Oleh: Rohmat Em Humair

Sejarah sastra Indonesia telah dimulai sejak tahun 1870 bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan raja-raja di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan yang sekaligus diikuti oleh lenyapnya sastra keraton.

Sebagaimana namanya sastra keraton adalah sastra yang hidup dan dilahirkan di lingkungan istana keraton. Oleh karena itu hidup dan matinya sastra keraton amat bergantung sepenuhnya kepada kebijakan raja yang berkuasa saat itu.

Berpindahnya pusat kekuasaan dari para raja kepada penguasa kolonial Belanda mengandaikan terbukanya angin segar bagi pertumbuhan kesusastraan Indonesia. Benih-benih kesusastraan Indonesia berkembang pesat, terutama di kota-kota besar. Ini dapat terjadi karena adanya perbedaan yang cukup mendasar dalam cara pandang antara konsep kekuasaan raja dan penguasa kolonial Belanda.

Pada masa-masa awal pertumbuhannya, penguasa kolonial malahan terkesan memberikan kepercayaan penuh kepada kalangan sastrawan untuk dapat berkembang bebas.

Boleh dibilang pertumbuhan sastra Indonesia pada masa itu tak dapat terlepaskan dari dukungan kaum borjuis. Atas jasa-jasa mereka itulah pada 1850-an lahirlah media massa berbentuk surat kabar yang membawa jasa besar dalam pertumbuhan kesusastraan sebagai media penyalur kreativitas sastrawan.

Sembarang Orang

Tetapi setelah runtuhnya kekuasaan raja karya sastra seakan bukan lagi milik “wong agung”, melainkan milik semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Dalam artian bahwa karya sastra pada akhirnya boleh diciptakan oleh sembarang orang, sekalipun pada saat itu pada kenyataannya hanya sebagian kelompok masyarakat yang memanfaatkannya. Mereka umumnya adalah kalangan terpelajar berpendidikan tinggi baik berasal dari kalangan pribumi, orang Belanda, maupun Cina.

Merekalah yang kemudian memberikan cetak biru sejarah kesusastraan di Indonesia. Dengan bekal mempergunakan bahasa melayu-rendah yang merupakan alat komunikasi masyarakat Indonesia pada zaman itu, karya-karya sastra amat digemari sebagai bacaan sebagian besar masyarakat. Mengapa demikian? Lantaran karya sastra yang ditulis sastrawan lebih merupakan representasi potret kehidupan mereka dengan detail cerita serealistis mungkin.

Maka tidak mengherankan jika karya sastra tetap hidup secara lisan dan menjadi legenda di masyarakat tatkala karya sastranya sendiri (secara tertulis) tidak dikenal lagi di masyarakat. Kecintaan masyarakat akan bacaan sastra masih terus berlangsung paling tidak sampai dengan berakhirnya sastra Balai Pustaka.

Meskipun dilihat melalui banyak sisi kelahiran sastra Balai Pustaka lebih merupakan bentukan penguasa kolonial Belanda sebagai kegusaran mereka atas makin merebaknya sikap berontak masyarakat Indonesia yang amat boleh jadi akibat bahan-bahan bacaan sastra melayu-rendah yang semakin hari semakin meletupkan sikap anti penjajahan. Dengan demikian kelahiran sastra Balai Pustaka lebih bersifat politis ketimbang kultural. Terlepas dari isu tersebut pijakan cerita kalangan sastrawan yang lebih sering bertumpu kepada budaya/tradisi kedaerahan dalam berbagai aspeknya membuat karya sastra Balai Pustaka tetap mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat, terutama di pedesaan dan kelompok priyayi.

Dalam hal ini tak pelak tema pertentangan adat melawan arus modernisasi kaum muda selalu menjadi pokok pembicaraan yang paling serius diungkapkan dalam karya sastra Balai Pustaka.

Arus Negasi

Pada perkembangannya di hari-hari kemudian pertumbuhan kesusastraan Indonesia semakin menyurut, kemudian melakukan semacam pembalikan arah. Jika pada sastra melayu-rendah dan Balai Pustaka karya sastra lebih menggali unsur realitas cerita, maka pada karya sastra masa berikutnya (mutakhir) lebih dipentingkan muatan estetika dan intelektualisme. Jika pada zaman sastra melayu-rendah dan Balai Pustaka unsur-unsur tradisional desa (lokalitas) tampak menonjol, maka pada karya sastra mutakhir budaya kota serta pengaruh Barat memperlihatkan gejala yang mewabah pada sebagian besar karya sastra, dalam berbagai aspeknya.

Kondisi tersebut semakin mengental setelah bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan. Nuansa individualistik, tuntutan yang terlampau memaksa terhadap muatan intelektualisme, kadang juga mengarah kepada politik partisan seperti di masa Lekra, serta penghambaan terhadap estetika sebagai segala-galanya bagi sebuah karya sastra sebagaimana yang akhir-akhir ini semakin memperlihatkan bentuknya di sejumlah media baik media sebaran sastra maupun media umum, agaknya cukup merepresentasikan bahwa karya sastra kita telah berubah haluan.

Dunia kesusastraan seakan mengandaikan dirinya sebagai dunia yang glamour. Tetapi satu hal telah dilupakan, yakni karya sastra telah kehilangan masyarakat pembaca. Maka menjadi cukup alasan jika buku-buku sastra serius yang belakangan ini terlihat gencar diterbitkan baik oleh perusahaan penerbitan maupun dicetak sendiri hanya sedikit saja diminati orang, apalagi buku antologi puisi.

Sastrawan lebih asik masuk ke dalam fantasinya sendiri yang liar serta berupaya meluputkan diri dari tanggung jawabnya sebagai seorang sastrawan. Di tengah kegamangan arus kesusastraan Indonesia saat ini terkadang terbersit keinginan bahwa karya sastra harus kembali menjadi milik masyarakat.

* * *

Penulis adalah cerpenis dan eseis, bergiat di Forum Segara Papat (FSP), Cirebon.

About these ads