya dalam tahap pencapaian estetika puisi di Yogya (dulu) sampai saat ini ia berdiam lagi di Bali dengan banyak penyair muda yang “berguru” padanya. Hal ini tidak menutup kemungkinan estetika puisi Umbu ditelan mentah-mentah oleh murid-murid mereka. Terlihat dari pengucapan-pengucapan puisi penyair muda Bali saat ini: Purnama Sari, Ni Putu Rastiti, Pranita dewi, I Kadek Surya Kencana, dan banyak penyair muda lainnya di Bali yang menyerap habis-habisan gaya berpuisi Umbu Landu Parangi. Tidak tertutup pula kemungkinan, para penyair di Yogya menyerap gaya berpuisi Umbu, sebab proses pencariannya yang dulu juga di Yogya.

Begitu juga dengan Lampung, atau diistilahkan Nirwan Dewanto dengan Lampung-isme, dimana sebagian besar penyairnya mudanya menyerap estetika puisi yang semula sudah dihadirkan Isbedy Setiawan Zs. Sumatra barat pun begitu, tidak tertutup kemungkinan penyair saat ini mencerna estetika puisi (misalnya) Papa Rusli Marzuki Saria, Gus Tf, Iyut fitra, Agus Hernawan, dll (bukan?).

Budaya dan unsur lokalitas (tradisi) tentu saja dapat mempengaruhi proses pencapaian estetika dan isi puisi seorang penyair. Struktur budaya yang berdeda akan menimbulkan penafsiran yang berbeda pula pada puisi-puisi penyair yang berlainan batas teritorialnya. Kebanyakan puisi mutakhir saat ini, di luar pemikiran penyair yang ingin menciptakan sebuah kebaruan dengan menyerap budaya di luarnya (Indonesia), tentunya ada yang ingin mencoba menggali kembali unsur lokalitas agar mendapatkan tempat pada posisi yang selayaknya; khasanah kesusastraan Indonesia dan Dunia!

Beragam proses pencarian tersebut, kini, menjadikan semacam ruang pengasingan antara puisi dan masyarakatnya. Di lain sisi, penyair dengan prosesnya pribadinya mencoba mencapai “ketertinggalannya” dengan penghadiran “teks” puisi yang “sulit” dimengerti oleh masyarakat yang seharusnya mengapresiasinya. Akhirnya puisi jauh dari fungsinya sendiri dan tidak (lagi) mendapatkan tempat di ruang-ruang sosial sebagaimana mestinya. Persoalan ini juga mendadi bahan polemik atara F Rahardi dan Hamsad Rangkuti belum lama ini, bahwa karya sastra menjadi semacam ruang “akrobatik kata” bagi sastrawan muda. Karena dalam eksplorasi dan estetika isi yang minim para penyair (sastrawan) cuma bermain dengan kata-kata.

Bagaimanapun hal tersebut merupakan bentuk dari proses intelektual melahirkan karya dan proses tentunya tidak akan pernah menemukan ujungnya. Meskipun para penyair, secara pribadi, telah menemukan (baginya) sebuah estetika puisi yang dia maksudkan. Zaman yang tentunya menentukan cara berproses akan memperlihatkan estetika isi puisi masing-masing pribadinya (juga bentuk [tipografi, dll]?).

Sebagaimana yang disinyalir JJ. Kusni di atas, tidak akan mungkin estetika puisi Tardji di hadapkan pada estetika puisi sekarang. Apalagi puisi Chairan Hafzan Yurma dihadapkan pada esetika puisi Chairil Anwar yang jelas-jelas proses intelektualitasnya dan perubahan budayanya berbeda sekali—meski sama-sama ruang lingkup bahasa (kesusastraan) yang sama.

Eksplorasi isi dan estetika pada akhirnya tentu akan dikembalikan pada sejauh mana puisi tersebut mampu “merebut hati”, “membawa” masyarakatnya pada sebuah proses intelektualitas juga. Hal tersebut yang akan menjadi semacam perbandingan, sejauh mana puisi tersebut mendapat tempat di masyarakat dan sejauh mana puisi berfungsi dalam poses “memanusiakan manusia”. Akan terlihat juga kearifan penyairnya, sebagai mana seorang kreator, menghargai proses puisinya sendiri dan menghargai karya-karya orang lain.

tulisan ini telah dipublikasikan di Padang Ekspres. Minggu, 2 November 2008