Kotabaru
Cerpen: D. Zawawi Imron
Sumber: Jawa Pos, Edisi 07/16/2006

Alangkah beruntung sebuah kota yang disebut dalam sebuah lagu. Kota itu menjadi dikenal, bahkan terkenal, selain selalu dikenang oleh orang yang menyenangi lagu itu. Ingat larik “Tanjung Perak tepi laut,” atau larik “Selamat tinggal Teluk Bayur permai,” yang membuat kedua tempat itu bukan hanya berada di ujung lidah, tetapi juga berada pada salah satu sudut jantung. Sebuah kota atau tempat yang disebut dalam nyanyian seperti menjadi sangat layak untuk dikunjungi, bahkan mengundang rasa ingin untuk datang ke sana.

Pada penghujung Mei 2006 yang lalu, saya dengan Sutardji Calzoum Bachri diundang mengisi acara sastra di Kotabaru, Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Sebelum berangkat saya menyempatkan menelepon Sutardji, saya bilang, “Dji, kita akan ke Kotabaru.” Sutardji yang sering dipanggil “Presiden Penyair” itu menjawab dengan selarik lagu, “Kotabaru gunungnya bamega.” Seakan-akan ia menyatakan gembira karena akan berkunjung ke sebuah kota yang diabadikan dalam lagu Paris Berantai yang digubah seniman Banjar, Anang Adriansyah.

Pada hari yang ditentukan, saya terbang ke Banjarmasin. Besok paginya saya terbang ke Kotabaru. Banjarmasin kalau ditempuh dengan bus memakan waktu sampai sepuluh jam. Tapi jarak tempuh yang hampir satu hari itu bisa dipersingkat menjadi setengah jam dengan pesawat kecil berkapasitas 40 orang. Ternyata di Kalimantan, dari ibukota provinsi ke beberapa kota kabupaten, sudah ada pesawat penumpang setiap hari. Seperti ada upaya nyata, ada kemauan, ada uang, ada landasan, lalu ada pesawat. Catatan yang tak kurang pentingnya, penumpang konon selalu penuh, sehingga perusahaan transportasi udara itu tidak rugi.

Kemajuan seperti itu kiranya tak cukup dicatat sebagai narasi ekonomi dan narasi transportasi saja. Lebih dari itu, bisa dicatat sebagai narasi budaya. Yaitu, sebuah jawaban manusia terhadap tantangan hidup dengan cara baru yang konkret dan ilmiah. Sebahagian masyarakat Kotabaru pun menyambut dengan tindakan nyata juga. Dibukanya jalur penerbangan ke daerahnya, mereka tidak hanya menonton, tetapi mau beli tiket, lalu naik pesawat, dan terbang menuju kota tujuan, sehingga waktu yang sebenarnya tidak bisa disingkat itu, seolah-olah bisa disingkat jika dibandingkan dengan naik transportasi darat.

Setelah saya tiba di bandara Kotabaru, dijemput penyair Eko Suryadi W.S. Dari bandara ke Kotabaru, saya melihat deretan bukit-bukit yang hijau kebiru-biruan. Tetapi anehnya, bukit-bukit yang tidak tinggi itu banyak yang berselendang awan dengan latar belakang langit nilakandi. Melihat itu, hati saya bersenandung: “Kotabaru gunungnya bamega.” Sebuah lukisan Tuhan yang memesona terbentang di depan mata. Sebuah puisi konkret yang dalam menikmatinya tidak perlu mengernyitkan dahi.

Saya pun menyempatkan berkeliling menyisir pantai utara Pulau Laut, menyaksikan “Ombak menapak di sela karang.” Dan, saya memandang kedalaman di balik dedaunan hutan yang masih menyimpan nyanyian ribuan burung murai batu yang berhabitat di situ.

Menurut seorang tokoh di Kotabaru, Pulau Laut itu bagaikan Indonesia mini. Maksudnya, hampir semua ragam etnik berada di situ, meskipun mayoritas penduduknya adalah suku Banjar. Selain itu ada suku Jawa, Melayu, Sunda, Bali, Bugis, Makassar, Minangkabau, Ambon, Tionghoa, Arab, Madura, Bajau dan lain-lain. Semua itu bisa hidup berdampingan secara damai. Kalau ada konflik kecil, masih mudah untuk diredam.

Masuknya pesawat terbang dan modernisasi tidak membuat hati menjadi garang.

Kerukunan dalam masyarakat multietnik seperti itu, saya anggap nilai yang sangat berharga. Pikiran yang jernih dan hati yang sejuk seperti dikaruniakan oleh Tuhan. Saudara-saudara kita yang hidup sederhana, ketika yang dibudayakan adalah hidup penuh persaudaraan dan kedamaian, kesederhanannya akan melahirkan kerendahhatian sekaligus penghormatan yang wajar kepada manusia dan kemanusiaan. Kewajaran yang tidak lebih dan tidak kurang. Kepantasan yang mengalir tanpa dibuat-buat, sebagaimana kepantasan awan putih yang hampir setiap waktu memahkotai bukit-bukit itu.

Sebuah wilayah yang aman tentu saja didukung oleh para penduduknya yang berhati teduh. Teduh dan aman yang tumbuh dari kecerdasan emosional dan kesadaran budaya. Bukan aman karena dipaksa atau takut pada kelamnya kamar penjara.

Pulang dari Kotabaru saya sadar bahwa waktu empat hari di sana, ternyata jauh dari cukup untuk memuaskan dahaga pengembaraan. Jiwa saya bagaikan minum hanya seteguk. Tapi tak apalah, daripada tak pernah berkunjung ke sana. Namun yang sangat berharga, lagu Paris Barantai yang memperkenalkan Kotabaru telah membuktikan kepada saya bahwa karya seni, dalam hal ini lagu, telah membuat sebuah kota punya nilai tersendiri, punya daya panggil yang merasuk ke dalam hati.

***

About these ads